
Celah kecil antara lorong tadi mengantarkan Ardana dan Ilham ke tengah-tengah mayat para tentara tanpa tanda pengenal kesatuan yang tampak sedikit mengeras. Ekspresi ketakutan begitu jelas terabadikan pada wajah-wajah yang hampir tidak bisa dikenali karena rusak. Semua menghadap ke arah yang sama meski ada beberapa yang berada dalam posisi berbalik. Ada yang masih memegang senjata dan seperti akan menembak sesuatu di belakang.
Semuanya mengenakan seragam dan perlengkapan tempur lengkap mulai dari rompi anti peluru hingga helm kevlar yang dilapisi kain dengan corak kamuflase yang sama dengan seragam. Pada beberapa tubuh beku yang tersungkur, kondisinya sudah tidak sempurna. Sesuatu yang sangat tajam telah mengoyak dan menggerogot mereka di saat-saat terakhir hidup. Bagi kebanyakan orang, kematian dengan kondisi seperti itu akan membuat bulu kuduk merinding. Terutama jika tidak sengaja menemukannya di tengah kegelapan.
Ardana mengelilingi beberapa mayat yang masih memegang senapan serbu. Dahinya mengerut. Dia dapat dengan mudah mengenali beberapa varian senjata api yang sedang diamatinya..
“Senjata-senjata ini buatan PINDAD, Pak,” katanya sambil mengambil sepucuk SS2 V-4 yang tergeletak di lantai lorong. Ketika diperiksa, ternyata masih bisa digunakan meski tampilannya terlalu kusam.
Tidak ada larangan untuk mengambil senjata rampasan yang ditetapkan Ilham. Seperti merayakan panen, Ardana menggantungkan senjata tersebut di balik bahu kirinya. Selanjutnya dia bergerak menjarah peluru-peluru tajam dalam kantung amunisi yang cocok pada setiap jasad beku yang tidak lagi bergerak. Melihat tindakan itu, Ilham hanya menggeleng.
“Jangan berlebihan. Kalau ada kebutuhan mendesak untuk keamanan di sini, kan masih bisa kamu ambil lagi,” pesannya mengingatkan.
“Siap, Pak.” Ardana menyudahi penjarahan amunisi sambil melihat-lihat jasad tentara yang lain. Pemuda ini tampak puas mendapat senjata baru yang nantinya akan dibersihkan setelah kembali ke rumah kepala desa.
Ilham berjalan meninggalkan Ardana yang masih melanjutkan pengamatan pada kondisi mayat. Perhatiannya tertuju pada pintu baja yang ukurannya hampir memenuhi diameter lorong. Di sisi kiri dan kanan teracung moncong senjata mesin berjenis gattling gun yang tampaknya berfungsi sebagai perangkap untuk menghabisi apapun yang dikenali sebagai ancaman. Terdapat pula pos pemeriksaan yang menyatu dengan sisi kiri dan kanan dinding lorong dengan ukuran tidak lebih dari tiga meter.
Pintu baja tersebut dalam keadaan terbuka namun tidak lebar. Salah satu mayat serdadu memeganginya dari arah dalam dengan mulut menganga. Bagian dada kanannya terdapat lubang lebar bekas ditembus benda tajam dari belakang. Di kedua pos di dekatnya, ada tujuh mayat lain yang dalam keadaan terduduk sambil mengulurkan tangan ke depan. Lebih tepatnya berusaha menghalau dan tersudut.
“Tempat apa ini sebenarnya? Para tentara ini tampak ketakutan dan berlari dari sesuatu,” gumamnya.
Ardana yang menyudahi pengamatannya memasuki salah pos pemeriksaan bagian kanan dan berjongkok di depan salah satu mayat yang duduk tersudut. Jasad itu tidak memiliki rahang bawah hingga luka parah menurun ke bagian leher, seperti sudah dicungkil paksa. Si pemuda menggeledah satu demi satu jasad untuk menemukan sesuatu yang sekiranya dapat dijadikan petunjuk. Tidak ada yang bisa diperiksa selain foto dan pernak-pernik yang mereka gunakan ketika masih hidup. Alat komunikasi dengan layar LED di atas meja juga tidak berfungsi dan rusak.
“Tidak ada petunjuk apapun di sini, Pak. Mungkin kita harus periksa bagian dalam lorong di balik pintu ini?” Ardana mengusap-usap pintu baja sambil melongok ke dalam.
Ilham tidak langsung menyetujui usulan si pemuda. Dia tampak ragu untuk meneruskan penyelidikan dengan masuk ke bagian lain lorong di balik pintu baja. Kondisi di sana sama gelapnya. Dalam batas jarak jangkau senter yang diarahkan Ardana ke sana tampak siluet mayat para tentara yang lain.
“Kita kembali saja ke mobil,” jawabnya setelah terdiam beberapa detik, “ambil peralatan garis pengaman dan lain-lain.”
Ardana menoleh, “Eh... kita tidak masuk ke dalam sana sekarang?”
__ADS_1
Ilham menggeleng, “Tidak. Buat pengaman di sekitar lubang di atas saja. Nanti kita bisa pantau dengan CCTV jarak jauh dari rumah Odang atau kalau sempat bisa dengan drone.”
* * * * *
Dua hari kemudian
Kujang hitam dengan gagang tanduk putih mengkilap itu diambil dengan sangat hati-hati dari wadah kaca transparan. Paramitha sempat tertegun sebelum akhirnya tangannya menimbang-nimbang benda pusaka warisan keluarga besarnya. Semerbak harum kayu cendana dari senjata tradisional Sunda yang memiliki panjang 40 sentimeter tersebut seakan mengelilingi tubuhnya.
Tidak jauh di sebelahnya, Ardana yang duduk rapi melihat dengan antusias. Siang itu, dia mampir ke rumah Nina karena Paramitha sendiri yang mengundangnya sekaligus makan siang bersama. Ada beberapa hal yang ingin diperlihatkan gadis itu setelah mengetahui keduanya sama-sama menyukai sejarah dan budaya Sunda. Ardana sendiri juga ingin mengetahui seluk-beluk keluarga Catranata dan perannya di masa lalu.
“Wanginya tidak pernah hilang. Tetap sama ketika aku melihatnya pertama kali di waktu kecil,” kata Paramitha sambil meletakkan kujang beserta wadah penyimpanannya di atas meja.
“Sudah berapa lama usia benda ini?” tanya Ardana sambil bergantian memegang kujang itu.
Paramitha tampak berpikir. “Kakek pernah bilang usianya sudah lewat dari seratus tahun. Sebenarnya kujang ini hasil tempa ulang dari peleburan kujang-kujang terdahulu yang pernah dimiliki keluarga besarku,” jawabnya.
“Benar. Sebenarnya ada tujuh jenis kujang yang usianya lebih tua. Aku sendiri belum tahu kenapa semuanya dilebur menjadi satu. Yang pasti, kakekku sering mengingatkan anggota keluarga yang lain agar menjaganya,” jelasnya.
Ardana membolak-balikkan kujang tua di tangannya untuk menemukan sesuatu yang menarik. Secara kasat mata tidak ada yang tampak aneh. Sama seperti kujang pada umumnya. Namun di bagian atas bilah sebelah kiri tertulis sebuah kalimat dalam huruf Sunda yang ditulis dengan tinta warna perak. Bunyinya adalah ‘Catranata Nu Nata Kajayaan’, yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia memiliki arti ‘Catranata Yang Menata Kejayaan’. Ardana terkesima membacanya. Dia melirik Paramitha.
“Apa maksudnya kalimat ini, Neng?” tanyanya penasaran.
Mendengar Ardana menyebut dirinya dengan pangilan tersebut, Paramitha hanya tersenyum simpul. Dia lalu menjelaskan maksud dari kalimat yang tertulis pada kujang warisan keluarga besarnya.
“Catranata Nu Nata Kajayaan. Sebenarnya itu kalimat penghormatan yang disematkan kepada keluarga besarku. Berawal dari masa Tatar Sunda yang kala itu terpisah antara Kerajaan Galuh dan Sunda, muncul seorang lelaki gagah dari kalangan rakyat jelata yang menjadi salah satu tokoh di depan layar dalam mengakhiri perpecahan kedua negeri sejak masa Raja Tarusbawa. Nama beliau bahkan tidak dikenal dalam sejarah populer namun diingat dalam naskah kuno yang hari ini tersimpan dengan rapi di rumah kakekku. Kami yang para pewarisnya pun tidak mengenal nama aslinya, karena hanya julukannya saja yang ditulis tegas dengan tinta merah, Sang Rakean Kusuma. Gelar Catranata adalah tambahan atas jasanya ikut menyatukan kembali Galuh dan Sunda, terutama karena beliau merelakan diri menjadi payung pelindung untuk orang-orang yang menderita baik saat maupun setelah konflik usai. Itu sebabnya lambang keluarga besarku adalah payung adat berwarna hijau, sebagai perwakilan dari perjuangan Sang Rakean Kusuma.
Setelah itu beliau menikahi salah seorang putri kerajaan bawahan di daerah selatan Tatar Sunda. Ketika mereka mulai memiliki anak, diperkirakan saat itulah nama Catranata dijadikan sebagai nama keluarga beliau hingga sekarang diwariskan pada kami, para keturunannya. Perlahan, keluarga besarku di masa itu mulai berubah menjadi keluarga dengan tradisi keprajuritan yang kental. Setiap anggota keluarga yang lelaki akan dilatih dan dikirim langsung ke ibukota Sunda untuk menjadi panglima atau sejenisnya di bidang pertahanan kerajaan. Sementara yang perempuan banyak berperan sebagai mata-mata yang mengamankan negeri dari balik bayang-bayang. Namun peran baru dikenal sangat luas setelah puluhan tahun kemudian.”
Ardana menyeruput kopi yang sudah disuguhkan Paramitha. Kisah tentang keluarga Catranata di masa lalu membuatnya tertarik. Dibandingkan dengan yang pernah diberitahu Ilham padanya berdasarkan pengalaman, yang didengarnya langsung dari kekasihnya itu memiliki nilai lebih yang luar biasa.
__ADS_1
Paramitha tersenyum manis kemudian menarik napas sejenak sebelum menyambung kembali kisah tentang keluarga besarnya.
“Kulanjutkan lagi, ya? Saat itu muncul wabah aneh yang melanda kawasan timur Tatar Sunda. Orang-orang dilanda ketakutan karena siapa saja yang tertular berubah menjadi makhluk mengerikan yang ganas. Mereka bahkan menyerang penduduk yang tidak tertular hingga menyebabkan kematian. Salah satu leluhur perempuan kami yang bernama Antari Aradhana dan adik lelakinya yakni Dewa Buana memimpin pasukkan kerajaan untuk mengamankan wilayah-wilayah yang belum tertulas sambil mencari tahu apa penyebabnya. Setelah lebih dari satu bulan, Antari dan pasukannya itu menemukan asal muasal wabah yang berasal dari sejenis bunga misterius berwarna hitam dengan banyak pola bercak merah yang kuat. Bunga ini mengeluarkan cairan merah menyerupai darah. Ternyata ada gerakan rahasia yang melakukan penyebaran wabah bunga hitam tersebut. Atas perintah kerajaan, Antari dan Dewa Buana segera melakukan penyerangan dan pembersihan. Konon, semua anggota gerakan penjahat itu terbunuh.
Sejak saat itu pamor keluarga besarku naik dan bertahan selama ratusan tahun. Tradisi keprajuritan perlahan mulai renggang setelah masa Konfrontasi Papua. Karena banyak anggota keluarga yang gugur melawan Sekutu dan Belanda. Yang harus meregang nyawa dalam serangkaian penyusupan ke Papua juga tidak sedikit. Karena itu para tetua keluarga besar memilih untuk menekuni bisnis perkebunan dan pembangunan selama bertahun-tahun. Selanjutnya, kamu tahu sendiri bagaimana nasib keluargaku hari ini.”
Wajah Paramitha berubah muram saat mengucapkan kalimat terakhir dalam penjelasannya. Ardana menggenggam tangan gadis itu sambil memberikan senyuman yang tidak kalah manis.
“Aku mengerti. Suatu saat nanti orang akan tahu Catranata yang besar itu sejatinya adalah pelindung desa ini,” ujarnya.
“Kalau tidak ingat dengan keamanan diriku, ingin sekali kutemui mereka lalu menjelaskan semua yang tersembunyi. Kupikir, hanya aku yang berani menampakkan diri kembali ke sini untuk membuktikan bahwa keluarga besarku bukan penganut ilmu hitam seperti yang dahulu pernah tersiar.” Paramitha mengepalkan tangannya namun sedikit lemah.
Ardana menggeleng, “Tidak. Aku tidak setuju kamu melakukan itu. Apalagi sekarang kamu belum memiliki bukti untuk membela diri.”
Mendadak dia teringat pada obrolannya dengan pemilik warung kopi di gapura barat desa beberapa hari lalu. Lelaki kurus pemiliknya sempat menyinggung ibu Paramitha yang berasal dari Desa Karanghawur yang berada bersebelahan dengan Desa Cikembang. Terlintas dalam pikirannya untuk mengajak Paramitha untuk pergi kesana, menemui keluarga dari ibu si gadis.
“Menurutku, kamu harus menemui keluarga ibumu di desa sebelah,” usulnya bersemangat.
Paramitha menoleh padanya. Ekspresi penasaran di wajah cantiknya muncul dan semakin menguat.
“Desa Karanghawur… tapi aku tidak tahu apa mereka masih ada di sana atau tidak. Karena sejak awal datang ke sini, aku belum pernah menginjakkan kaki di sana,” balasnya sedikit ragu.
“Kalau kamu ingat lokasi rumah tempat tinggal ibumu, kupikir tidak ada masalah. Kamu harus mencobanya, Neng.” Ardana enggan mengalah dan ingin idenya dilakukan oleh kekasihnya itu.
Pemuda ini memegang kedua bahu Paramitha, lalu membiarkan keduanya saling beradu pandang dengan lekat.
“Kita akan melakukannya bersama-sama,” tegasnya.
* * * * *
__ADS_1