
Ardana membuka mata perlahan dan mendapat dirinya sudah berselimut jaket woll merah marun milik Paramitha. Tangannya meraba punggung untuk memastikan kondisi luka memarnya mulai membaik. Yang dirasakannya justru agak sedikit kaku. Dia pun bangun lalu duduk di tepi ranjang dengan kedua kaki dijuntaikan ke bawah. Posisinya berhadapan langsung dengan Paramitha terlelap dalam posisi duduk dekat pintu ruangan. Bersandar pada salah satu lemari besi berkaca di sebelahnya. Tangan gadis itu menggenggam kalung berlian yang pernah dilihat Ardana ketika mereka pergi ke Desa Karanghawur. Tampaknya Paramitha selalu membawa benda berharga itu kemanapun dia pergi.
“Jam berapa ini?” tanyanya sambil melirik jam tangannya. Layar dijitalnya menunjukkan angka sebelas lewat dari empat puluh delapan menit.
Dia mendesah sambil mengambil helm kevlarnya. Berjam-jam terjebak dalam situasi menegangkan dan kini dirinya terjebak bersama Paramitha. Tidak pernah terbayangkan olehnya hal itu bisa terjadi. Beban yang harus ditanggungnya kini ada dua sekaligus.
“Sudah semalam ini? Pak Ilham dan Bu Nina pasti mencemaskan kami,” gumamnya kemudian.
Sambil mengenakan kembali semua perlengkapan tempurnya, Ardana tidak melepaskan pandangannya dari Paramitha. Ada rasa kasihan saat wajah cantik itu menyiratkan kelelahan yang sangat terasa olehnya. Teringat pula saat dia dan Ilham mendatangi makam kedua orangtua si gadis yang berada tidak jauh dari sisa-sisa rumah besar keluarga Catranata. Entah apakah Paramitha tahu tentang hal tersebut atau tidak sama sekali.
Meski kondisi punggungnya belum benar-benar membaik, membawa tiga senjata laras panjang sekaligus beserta amunisi dan kelengkapan lainnya tidak menjadi masalah baginya. Bagaimanapun juga semua dibutuhkannya untuk bisa keluar dengan selamat bersama Paramitha. Untuk berjaga-jaga, dia menggunakan Sako Rk.95 pemberian Ilham kembali. Sekarang dia beranjak menghampiri gadis itu dan mencoba membangunkannya.
“Neng, Mitha? Maaf membangunkanmu, tapi kita harus berjalan lagi.” katanya dengan nada lembut. Bahu kiri Paramitha diguncang perlahan.
Kening si gadis mengerut selama beberapa detik. Akhirnya kedua mata indah berwarna merah kehitamannya terbuka sedikit demi sedikit. Dilihatnya Ardana sudah siap seperti sedia kala dengan helm kevlar dan senjata di tangan.
“Dan? Kamu... bagaimana dengan luka memarmu?” tanyanya sambil mengusap-usap mata kemudian menguap tertahan.
“Yeah, sedikit. Kalau menuruti rasa sakitnya, kita tidak akan bisa segera keluar dari sini,” jawab Ardana.
Paramitha menguap namun ditahan dengan punggung tangan kirinya. Meski masih mengantuk, karena sudah waktunya pergi mau tidak mau dia harus bangun. Ketegangan berikutnya yang tidak bisa diprediksi mungkin akan benar-benar membuatnya terjaga sampai pagi.
“Ini, pakai lagi jaketmu. Terima kasih untuk selimut sederhananya,” kata Ardana sambil memakaikan jaket woll merah marun milik gadis itu kembali.
Paramitha membalas dengan senyum manisnya. Sementara si pemuda mengambil lampu darurat dan mematikannya, dia mencoba membuka pintu ruangan dengan hati-hati sambil mengintip ke luar.
“Mungkin kita bisa bawa lampu ini.” Ardana menyerahkan lampu darurat di tangannya pada Paramitha.
__ADS_1
“Untuk apa dibawa?” tanya Paramitha tanpa menolak. Dia menerimanya meski agak keheranan.
Ardana tersenyum dengan ekspresi jahil. “Tidak apa-apa, sayang kalau ditinggalkan begitu saja. Masih bagus untuk digunakan di rumah,” kilahnya.
Mendengar alasan Ardana, Paramitha memejamkan mata sesaat sambil menghela napas. Dalam situasi yang sedang tidak berpihak pada mereka si pemuda masih saja bisa melakukan tindakan yang terkesan tidak patut bahkan konyol.
“Terserah kamu saja,” ucap Paramitha. Dia mengenakan kembali kalung berliannya.
Pintu ruangan klinik kecil dibuka dengan perlahan. Ardana mendahului keluar sambil menodongkan senjata ke dua arah jalur lorong dengan sangat waspada dan awas. Matanya menyorot tajam searah dengan titik merah pembidik di bagian tengah senjatanya. Setelah dirasa benar-benar aman, Paramitha menyusul. Tangan kanannya kembali menggenggam kujang hitam untuk berjaga-jaga. Keduanya menyusuri jalur lorong sebelah kiri yang berlawanan dengan arah mereka datang sebelumnya.
Seperti yang dikatakan Paramitha, jalur tersebut mengantarkan mereka langsung menuju jalan menurun dengan barisan anak tangga dalam jumlah besar. Ardana sempat menghitung ada sekitar dua ratus lebih karena waktu yang dibutuhkan untuk menuruninya cukup lama. Itu pun termasuk dengan kondisinya yang agak licin dan basah oleh sesuatu yang dia tidak mau tahu apapun wujud cairannya. Keduanya berjalan semakin dalam ke bawah tanah.
Atmosfir ketegangan mulai tercium ketika Ardana menyadari dinding di kiri dan kanan mereka terdapat noda darah yang cukup banyak dan memanjang putus-putus. Dan di sepanjang jalur baru itu bertebaran banyak jasad para tentara yang berserakan dalam balutan seragam tempu lengkap dan senjata di tangan. Sebagian sudah rusak termakan oleh sesuatu yang dicirikan dari bekas luka gerogot yang sangat parah di beberapa bagian tubuh.
Ardana sempat menahan langkah beberapa saat. Dalam bayangnya muncul kekhawatiran semua jasad tersebut akan bangkit ketika dilewati. Dia menoleh pada Paramitha.
Sambil menarik napas dalam satu kali, Ardana kembali mengalihkan pandangan ke depan.
“Kalau mereka hidup lagi, bagaimana? Aku belum tahu apa sisa peluruku cukup, kalau menghadapi dengan tangan kosong kan belum tentu bisa.” Nada bicaranya terdengar mulai cemas. Dia mengecek sisa peluru yang ada dalam beberapa pouch amunisi yang memenuhi hampir seluruh bagian depan tubuhnya.
Paramitha tidak menyahut. Ada benarnya juga yang dikatakan oleh Ardana. Dia sudah melihat sendiri bagaimana mayat Togar tiba-tiba bangkit lalu berubah menjadi makhluk mutan yang mengerikan kemudian menyerang dirinya. Tidak ada yang benar-benar mati di sana.
“Kita tidak mungin kembali ke atas sana lewat jalur yang sama, Dan. Mau tidak mau, kita harus terus mmenyusuri area ini sambil mencari jalan keluar yang lain,” tukasnya tanpa menoleh. Tanpa meminta persetujuan dia maju lebih dulu. Hal itu tentu saja membuat Ardana terperangah lalu menyusul.
“Ya, ya. Aku mengerti,” desisnya. Dia mengekor lagi sambil kembali mengokang senjata. Mendebati gadis itu tidak akan menghasilkan solusi yang tepat.
Pandangannya bergantian tertuju ke depan dan setiap mayat yang mereka lewati, terkadang memutar badan ke belakang. Hanya untuk memastikan kalau tidak ada satupun yang hidup lagi. Rasa khawatir yang mulai membesar mengganggu pikirannya. Suara lapisan darah kering bercampur genangan air yang diinjaknya justru terdengar seperti jejak kaki yang menguntit mereka dari belakang. Ardana hampir saja mengira ada salah satu mayat yang bangkit hingga dia melepaskan tembakan secara membabi buta.
__ADS_1
TATATATATAT!
Suara rentet senjata api yang berada sangat dekat dengannya membuat Paramitha menoleh cepat dan memasang gerakan waspada. Kujangnya kembali terhunus di depan wajahnya. Begitu menyadari tidak ada apa-apa, gadis ini melotot tajam pada Ardana.
“Ardana! Kamu apa-apaan, sih?” tegurnya.
Belum sempat Ardana menyahut, dari arah depan terdengar suara berdebum yang berat dan menapak di atas sesuatu yang basah dan diseret. Keduanya sama-sama menoleh ke sana. Pandangan yang tertutup gelap membuat mereka mengambil langkah mundur dengan hati-hati.
DUGG!
Srrreeeet! Srrreeeet!
Ardana dan Paramitha sama-sama tahu, suara tersebut terlalu berat untuk ukuran orang dewasa. Manusia bertubuh paling tambun hingga ratusan pon bahkan tidak akan mampu melakukannya.
“Cepat! Kita kembali lagi ke atas!” bisik Ardana tertahan sambil menggandeng tangan Paramitha.
DUGG!
Suara yang sama terdengar dari arah belakang, tepatnya di barisan anak tangga menurun yang mereka lewati tadi. Ardana menahan napas sejenak dengan rahang tegang. Sekarang dia tahu posisinya dan Paramitha kembali terjepit.
Tindakannya menembakkan senjata secara membabi buta tadi tampaknya membangunkan sesuatu yang berdiam di bawah sana.
* * * * *
**Pemberitahuan:
Karena mulai minggu ini saya menggarap naskah lain, waktu penerbitan chapter secara berkala mungkin berubah antara dua hari sekali atau malah tiga hari sekali. Bagi yang titip pesan mampir balik, saya pasti datang**.
__ADS_1