Petaka Biohazard: Lorong Kematian

Petaka Biohazard: Lorong Kematian
Tarian Maut Senjata Mesin


__ADS_3

Di luar ekspektasi Ardana, membujuk Paramitha di tengah situasi yang gawat ternyata tidaklah mudah. Gadis itu tetap bersikukuh mendampinginya meski ancaman bahaya yang akan datang jauh lebih sulit untuk dihadapi. Kemampuan bela dirinya pun tidak akan terlalu berguna menghadapi makhluk mutan dan mayat hidup yang jumlahnya kemungkinan besar ada sangat banyak.


“Mitha,” panggil Ardana serius. “Ini tidak sama dengan ketika kita terjebak di area lorong dan ruangan sebelumnya. Tempat ini terlalu terbuka dan luas!”


“Aku tidak ingin bersembunyi di dalam kendaraan ini sementara kamu berada sendirian di luar,” balas Paramitha, tidak mau kalah.


Ardana terdiam sesaat. Sifat keras Paramitha lagi-lagi muncul dan membuatnya sedikit bimbang. Namun dia harus tetap konsisten pada tugas yang diemban. Keselamatan gadis pemilik darah langsung dari keluarga Catranata itu adalah prioritas. Paramitha baginya harus tetap hidup, bagaimanapun caranya. Meski perkenalan mereka tergolong seumur jagung dengan benih perasaan yang terlalu cepat tumbuh, Ardana tidak bisa membiarkan kekasihnya itu terluka.


“Kalau kamu mau membantuku, bersembunyilah di dalam dan jangan keluar sampai aku membuka palka atau keadaan sudah aman,” tegasnya.


“Ardana....” Paramitha menggeleng lemah.


Tatapan si gadis yang mulai membuat hatinya terenyuh memaksa Ardana untuk memberi sebuah senyuman, yang dia harap bukan terakhir kali bisa diberikannya. Tangan kirinya mengusap pipi Paramitha seraya menatapnya lekat.


“Paramitha, dengarkan aku. Aku akan baik-baik saja dan kita akan keluar bersama-sama dari tempat ini. Janjiku untuk menjagamu sudah disaksikan oleh Pak Ilham juga, kamu tahu? Tolong... demi kebaikan dan keselamatanmu, patuhi kata-kataku.” Faizar menekan Paramitha sekali lagi dengan harapan agar gadis itu mau mengerti keadaan mereka berdua.


Kini, Paramitha dilanda keraguan. Dia masih tidak ingin meninggalkan Faizar yang seorang diri bertaruh nyawa demi menyelamatkannya. Tetapi si pemuda tentu tidak akan membiarkannya terus bersama. Dengan berat hati dia melangkahkan kaki menaiki tiga anak tangga pijakan sambil tetap memandangi Ardana. Setelah berada di dalam, pintu palka belakang ditutup perlahan. Dalam sekian detik perpisahan sementara kedua sejoli ini masih sempat saling memandang dengan gejolak yang tidak karuan dalam hati masing-masing.


Ardana menempelkan dahi dan keningnya ke dinding pintu palka belakang ANOA sambil berusaha untuk tetap tegar.


“Aku tidak bisa melihatmu tergores sedikipun. Aku menyayangimu,” lirihnya dengan mata terpejam.


Setelah beberapa saat membiarkan dirinya berada di sana, Ardana mengangkat wajahnya perlahan sambil menarik napas dalam-dalam. Saat-saat menegangkan sebentar lagi akan menyapanya tanpa memberi ruang lebih bahkan sekadar merenggangkan badan. Memar berat di punggung yang belum pulih serta luka parah di area telinga kanan turut menjadi beban yang tetap harus ditahan. Sambil memeriksa ulang sisa amunisinya, Ardana naik ke tempat duduk belakang rantis Komodo. Dua pucuk senapan serbu ditambah sepucuk pistol dan shotgun akan disimpannya setelah senjata mesin berat di depannya kehabisan amunisi atau mengalami aus pada bagian larasnya.

__ADS_1


Dengan hati-hati bagian belakang M2 Browning kaliber 50 diangkatnya agar bagian yang teracung ke udara dapat terarah lurus ke depan. Sekali lagi, pemuda ini beruntung karena mendapati empat belas untaian peluru dalam kotak besi di samping masih utuh. Selanjutnya dia turun kembali untuk membawa semua barang temuannya ke bagian belakang kendaraan militer roda empat tersebut dengan hati-hati. Meski suara ledakan granat sudah terdengar dan asap yang mengepul masih tebal, belum ada tanda-tanda gerombolan makhluk yang datang dari ruangan rahasia di balik pintu lemari besi di sana akan muncul.


Sambil memasang untaian peluru pertama pada senjata di depannya, kedua mata Ardana tidak lepas mengawasi bangunan pemantau yang seluruh bagiannya terbuat dari beton itu. Sesekali dia mengusap sekitar area telinga kanan yang terasa begitu perih. Darah mulai membasahi separuh bagian perban yang semula masih berwarna putih.


“Ini sakit. Tapi mau bagaimana lagi? Mereka sudah di depan mata,” desisnya sambil membidikkan senjata mesin beratnya ke arah jendela. Dari dalam sisa asap yang mulai memudar, sekelebat gerakan mulai terlihat olehnya.


HUUUUUMMMMM!


BRAKK! BRAKK! GUDEBRAKK!


Ardana menahan napasnya selama beberapa detik. Satu dengungan besar dan berat terdengar dari arah yang sama. Jarinya sudah sangat gatal ingin segera menarik pelatuk senjata. Suara beberapa benda berukuran besar dan berat yang berjatuhan juga menyusul bersahutan. Gerombolan makhluk mutan dari dalam ruangan rahasia yang didatanginya bersama Paramitha tampaknya sudah mencium aroma manusia yang masih segar untuk menjadi santapan pembuka.


Dari salah satu jendela, mayat tentara yang terjuntai di sana terhentak-hentak seperti didorong keluar lalu jatuh ke bawah. Tidak lama setelahnya, belasan tentakel merah muda berukuran besar muncul sambil meliuk-liuk. Sesosok makhluk berwujud gumpalan daging merah kehitaman dan penuh dengan sepuluh mata berwarna kuning menyeringai lebar ke arahnya.


Ardana yang tidak ingin menunggu makhluk itu turun langsung melepaskan tembakan gencar. Beberapa proyektil yang melesat dari ujung laras senjata mesin menyambar bagian rongga dalam muluk makhluk gumpalan daging yang meraung-raung kelabakan. Semua matanya pecah mengeluarkan darah merah kehitaman yang sangat kental. Tubuhnya langsung jatuh ke area basement dengan tetap mendapat terjangan timah panas. Belum selesai dengan satu sasaran, dari arah jendela sebelah muncul sesosok jerangkong dengan tumor besar yang berdenyut-denyut di dada dan wajah kanan. Nasibnya tidak jauh berbeda dengan yang pertama. Bagian tumornya meletus begitu terkena sambaran peluru tajam. Tubuh kurus berbalut sisa daging dan otot kemerahan itu juga tumbang dengan keras menghantam lantai beton di bawah.


“Kuharap kalian menikmati menu pembuka lezat dariku! Kalian mau makan?! Sambutlah peluru-peluru ini dan makan saja!” teriaknya sarkas tanpa melepaskan jarinya dari pelatuk senjata.


Dari balik kaca depan APC ANOA tempatnya bersembunyi, Paramitha menyaksikan adegan pembantaian itu dengan tegang. Tangannya yang sedikit gemetar tetap dipaksakan menggenggam erat kujang hitam bergagang tanduk putih warisan keluarga besarnya. Puluhan selongsong yang terontar dari palka pembuangan senjata mesin membentur dinding kendaraan sehingga menimbulkan bunyi ketukan berkali-kali dalam tempo yang terkadang cepat dan lambat. Suara keras Ardana yang turut menyahut seperti tenggelam dalam nyalak gencar senjata mesin yang tidak berhenti menari tarian maut dan menyambar mangsa.


Satu untaian amunisi pertama sudah habis. Di saat Ardana sedang berusaha mengisi ulang dengan cepat, gelombang kemunculan makhluk mutan dan mayat hidup masih terus berdatangan. Beberapa sosok manusia yang tidak lagi utuh mencoba keluar melalui pintu bawah. Mereka juga tidak luput dari sasaran tembak yang dilancarkan Ardana. Semuanya tumbang begitu tengkorak kepala, leher dan dada mereka tertembus peluru. Darah segar bermuncratan membasahi dinding dan lantai hingga menciptakan lapisan becek. Jumlah mereka yang terlalu banyak membuat beberapa lolos dan terus berlari ke arah rantis Komodo yang dikendalikan si pemuda.


GRAAAAARRR!

__ADS_1


Sesosok mayat hidup berwujud lelaki berseragam tentara tiba-tiba sudah merayap dari arah kanan. Matanya menyalang tajam ke arah Ardana sambil berusaha naik ke atas mobil dan menancapkan gigi-gigi tajamnya ke leher si pemuda. Sebelum itu terjadi, Ardana mencabut pisau panjang lalu membelakangi penyerangnya. Kedua tangan mayat hidup itu ditelikungnya dengan mudah. Begitu terkunci ketat, tangan kanannya bergerak lincah dengan menggorok leher makhluk tersebut.


HRRRRHHHHH! SSSSRRRHHHHH!


Mayat hidup itu seketika menggelepar sekarat dan terhempas ke lantai basement oleh tendangan Ardana. Dua mayat hidup lain berusaha naik dari belakang dan kiri. Ardana berkelit lalu melakukan tendangan keras hingga mereka terjungkal dengan rahang bawah putus menjuntai. Sementara itu gelombang susulan mayat hidup terus berdatangan. Khawatir tidak akan sempat membendung serangan yang mulai semakin bertambah banyak, dua buah granat dilemparkannya ke arah mereka dalam jarak yang tidak terlalu berdekatan.


BLEGGAAAARRR!


Beberapa tubuh penuh luka gerogot dan sayat itu terlempar ke berbagai arah. Tidak terkecuali isi kepala dan jeroan tubuh mereka. Dengan pemandangan tersebut seharusnya Ardana merasakan mual yang hebat. Namun, kali ini dia seolah tidak terpengaruh.


“Kalian tidak akan bisa mendapatkan potongan tubuhku, makhluk bodoh!” makinya kesal seraya mengacungkan jari tengah. Dia kembali meraih senjata mesin berat yang masih mengepulkan asap putih tipis dari dalam laras. Sisa puluhan peluru dalam untaian kedua dihamburkannya ke arah jendela untuk mencegah kedatangan mereka yang berusaha merangsek ke luar.


GRRAAAAAAARRRRGGHH! HAAAARRRRGGGGHHH!


Sebuah raungan keras terdengar hingga bergema, masih dari arah bangunan pemantau di depan Ardana. Dari arah jendela melompat keluar sesosok makhluk mutan dengan tubuh setengah manusia berseragam loreng tentara. Kepalanya yang masih berwajah manusia ternyata hanya tinggal hiasan karena sama sekali tidak bereaksi menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Pada bagian dadanya yang rengkah lebar terdapat sebuah mata kuning yang sangat tajam. Kedua tangannya yang utuh menyatu dengan belasan tentakel merah berujung tanduk runcing yang menggeliat liar.


Ardana sempat terpana sebelum sadar makhluk yang satu itu tampak lebih ganas. Gerakannya yang cepat hampir sulit diantisipasi oleh pemuda ini. Bahkan ketika dia akan mengambil senapan serbu, tangannya tiba-tiba dibelit oleh juluran tentakel yang sangat kuat. Terjadi tarik-menarik antara keduanya.


“Oh, bagus sekali!” Sebilah pisau panjang ditebaskan pada lilitan tentakel itu untuk melepaskan diri.


Makhluk yang kini berjarak belasan meter darinya meraung kesakitan dengan tangan kanan bergetar. Tebasan dari Ardana membuat ujung tentakelnya yang semula masih bertanduk putus tanpa perlawanan berarti. Makhluk itu menatap sengit ke arah manusia yang membuat tangannya terluka.


Ardana melompat turun dengan Sako Rk.95 tergenggam di kedua tangannya. Helm kevlarnya dilepas begitu saja di kursi pengemudi rantis Komodo. Sambil menatap tajam, sebuah syal merah marun dikeluarkannya dari saku lalu diikat silang di leher. Sebuah pemberian sederhana dari Paramitha yang baru dipahami oleh pemuda ini sebagai simbol kesetiaan dan kekuatan.

__ADS_1


* * * * *


__ADS_2