
Malam harinya
Ardana melirik jam tangan di pergelangan tangan kanannya. Benda berteknologi layar sentuh itu menunjukkan jam sepuluh lewat tiga puluh menit. Tidak seperti biasanya, suasana di Desa Cikembang dan Hutan Sirnasurya berubah lebih dingin dari biasanya. Semenjak penemuan mayat tadi pagi hampir sebagian besar warga desa memilih berada di dalam rumah. Yang tidak terpengaruh oleh rasa takut tetap menjalankan aktivitas seperti biasa, terutama para peronda yang mendapat giliran dan penjual makanan.
Pemuda ini dan Ilham sudah berada di lokasi pemberhentian di bagian timur Hutan Sirnasurya. Cukup jauh dari Desa Cikembang hingga harus melintasi dua desa lain yang jaraknya juga tidak dekat. Keduanya berangkat sebelum pukul delapan malam dengan menggunakan mobil Ford Ranger yang sama. Ilham menginginkan lokasi penyelidikan yang lain.
Kedua mata Ardana bergerak dari kiri ke kanan, menyapu hampir seluruh area timur Hutan Sirnasurya. Dalam hatinya, dia mengakui kalau bagian lain hutan buatan tersebut lebih menyeramkan dari yang sebelumnya di dekat Desa Cikembang. Jika di sana masih ada jalan masuk setapak, kali ini yang ada di hadapan mereka tampak seperti belantara lebat. Sisa pagar kawat yang robek dengan tanda larangan masuk yang sudah kotor masih terpampang, menandakan tidak ada manusia yang masuk dalam waktu yang lama. Petugas penjaga hutan yang dul berjaga kemungkinan besar juga tidak pernah mengecek ulang. Menurut rumor yang beredar, pernah terdengar teriakan-teriakan orang kesakitan dari dalam hutan namun ketika didatangi tidak ada siapapun atau apapun.
Konsentrasi Ardana sebenarnya sedang tidak mendukung karena terpecah dua antara tugas pokok dan Paramitha. Jauh di sanubarinya, dia memang mulai tertarik dan penasaran pada gadis itu. Paramitha yang tadi pagi dilihatnya adalah jatidirinya yang asli. Gadis anggun yang sedikit pemalu, namun tetap teguh dengan prinsipnya. Meski memaksakan tampil seperti orang galak demi keselamatan dirinya sendiri. Nina juga menceritakan kalau watak gadis itu mirip seperti ayahnya yang pemberani dan terkadang nekat demi melindungi diri dan orang-orang tercintanya. Ilham bahkan menyerah menghadapi Paramitha yang tetap ingin berada di Desa Cikembang sampai beberapa hari.
“Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Begitu juga dengan Paramitha dan mendiang Linggasatria,” kata Ilham sambil turun dari mobil.
Ardana tersenyum tipis. Hawa dingin yang lebih tajam dari biasanya memaksanya untuk mengenakan kain syal merah marun di leher. Paramitha memberikan padanya langsung, gadis itu bilang sebagai tanda terima kasih.
“Aku belum punya sesuatu yang mungkin menurutmu berharga sebagai tanda terima kasih karena sudah mau repot mengajukan diri begitu. Kalau tidak ada kamu, mungkin sampai hari terakhir di sini aku akan tetap berdiam diri dan tidak leluasa pergi ke luar. Tapi... syal ini adalah tanda terima kasih dariku. Kuharap kamu mau menerima dan tetap menyimpannya.” Demikian perkataan Paramitha sebelum Ardana dan Ilham berpamitan untuk kembali ke balai desa.
__ADS_1
Ardana melangkah maju ke depan mobil sambil mengamati Hutan Sirnasurya. Di belakangnya, Ilham masih sibuk memeriksa senjata dan perlengkapan. Senapan AWP yang jadi andalan sengaja ditinggal di bak belakang. Kali ini senapan serbu FN SCAR type L menjadi mainannya. Tanpa meninggalkan seni modifikasi kesukaannya, peluru senjata tersebut sudah didesain untuk menembus lapisan kulit makhluk hidup sekeras apapun. Ardana mengernyit. Dia bahkan baru tahu Ilham membawa senjata buatan Belgia itu dari rumah.
“Saya baru tahu Anda bawa senjata itu, Pak,” ucap Ardana.
Ilham mengulum senyum sambil memgagumi senjata dalam genggamannya itu. “Untuk berjaga-jaga kalau ada sesuatu yang merepotkan seperti malam kemarin,” balasnya.
Lelaki paruh baya ini mengalihkan tatapannya pada area hutan di depan. Melihat lebatnya medan kali ini, ada sedikit kekecewaan yang terpampang jelas di wajahnya. Kalau dahulu ketika masih menjadi personil aktif di Kopassus dia sering menerobos hutan Papua yang lebih lebat dari Hutan Sirnasurya, namun kali ini ada rasa malas untuk mengulanginya lagi. Apalagi yang menjadi ancaman keselamatan mereka berdua bukan manusia.
“Kita masuk sekarang,” katanya.
Dengan hati-hati, Ardana melangkahkan kaki. Memasuki area timur hutan itu ternyata tidak semudah yang dibayangkannya. Antara satu pohon dengan pohon lainnya jaraknya lebih dekat. Selain lebih gelap, cahaya senter LED yang terpasang di bagian depan helm kevlarnya tidak banyak membantu. Terkadang dia tersandung oleh akar pohon yang luput dari pengamatannya. Berkali-kali juga mulutnya mengumpat pelan sambil menahan perih di bagian kaki. Pengalaman mengerikan kemarin membuatnya jadi lebih sering mengantisipasi bagian dahan pohon di atas. Dan... kalau ada mayat yang tersangkut di dahan pohon dia bisa langsung berseru memberitahu Ilham.
Beberapa menit sudah berlalu. Alat pengukur jarak milik Ilham yang terpasang di pergelangan tangan kirinya sudah mencapai angka sembilan ratus dua puluh sembilan dalam satuan meter.
Jroshk!
__ADS_1
Ardana tiba-tiba berhenti. Kaki kanannya menginjak sesuatu yang basah dan sangat lembut. Perlahan dia mengangkat tangan kirinya dan menoleh ke bawah. Begitu tahu apa yang diinjaknya kedua matanya membelalak. Bukan tanah basah, melainkan bangkai seekor kambing yang sedang mengalami proses pembusukan. Kaki kirinya menginjak tepat bagian isi perut yang sudah tidak karuan. Anehnya tidak ada bau yang dikeluarkan. Hanya geliat ribuan belatung yang beberapa di antaranya juga menempel di sepatu. Ardana segera membasuhnya dengan air mineral kemasan yang dibawanya.
“Kambing mati di tengah hutan begini? Pemiliknya pasti memilih merelakan kambingnya hilang daripada mencari sampai masuk ke sini,” desisnya.
Ilham mengerutkan dahi menyaksikan bangkai kambing yang tidak sengaja terinjak oleh Ardana. Ada bekas luka gigitan memanjang dari leher sampai perut hewan itu. Dia berjongkok cukup dekat agar bisa melihatnya lebih jelas. Luka gigitan itu ternyata puluhan cabikan yang cukup parah.
“Hewan ini diserang, Dan,” imbuhnya.
“Eh? Diserang, Pak?” Ardana menoleh penasaran.
Ilham mengangguk, “Benar. Tidak kasar seperti yang ada pada mayat korban tadi pagi. Yang ini lebih halus meski sisa-sisanya menunjukkan dampak parah.”
Ardana mundur sejauh tiga langkah ke belakang Ilham. Sambil berusaha mencerna perkataan pengawasnya itu, hatinya menggerutu karena malam kedua penyelidikan sudah harus kena apes dengan tidak sengaja menginjak bangkai hewan yang sudah membusuk.
Tanpa disadari oleh Ardana dan Ilham, ada sesuatu yang lain sedang mengintai dari rapatnya dahan pohon. Sesosok makhluk yang tampak hanya siluetnya itu bergerak pelan tanpa suara hingga berada tepat di atas kedua lelaki berseragam tersebut. Belasan helai daun yang berguguran di sekitar Ardana karena terkena pergerakan makhluk itu hanya dianggap si pemuda sebagai efek terpaan angin.
__ADS_1
“Hm? Anginnya berhembus lebih kencang, ya?” Ardana mendongak ke atas.
* * * * *