
Puskesmas Desa Cikembang
Keesokan harinya
Ardana dan Ilham berhasil keluar dari Hutan Sirnasurya. Namun dengan perjuangan yang lebih berat. Nasib sial kembali harus dialami Ardana. Terjatuh hingga enam kali ketika berlari mengikuti Ilham. Benar apa yang dikatakan lelaki paruh baya itu, makhluk-makhluk aneh yang mengerikan bermunculan dari berbagai arah, bahkan dari dalam tanah meski baru hanya tangan-tangan berkulit merah daging hangus saja yang mencoba meraih kaki-kaki keduanya. Kondisi itu memaksa Ilham membawanya segera ke puskesmas begitu pagi tiba. Karena untuk ke rumah sakit jaraknya sangat jauh dan Ardana sendiri menolaknya.
Odang menyarankan agar mereka sudah berada di Puskesmas Desa Cikembang lebih pagi dari jam bukanya. Keduanya tidak sempat sarapan karena tahu di sekitar sana ada banyak pedagang nasi uduk hingga bubur ayam. Dan yang terpenting adalah penjual surabi yang kemarin disinggahi Ardana. Bersama dengan Ilham, dia kembali ke sana sambil menunggu panggilan berdasarkan nomor antrinya yang masih lama. Sebagai ganti surabi yang tidak sempat dimakan oleh Ilham kemarin, Ardana bersedia menraktirnya namun ditolak halus.
“Saya beritahu Paramitha tentang keadaanmu sekarang. Dari nada suaranya dia tampak terkejut lalu menanyakan keadaanmu,” kata Ilham sambil menuangkan teh hangat tawar ke dalam gelas kecil, sambil menunggu surabi yang sedang dipanggang.
Ardana menoleh cepat. “Pak, kenapa bilang padanya juga? Biar saja, dia jangan tahu dulu,” tukasnya.
“Saya cuma mau tahu bagaimana responnya. Eh... tidak disangka dia secemas itu. Malah bilang mau menyusul nanti bersama Nina,” balas Ilham sambil mengambil satu potong surabi yang sudah dilumuri kuah gula merah dalam sendok. Mengabaikan ekspresi heran Ardana, dia menikmati rasa mantap surabi panggang dan sensasi manis alami gula merah.
Ardana menggeleng, tidak habis pikir dengan apa yang dilakukan Ilham. “Kalau hanya Paramitha saja tidak masalah, Pak. Tapi kalau Bu Nina sampai ikut, itu namanya merepotkan.”
Ilham menepuk pelan bahu si pemuda.
“Tenang saja,” katanya, “nomor antrianmu masih lama dan kalau menunggu dari tadi di lobi nanti kita kehabisan surabi ini. Asli, ini enak sekali.”
Perkataan Ilham ada benarnya. Puskesmas Desa Cikembang memang sejak tadi sudah ramai oleh penduduk yang akan memeriksa kesehatan maupun berobat. Berbagai kalangan dan usia sudah mengerumuni pintu utama. Begitu dibuka, mereka begitu tertib. Tidak ada yang saling mendahului demi mendapat nomor antrian paling pertama. Kesadaran masyarakat di sana dalam hal menjunjung tinggi ketertiban merupakan pemandangan yang mungkin tidak banyak dijumpai lagi di kota-kota besar.
Semi rumah sakit, begitu warga Desa Cikembang membanggakannya. Area puskesmas memang lebih mirip disebut rumah sakit mini. Tiga gedung berlantai dua yang dicat warna putih dan hijau muda dalam formasi huruf U berdiri atas tanah seluas 5000 meter persegi. Terdapat sebuah taman hijau dengan empat pohon buah jambu biji merah yang rindang sekaligus ruang bermain bagi anak-anak. Fasilitas kebugaran sederhana juga tersedia di sana. Beberapa saat setelah puskesmas dibuka, ada saja lansia yang berjalan kaki di atas jalur batu refleksi yang mengelilingi taman. Gedung di bagian kanan berfungsi sebagai tempat rawat inap bagi pasien yang sangat membutuhkan penanganan cepat jika tidak sempat membawanya ke rumah sakit besar di Kota Ciamis.
Area kantinnya berada di belakang gedung utama yang diapit oleh dua gedung lainnya. Soal jaminan kebersihan, puskesmas ini sudah mendapatkan penghargaan sehingga pasien dan keluarga mereka yang lapar bisa datang ke sana. Tentu tanpa mengesampingkan para pedagang di luar puskesmas yang juga menjaga kebersihan. Yang terakhir sering menjadi tempat orang-orang mengisi perut jika kantin di dalam penuh.
Selesai menyantap surabi dan membayar, Ardana dan Ilham masuk ke lobi yang juga berfungsi sebagai ruang tunggu. Di dalam sana begitu ramai, sampai keduanya nyaris tidak menemukan tempat duduk. Dua kursi kosong yang ada di ujung depan, jauh dari pintu masuk akhirnya bisa didapat.
“Nanti begitu nomor antrian dipanggil, biar saya saja yang menghampiri,” kata Ilham.
Ardana mengangguk. Seperti semua pasien lainnya, dia duduk dengan tenang. Untuk mengusir bosan, di dekatnya tersedia rak buku bacaan yang disediakan pihak dinas kesehatan setempat. Pemuda ini memicingkan mata, mencari rincian judul buku yang dianggap menarik. Rata-rata buku yang terdapat di deretan lemari rak yang tingginya hampir tiga meter itu bertemakan anak-anak, wisata, sejarah, budaya, religi, kesehatan dan kuliner.
“Hm... tidak ada novel seram semisal Siluman Kolam Berdarah, ya?” Ardana yang teringat salah satu novel terlaris di awal tahun tergerak mendekati lemari rak, berharap dia akan menemukannya terselip. Menurut berita di media, novel karya penulis terkenal Anton Fahmi ‘The Ributman’ tersebut akan diangkat menjadi film layar lebar dan proses syutingnya sudah berjalan.
Buku novel yang dicarinya ternyata memang tidak ada. Ardana menyerah lalu memilih salah satu buku bacaan bertema kuliner Jawa Barat. Entah mengapa tiba-tiba dia tertarik dengan buku masakan meski dia bukan orang yang pandai memasak. Buku tersebut diambilnya lalu duduk kembali di tempat semula. Setiap penjelasan mengenai bahan dan trik-trik didalamnya berusaha dipahami dengan baik.
“Ardana Putra, nomor antrian 235!”
Setelah hampir dua jam menunggu, gilirannya tiba. Ardana yang tersadar mengembalikan buku yang tadi dibacanya, sambil melihat Ilham yang bergegas menuju resepsionis. Tidak lama kemudian pria paruh baya itu sudah kembali.
“Di lantai dua,” katanya sambil membantu Ardana berdiri. “Dokter akan memeriksa apakah ada tulang iga yang patah atau luka dalam di tubuhmu.”
Ilham membantu Ardana yang berjalan pelan-pelan melintasi lorong sebelah kiri. Tidak jauh dari sana ada tangga menuju lantai dua. Mereka naik dan mendapati suasana lantai dua tidak seramai di bawah. Beberapa tempat duduk masih kosong. Beberapa dokter, perawat dan anak magang sedang mengobrol atau melakukan tugas masing-masing. Tidak hanya dirinya, pagi itu ada juga tiga pasien lain dengan dokter yang sama. Berbeda dengannya, mereka mengalami patah tulang karena kecelakaan lalu lintas atau ketika sedang bekerja. Dua orang dewasa berusia kisaran tiga puluhan dan satu anak remaja dengan seragam SMA. Ardana adalah pasien yang terakhir karena setelah tiga orang tadi selesai, hanya dia sendiri yang menunggu dipanggil.
Pemeriksaan berjalan lancar. Beruntung, Ardana tidak sampai diwajibkan beristirahat total karena kondisi tulang iga maupun bagian dalam tubuhnya tidak mengalami kerusakan ataupun luka parah. Di dalam hati, pemuda ini sangat senang. Padahal dia sudah jatuh dengan sangat keras sebanyak enam kali semalam demi bisa menyelamatkan diri. Dokter yang memeriksa hanya mengimbau agar dia mengurangi kegiatan di luar rumah dan hindari aktivitas berat. Setelah menerima resep, Ardana keluar dengan wajah bahagia. Ilham yang menunggu di kursi hanya mengangkat kedua alis.
__ADS_1
“Bagaimana, Dan? Kamu dirumahkan?” tanyanya sambil bangkit.
Ardana menggeleng puas. “Kurangi kegiatan di luar dan hindari aktivitas yang berat. Hanya itu,” jawabnya santai.
“Kalaupun sampai dirumahkan, saya memilih tidak mematuhinya. Tugas kita belum selesai,” tambahnya.
* * * * *
Paramitha dan Nina tidak jadi datang ke puskesmas karena Ilham memberitahu bahwa dia dan Ardana sudah pulang lebih cepat. Sebagai gantinya, keduanya bersedia datang untuk ngopi sekaligus makan siang bersama di rumah keluarga Nina. Ketika sampai di depan pekarangan, mereka melihat Nina dan Paramitha yang sedang sibuk menata tanaman hias sambil sesekali menyemprotkan cairan stimulan berbahan alami. Menyadari ada yang datang, Nina dan Paramitha menyudahi kegiatan mereka.
“Nah, ini tamu-tamu sudah datang,” sambut Nina sambil melepas sarung tangan karetnya.
Paramitha melepas bandana hijau tua yang dikenakannya. Ketika matanya bertatapan langsung dengan Ardana, kedua muda-mudi ini saling melepas senyum. Namun ekspresi si gadis berubah sedikit cemas melihat Ardana tiba-tiba memegangi iga kirinya seraya meringis kecil.
“Bagaimana, dokter bilang apa?” tanya Nina sambil melirik Ardana.
Ilham mengangkat kedua bahunya. “Yah... untungnya tidak ada luka parah atau patah tulang iga. Meski hanya diimbau mengurangi aktivitas di luar tapi kalau meninggalkan Ardana sendirian di rumah Odang, dia kurang betah,” jawabnya mewakili Ardana.
“Kita ke dalam dulu saja. Nah, Paramitha... eta si A’a tulungan.” Nina berjalan lebih dulu ke dalam rumah sambil membawa peralatan perawatan tanaman hiasnya.
Paramitha menoleh pada Ardana. Dengan penuh kehati-hatian, dia membantu Ardana menaiki tangga ke beranda. Sementara Ilham mengekor dari belakang. Pemuda itu didudukkan di kursi beranda.
“Kamu bohong, ya?” tanya Paramitha menyelidik. Tatapan mata merah kehitamannya berubah jadi lebih tajam.
“Kamu tidak jatuh dari pohon, kan?” Paramitha semakin menyelidik.
Ardana menoleh pada Ilham. Namun lelaki paruh baya itu tersenyum kecut lalu berpura-pura tidak melihat, seperti sengaja membiarkan Ardana untuk menjawabnya sendiri. Pemuda ini yakin pasti Ilham yang mengatakan dirinya jatuh dari pohon sehingga mengalami luka serius di iga kiri.
“Wah, kacau nih bapak yang satu ini,” gerutunya dalam hati.
Setelah menghela napas, Ardana akhirnya mau menjawab.
“Iya, aku tidak jatuh dari pohon. Kalau mau tahu kenapa, nanti saja ceritanya, ya?” Meski agak takut dengan tatapan tajam Paramitha, dia memberanikan diri untuk memandanginya.
Jawaban itu membuat Paramitha mendesah jengkel. Bukan itu yang ingin didengarnya dari Ardana. Semalaman dia sulit untuk tidur karena mengalami gelisah yang sangat mengganggu. Jantungnya berdegup kencang. Firasatnya mengatakan ada sesuatu yang terjadi namun entah apa dan pada siapa. Alhasil gadis ini baru bisa terlelap pukul satu lewat. Lalu di pagi hari dia mendapat kabar sesuatu yang buruk terjadi pada Ardana.
Paramitha sendiri belum mengerti kenapa dia begitu mencemaskan Ardana. Detak jantungnya bertambah cepat ketika kabar tersebut diterimanya. Namun ketika alasannya jatuh dari pohon, dia tidak langsung percaya mengingat kegelisahannya semalam begitu kuat.
Ardana memalingkan wajahnya dari Paramitha.
“Sudah, aku akan baik-baik saja dalam waktu yang cepat. Lagipula memang tidak ada keretakan apalagi patah tulang iga. Luka dalam juga tidak ada,” ujarnya.
Tidak ada balasan dari Paramitha. Dari ekspresinya, gadis itu masih belum menerima alasan Ardana.
Ilham yang tidak ikut mengobrol hanya tersenyum-senyum. Kedua anak muda di dekatnya tersebut seperti pasangan yang bertengkar. Terutama di bagian Ardana nyaris dibuat mati kutu oleh tatapan tajam Paramitha.
__ADS_1
“Ilham, ayo ke dalam! Geura kadieu, geus wayahna dahar.”
Beberapa saat kemudian, Nina muncul dari arah ruang depan. Dia mengajak Ardana dan Ilham masuk ke dalam untuk menuju ruang dapur, di mana makan siang sudah disiapkan. Ketika melihat sajian menu di atas meja makan, Ardana tertegun. Nasi timbel dalam bungkusan daun pisang, ayam goreng, sambal terasi yang merah dan lalapan segar membuatnya teringat pada sesuatu.
“Ini....” Ardana menoleh pada Nina.
“Ini semua Paramitha yang membuat. Katanya siang ini mau masak menu yang biasa disajikan di rumah makan tempat kerjanya,” ujar Nina.
Ardana tersenyum tipis mendengarnya. Dia masih ingat jelas ketika mampir di rumah makan yang ada di area Terminal Cicaheum dan untuk pertama kalinya bertemu dengan Paramitha. Menu yang ada di depannya adalah yang juga dipesannya saat itu. Yang mencatat pesanannya juga orang yang kini ada di sebelah Nina.
“Waduh, jadi merepotkan begini. Padahal sayur asem ditambah ikan asin goreng renyah juga sudah luar biasa, Nin,” kata Ilham sedikit tidak enak.
Tanpa sepengetahuan Ardana dan Ilham, dari belakang muncul seorang lelaki paruh baya lain dengan kaus oblong putih dan celana pangsi hitam. Tingginya tidak jauh berbeda dari mereka berdua. Lelaki berambut pendek dan mulai beruban dengan wajah teduh itu melempar senyuman pada semua yang berkumpul di ruang dapur yang juga menjadi ruang makan.
“Eh, Ilham? Geus lila... kamana wae maneh?” Orang itu menghampiri Ilham sambil membentangkan kedua tangannya sedikit.
Ilham menoleh ke belakang. Kedua matanya berbinar begitu tahu siapa yang ada di belakangnya.
“Eh... Hadi. Ah, kemarin kan saya juga sempat ke sini. Ternyata kamu masih belum pulang,” balasnya sambil mengulurkan tangan untuk berjabat.
Hadi Kusuma, suami Nina tersebut terkekeh sambil menepuk-nepuk bahu Ilham. Dua lelaki dengan rentang usia yang berdekatan ini menunjukkan keakraban yang sudah terjalin sejak lama. Ardana yang baru pertama kali melihat Hadi hanya tersenyum dengan sedikit menundukkan badan sebagai penghormatan.
“Sudah punya anak buah baru lagi kamu, Ham? Hebat euy, gagah lah!” puji Hadi begitu melihat penampilan Ardana.
Nina mengetuk-ngetuk sendok teh di meja, seolah menjadikannya tanda agar mereka semua segera makan siang.
“Eh, iya, iya. Kita makan siang dulu. Silakan, silakan,” ucap Hadi seraya mempersilakan Ardana dan Ilham mengambil tempat.
Semula Ardana ingin mengambil tempat di antara Ilham dan Hadi. Namun dua lelaki paruh baya itu duduk bersebelahan bersama Nina. Yang tersisa hanya tempat kosong di sebelah Paramitha. Meski agak kikuk kalau harus duduk bersebelahan lagi dengan gadis itu, Ardana menyerah.
“Boleh?” tanya Ardana.
Paramitha mengangguk. “Duduk saja, kan hanya ini yang tersisa,” jawabnya mengijinkan.
Ardana menempati tempat yang tersisa dengan sikap sopan dan hati-hati.
“Terima kasih,” ucapnya.
Tidak ada balasan dari si gadis selama beberapa saat. Baru ketika Ardana akan mengambil potongan ayam goreng, dia menyikutnya.
“Aku sengaja masak semua ini untuk kamu juga, jadi harus dihabiskan,” bisiknya.
Ardana mengangguk, “Iya, aku akan habiskan. Terima kasih, sudah mau repot memasak ini untukku.”
* * * * *
__ADS_1