Petaka Biohazard: Lorong Kematian

Petaka Biohazard: Lorong Kematian
Tulang Menyembul Dari Tanah


__ADS_3

Ardana mendelik. Bantingan tadi membuat tubuhnya menghantam pohon dengan cukup keras. Pemuda ini terkapar beberapa saat di tanah sambil menyaksikan monster yang menyerangnya meraung kesakitan. Keempat tentakelnya mengucurkan darah segar berwarna hitam. Tidak hanya menusuk, Ardana juga sempat merobek salah satunya hingga cukup dalam.


Ingin sekali rasanya menyerang balik lalu melumpuhkan makhluk itu. Namun rasa sakit di bagian iga membuat gerakannya terhambat dan tidak memungkinkan untuk melakukan serangan jarak dekat. Terpaksa dia beringsut mundur. Di saat yang bersamaan, makhluk aneh bertentakel merah tersebut melirik ke arahnya. Kepalanya tiba-tiba rengkah dan akhirnya pecah, berganti dengan kepala baru dengan rupa yang sangat buruk. Setengah tengkorak dengan daging merah berdenyut dan tiga mata yang melotot menyeramkan. Tentakel yang semula berada di bagian tangan berpindah ke bagian mulutnya yang menyeringai.


Rasanya seperti mimpi buruk tapi ini nyata. Makhluk mutan buas itu menerjang ke arahnya. Tidak ada waktu untuk menghindar. Ardana langsung mencabut pistol Glock 41 pinjaman dari Ilham dari sarungnya.


Dor! Dor! Dor!


Tiga suara letusan senjata api memecah kesunyian malam. Ardana membelalak garang tanpa bergerak sedikitpun dengan kedua tangan menggenggam pistol yang teracung ke depan. Satu jengkal lagi, tentakel-tentakel merah menjijikkan itu bisa membelit leher dan wajahnya. Mulut monster buas di hadapannya bahkan sudah terbuka lebar hampir setengah meter seperti akan membenamkan separuh tubuhnya ke dalam rongga mulut yang dipenuhi ratusan gigi runcing.


Brugh!


Sambil menyaksikan lawannya rebah, Ardana mendesah lega. Kedua tangannya gemetaran. Dia benar-benar bersyukur masih lolos dari maut yang sudah di depan mata. Terlambat sedikit saja, dirinya akan tinggal nama lalu jasadnya dikirim kembali ke Bogor atau Jakarta dengan status sebagai korban kecelakaan parah. Ardana memaklumi, karena tugas yang dibebankan padanya sengaja dirahasiakan agar publik tidak menjadi gempar.


“Aku... aku... masih bisa selamat. Ya, masih bisa,” ucapnya berulang-ulang sambil berdiri lagi.


Suasana kembali menjadi hening. Keadaan demikian tidak lantas membuat Ardana merasa benar-benar aman. Firasatnya mengatakan suara letusan pistol tadi kemungkinan akan memancing kedatangan makhluk lain yang dia tidak tahu seperti apa wujud mereka. Kemunculan makhluk hitam hangus kemarin malam dan mayat hidup setengah monster di malam ini membuatnya yakin masih ada lagi yang seperti kedua monster itu.


Sebelum meninggalkan tempat kejadian, dia meraba-raba lehernya. Tidak ada luka lecet akibat jeratan tadi. Syal merah marun yang dikenakannya juga tidak mengalami robek atau kotor. Senter LED yang terjatuh tidak jauh darinya diambil kembali. Hanya tangan kirinya yang tidak bisa diangkat tinggi karena rasa sakit di bagian iga.


“Semoga Pak Ilham baik-baik saja. Tapi, aku harus mencarinya ke mana? Hutan ini sangat gelap dan entah aku sendiri berada di bagian mananya,” gumamnya sambil menoleh ke sekeliling.


Dengan hati-hati, Ardana kembali menelusuri area hutan. Tanah basah yang diinjaknya lama-lama terasa lebih dalam. Rasanya seperti menjelajahi rawa-rawa. Hingga beberapa ratus meter kemudian, di beberapa sudut bawah pepohonan yang ada di sekitarnya terdapat berbagai sisa barang peninggalan orang-orang yang menghilang. Mulai dari ransel utuh, kaleng bekas dari makanan kemasan, topi hingga sisa kain. Ardana berhenti untuk melihat lebih detail. Dia sempat merinding karena semua itu adalah saksi bisu hilangnya mereka. Ditelan oleh kemisteriusan Hutan Sirnasurya yang notabene dibuat oleh manusia sendiri.


Ardana memilih tidak merecoki barang-barang peninggalan orang hilang di sana sampai akhirnya dia kembali menemukan sesuatu yang menurutnya tidak biasa. Sebuah tulang kering kaki manusia yang menyembul dari balik tanah basah, tidak jauh dari tempatnya berdiri. Dari sekian banyak sisa barang peninggalan di sana, hanya itu yang tampak mencurigakan. Sebuah sepatu boot bertali masih melekat di atasnya.


Otak pemuda ini tidak sampai menyimpulkan apa yang dilihatnya adalah perbuatan iseng para penjaga hutan sebelumnya, untuk menakut-nakuti siapa saja yang berani memasuki Hutan Sirnasurya. Penasaran, dengan tangan kanannya Ardana mencoba mencabut. Namun sesuatu dari dalam tanah seperti menahan tulang kering itu.


“Tersangkut apa ini?” tanyanya keheranan.

__ADS_1


Ardana mengerahkan seluruh tenaganya yang dipusatkan di tangan kanan. Dengan sekali hentakan akhirnya tulang kaki tersebut berhasil tercabut. Namun yang ikut terangkat bukan hanya itu saja. Ternyata masih ada bagian paha sampai pinggang utuh dan masih berdaging, meski warnanya sudah menghitam dan agak meleleh.


Bau busuk luar biasa menyergap indera penciuman Ardana tanpa terelakkan lagi, membuatnya melempar tulang kering kaki tadi sejauh mungkin dan mundur surut. Isi perutnya seperti dikocok kuat dan ingin keluar. Sedetik kemudian dia muntah-muntah dengan tubuh membungkuk hingga nyaris ambruk.


“Hueeeekkh! Hueeeekkh! Benar-benar busuk tidak ketolongan!” Pemuda ini memuntahkan semua yang sudah dimakannya beberapa jam lalu.


Baru saja dia ingin berdiri, dari arah belakang muncul sekelebat gerakan berwujud manusia. Sosok itu langsung menarik Ardana ke salah satu pohon besar yang berjarak sekitar enam meter di sebelah kiri. Ardana yang terkejut tidak sempat melakukan perlawanan. Dan ketika dia akan melakukannya, sosok itu meletakkan jari telunjuk di mulutnya.


Kedua mata Ilham melotot tepat di depannya. Dan entah hanya candaan atau memang serius, sebilah pisau survival juga didekatkan pada wajahnya.


“Pak Ilham? Syukurlah, Bapak dari mana saja?” Ardana tidak bisa menahan lagi rasa senangnya melihat lelaki paruh baya itu dalam keadaan baik-baik saja.


“Harusnya saya yang tanya kamu ke mana? Tahu-tahu sudah tidak ada di belakang.” lham memicingkan mata dengan intonasi tertahan.


Ardana terkekeh. Lalu menceritakan bagaimana dia bisa terpisah jauh dari Ilham. Mendengar cerita si pemuda, Ilham hanya bisa mengusap wajah dengan menahan dongkol. Sempat mengira Ardana hilang karena diserang makhluk misterius seperti kemarin malam, lelaki ini bertindak cepat mencarinya. Kondisi hutan yang gelap memaksanya untuk lebih berhati-hati. Hingga hampir satu jam kemudian, dilihatnya pemuda tersebut sedang muntah di tempat yang tidak seharusnya.


Satu hal yang membuat Ilham tidak habis pikir adalah Ardana terpisah darinya hanya karena membayangkan momen bersama Paramitha di beranda rumah Nina tadi pagi. Kalau saja anak muda itu prajuritnya langsung di Kopassus, dia sudah mendampratnya habis-habisan.


Ilham terdiam sambil menggeleng. Wajahnya tampak seperti orang yang cemas.


“Untuk sementara sampai di sini dulu. Setidaknya kita sudah memahami kondisi medan, karena jika memaksa untuk dilanjutkan sangat berbahaya.”


Ardana langsung mengernyitkan dahi mendengar jawaban Ilham.


“Kenapa begitu, Pak?” tanyanya lagi.


“Ada lebih banyak. Mereka lebih banyak dari yang saya kira,” jawab Ilham singkat.


Tanpa memperjelas ucapannya lagi, Ilham mengajak Ardana untuk mengintip ke arah si pemuda tadi memuntahkan isi perutnya sendiri. Dia menunjuk ke sana agar Ardana bisa melihatnya langsung.

__ADS_1


“Pinjam sentermu dan lihat baik-baik,” pinta Ilham.


Kedua mata Ardana yang semula terpaut pada telunjuk Ardana beralih ke arah yang ditunjuk. Dia terkejut bukan main mendapati ada makhluk aneh lain di sana. Dari dalam tanah basah di depan mereka muncul monster mirip pacet dengan tubuh seukuran mobil MPV. Ia merayap pelan menuju tulang kering kaki yang tadi dilempar Ardana. Wujudnya tidak seperti pacet pada umumnya. Seluruh tubuhnya terdiri dari daging merah kehitaman seperti terbakar. Mulutnya yang berbentuk bundar dibuka lebar. Sisa daging paha dan pinggang pada tulang itu dimasukkan ke dalam tubuhnya.


Pacet mutan bertubuh besar tersebut seperti sedang berkumur-kumur. Hanya berselang enam detik kemudian makanannya tadi dimuntahkan kembali, dengan hanya sisa tulang berselimut lendir merah busuk tanpa daging lagi. Pemandangan menjijikkan itu hampir membuat Ardana muntah untuk kedua kalinya. Anehnya, cahaya senter yang dsorotkan langsung oleh Ilham ke arahnya seperti tidak terlihat sama sekali.


“Pacet mutan itu... tidak bisa melihat apapun tapi tampaknya mampu mendeteksi mangsa melalui getaran yang ditimbulkan. Nasibmu akan berakhir seperti sisa potongan kaki itu kalau saya tidak segera menarikmu dari sana,” kata Ilham sambil menarik diri kembali.


Sambil membaca situasi, Ilham mencoba memikirkan cara agar bisa keluar dari area tengah Hutan Sirnasurya. Dia sudah memahami kalau makhluk-makhluk aneh yang dijumpainya sejak kemarin hanya keluar ketika malam hari dan gelap. Yang perlu diketahuinya adalah asal kemunculan mereka. Area ujung timur hingga selatan yang ditengarai ada semacam jalan rahasia menuju sesuatu tempat masih menggentayangi pikirannya.


Di sebelahnya, Ardana menggenggam erat Sako Rk.95 sambil melirik kiri dan kanan. Sesekali dia meringis menahan sakit di bagian iga kirinya. Seperti halnya Ilham, dia ikut diam dan tidak menimbulkan suara yang bisa memancing pacet raksasa tadi mendatangi mereka.


“Kenapa denganmu?” tanya Ilham begitu melihat ekspresi menahan sakit si pemuda.


“Sepertinya iga saya kena, Pak. Saya sempat bergumul melawan satu makhluk aneh yang membajak mayat seorang petualang. Hampir saja saya jadi makanannya. Untungnya saya berhasil membunuhnya meski harus terbanting ke arah pohon. Kejadiannya setelah saya terpisah dari Bapak tadi,” jawab Ardana panjang lebar.


“Parah, tidak?”


“Sepertinya tidak, Pak.”


“Butuh dipapah hingga keluar dari sini?”


“Terima kasih, Pak. Tapi, saya masih sanggup berjalan sendiri.”


Ilham memeriksa ulang sisa amunisi yang dimilikinya. Sejak kedatangannya, dia belum menggunakan senapan serbu FN SCAR type L itu sama sekali. Akan sangat disayangkan kalau digunakan hanya untuk menghabisi makhluk lunak seperti pacet mutan yang berada tidak jauh dari tempat mereka bersembunyi.


“Kita keluar perlahan ke arah sana.” Dia menunjuk ke arah depan. “Lalu berputar ke arah kiri, kembali ke area timur hutan ini,” lanjutnya.


Ardana mengerti. Namun dengan kondisinya sekarang kemungkinan dia akan kesulitan bergerak terlalu cepat. Rasa ngilu yang kuat memaksanya untuk hemat bicara apalagi terpancing emosi. Dia mungkin akan membutuhkan tukang urut tradisional atau pergi ke puskesmas desa setelah keluar dari tempat yang disebutnya sebagai hutan terkutuk itu.

__ADS_1


“Kondisimu tidak akan menghambat. Percayalah,” kata Ilham meyakinkannya.


* * * * *


__ADS_2