Petaka Biohazard: Lorong Kematian

Petaka Biohazard: Lorong Kematian
Yang Hilang, Yang Mati


__ADS_3

Ardana melirik jam tangannya. Tidak terasa waktu sudah menunjukkan angka empat pagi. Sudah cukup lama juga keduanya terjebak di bawah tanah Hutan Sirnasurya, dalam sebuah tempat yang penuh kengerian yang tidak terbayangkan. Kedua lututnya sudah mulai terasa lemas. Dia butuh istirahat. Namun rasanya ingin segera pergi dari sana secepatnya.


Jalan yang mereka lintasi adalah sebuah jalur transit dengan lebar yang lebih luas namun langit-langit yang lebih rendah sekitar enam meter ke atas. Di sisi kiri dan kanan lantai terdapat garis panjang putus-putus yang menggular ke depan. Tampaknya digunakan sebagai akses keluar dan masuk kendaraan. Lebih jelas lagi ditandai dengan adanya dua hingga tiga unit Jeep Willys yang ditinggalkan begitu saja dalam keadaan berserakan menutupi sebagian lebar jalur tersebut.


“Aku mau memeriksa satu persatu. Mungkin masih ada sisa bahan bakar,” kata Ardana seraya melepaskan ransel dan meletakkan ketiga senjatanya begitu saja di bawah kakinya.


Paramitha mengenyitkan dahi, “Memangnya bisa? Semuanya sudah terbengkalai selama bertahun-tahun, Dan.”


Tanpa ragu Ardana menghampiri mobil Jeep terdekat sambil melirik ke bagian dasbor. “Siapa yang tahu, Neng? Kalau masih ada sisa sedikit bisa kuambil lalu kupindahkan ke salah satu Jeep yang berfungsi paling bagus.”


Paramitha dibuat terperangah dan tidak habis pikir melihat itu. Berselang empat detik kemudian dia menghela napas. Ardana akhirnya melompat ke kursi pengemudi seolah tanpa beban. Seketika itu juga terdengar suara besi yang berderak hebat saat bokongnya menghentak di atas lapisan busa yang terbungkus kulit tiruan berwarna hitam. Cukup jelas bagi Paramitha untuk tahu kendaraan tersebut sudah tidak layak kemudi lagi. Sudah waktunya di-besi tua-kan.


Bertindak bak seorang spesialis pencuri mobil, Ardana mengobrak-abrik seisi dasbor dan seluruh bagian kursi depan dengan teliti. Benar-benar tidak ada satu celah pun yang terlewatkan. Sebenarnya dia sedang mencari kunci mobil yang menurutnya kemungkinan disimpan di salah satu bagian tersembunyi. Namun sudah lewat dari tiga menit tidak ada hasilnya.


“Aku butuh kunci. Mana kuncinya?” katanya berulang-ulang.


Paramitha masih berdiri mematung tidak jauh dari mobil Jeep itu, memerhatikan kekasihnya antara bingung dan aneh. Meski begitu dia tetap membiarkan Ardana yang terus melanjutkan penggeledahan hingga ke deretan kursi penumpang. Tidak sampai satu menit kemudian si pemuda turun dari Jeep dengan wajah memelas.


“Tidak ada kunci mobilnya,” gerutu Ardana sambil menggaruk-garuk siku tangan kirinya yang mulai terasa gatal.


“Lagipula mau apa dicari di dalam mobil begitu, Dan? Kuncinya bisa saja sudah jatuh di suatu tempat dan jauh dari sini.” Paramitha mulai jengah melihat tingkah laku Ardana. Gadis berambut lurus sebahu dengan poni menyamping ke kiri itu memegang bahu si pemuda.


Faizar tidak berusaha menyingkirkan tangan Paramitha. Dia justru menatap kekasihnya dengan bibir sedikit mengerucut.


“Kalau ada yang bisa digunakan, kita akan keluar tanpa harus berjalan kaki begini. Kedua kakiku sudah mulai sedikit sakit.”


“Kamu... duh, malah jadi lebih manja dariku.”


“Bu—bukan begitu! Bukan begitu maksudku, Neng,” sanggah Ardana cepat. Dia meletakkan ransel dan semua senjata laras panjangnya di kursi penumpang mobil Jeep Willys dekat mereka. “Bisakah kita berhenti sejenak untuk mencoba menghubungi Pak Ilham?”


Paramitha tidak langsung menjawab. Tangan kirinya merapikan beberapa helai rambut yang menghalangi sudut kelopak mata kanannya, seraya berpikir keras mempertimbangkan usulan dari Ardana.


“Ya sudah. Kita berhenti dulu di sini,” katanya.


Setelah mendapat persetujuan dari Paramitha, Ardana segera duduk di atas aspal halus jalur tersebut dengan tetap bersandar pada sisi kiri mobil. Alat komunikasi di telinga kirinya kembali dinyalakan. Namun yang terdengar lagi-lagi suara gemerisik. Lebih keras dari yang sebelumnya.


Ardana berulang kali menekan tombol pemindah frekuensi sambil sesekali meringis. Telinganya tidak cukup adaptif menerima suara-suara yang sangat mengganggu.

__ADS_1


“Masih tidak bisa,” katanya lesu, “dan tetap gemerisik, malah jadi lebih keras terdengar.”


“Kalau begitu kita teruskan lagi perjalanan ke depan sana,” sahut Paramitha.


“Baiklah.”


Ardana bergegas kembali berdiri lalu mengambil ransel dan semua senjatanya. Sebelum meneruskan perjalanan, semua alat penerangan seperti senter dan lainnya diperiksa ulang untuk memastikan tetap berfungsi hingga beberapa jam ke depan. Tidak adanya batere cadangan dimanapun memaksa Ardana menghidupkan lalu mematikan senter dalam jeda waktu beberapa menit sekali. Kacamata taktis canggih yang dimilikinya tidak banyak membantu jika mengharuskan dua orang untuk berlari menyelamatkan diri di dalam tempat yang gelap.


“Tetap merapat denganku,” pesannya sambil melirik Paramitha.


* * * * *


Pintu lemari besi besar itu dibuka perlahan oleh Didin dan ketiga anak buahnya. Ilham yang berdiri tidak jauh dari para personil Kopassus tersebut hanya diam sambil menyaksikan bagaimana mereka bekerja. Di depan mereka kini terlihat sebuah jalur lorong yang lebih kecil dan lurus, berlapis baja yang tampak kokoh mulai dari lantai hingga langit-langit. Meski tidak terkejut, mereka berlima tidak membayangkan ada sebuah jalan rahasia di lantai dua bangunan pemantau yang menjadi satu dengan dinding basement.


“Adit, Ricky... periksa!” perintah Didin.


Dua prajurit yang disebut namanya masuk bergantian ke jalur rahasia. Mereka bergerak senyap dengan senjata terarah ke depan dan jari telunjuk yang menempel pada bagian pelatuk. Agak jauh di ujung sana, sebuah pintu lain yang terbuka lebar sudah menanti. Adit yang berdiri paling depan mengepalkan tangan lalu diangkat ke atas kepalanya. Seketika Ricky berhenti sambil menoleh ke belakang.


Dengan hati-hati Adit maju seorang diri hingga tertahan beberapa langkah dari pintu yang dimaksud. Di baliknya ada ruangan namun tidak bisa dipastikan apasaja yang ada di dalam sana. Nyala lampu berwarna merah yang temaram sesekali menguat lalu kembali meredup. Hanya ruangan itu yang masih dialiri listri yang entah sumbernya berasal dari mana.


Adit menoleh sesaat pada Ricky kemudian mengangguk. “Beritahu yang lain.”


“Ada ruangan dengan listrik yang masih menyala di sana. Warna lampunya merah dan tidak cukup bagus intensitas cahayanya.”


Ilham dan Didin serta Freddy anak buahnya saling berpandangan.


“Kita periksa, Pak?” Didin meminta pendapat Ilham.


Ilham mengangguk dengan mantap pada mereka bertiga. “Ya, pastikan tidak ada sesuatu yang akan merepotkan kita nantinya,” tegasnya.


Tanpa menyahut lagi, Didin dan kedua anak buahnya menyusul Adit yang masih berdiri di dekat pintu ruangan rahasia. Kali ini sang letnan yang mengambil giliran pertama untuk masuk diikuti Ilham dan para personil Kopassus lainnya. Gerakannya yang terlalu cepat membuat dirinya terpisah sedikit jauh di depan mereka. Hampir saja Ilham dan yang lainnya dia tinggalkan.


Apa yang mereka temukan di sana sama sekali tidak pernah terbayangkan. Ruangan yang persis tempat jagal mengerikan itu penuh dengan mayat dan darah yang mengering. Jumlahnya tidak dapat dihitung dengan jelas karena berimpitan di atas dan di antara puluhan ranjang besi beroda yang berserakan. Belum lagi yang ada di antara jalinan rantai yang digantung di langit-langit ruangan. Sebagian sudah tidak lagi berwujud manusia seutuhnya.


Sama seperti Ilham, Didin dan yang lain hanya terpana dengan mulut mengatup rapat. Tidak ada yang bisa mereka lukiskan dengan kata-kata mengenai pemandangan yang membuat bulu kuduk merinding di depan mata.


“Mereka semua... apakah mereka yang ada di sini adalah para korban hilang di Hutan Sirnasurya?” desis Ilham sedikit bergetar, antara percaya dan tidak percaya.

__ADS_1


Beberapa malam dihabiskannya bersama Odang si kepala desa, menekuni berkas laporan orang hilang hingga lima ratus lembar lebih dengan harapan di antara mereka masih ada yang hidup dan bisa ditemukan. Namun penemuannya di ruangan rahasia bawah tanah Hutan Sirnasurya itu seketika meruntuhkan keyakinan dan harapannya. Hati lelaki paruh baya berambut pendek ini terasa pilu dan pedih manakala mendapati ada beberapa jasad anak kecil yang bergelimpangan di sana. Sesaat kemudian wajahnya sedikit tertunduk dengan mata yang tetap terbuka. Tatapannya berangsur kosong.


“Pak? Bapak baik-baik saja?” Didin menyentuh bahu Ilham dengan sopan.


Ilham mengangguk. Sedetik kemudian terlintas ide di pikiranya untuk memeriksa semua mayat manusia yang ada. “Saya tidak apa-apa. Hanya sedikit sesak karena ekspektasi saya berlawanan dengan apa yang ada di depan kita ini,” balasnya.


“Jika tidak keberatan, saya ingin semua jenazah yang ada di ruangan ini diperiksa satu persatu, jika ada identitas diri atau benda peninggalan yang bisa ditemukan,” sambungnya lagi.


“Siap, Pak!” ucap Didin tegas dengan intonasi suara yang rendah.


Letnan Kopassus ini mengangguk pada ketiga anak buahnya. Mereka berempat mulai melakukan tugas sesuai dengan perintah Ilham. Meski terkendala dengan kondisi beberapa jenazah yang dagingnya mulai meleleh, sebisa mungkin harus ada kartu identitas atau benda peninggalan yang didapat. Baru berjalan beberapa menit, mereka sudah mendapatkan lebih dari dua puluh kartu tanda pengenal dan keanggotaan organisasi tertentu.


Di saat yang bersamaan, sesosok anak kecil dengan tubuh yang tampak normal berjalan mendekati Didin dan ketiga anak buahnya. Mengenakan kaus berkerah yang kusam dan celana pendek penuh noda darah, dia berjalan tertunduk sambil melenguh lemah berulang-ulang. Sontak, Didin dan Adit yang kebetulan berdekatan menoleh ke arah anak kecil itu.


“Anak kecil?” Adit mengerutkan keningnya sambil tetap menodongkan senjatanya.


Perhatian Ricky dan Freddy juga teralihkan oleh kedatangan si anak kecil yang entah dari mana. Keduanya yang tidak langsung percaya juga menodongkan senjata.


Didin berupaya mencegah ketiga anak buahnya agar tidak melepaskan tembakan. “Hei, tunggu! Jangan gegabah menembak!”


Adit dan kedua rekannya menahan diri dengan sangat terpaksa. Mereka bertiga tetap menatap tajam ke arah anak kecil di depan mereka. Ilham yang menyaksikan mereka berempat berdebat sesaat akhirnya menghampiri dengan penasaran.


“Tahan tembakan kalian!” serunya.


RATATAT!


Sayangnya, secara tidak sengaja Adit menarik pelatuk senapan serbunya yang tengah di-set ke mode burst fire. Tiga peluru langsung bersarang di tempurung kepala anak kecil tersebut yang kemudian terjungkal ke belakang. Tengkorak kepalanya langsung hancur sebagian.


“Adit! Sudah gila kamu?! Bagaimana kalau dia salah satu yang masih selamat?!” Didin melotot tajam ke arah Adit yang kini terperangah.


Adit yang tidak menyangka ketidaksengajaannya berujung fatal langsung bungkam. Dia hanya balas menatap Didin dengan wajah membeku.


“Din! Anak kecilnya, Din!” seru Ricky, mengejutkan mereka berdua.


Anak kecil yang tidak sengaja tertembak oleh Adit kini kembali berdiri seolah tidak terjadi apa-apa. Dengan kepala dan wajah yang hancur dia masih bisa menyeringai, memamerkan mulut yang robek lebar ke arah dua sisi pipinya yang bermandikan darah segar.


Terdorong oleh naluri masing-masing, Freddy dan Ricky langsung menghindar. Tidak demikian dengan Didin dan Adit yang masih terjebak antara terkejut dan terpana.

__ADS_1


“Kalian bedua menyingkir sekarang...!” teriak Ilham sambil menarik Didin dan Adit.


* * * * *


__ADS_2