Petaka Biohazard: Lorong Kematian

Petaka Biohazard: Lorong Kematian
Bertemu Dengannya Lagi


__ADS_3

“Semalam saya dengar suara letusan dari Hutan Sirnasurya, mirip suara pistol tapi berkali-kali.”


“Iya, saya téh juga dengar semalam ketika sedang melakukan ronda. Ada apa, ya?”


“Jangan-jangan ada pemburu yang masuk ke sana dan jadi korban lagi!”


Tiga orang warga desa tampak serius membicarakan sesuatu yang terjadi pada malam sebelumnya di depan Puskesmas Desa Cikembang. Dari wajah mereka tampak kecemasan besar. Sesuatu yang biasa jika ada sesuatu terjadi berhubungan dengan Hutan Sirnasurya. Jika sudah seperti itu, mereka menganggap ada korban orang hilang yang baru. Sebuah pikiran yang sederhana.


Ardana yang sedang berada tidak jauh dari mereka mendengarkan secara saksama. Bibirnya menyungging senyum tipis. Dalam balutan pakaian penduduk sipil seperti pada umumnya, tidak ada yang mengenali penampilannya dalam seragam taktis seperti kemarin. Pagi ini dia sendirian dan tidak ditemani Ilham yang masih berada di rumah kepala desa.


“Andai saja mereka melihat langsung kejadiannya semalam,” desahnya. Dia meraba-raba lehernya lalu menghela napas. Bersyukur, karena kepalanya masih menempel pada jasad.


Kejadian semalam masih terus membayangi pikirannya. Dia nyaris terbunuh dengan kepala terpenggal kalau bukan karena pertolongan Ilham yang tepat waktu. Tubuhnya ditubruk dengan cepat sebelum tangan makhluk hitam hangus yang mencegat mereka sempat menebas lehernya. Kuku tajam monster misterius itu benar-benar besar dan tajam, tampak seperti pedang pancung berukuran jumbo yang selalu terasah. Serangannya terhadap Ardana memang meleset, namun ketika yang terhantam justru batang pohon, pemandangan ini justru membuat si pemuda ngeri.


Hanya sekali sabetan, batang pohon yang tersasar serangan meleset si makhluk hitam mengalami kerusakan yang parah dan lebar. Nyaris mengoyak hingga ke bagian tengah. Ardana tidak bisa membayangkan kalau itu adalah dada atau lehernya.


Meskipun sempat terkejut namun Ardana dan Ilham memberikan perlawanan sengit daripada mati terbunuh di hutan yang sama sekali tidak mereka kenal. Keduanya sama-sama mencabut pisau survival setelah tembakan tidak mampu menghentikan gerakan cepat makhluk hitam tersebut. Pertarungan jarak dekat yang menguras tenaga hingga akhirnya mereka berhasil menyelamatkan diri. Sebagai gantinya, Ardana harus merelakan telapak tangan kirinya mengalami luka gores cukup parah dan kini sudah dibalut dengan perban.


Setelah kejadian semalam, Ardana memilih untuk berjalan-jalan melihat keadaan di desa sebelum Ilham memanggilnya untuk kembali berangkat. Belum ada pembicaraan yang menyinggung kembalinya mereka nanti ke Hutan Sirnasurya. Sejauh yang mereka tahu, hanya kepala desa yang tahu keduanya memasuki Hutan Sirnasurya dan melakukan tembakan beruntun seperti yang sedang dibicarakan ketiga penduduk lokal tadi.


Seorang penjual surabi yang menggelar lapak di dekat area puskesmas menjadi pusat perhatiannya. Rasa lapar di pagi hari mendorongnya untuk mampir ke sana. Dari tempatnya berdiri, aroma khas kue surabi sudah menggoda indera penciumannya. Ardana bisa menebak kalau penganan tradisional itu sedang diolah dengan cara yang masih sederhana. Benar saja, di sana tampak si penjual yang sedang memasukkan adonan ke dalam wadah tanah liat yang sedang dibakar di atas tungku.


“Surabi... hmmm boleh juga untuk sarapan pagi ini,” gumamnya sambil berjalan.


Ardana menyempatkan diri untuk melihat proses memasak kue surabi sebelum akhirnya memilih tempat duduk. Mula-mula adonan kue surabi dituang di atas wadah yang terbuat dari tanah liat yang bagian bawahnya dibakar dengan api sedang. Wadah tadi ditutup bagian atasnya untuk memastikan kematangan sempurna. Beberapa menit kemudian baru dibuka dan kue sudah matang. Pada bagian bawah kue memang tampak beberapa bagian agak hangus sebagai tanda yang meyakinkan kalau ia diolah dengan cara pembakaran yang tradisional. Tidak ada pilihan rasa kekinian seperti yang biasa ditemukannya di Jakarta atau Bogor. Pembeli hanya bisa memilih menambahkan kuah gula merah atau dengan sambal oncom. Namun, soal rasa tetap tidak kalah.


Dua buah kue surabi yang diguyur kuah gula merah menjadi pilihan Ardana. Dengan tenang dia memotongnya hingga menjadi beberapa bentuk kecil agar mudah untuk didinginkan dan dimakan. Selesai menyantap surabi, dia memesan empat buah lagi untuk diberikan pada Ilham.

__ADS_1


Ardana kembali ke rumah kepala desa dengan wadah daun pisang berisi empat kue surabi dengan satu bungkus kecil plastik berisi kuah gula merah. Untuk bisa ke sana, dia harus melintasi alun-alun desa dan mengambil jalan ke arah kiri di mana di sana terdapat beberapa rumah dan lahan pertanian kecil-kecilan yang dikembangkan desa. Di sepanjang jalan banyak penduduk yang juga melintas atau sedang mengolah lahan tadi.


Pemuda ini tidak menyia-nyiakan pemandangan langka yang tidak akan bisa ditemukannya di kota. Dengan kamera smartphone miliknya, dia mengabadikan beberapa foto untuk disimpan dan diunggah ke media sosial. Mulai dari anak-anak yang berlarian riang dengan seragam sekolah, para petani yang bercengkrama hingga tukang ojeg yang sedang mengantar penumpang.


Kegiatan memotretnya terhenti manakala dia tidak sengaja menyenggol seseorang yang sedang melintas di belakangnya. Seorang gadis bertubuh sedikit ramping dan berambut lurus sebahu yang sedang membawa belanjaan terkejut melihat Ardana tahu-tahu mundur hingga nyaris membuatnya jatuh.


“Eh, ma—maaf. Saya tidak sengaja! Saya sedang.... eh, ka—kamu?!”


Ardana seperti tercekat. Sempat bingung, dia terlanjur terkejut begitu memandangi orang yang disenggolnya secara tidak sengaja. Bagaimana tidak, gadis berkemeja putih dan memakai celana jeans biru tua yang ada di hadapannya memiliki mata berwarna merah kehitaman yang sangat dikenalinya. Paramitha Asmarani Catranata, gadis itu balik menatapnya.


“Kamu... Paramitha, kan?” tanya Ardana pelan.


Paramitha yang tidak menduga akan bertemu dengan pemuda yang pernah mampir di rumah makan tempatnya bekerja hanya diam dengan ekspresi kurang ramah. Menyebut namanya secara bebas di depan umum seperti itu malah membuatnya risih padahal dia tidak ingin dikenali orang. Meski penampilan samarannya yang tidak berbeda dengan penduduk setempat sempat membingungkan Ardana, pada kenyataannya si pemuda masih bisa tahu itu adalah dirinya.


“Jangan sebut nama itu lagi sembarangan di tempat umum. Saya tidak suka!” ketusnya.


“I—iya, aku minta maaf. Tapi... apa yang kamu lakukan di sini seorang diri?” Ardana menatap kedua mata Paramitha, meminta kejujuran.


“Apa urusannya dengan kamu? Saya mau buru-buru pulang,” sahut Paramitha dengan sedikit kesal.


Ardana langsung menggenggam lengan Paramitha. “Hei, tunggu!”


Paramitha langsung menoleh dengan tatapan sengit. Gadis itu, meski cantik namun tampak menyeramkan ketika merasa terusik. Apalagi dengan kedua matanya yang merah kehitaman, membuat Ardana terdiam. Dia tidak mengira akan ditatap seperti demikian.


“Sepertinya dia mulai marah. Gawat kalau benar dia marah,” batinnya menebak.


Paramitha mendesah pelan sambil memejamkan mata.

__ADS_1


“Bisa tidak, kamu tidak memegang tangan saya seperti ini?” tanyanya dengan nada berat seperti sedang menahan marah.


Ardana seolah luluh. Perlahan dia melepaskan genggamannya dari lengan Paramitha. Kini keduanya sama-sama terdiam. Orang-orang yang melintas memerhatikan mereka dengan penasaran, mungkin mengira keduanya sepasang kekasih yang bertengkar di depan umum. Beberapa ibu-ibu hanya menggeleng lemah sambil mengelus dada. Apa yang dilakukan Ardana dan Paramitha tampak seperti pertengkaran sepasang kekasih atau suami-istri yang terbawa hingga ke muka umum. Beberapa dari mereka menatap sinis sambil saling berbisik.


Menyadari ada banyak mata yang menyaksikan tindakannya tadi, Ardana buru-buru memalingkan muka dengan perasaan malu. Lalu tanpa persetujuan Paramitha, tangannya tiba-tiba merangkul si gadis. Tentu saja yang dirangkul terkejut dan melotot padanya. Ardana memilih tidak balik menatapnya dan mengajak.


“Maafkan aku, ya? Aku bukan bermaksud marah, hanya sedikit cemburu saja melihat kamu dekat dengan orang itu. Ayo, kuantar kamu pulang sekarang!” kata Ardana dengan nada bicara yang dibuat seperti sedang menyesal. Suaranya diperkeras gara orang-orang desa tadi tidak berpikir yang tidak-tidak tentangnya.


Kali ini Paramitha tidak bisa melotot lagi. Perkataan Ardana barusan seolah menjadi kunci yang langsung membuatnya terdiam seribu bahasa. Mau tidak mau, dia membiarkan lelaki itu terus merangkulnya sepanjang jalan. Ardana digiringnya hingga masuk ke jalan yang mengarah langsung ke rumah Sumita. Barulah setelah pekarangan rumah temannya itu tampak di depan mata, tangan Ardana yang merapat langsung disingkirkan.


“Kamu! Apa-apaan, sih?! Tidak malu dilihat orang banyak! Seenaknya saja merangkul seperti tadi!” protes Paramitha.


Ardana sempat bingung bagaimana menghadapi gadis itu. Lagi-lagi tatapan kemarahan yang harus dihadapinya. Paramitha tampak seperti akan memakannya hidup-hidup selagi tidak ada orang lain yang melihat.


“Ya... mau bagaimana lagi? Perlakuanku tadi kan mirip orang yang mau melakukan kekerasan,” balasnya sambil membuang muka.


Jawaban Ardana malah membuat Paramitha semakin kesal. Ardana tetap berusaha memertahankan diri agar jangan sampai dia bertatapan mata secara langsung. Ekspresi kemarahan gadis itu ternyata membuatnya setengah ciut nyali.


“Lagipula kita tidak sengaja bertemu, kan? Kenapa... kamu harus marah-marah?” kilahnya.


Paramitha masih diam. Di dalam hatinya di membenarkan ucapan Ardana. Tidak ada gunanya marah-marah dengan pemuda menyebalkan yang kini sedang menampilkan wajah sok tidak bersalah. Baru bertemu saja sudah membuatnya naik darah. Meladeninya pun sama hasilnya.


“Ya sudah, mau kamu apa sekarang? Aku harus pulang sebelum Bu Nina mencemaskanku.” Paramitha mulai melunak. Kali ini tatapannya pada Ardana tidak seseram sebelumnya.


Akhirnya, Ardana memberanikan diri menatap wajah Paramitha. Yang ada di depan matanya kini adalah sosok gadis cantik berwajah oval, bermata indah meski tidak begitu lebar, berambut lurus sebahu dengan tatapan yang memancarkan kedamaian luar biasa.


Dia mendekatkan bibirnya pada telinga Paramitha. “Aku ke sini bersama Pak Ilham. Kamu pasti kenal dia, kan?”

__ADS_1


* * * * *


__ADS_2