Petaka Biohazard: Lorong Kematian

Petaka Biohazard: Lorong Kematian
Berhasil Menemukannya


__ADS_3

Khawatir terjadi sesuatu yang buruk pada sosok manusia yang dilihatnya, Ardana memutuskan keluar sambil mengendap-endap juga. Dia merangkak dengan kedua tangan memegangi senapan serbu. Tatapannya terus tertuju pada makhluk gumpalan daging yang bergerak ke arahnya. Orang yang berada di belakang sana pun tampak bersiap menikamkan senjatanya. Dari caranya menggenggam pisau di tangan tampak jelas dia sangat terlatih menggunakannya.


Setelah dirasa cukup, Ardana berganti posisi dengan duduk setengah berjongkok. Tangannya kini sibuk merogoh salah satu pouch untuk mengambil kompresor khusus. Benda yang mampu meredam suara letusan senjata api itu dipasangkan pada pistol G2 PINDAD yang ternyata kompatibel dengannya.


“Ini dia,” ucapnya sambil menodong.


Makhluk gumpalan daging itu tidak menyadari keberadaan Ardana yang tinggal dua puluh lima langkah lagi. Ia terus menggulung tubuh elastisnya ke arah gudang senjata. Sementara sosok tak dikenal di belakangnya tetap menguntit dalam posisi siap menghujamkan benda tajam di tangannya.


Clap! Clap!


GRRRAAAAARRRRGGGHH!


Sosok itu akhirnya memulai lebih dulu dengan menusuk-nusukkan senjatanya ada bagian belakang tubuh makhluk lunak yang ada di depannya. Bagian yang terluka mengeluarkan darah merah kehitaman yang cukup deras dan cepat menjadi borok. Tentakel-tentakel di tubuhnya memberontak tidak karuan lalu menyerang membabi buta tanpa arah. Sosok penusuk tadi langsung menghindar dengan mudah beberapa langkah ke belakang dan bersiap dengan senjatanya.


Di saat bersamaan mulut makhluk tersebut terbuka lebar tepat di hadapan Ardana yang terkejut luar biasa. Pemuda ini bisa melihat jelas sisa jeroan dan pecahan kepala manusia yang belum tercerna, terselip di sela-sela ratusan gigi tajam seukuran jari telunjuk.


“Hmmppff!” Ardana yang memang mudah muntah refleks menutup hidung dan mulutnya. Dia bergegas lari kembali ke gudang senjata.


Di dalam sana dia berubah pikiran. Setelah dipikir-pikir olehnya, pistol ataupun senapan serbu tidak memiliki daya gedor hebat untuk menghadapi monster yang tampak lunak namun dagingnya tampak tebal. Akan butuh waktu yang lama sementara posisinya sendiri hampir tersudut.


Sebuah shotgun FABARM STF/12 buatan Italia dalam kotak besi lengkap dengan amunisi yang terletak di sudut kiri ruangan menjadi perhatiannya. Karena terkunci oleh gembok bersandi Ardana terpaksa menembaknya, lalu mengambil seluruh isinya tanpa tersisa. Dengan kedua senjata lain yang ada di belakang dua sisi bahunya, beban bawaannya kini semakin bertambah.


GRRRAAAAARRRGGGGH!


Raungan makhluk lunak itu kembali terdengar. Ardana bergegas keluar dan mendapati sosok manusia tak dikenal tadi terus berjalan mundur sambil terus menangkis serangan tentakel yang datang ke arahnya.


“Hei, mundurlah!” seru Ardana sambil mengokang shotgun-nya.


Sosok gelap itu terhenyak beberapa saat, mengalihkan pandangannya pada Ardana yang berada cukup jauh di depannya.


JDAR! JDAR! JDAR!


Ardana memanfaatkan kesempatan dengan melepaskan peluru-peluru 12 gauge dari senjatanya. Tubuh makhluk berwujud gumpalan daging itu nyaris hancur disertai raung kesakitan yang cukup memekakkan telinga. Pemuda ini seolah tidak terpengaruh. Dia justru semakin mendekat dan hanya sesekali berhenti untuk mengisi ulang amunisi.


GRRRAARRGGHHIIIIIIKKKHHH!


Monster tambun tersebut akhirnya tumbang dengan tubuh hancur berantakan. Seluruh isi perutnya terburai dengan didahului letupan berat dan teredam. Sisa jeroan dan anggota tubuh manusia lain yang sedang dalam proses cerna merembes bersama darah merah agak kehitaman, membasahi lantai dan dinding lorong hingga ujung sepatu Ardana.


“Ah, begini lagi!”


Ardana berusaha menutup hidung dan mulutnya lagi namun terlambat. Dia pun harus merasakan sensasi mual dan muntah yang hebat sampai nyaris terduduk bungkuk. STF/12 di tangannya dilempar begitu saja secara sembarangan ke lantai lorong.


Sosok manusia yang semula hanya berdiri mematung itu menghampiri Ardana. Kedua tangannya segera merangkul bahu si pemuda lalu menariknya mundur perlahan. Tanpa melihat wajah dari orang yang membawanya, Ardana tidak berusaha mencegahnya. Namun pada saat tidak sengaja menyentuh jarinya sebagai respon terima kasih, pemuda berseragam taktis hijau tua ini terperanjat. Terasa halus dan lembut namun bukan hanya itu saja. Ada sensasi lain dari sentuhan tadi yang membuatnya merasa seperti sedang bersama seseorang yang dekat dengannya.

__ADS_1


“Hah, ini tangan seorang perempuan?” tebaknya dalam hati.


“Kalau tidak kuat muntah melihat yang seperti itu cepatlah menjauh!” tegur sosok itu dengan suara halus namun tegas.


Ardana yang merasa familier melepaskan tangan penolongnya dengan cepat. Begitu sosok orang yang membantunya menjauh dari bangkai makhluk mutan tadi bertatap muka dengannya, dia terkejut. Orang di hadapannya ternyata adalah gadis jelita dengan jaket woll merah marun yang sudah tidak asing lagi baginya. Rambut yang lurus sebahu dengan poni menyamping ke kiri, kedua mata bulat yang tidak begitu lebar namun indah berwarna merah kehitaman, hidung mancung didukung dengan wajah oval yang merona, membuatnya terkesan sangat manis namun tegas. Paramitha Armarani Catranata.


Terdorong rasa bahagia yang besar bisa menemukan si gadis, Ardana langsung memeluknya. Namun respon yang diberikan Paramitha malah sebaliknya. Kedua tangannya berusaha menghalau Ardana.


“Eh, kenapa?” tanya Ardana kebingungan.


Paramitha menggeleng, “Masih sempat-sempatnya melakukan itu di saat kita masih dalam keadaan bahaya.”


“Y—ya... mau bagaimana lagi? Aku kan senang bisa menemukanmu. Itu wajar, kan?” kilah Ardana agak kikuk. Dia merasa sedikit jengkel pelukannya ditolak Paramitha.


Paramitha memicingkan mata. Tersirat jelas ketidakpercayaannya dengan perkataan Ardana. Meski tidak benar-benar mengancam dan hanya sekadar iseng, kedua tangannya yang masih menggenggam kujang hitam warisan keluarga dan senter diarahkan bersamaan ke wajah sang kekasih. Diperlakukan seperti itu, Ardana semakin kebingungan. Ditambah lagi sorotan cahaya yang tajam diarahkan langsung ke wajahnya, membuatnya memejamkan mata dengan erat.


“Kalau kamu yang melakukannya, entah kenapa aku kurang percaya kata-katamu,” kata Paramitha sambil memalingkan wajah.


“Maksudmu apa?” tanya Ardan membelalak kaget.


Tidak ada jawaban yang diberikan dari Paramitha. Ardana menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal sambil mengambil lagi STF/12 yang sempat dilempar beberapa meter darinya. Sementara dia mengambil memeriksa kondisi senjatanya untuk memastikan tidak ada kerusakan, Paramitha mengalihkan perhatiannya pada arah jalur lorong yang mengarah ke tangga.


“Pak Ilham tadi tampak gusar memberitahuku tentang kamu yang menghilang. Sama seperti beliau, aku sudah menduga kamu pasti akan ke sini,” kata Ardana. Tangan dan kedua matanya sibuk mengecek ulang sisa amunisi.


Paramitha meliriknya perlahan. Sorot mata gadis itu memberi tanda dia memiliki alasan tersendiri.


“Aku hanya ingin melihat kembali semua yang dilakukan orang-orang itu padaku dan semua anggota keluargaku yang lain,” jawab Paramitha datar.


Ardana terdiam, tidak ingin langsung menanggapi. Dia lebih mengikuti empatinya pada sosok gadis yang membuatnya jatuh hati itu. Jika Paramitha mau menceritakannya lebih jelas, berarti dugaan Ilham tentang apa yang pernah terjadi pada si gadis adalah sebuah kenyataan yang harus diungkap. Tampaknya bukan hal yang sulit untuk melakukannya, terlebih mereka berdua memiliki hubungan yang spesial.


“Kita akan cari lagi bersama-sama, Neng. Tapi, boleh kita makan dulu, kan? Suasana tegang dari tadi membuatku lapar lebih cepat.”


* * * * *


Trak! Trak! Trak!


Di gudang senjata, Ardana dan Paramitha memilih untuk bersembunyi sementara sambil memulihkan tenaga. Meski tidak berterus terang, si gadis ternyata juga merasakan sedikit pegal di beberapa bagian tubuh. Ardana tampak santai dengan tangannya yang memainkan pisau lipat sambil berusaha membuka tutup kaleng makanan berbentuk bundar dengan diameter melebih lingkar telapak tangannya. Tebal isiannya yang mencapai lima setengah sentimeter cukup untuk dibagi berdua meski dalam aturan konsumsinya tertulis jelas untuk satu orang saja dan dimakan sebanyak dua kali. Isinya roti isi cokelat dan keju kalengan yang diproduksi tempatnya bekerja, yang sebenarnya diperuntukkan untuk petugas lapangan seperti dirinya.


Setelah terbuka seluruhnya, olahan roti padat dengan lelehan cokelat dan keratan keju yang menyembul sangat harum menyapa indera penciuman mereka. Ardana mulai menyendokkan potongan pertama masih dengan pisau lipat. Karena tidak ada sendok makan benda tajam itu menjadi penggantinya. Dia memberikannya untuk Paramitha.


“Kita makan bergantian, tapi kamu duluan yang mulai. Bagaimana?” tawarnya.


Paramitha mengangguk. Dia membiarkan Ardana menyuapkan ujung pisau dengan potongan roti isi di atasnya ke mulutnya. Tekstur lembut roti berpadu rasa cokelat dan keju yang menyatu membuatnya sedikit nyaman. Makanan itu memang tergolong sangat jarang dibelinya selama bekerja. Semua hasil kerja kerasnya lebih banyak digunakan untuk membayar uang kos, ongkos angkutan umum atau ojek daring, maupun biaya makan sehari-hari terutama sepulang kerja. Di tengah situasi yang tidak menguntungkan, lidahnya justru bisa mencicipi kelezatan roti isi yang menurutnya terlalu mengikuti citarasa bangsa asing yang biasa mengonsumsi olahan gandum.

__ADS_1


“Sebenarnya ini sudah kubawa sejak pertama kali berangkat dari Bogor, untung saja kualitas bahan bakunya memungkinkan makanan ini dihangatkan berkali-kali,” ujar Ardana sambil menyuapkan bagiannya sendiri.


Mendengar itu, Paramitha menghela napas perlahan. Meski terkesan perhatian, tindakan Ardana bisa dibilang konyol untuk ukuran demikian. Beruntung karena kualitas makanan yang masih bagus dirinya tidak merasakan efek samping yang bersifat kontan. Apalagi dia sering mendengar ada orang yang keracunan seketika setelah memakan roti yang sudah dibiarkan berhari-hari tanpa disentuh sama sekali. Tapi tentu saja dia tidak bisa menolak kebaikan hati Ardana.


“Ngomong-ngomong,” kata Ardana, “tempat ini lebih menakutkan dari yang kukira.”


Paramitha melirik Ardana. Si pemuda pun balas menatap dengan sedikit bangga.


“Aku sempat pesimis bisa menemukanmu. Terlebih tempat yang menyerupai labirin ini tampaknya memiliki tingkatan lebih dari satu lantai ke bawah. Untuk bisa sampai ke sini saja harus berlari kesana-kemari, pontang-panting menyelamatkan diri sambil melawan seperlunya. Saat berhasil menemukanmu rasanya semangatku yang mulai goyah jadi semakin kuat.”


Ardana beringsut lebih dekat ke hadapan Paramitha.


“Sebisa mungkin kita harus keluar dari sini. Dan kalau ada yang ingin kamu temukan di sini, seperti kataku tadi, kita akan melakukannya bersama-sama,” tegas si pemuda, mencoba meyakinkan gadis Catranata itu.


Paramitha memejamkan mata sesaat lalu mengangguk. Ardana membelai pipi kirinya sambil tersenyum sebagai bentuk respon ketulusannya. Satu misi tambahan dari Ilham berhasil setengahnya dia laksanakan. Tinggal menuntaskan misi utama yang menjadi beban tugas pokoknya.


“Aku mau jujur sesuatu, Dan,” kata Paramitha.


“Ya, apa itu?” Ardana mengangkat alis, menunggu gadis itu menjelaskan sesuatu padanya.


Paramitha menarik napas sejenak. Kali ini tatapannya menjadi lebih serius.


“Aku memang pernah dibawa ke sini sebelumnya. Tepatnya, sebelum kedua orangtuaku ditemukan meninggal dalam keadaan tragis di atas sana. Orang-orang itu membawaku ke beberapa tempat di mana mereka memasangkan sesuatu pada mataku di antaranya. Mungkin semacam percobaan, aku tidak mengerti karena saat itu aku hanya seorang anak kecil yang ketakutan. Yang jelas, tindakan yang mereka lakukan ketika itu mengubah warna mataku menjadi merah kehitaman, seperti yang kamu lihat saat ini. Dengan apa yang terjadi padaku, semuanya mulai berubah dan tidak seperti yang kuharapkan.”


Meski disampaikan dengan nada tegar, Ardana bisa melihat mata gadis itu memancarkan kenangan kelam. Tangannya yang masih membelai pipi si gadis sekarang berpindah ke bawah kelopak mata kanan lalu mengusapnya perlahan dan lembut.


“Apa ini terasa sakit?” tanyanya penasaran.


“Tidak, rasanya seperti biasa saja,” jawab Paramitha.


“Kamu masih ingat di mana saja tempatnya?”


“Masih. Tapi tidak terlalu jelas karena itu sudah lama sekali. Tadi... aku sempat bertemu dengan orang yang bernama Togar, yang namanya disebut dalam memo yang kamu berikan. Seketika aku teringat lagi, mereka membawaku ke ruangannya. Sayangnya dia sudah mati, lalu tiba-tiba berubah menjadi makhluk yang mengerikan. Bahkan masih bisa menyerangku.”


Ardana mengangguk-angguk. Sedikit lebih banyaknya dia sudah memiliki gambaran yang cukup jernih untuk ditulis dalam laporan misinya, jika dia berhasil dan masih hidup. Sekali lagi, hal tersebut bukan sesuatu yang dipermasalahkannya.


“Kita habiskan dulu makanan ini baru kembali bergerak,” katanya seraya menyuapkan potongan roti kembali pada Paramitha.


Paramitha mengiyakan dengan menerima suapan Ardana. Tetapi pada giliran berikutnya dia langsung mengambil alih pisau lipat yang juga digunakan menjadi sendok itu. Wajahnya mengerut seperti kurang suka dengan perlakuan Ardana yang dipandangnya khawatir berlebihan.


“Biarkan aku bisa makan sendiri, Dan,” gerutunya.


Ardana tidak menolaknya. Senyumnya mengembang sedikit lebar menyaksikan gadis itu makan dengan sedikit lahap dan tenang.

__ADS_1


* * * * *


__ADS_2