
Ardana tidak tahu sudah berapa lama tertidur karena lemas. Dia terbangun secara tiba-tiba dengan mata hampir membelalak. Ada perasaan gelisah yang melanda dan jantungnya berdebar lebih keras dari biasanya. Pemuda ini menoleh ke kiri dan kanan seraya meraih senapan serbunya lalu memeriksa amunisi dalam magasin yang terpasang di bagian bawahnya.
“Kenapa ini? Rasanya tiba-tiba gelisah.”
Suara-suara menyeramkan yang menggema dari berbagai penjuru kembali terdengar, bahkan lebih banyak dari sebelumnya. Saat melirik jam tangannya Ardana baru menyadari hari sudah mulai condong ke arah senja. Makhluk-makhluk itu seakan bisa mengetahui perputaran waktu meski tidak keluar dari area lorong. Itu artinya jam makan malam sudah hampir tiba dan kemungkinan beberapa dari mereka akan berkeliaran di hutan yang berada tepat di atas tempat tersebut.
Sekelebat pergerakan muncul dari arah jalur lorong kiri tempatnya semula memeriksa di sana dan tertangkap oleh kacamata yang dikenakan Ardana. Dari ukuran bayangannya dia tahu itu adalah si makhluk tinggi besar berbalut kain kafan.
“Dia ke sini? Ah, yang benar saja!” umpatnya tertahan.
Tanpa membuang waktu lagi Ardana berlari ke jalur lorong sebelah kanan. Tidak mungkin juga kembali ke area sel karena di sana ada dua bahaya yang sebelumnya dia lewati – sapi mutan dan sosok jerangkong yang terakhir kali tengah saling serang karena berebut dirinya untuk dijadikan mangsa. Untuk menghadapi si jerangkong yang sudah berubah wujud saja sudah menghabiskan belasan peluru dan hanya membuat makhluk itu terjatuh.
GRRRRAAARRRRGGGHHH!
Jdak! Jdak! Jdak!
Ardana berhenti sesaat sambil menoleh ke belakang. Betapa terkejutnya dia saat melihat makhluk itu sudah berjarak hanya sekitar lima puluh meter lebih dan terus berlari ke arahnya. Sosok berbalut kain kafan bernoda darah tersebut tampak murka. Giginya yang berbaris tajam dan besar digertakkan dengan sisa organ tubuh manusia bermandikan darah yang masih terselip di sela-selanya.
TATATATATATAT! TATATATATATATATATAT!
Tidak ingin mati konyol, Ardana memilih melawan sambil bergerak mundur dengan cepat. Senapan serbunya menyalak keras memecah keheningan area lorong diiringi nyala api yang berkedip-kedip. Puluhan proyektil tajam melesat menembus lapisan kulit dan daging sosok itu.
Pemuda berseragam taktis hijau tua ini terperangah menyaksikan serangannya tidak berpengaruh apa-apa. Makhluk setinggi empat meter di depannya hanya terhuyung sedikit setiap kali peluru mengenainya. Hanya berselang satu detik kemudian ia mampu menyeimbangkan tubuhnya lalu kembali berlari meski agak lamban. Meskipun sudah mengganti senjata dari Sako Rk.95 ke SS2-V4 yang juga dibawanya tetap tidak berubah sama sekali.
Wuuuuut!
__ADS_1
Ayunan sabit besar dari makhluk itu hampir saja memenggal kepala Ardana yang sedang mengisi ulang amunisi. Si pemuda langsung menjatuhkan diri lalu bergulung ke depan membelakangi sosok besar yang sedang mengamuk padanya. Kesempatan itu dimanfaatkannya dengan sangat baik untuk melemparkan pisau survivalnya ke bagian leher sasarannya.
Clap!
GRRRRAAAAARRRRGGHH!
Sosok besar berkain kafan itu meraung kesakitan lalu mengayunkan sabitnya ke segala arah. Ardana baru mengetahui kelemahan makhluk tersebut ada di bagian belakang leher. Darah merah kehitaman mengucur deras dari sana diserta aroma tidak sedap yang cukup menyengat. Lagi-lagi Ardana harus kembali berguling karena mata sabit bertongkat tadi kembali menyasar tubuhnya.
Berselang tujuh detik kemudian, makhluk berwujud mirip pocong raksasa itu tumbang tanpa gerakan sama sekali. Suasana lorong kembali hening seolah tidak pernah terjadi insiden apapun. Ardana yang masih hanyut dalam ketegangan yang memuncak mendekati jasad besar tersebut untuk mengambil senjata tajam miliknya yang masih tertancap di bagian belakang leher. Darah merah kehitaman yang mengotori mata pisau dibersihkan dengan meminjam usapan kain kafan yang membalut tubuh makhluk di depannya.
[Ardana, masuk!]
Suara Ilham tiba-tiba berbunyi melalui alat komunikasi.
[Hhhhh... baguslah kalau kamu masih aman. Dan, sebenarnya ada sesuatu yang ingin saya beritahukan,] balas Ilham dari seberang sana.
Ardana terdiam sambil berjalan tenang menyusuri jalur lorong kanan. Suara berat lelaki paruh baya itu membuatnya penasaran sekaligus cemas. Entah kenapa, dia merasa tidak siap dengan kabar yang akan diterimanya. Deretan jasad manusia yang bergelimpangan dalam keadaan membeku dan lembap di bawah kakinya pun tidak dilirik. Pikirannya lebih berkonsentrasi untuk menyimak perkataan Ilham.
[Paramitha tidak ada di rumah Nina. Saya sempat mengira dia masih ada di desa tapi ternyata salah. Kujang hitam dengan gagang tanduk putih di rumah perempuan itu juga raib. Hanya secarik kertas memo bernoda darah yang saya temukan di jaket yang ada di kamar Paramitha. Sepertinya... dia pergi ke Hutan Sirnasurya. Kalau dugaan saya benar—.]
“A—apa? Bapak yakin dengan yang Bapak katakan? Jangan bilang kalau... jangan bilang Paramitha juga masuk ke sini,” potong Ardana. Suaranya mulai sumbang.
Ilham terdiam beberapa saat.
[Dan, saya harap tidak demikian. Tapi, kalau benar dia ada di sana juga, tolong... kamu temukan Paramitha dan bawa pulang dengan selamat.]
__ADS_1
Ardana mendesah berat dengan langkah kaki yang mulai ragu untuk digerakkan maju. Dadanya mulai terasa sesak untuk berusaha memahami baik-baik kabar tidak menyenangkan yang diterimanya.
[Saya mau tanya sesuatu. Kertas memo di jaket Paramitha itu... kamu yang memberikannya, kan?]
“Ya, Pak. Sa—saya yang memberikannya pada Mitha saat menyinggung tentang kematian ayah dan ibunya. Itu terjadi saat kami mengunjungi bibinya di Desa Karanghawur. Saya tidak sengaja menyinggungnya dan terpaksa membeberkan temuan saya.”
[Jangan merasa bersalah begitu. Tanpa kamu menunjukkannya pun niatnya untuk mengungkap kematian kedua orangtuanya serta yang terjadi pada dirinya tetap ada. Saya sendiri juga belum tahu yang sebenarnya karena betapa tertutupnya Mitha untuk hal-hal tersebut. Tentang apakah kamu memiliki perasaan pada Paramitha atau tidak, saya pikir itu bukan menjadi masalah. Kamu lebih berhak dalam kapasitasmu yang sekarang. Tapi... demi nama keluarga Catranata, bawa dia pulang.]
“Saya akan mulai mencarinya sekarang. Nanti saya hubungi lagi saat sudah bertemu dengan Mitha, Pak.”
Ardana mematikan kembali sistem komunikasi tanpa menunggu balasan atau pesan pengingat dari Ilham. Satu hal penting belum diselesaikan dengan baik, kini datang lagi masalah baru yang juga harus dituntaskan secara bersamaan. Pemuda ini tidak bisa menerima efek dari tindakannya yang tidak sengaja menyinggung tentang kematian orangtua kekasihnya. Paramitha pasti terkena trigger yang membuat gadis itu ingin mencari tahu lebih banyak tentang semua hal di masa lalu maupun yang tidak diketahui tentang dirinya.
Meski tidak masuk dalam tugas resminya, Ardana tetap menambahkan tugas barunya ke dalam daftar prioritas yang harus dilakukan. Dari hatinya yang terdalam dia takut sesuatu yang buruk terjadi pada Paramitha. Ardana tidak bisa memaafkan dirinya sendiri andaikan gadis itu kehilangan nyawa karena kebodohannya yang lalu. Jika sampai terjadi bukan hanya penderitaan batin saja, namanya akan menjadi yang pertama kali disebut ketika seluruh anggota Catranata mengutuknya sebagai pembunuh kekasihnya sendiri.
“Aku akan mencarimu, Neng. Aku tidak ingin kamu terluka, tunggu aku!”
Ardana kembali bergegas mengikuti arah jalur lorong baru yang kini dilaluinya. Tanpa disadarinya, belasan jasad manusia berseragam tentara yang dilewatinya tadi tiba-tiba hidup. Makhluk-makhluk itu menggeram keras dengan tengkorak kepala yang retak lebar dan tubuh terkejang-kejang. Tubuh mereka mulai meregenerasi dan mengalami beragam bentuk perubahan.
Kraaakkk!!
BRRRROOOCCCHH!
Kepala yang semula retak kini terbelah, digantikan dengan gumpalan daging hidup penuh dengan bola mata merah kehitaman dan mulut yang menganga lebar. Dari bagian dada mereka, satu mata lain berukuran bola voli berwarna kuning menyalang sangat agresif.
* * * * *
__ADS_1