
Ardana teringat dengan salah satu benda canggih yang diberikan untuk para personl Baihaqi Armed Corps. Sebuah kacamata taktis dengan lensa bening transparan yang mampu membuat penggunanya bisa melihat cukup jelas dalam kegelapan. Bagian bingkainya dilengkapi lubang-lubang mikro yang memiliki bulatan pemijat untuk memberikan kenyamanan ketika digunakan.
“Untung saja selalu dibawa,” gumamnya sambil mengeluarkan kacamata tersebut lalu dipakainya.
Begitu matanya beradaptasi dengan benda itu, Ardana merasakan sensasi nyaman. Hanya butuh waktu satu detik, semua yang dilihatnya kini mulai tampak jelas. Bukan lagi warna hitam yang gelap gulita, tetapi visualisasi realistis sesuai aslinya. Ardana menyeringai senang. Dia terkagum-kagum dengan kemampuan kacamata taktis canggih yang diproduksi perusahaan tempatnya bekerja. Saat bola matanya yang mengedari sekeliling berakhir ke arah depan, pemuda ini terlompat kaget.
Di depan sana ada makhluk mutan menyerupai sapi besar yang sangat aneh. Seluruh tubuhnya hampir tidak memiliki kulit. Didominasi oleh daging merah dan hitam yang penuh selaput gembungan tembus pandang berisi cairan merah pekat. Mulutnya robek lebar hingga mirip seekor buaya. Makhluk itu sedang mengoyak jasad tentara yang sudah setengah membusuk.
“Aduh, aduh. Kenapa harus bertemu dengan yang lebih mengerikan, sih? Apes benar penyelidikan kali ini,” desisnya tertahan sambil perlahan mundur.
Di saat yang sama suara langkah kaki terseok di belakangnya semakin dekat. Seakan sedang menuju ke posisinya. Ardana memberanikan diri untuk menoleh.
Sesosok makhluk berwujud jerangkong dengan tinggi lebih dari dua meter terhuyung-huyung di jalur antar lorong yang membelah deretan sel sisi kiri dan kanan sambil mengendus-endus. Wajahnya yang sudah nyaris tanpa daging itu terangkat ke atas sambil memamerkan mulutnya yang menyeringai lebar. Barisan gigi-gigi besar dan runcingnya bisa dlihat jelas oleh Ardana meski jaraknya masih agak jauh.
“Je—jerangkong?! A—ada makhluk yang mirip jerangkong begitu? Wah, kacau ini!” Ardana menoleh ke depan dan belakang berkali-kali sambil berusaha mencari tempat bersembunyi di bagian lain.
Pemuda ini kemudian melirik ke bawah. Makhluk dengan tubuh semi skeleton berbungkus daging hangus kemerahan tadi masih mengendus-endus sambil terus berjalan. Tampaknya ia mulai mencium kehadiran satu-satunya manusia yang berani masuk ke sana. Karena sesekali wajahnya menengadah ke atas.
Di saat bersamaan, sapi mutan yang ada di depan perlahan menoleh tepat ke arahnya. Makhluk ini tampaknya juga merasakan kehadiran Ardana yang sejak tadi diam mematung dengan senjata tergenggam. Mulutnya yang sedang menggigit sekerat organ tubuh manusia itu menganga tertahan.
Krakk!
Ardana membelalak dengan mulut mengatup kuat. Tanpa sengaja dia kembali menginjak sesuatu yang seketika retak. Suaranya cukup keras karena suasana tempat yang terlalu hening. Pemuda ini enggan memeriksa benda apa yang hancur di bawah kakinya karena sapi mutan yang semula diamatinya mulai menyadari kehadiran calon mangsa baru. Gerakan maju perlahan makhluk bertubuh besar dengan organ dalam menggelantung itu sudah cukup menjadi alarm bahaya baginya. Gembungan-gembungan di tubuh monster tersebut seperti mengeras dan akan pecah.
Sambil tetap menodongkan Sak Rk.95 di tangannya, pemuda ini melangkahkan kaki lagi ke belakang. Kedua telinganya menangkap jelas suara yang ditimbulkan dari pergerakan sapi mutan itu. Geraman samar jerangkong hidup di bawah entah kenapa juga mulai terasa semakin dekat. Ternyata makhluk yang satu ini juga sedang naik dan menuju ke arahnya.
Ardana benci menghadapi kenyataan yang sekarang. Melompat dari pagar pembatas ke bawah hanya satu-satunya pilihan yang sangat mungkin untuk dilakukan, karena dia sendiri tidak bisa memastikan kedua makhluk mengerikan yang sama-sama menuju ke arahnya itu bisa dilumpuhkan hanya dengan belasan butir peluru. Tidak lama kemudian dia berhenti sambil menunggu mereka semakin dekat.
“Sepertinya aku benar-benar harus melompat langsung ke bawah,” gumamnya sedikit mendongkol. Tangannya mulai meraba-raba pagar besi pembatas di dekatnya.
__ADS_1
GRRRRROOOOOOAAAAAARRRRRR!!
Sapi mutan itu tiba-tiba menerjang ke arahnya. Tanpa berpikir panjang lagi Ardana melompati pagar pembatas. Hampir saja lehernya terkena gigitan mutan predator yang mengira akan mendapat mangsa segar.
Brukk!
“Awww! Aaaww!” Pemuda ini mengaduh kesakita karena tulang kering dan lututnya menghantam langsung ke lantai beton yang keras. Hampir saja dia memilih diam selama beberapa detik untuk memulihkan rasa sakit kalau tidak segera menyadari gerakan si sosok jerangkong ke arahnya.
Makhluk itu ternyata lebih menyeramkan jika dilihat dari dekat. Selain tubuh semi skeleton yang masih terbungkus sedikit daging, kedua matanya tidak berwarna putih atau apapun. Hanya hitam kelam yang penuh dengan bintik merah darah. Giginya yang dilengkapi dua taring runcing dan bergerigi bermandikan darah merah kehitaman yang sesekali keluar dari mulut.
RATATATATAT!
Ardana melepaskan tembakan ke arah tempurung kepala makhluk tersebut. Jerangkong itu terjengkang ke belakang begitu proyektil-proyektil tajam menghancurkan hampir seluruh bagian kepalanya. Si pemuda sempat lega sebelum akhirnya terjadi sesuatu yang membuatnya tercengang. Jerangkong yang baru saja dihabisinya kembali bangkit dengan kepala meledak kecil. Dari pangkal lehernya muncul gumpalan daging tanpa mata yang hampir dipenuhi tentakel merah berlendir hitam. Benda-benda hidup dan lunak tersebut menggeliat cepat tanpa arah. Tidak ada bagian mata yang nampak selain puluhan gigi tajam yang memenuhi area rongga mulut.
“Wah, apa-apaan ini?!”
Makhluk itu tiba-tiba berlari ke arahnya dengan tangan terulur ke depan, seakan ingin mencekik lalu memakan isi kepalanya. Ardana bergidik ngeri sambil berusaha menghindar. Situasi bertambah merepotkan ketika sapi mutan yang hampir menggigitnya di lantai dua sisi kiri sel turun.
Kedua makhluk itu tiba-tiba saling serang satu sama lain. Rupanya mereka berebut untuk memakan Ardana. Memanfaatkan pertikaian menggelikan namun seram itu, si pemuda berlari meninggalkan lokasi sel tahanan tanpa menoleh lagi ke belakang. Kedua kakinya tetap dipaksakan berlari meski masih merasakan sakit di bagian lutut dan tulang kering.
Keluar dari tempat menyerupai lapas tadi, Ardana menyusuri jalur lorong panjang dan lurus yang berujung di sebuah pertigaan. Dua arah lainnya masing-masing mengarah ke kiri dan kanan. Sempat merasa khawatir, dia berhenti sejenak sambil menoleh ke belakang. Memastikan kedua makhluk menyeramkan yang memburunya tidak mengetahui pergerakannya. Setelah dirasa aman, Ardana baru berani duduk terkulai di lantai beton yang terasa dingin. Senapan serbu Sako Rk.95 yang masih terasa panas di tangannya diletakkan di sebelah kirinya.
Cklik!
Cahaya senter di helm kevlarnya kembali dinyalakan. Sempat terdengar raungan dari arah deretan sel tadi namun kembali hening. Hanya suara napasnya saja yang terdengar jelas terengah-engah. Ardana mengedip-ngedipkan mata sambil berusaha menarik napas sebanyak yang dia bisa.
Bau amis menyengat tiba-tiba tercium. Ardana refleks menutup hidung karena tidak tahan meski sudah mengenakan buff yang juga berfungsi sebagai masker. Saat mengedarkan pandangan ke sekeliling untuk mencari sumber bau, dia nyaris memekik kaget luar biasa. Di dinding lorong sekitarnya ada beberapa jasad manusia yang menempel satu sama lain dalam jeratan urat dan daging berwarna merah hangus. Sebagian dari mereka mengenakan seragam tentara yang sama seperti di dekat pintu masuk dekat dasar lubang sumur. Ada juga yang tubuhnya dibalut jas putih yang sudah terkena noda darah.
Ardana mencoba berdiri dan mendekati sekumpulan jasad itu. Meski tampak mengeras namun sisa daging yang menempel sebenarnya masih merah berdarah dan cenderung meleleh. Bau amis yang tadi diciumnya berasal dari cairan berwarna kekuningan yang masih menetes dari beberapa di antaranya. Sedikit demi sedikit lalu mengental di sudut antara dinding dan lantai.
__ADS_1
“Ini akan jadi penyelidikan yang menarik meski sangat menjijikkan,” ujarnya sambil menahan mual.
Beberapa detik kemudian kilatan cahaya dari smartphone-nya menerangi area pertigaan lorong sebanyak enam kali.
“Pak? Pak Ilham? Masuk!” Ardana mencoba menghubungi Ilham kembali sambil menoleh ke kiri dan kanan.
[Ya, saya bisa dengar. Apa yang terjadi tadi, Dan?] balas Ilham, lalu bertanya padanya.
“Ada sedikit gangguan,” jawab Ardana sambil berusaha menetralkan rasa tegangnya, “tapi saya berhasil lolos dari makhluk-makhluk itu.”
[Baguslah kalau begitu. Bagaimana keadaan kamu sekarang?]
“Masih aman. Tapi... tidak tahu apakah makhluk mirip jerangkong dan sapi monster tadi akan memburu saya kembali.”
[Berhati-hatilah. Laporkan pada saya jika menemukan sesuatu yang dianggap penting.]
“Dimengerti, Pak. Kalau begitu, saya akan berusaha mencari tempat penyimpanan dokumen yang lain du—.”
Ardana tiba-tiba mendelikkan mata lalu membungkuk. Rasa mual yang dialaminya karena mencium bau amis cairan tubuh dari jasad di depannya akhinya tidak bisa ditahan. Dengan terburu-buru dibukanya buff masker yang sedang dikenakannya.
“Hmmppp...! Huueeekkh! Huuueeekkkh!”
Semua yang sudah dimakan dan setengah terolah dalam sistem pencernaannya keluar dengan terpaksa dan tidak terelakkan lagi. Sambil terus memuntahkan ampas sisa makanan yang dikonsumsi sejak semalam ke lantai, Ardana berusaha menghindar tanpa melihat lagi ke belakang. Jalannya sedikit tertatih dan tanpa disadarinya, dia memilih jalur lorong ke arah kiri.
[Dan? Kamu baik-baik saja?] Ilham yang mendengar muntahan si pemuda terkesan cemas dari intonasi suaranya.
“Hanya... kurang bisa tahan dengan... bau amis mayat, Pak. Baunya sangat aneh dan tidak wajar,” balas Ardana sambil memegangi kepalanya dan menggeleng-geleng.
Di bagian sudut atas yang tidak terjangkau penglihatannya, terdapat plat besi bercat hijau yang sudah berkarat dan hampir dipenuhi noda darah.
__ADS_1
RUANG PENYIMPANAN BAKAL CALON EKSPERIMEN.
* * * * *