
Sesuai prediksi Ardana, truk kedelapan berisi sesuatu. Hanya saja bukan kotak besi seperti dua truk sebelumnya. Sebuah wadah persegi panjang dari bahan yang sama dan terbungkus kain kasar berwarna hitam secara kebetulan terpental keluar ketika ledakan tadi terjadi. Beberapa titik di bagian kanannya tampak rusak karena menghantam lapisan pelindung baja panser yang berada tidak jauh dari truk.
Demi tidak membebani Ardana yang harus menanggung luka parah di telinga kanan, Paramitha bersedia menyeret satu persatu kotak yang mereka temukan. Semuanya diletakkan di hadapan si pemuda yang hanya menyaksikan tanpa bicara sepatah kata. Diam-diam, Ardana merasa sangat salut dengan kesetiaan dan kegigihan Paramitha yang tampak lebih menonjol dari sebelumnya. Meskipun agak kesulitan karena betapa beratnya ketiga barang tersebut, gadis itu tidak mengeluh sama sekali.
“Jangan memaksakan diri begitu, Mitha. Semuanya terlalu berat untuk kamu bawa sendiri seperti itu,” katanya.
“Aku tidak membawanya. Aku kan menyeretnya ke hadapanmu,” sahut Paramitha. Dia sudah mendapatkan barang terakhir dari dalam boks baja truk yang kedelapan.
Ardana beringsut beberapa jengkal untuk membuka setiap barang yang berhasil ditemukan. Dirinya memang merasakan sakit cukup mengganggu di telinga kanan, namun dia tetap ingin melakukan segalanya dengan cepat dan rapi. Selain berburu dengan waktu, makhluk mutan dan mayat hidup yang menghuni area bawah tanah Hutan Sirnasurya itu bisa kapan saja menampakkan diri.
Kali ini dia menggunakan pisau panjangnya untuk mencungkil paksa kotak kedua. Ketika mulai kewalahan, Paramitha mengambil alih dan menyelesaikannya dengan mudah.
“Coba kita lihat,” ucap Ardana penasaran.
Kotak kedua di hadapan mereka dibukanya perlahan sambil menahan napas selama beberapa detik. Di dalamnya ternyata juga ada berkas seperti pada kotak pertama. Namun jumlahnya lebih banyak dan terpisah menjadi tiga sub berkas. Tiap sub berkas terbungkus dalam map plastik berbeda warna yang transparan dan berkualitas tinggi. Sampai-sampai terdapat juga semacam pengikat pengaman berbahan polymer yang ditambahkan. Semula Ardana meremehkannya dan membukanya sembarangan dengan tangan kosong. Hasilnya dia malah hampir menambah luka baru di telapak tangannya.
“Niat sekali orang yang membuat pengaman seperti ini,” ujarnya sambil meringis mengibas-ngibaskan kedua tangannya.
Semua pengikat yang terbuat dari polymer di tiap sub berkas akhirnya dipotong dengan pisau. Setelah itu barulah mereka memeriksa isi keseluruhan semuanya. Ardana mulai mengerutkan keningnya saat kedua matanya mulai menyapu setiap tulisan yang ada di sub berkas pertama, lembar demi lembar. Bagian pertama dokumen di kotak besi kedua tersebut berisi tentang pengembangan proyek senjata biologis rahasia yang ternyata sudah dirintis pemerintah Hindia Belanda sejak tahun 1937, ketika bayang-bayang Perang Dunia Kedua sudah mulai menghantui masyarakat. Berpuluh-puluh tahun kemudian ketika Johan Facturia berhasil meraih tampuk kepemimpinan sebagai presiden, proyek tersebut dilanjutkan, bersamaan dengan upayanya menggalakkan kekuatan militer Indonesia baik yang tampak dan dipamerkan dalam parade kenegaraan maupun yang bersifat rahasia.
Jantung Ardana semakin berdegup kencang saat dia membaca sub berkas kedua. Salah satu proyek senjata rahasia yang dikembangkan adalah percobaan terhadap subjek manusia. Orang yang menjadi subjek ternyata berkaitan erat dengan maraknya kasus penculikan yang seringkali tidak diketahui kejelasannya, atau mereka yang menghilang di beberapa tempat seperti gunung dan hutan. Disebutkan juga para korban yang berhasil diculik akan diimplan dengan semacam virus rekayasa laboratorium maupun unsur kehidupan yang bersifat brutal yang sudah ada sejak ribuan tahun di dunia. Tidak ada upaya pemulihan subjek untuk kembali ke sosok manusia secara utuh, kecuali dimusnahkan. Di akhir penjelasan dicantumkan alasan filosofis dari penamaan proyek pengembangan senjata rahasia tersebut, yang membuat Ardana dan Paramitha terkejut.
__ADS_1
DENGAN DEMIKIAN, PROYEK PENGEMBANGAN SENJATA BIOLOGIS RAHASIA INI KAMI NAMAKAN DENGAN ISTILAH ‘SANDEKALA’, YANG MANA ITU BERKIBLAT PADA PERALIHAN WAKTU ANTARA SIANG MENUJU MALAM DALAM MITOLOGI SUNDA. SUBJEK AKAN BERALIH MENJADI SATU EKSISTENSI KEHIDUPAN BARU YANG BISA MENJADI SENJATA MEMATIKAN DALAM PERTEMPURAN TANPA HARUS MENGGUNAKAN PELURU DAN SENJATA APAPUN. MEREKA AKAN TAMPAK BEGITU KUAT, DAN DARI SANA KEMENANGAN INDONESIA DALAM MENGHADAPI SETIAP KONFRONTASI DENGAN NEGARA-NEGARA DI SEKITARNYA AKAN TERWUJUD.
Ardana menggelengkan kepala, tidak habis pikir sambil berusaha mencerna isi sub berkas kedua dokumen di hadapannya. Teringat pula dirinya pada pistol Glock 41 dengan amunisi yang memiliki proyektil berwarna biru muda di dalam kotak besi pertama. Dia menduga senjata itulah yang menjadi salah satu alat pemusnah subjek eksperimen.
“Ini gila, sangat gila. Orang-orang itu... bagaimana mereka bisa berpikir seperti ini?! Jadi, selama ini kasus orang hilang yang sering diberitakan ternyata berakhir menjadi sesuatu yang mengerikan?”
Pemuda ini menoleh pada Paramitha, menatapnya lekat dan tegas.
“Sepertinya aku mulai mengerti kenapa keluarga besarmu menjadi sasaran pemusnahan. Diawali dengan pertunjuk yang kita temukan di rumah Bibi Marni, semakin jelas ada yang mereka ketahui tentang hal ini. Tapi, kemungkinan juga leluhurmu yang bernama Adriaan Willem itu tidak menyimpan catatan apapun yang berhubungan dengan fenomena biologis yang janggal di masanya, kalaupun itu memang benar-benar pernah terjadi,” ujarnya menyimpulkan.
Paramitha tidak bisa berkata apa-apa. Kenyataan baru yang ditemukannya saat ini sudah mulai menunjukkan kebenaran. Dalam hatinya, gadis Catranata itu berharap semua tudingan kotor terhadap keluarga besarnya terhapuskan dengan bukti-bukti tersebut.
Paramitha tersentak sedikit lalu bergantian menatap wajah kekasihnya dan sub berkas ketiga yang disodorkan kepadanya.
“Kenapa harus aku yang membukanya, Dan?” tanyanya dengan kening mengerut.
“Buka saja. Giliranmu,” jawab Ardana tenang.
Dengan tangan yang sedikit terangkat, Paramitha menerima map berisi sub berkas ketiga itu.
BLEGGAAAARRRR!
__ADS_1
Sebuah ledakan hebat tiba-tiba muncul dari arah bangunan pemantau, disertai kepulan asap hitam tebal yang menyeruak dari setiap jendela di sana. Ardana dan Paramitha yang sama-sama terkejut tidak bicara apa-apa. Keduanya mengerti bahwa itu adalah tanda untuk kembali berusaha menyelamatkan hidup mereka dari bahaya yang akan muncul.
“Ardana,” ucap Paramitha tertahan.
Ardana mengangguk lalu memeluk gadis itu, lembut dan erat. “Aku mengerti. Tenang saja, meski kesempatan untuk berlari sangat kecil tapi kita masih bisa bersembunyi,” bisiknya kemudian.
Sambil mempererat pelukannya, kedua matanya nyalang mencari-cari sesuatu yang bisa dijadikan tempat bertahan dengan aman di antara deretan kendaraan operasional militer di sekitar mereka. Sebuah rantis (kendaraan taktis) Komodo dengan senjata mesin M2 Browning kaliber lima puluh yang masih tampak bagus dan teracung ke udara menjadi pusat perhatiannya. Posisi bagian depan yang menghadap langsung ke arah bangunan pemantau sangat menguntungkannya.
Perkataan Ardana yang tadi membuat Paramitha seakan enggan melepaskan diri dari pelukan pemuda itu. Ada muatan emosi yang begitu dalam dan mampu menyentuh relung hatinya, membangkitkan rasa takut kehilangan dan ingin selalu berada di sisi si pemuda yang berhasil merebut hatinya.
GRRAAAAAAARRRR!
Raungan makhluk mutan yang masih belum menampakkan wujud itu memaksa Ardana melepas pelukannya, meski dia masih tetap ingin melakukannya agar dapat memberikan ketenangan pada Paramitha.
“Kamu bersembunyi saja di dalam pengangkut pasukan dekat mobil Komodo itu,” ajaknya sambil menggandeng tangan Paramitha menuju sebuah kendaraan APC (Armored Personal Carrier) ANOA yang berada tepat di sebelah rantis Komodo incarannya.
Sampai di bagian belakang kendaraan lapis baja yang dimaksud, Paramitha langsung melepaskan pegangan tangan Ardana. “Kamu sendiri bagaimana, apa yang mau kamu lakukan sendirian begitu?” tanyanya.
Ardana terdiam beberapa saat. “Aku akan baik-baik saja, kalau sudah terpepet aku akan ikut denganmu. Sekarang, masuk ke dalam!” perintahnya sambil membuka pintu belakang kendaraan ANOA dengan terburu-buru.
* * * * *
__ADS_1