
Ardana menahan napas sambil terus berjalan. Keadaan Hutan Sirnasurya di siang hari masih sedikit lebih baik ketimbang di waktu pagi atau malam. Meski nuansa kengerian tidak bisa dihilangkan begitu saja, pemuda ini bersyukur karena dia boleh membawa lebih dari satu senjata untuk berjaga-jaga. Senapan serbu SS-2 V4 yang ditemukan di dalam lorong beberapa hari lalu itu tergantung di belakang bahu kanannya. Sementara senjata lain yang tetap digunakannya untuk bertahan masih Sako Rk.95 pemberian dari Ilham.
Kali ini dia sendirian lagi seperti yang pernah dilakukan sehari sebelum mengantar Paramitha ke Desa Karanghawur. Sebagai ‘mata dan telinga’, Ilham menambahkan satu kamera berukuran mikro di bagian belakang helm kevlar yang dikenakan Ardana. Benda canggih yang tidak hanya mampu melihat sesuatu dalam kegelapan, tapi juga dilengkapi sensor panas yang dapat membedakan mana manusia dan mana bukan. Meski tidak yakin akan bisa memberikan peringatan dini akan kemunculan makhluk mutan dalam jarak jauh, Ilham bisa mengingatkan melalui alat komunikasi jika di belakang Ardana ada ancaman lain.
“Tes. Saya sudah di Sirnasurya, Pak.” Ardana mencoba kebolehan alat komunikasi yang terintegrasi dengan kamera di bagian belakang helm kevlar bercorak kamuflase darah mengalir.
[Saya bisa dengar kamu. Tidak perlu keras-keras begitu.] Balasan dari Ilham terdengar cukup jelas mendandakan koneksi yang sangat mendukung.
Di seberang sana, tepatnya dari kamar tamu di rumah Odang, Ilham duduk dengan mimik muka yang sangat serius. Benda itu terhubung dengan kamera belakang yang di pasang di helm kevlar Ardana. Yang tampak di layar kini bagian Hutan Sirnasurya yang sudah dilalui si pemuda. Matanya memicing mengamati setiap sudut yang terekspos.
Ardana mengedarkan pandangan ke sekitarnya dengan sangat teliti mulai dari depan ke atas lalu turun ke belakang bagian bawah, kemudian memutar kiri ke kanan dan seterusnya. Hampir satu jam kemudian, dia sampai di lokasi yang menjadi titik awal jalan masuk menuju lorong bawah tanah. Dengan hati-hati Ardana menuruni tangga besi spiral sambil menengok dan menodongkan senjata ke bagian dasar lubang.
“Saya sudah sampai di tempat biasa, Pak,” ucapnya sambil menyalakan senter LED di bagian depan helm dan bawah ujung laras senjatanya.
Tidak ada balasan dari Ilham, namun Ardana tahu lelaki itu tetap bisa mengawasinya dari jauh. Dia kembali menyusuri jalan masuk semula hingga akhirnya sampai di depan pintu baja yang terbuka tidak begitu lebar. Semua jasad tentara tanpa identitas ataupun lambang kesatuan yang ada di depannya masih tetap di tempat semula. Ardana berharap mereka semua benar-benar sudah mati dan tidak mendadak hidup ketika dia sudah melewati pintu baja di depannya.
[Dan? Coba kamu cari jalan lain. Barangkali kamu bisa menemukan lambang yang diceritakan Paramitha pada salah satu pintu.]
“Dimengerti, Pak.”
Ardana meneruskan perjalanan setelah melewati pintu baja. Tidak seperti saat terakhir kali, sesampainya di perempatan dia memilih terus menyusuri bagian lorong yang lurus dan tidak berbelok ke kiri maupun kanan. Setelah beberapa belas meter tidak menemukan ruangan apapun di dinding seperti di jalur kanan sebelumnya, jalur lorong yang sedang ditelusurinya ternyata berujung pada jalan menurun dengan kemiringan hampir empat puluh lima derajat. Dilengkapi dengan barisan anak tangga yang juga terbuat dari beton dan jumlahnya tidak diketahui karena terasa panjang untuk dilewati. Kondisinya yang licin membuat Ardana harus ekstra waspada dan hati-hati. Salah sedikit, dia akan jatuh terguling ke bawah dengan rasa sakit yang luar biasa. Sangat kecil kemungkinan untuk tidak mengalami patah tulang punggung, kaki dan tangan.
“Dalam sekali ternyata. Kukira hanya bagian atas tadi saja luasnya,” gumam Ardana.
[Bagaimana, Dan? Ada kesulitan apa yang kamu temukan?] tanya Ilham dari seberang. Meski berada di bawah tanah ternyata alat komunikasi yang dikenakan Ardana masih berfungsi dengan baik.
“Ada lantai lain di bawah, Pak. Saya tidak tahu pasti, tapi kemungkinan hampir mencapai kedalaman tiga puluh meter di bawah tanah,” jawab Ardana sambil menuruni anak tangga.
__ADS_1
Begitu menginjakkan kaki di ujung bawah sana, tepat di hadapannya terdapat sebuah tempat menyerupai penjara besar dengan banyak sel tahanan di sisi kiri dan kanan mencapai dua lantai lengkap dengan pagar besi pembatas. Total semuanya diperkirakan lebih dari seratus mengingat masih ada deretannya yang terus menggular hingga ke depan dan tertutupi kegelapan. Sebuah jalan penghubung menuju bagian lain lorong itu memiliki lebar sepanjang enam meter. Tergenang oleh tetesan air yang berasal dari langit-langit yang retak. Cukup besar untuk dikatakan mirip seperti sebuah penjara bawah tanah.
Ardana kembali berjalan. Pemuda ini sempat terperanjat manakala kaki kirinya merasakan sesuatu yang keras dan terdengar remuk di bawah alas sepatunya. Ketika diperiksa, sebuah tulang tangan manusia yang sudah kering dengan sisa sobekan jaket yang masih menempel.
Tanpa peduli dengan apa yang diinjaknya tadi, Ardana melanjutkan penyelidikan. Satu demi satu ruangan besar di balik jeruji besi diperiksanya dengan detail dimulai dari sisi kanan. Hingga naik ke lantai dua, lagi-lagi matanya harus membiasakan diri dengan beberapa jasad tanpa nyawa yang ada di dalam setiap sel. Hampir semuanya sudah menjadi tulang belulang namun masih terdapat sisa daging yang cenderung lembap dan menghitam di beberapa bagian tubuh. Ada yang masih memilikinya di kepala, dada, atau bahkan hanya sisa-sisa yang melekat di kaki maupun tangan.
“Siapa mereka? Kalau dilihat dari pakaian, tampaknya bercampur-campur.” Ardana mengerutkan kening sambil menyorotkan cahaya senter.
Sebagian besar jasad yang ada di setiap sel didapatinya mengenakan pakaian ala para peneliti, penjelajah dan mahasiswa magang. Lengkap dengan sisa barang bawaan seperti ransel besar, topi rimba dan lain-lain. Ada juga yang hanya mengenakan kaus biasa dan celana pangsi. Ardana teringat dengan berkas laporan orang hilang yang jumlahnya mencapai lebih dari lima ratus.
“Pak, saya masuk! Sepertinya... orang-orang yang dilaporkan hilang dalam berkas yang Bapak periksa sudah meninggal. Semuanya,” katanya seraya menurunkan intonasi suara. Dia merasa kurang nyaman dengan suasana ruangan besar yang sangat suram dan lembap.
[Apa?! Kamu yakin, Dan? Di mana kamu menemukan mereka?] Ilham tampak terkejut mendengar laporan Ardana dan mencoba mengonfirmasi ulang.
“Euh... masih di ruangan yang sekarang, Pak. Semuanya dikurung dalam tempat besar mirip penjara. Mungkin tidak semuanya. Saya belum mengeksplorasi bagian lain karena cukup luas,” balas Ardana.
[Ini akan jadi laporan terburuk untuk Odang,] gumam Ilham di seberang sana.
“Baik, Pak.” Ardana kembali fokus memeriksa setiap sel tahanan yang ada.
Sejak pertama memulai dari sisi kanan, setiap jeruji sel yang diperiksanya dalam keadaan terkunci. Posisi jasad yang semuanya tampak terpojok ke dinding seperti menjelaskan mereka dalam ketakutan sebelum akhirnya meregang nyawa dengan cara yang tidak bisa dibayangkan olehnya.
Krieeeeet!
Dari arah seberang, yakni deretan sel tahanan sisi kiri terdengar suara besi yang bergoyang. Seperti dimainkan oleh seseorang, atau lebih tepatnya sesuatu. Ardana mengarahkan senter dengan cepat sambil menyapu setiap sel yang terjangkau penglihatannya.. Tidak ada tanda-tanda seseorang di sana. Jeruji sel sisi kiri semuanya tampak dalam keadaan terkunci.
“Suara tadi... itu kan dari sana,” desisnya. Dia yakin sekali mendengar sesuatu dari seberang kiri.
__ADS_1
Ardana mencoba memastikan dia tidak sedang berhalusinasi dengan menepuk-nepuk pipi kirinya.
“Lebih baik cek langsung,” gumamnya.
Satu desahan sedikit sesak keluar dari mulutnya. Bagaimanapun juga dia masih penasaran dengan suara besi bergoyang tadi. Ketika memulai dari bagian lantai pertama di sel sisi kiri, tidak ada sesuatu yang mencurigakan. Hanya saja jumlah jasad di tiap sel yang ini lebih banyak dari yang ada di sisi kanan. Tidak ada waktu untuk mengabadikan penemuannya dalam jepretan kamera karena dia tidak sedang bersama Ilham.
Krieeeeet!
Suara yang sama kembali muncul, membuat Ardana menghentikan langkah seraya menahan napas tegang. Kali ini sangat jelas terdengar dari salah satu sel di bagian atas yang tertutupi oleh kegelapan. Terlalu jauh dari posisinya yang berdiri mematung.
Sako Rk.95 yang sejak tadi menganggur dalam genggamannya kini dibidikkan ke arah depan. Jari telunjuk kanannya perlahan mendekati bagian pelatuk. Ardana mengurangi kecepatan langkah kakinya, membuatnya sedikit rileks namun tetap sigap.
Sekelebat sosok merayap di langit-langit, jauh di depan Ardana. Menyerupai laba-laba namun hanya memiliki empat kaki. Makhluk itu bergerak begitu senyap dan benar-benar tidak terdengar suara apapun darinya, membaur dalam kegelapan. Sorot matanya yang tajam tertuju pada salah satu jasad tentara berseragam yang menggantung di pagar pembatas yang terbuat dari besi.
DRRRRRD!
Suara getaran dari besi yang dihantam membuat Ardana terkejut. Bola matanya melirik tegang ke bagian pembatas yang ada di dekatnya, lalu kembali tertuju ke arah depan. Pusat getaran tadi berasal dari arah sana. Tertutupi bagian gelap yang tidak terjamah oleh cahaya senternya.
Tidak lama kemudian Ardana menangkap sebuah suara lain yang berasal dari arah yang sama. Antara yakin dan tidak, dia menolehkan kepalanya ke kiri sedikit seolah memberi ruang agar telinga kanannya bisa mendengarkan suara tersebut lebih jelas.
Crrrk! Srrrrrk! Krrrtk!
Suara daging yang dikerat paksa dan kasar disertai tulang yang dipatahkan secara terburu-buru. Kedua mata Ardana membesar. Dia berhenti melangkahkan kaki lalu duduk setengah berlutut dengan senjata yang tetap diarahkan ke depannya. Senter yang menyala di helm kevlar dan bagian bawah ujung laras senapan serbunya dimatikan. Sempat terpikirkan olehnya untuk menembakkan suar, kalau tidak segera ingat dirinya sedang berada di sebuah tempat yang dicurigai menjadi sarang dari makhluk-makhluk mengerikan.
[Ardana, masuk! Ada sesuatu di belakangmu, dalam jarak dua puluh enam meter dari arah tangga lorong.] Suara Ilham yang tiba-tiba muncul mengejutkannya lagi.
Ardana yang sempat gelagapan menoleh cepat ke belakang. Sama seperti di depannya, tidak ada apapun yang dilihatnya. Tapi dia bisa mendengar suara langkah kaki yang terseok-seok dan berat disertai geraman samar.
__ADS_1
“Apa? Ada yang lain lagi?”
* * * * *