
Ardana tidak bergerak sama sekali ketika sosok menyeramkan setinggi empat meter itu kembali menyasar bungkusan lain. Di mulut lebar dan penuh gerigi besarnya masih tersisa organ dalam manusia yang tadi disantap dengan begitu rakus. Hidungnya memiliki penciuman kuat untuk membedakan mana daging yang cukup layak dikonsumsi.
Selama daging yang disantap makhluk tersebut bukan dirinya, Ardana tidak peduli. Meski begitu hati kecilnya menyayangkan nasib orang-orang yang diberitakan menghilang setelah memasuki Hutan Sirnasurya justru berakhir di tempat rahasia yang tidak diketahui oleh siapapun. Tempat yang gelap, dihuni oleh makhluk-makhluk mengerikan yang entah sudah ada sejak kapan.
“Dia mendekat, semakin dekat,” desisnya sambil merayap menjauh. Makhluk dengan tubuh yang hampir dibalut kain kafan bernoda darah itu kini mulai mendekati posisinya.
Tiba-tiba lantai tempatnya merayap terasa basah dengan sedikit bau amis. Ardana mencoba menahan napas sekuat mungkin tanpa ingin memeriksa apa yang dilewatinya. Karena tidak mengenakan pelindung siku dan lutut, kedua bagian tubuhnya ini mulai terasa perih. Wajahnya meringis tetapi dia tetap terus memaksakan diri untuk merayap kembali ke pintu tempat dia masuk.
Klontang!
Sebuah kaleng bekas di atas sebuah meja tanpa sengaja tersenggol olehnya, lalu jatuh menggelinding beberapa meter ke arah tengah ruangan. Sosok tinggi berbalut kain kafan dengan daging dada terbuka itu menoleh cepat lalu mendatangi sumber suara. Dengan ganas sabit bertongkat di tangannya ditancapkan ke kaleng tadi berkali-kali. Ardana mengerjap ngeri sambil tetap meneruskan merayap menuju pintu masuk ruangan.
Usahanya berhasil. Pemuda ini luput dari satu ancaman yang sangat menakutkan baginya. Begitu melewati pintu, Ardana bergegas bangkit namun tidak langsung lari. Khawatir suara sepatunya akan memancing sosok itu ke arahnya. Baru setelah berada dalam jarak tiga puluh meter lebih dia berlari kembali ke pertigaan di mana sebelumnya berhasil keluar dari area sel tahanan. Dari berbagai arah muncul suara raungan yang terdengar samar diselingi benda berjatuhan. Tetapi tidak ada satu sosok aneh pun yang tertangkap oleh kecamata canggih yang dikenakannya.
Menit demi menit yang mendebarkan terlewati. Ardana langsung terduduk lega begitu mencapai pertigaan lorong. Saking tegangnya suasana yang dirasakan sampai-sampai kedua tangannya gemetar kecil. Senapan serbu dalam genggamannya dibiarkan jatuh begitu saja di dekat kakinya. Meski kerap merasa gengsi, pemuda ini harus mengakui dirinya masih menyimpan kecemasan dan ketakutan setiap kali berada di tempat yang gelap dan senyap. Setidaknya untuk sementara waktu dirinya masih aman dan pikirannya belum teracuni oleh kekuatan negatif dari rasa takut berlebihan.
Ardana menoleh lagi ke belakang lalu tanpa berkedip memutar pandangan ke arah jalur lorong yang menuju area sel tahanan.
“Ingat, Ardana. Jangan mati konyol di sini. Pokoknya jangan,” ucapnya meyakinkan diri sendiri.
Sambil menyandarkan seluruh badan di dinding lorong dia teringat kembali pada motivasinya ketika bergabung dengan Baihaqi Armed Corps untuk bisa meningkatkan taraf hidup. Meski berbau meterialistik, Ardana tidak memungkirinya. Sebagai pemuda dengan hidup yang pas-pasan, mendapatkan uang meski harus berjibaku dengan bahaya bisa dikatakan hampir tidak pernah dihindari. Titel pendidikan dan otaknya yang tergolong cerdas masih belum cukup untuk mengantarnya mencicipi manis dan pahit dalam mencari pundi-pundi kemakmuran. Kondisi perekonomian keluarganya yang tidak begitu baik mengubahnya menjadi orang dengan pribadi yang selalu ingin memiliki banyak uang. Banyak orang yang menilainya miring karena kerap mengukur hampir semua hal dengan nominal rupiah. Bahkan dirinya masih tetap seperti itu ketika bergabung menjadi bagian dari para personil lapangan Baihaqi Armed Corps.
Namun tugas yang diemban dan pertemuannya dengan Paramitha seketika mengubah cara pandangnya. Kedua hal yang secara tidak langsung mengajari Ardana bahwa sekeras apapun hasrat ingin merengkuh kekayaan, nyawanya tetaplah hal yang tidak kalah penting bahkan ada di atasnya. Masih ada hal lain di samping materi yang membuat hidup menjadi lebih berarti dan ingin memertahankannya dengan segenap kekuatan baik itu secara lahir maupun batin. Melindungi orang-orang yang tersayang dan membahagiakan mereka tanpa harus dengan mengejar kenikmatan materi berlimpah.
Bayangan sosok kedua orangtuanya, Ilham, Paramitha dan beberapa orang yang dia kenal di Baihaqi Armed Corps tiba-tiba muncul di hadapannya. Semuanya mengulurkan tangan, kecuali Paramitha yang menghampirinya lalu duduk sejajar di depannya. Dipeluknya Ardana yang dalam keadaan terperangah. Meski tahu itu hanya bayangan namun pemuda ini merasa nyaman. Semua sosok mereka kemudian menghilang satu persatu diakhiri dengan Paramitha yang melepaskan pelukannya.
__ADS_1
Ardana tertawa kecil sambil menggeleng-geleng. Tanpa terasa air mata mengalir dari sudut matanya yang terpejam.
* * * * *
Area lain di lorong bawah tanah
Beberapa saat sebelumnya
Suara ledakan dari arah lain yang bergema kuat membuat Paramitha menghentikan langkah, tepat di depan jalur lorong dengan banyak ruangan di sisi kiri dan kanan dindingnya. Gadis ini menoleh ke belakang dengan sorot mata yang menyiratkan rasa penasaran.
“Ardana,” desisnya khawatir.
Dia sempat akan membalikkan badan untuk mencari di mana suara tersebut berasal, namun sesuatu yang lain membuatnya urung melakukan itu. Jalur lorong di hadapannya adalah tempat yang sama yang dilihatnya dalam mimpi. Semakin jauh ke depan, ada banyak ruangan di bagian kiri dan kanan yang hampir semuanya terbuka lebar. Ada perbedaan yang cukup mencolok. Jika dalam mimpinya tempat itu tampak kosong, yang ada di depannya sangat berantakan. Sekitar belasan mayat tentara kembali ditemukannya bahkan berserakan di mana-mana. Ada juga yang jasadnya sudah nyaris tinggal tulang menempel di dinding bersama sisa-sisa gumpalan daging aneh yang sudah mengeras dan agak kehitaman. Mengalirkan cairan kuning keabu-abuan yang berkerak di sudut antara lantai dan dinding lorong.
Baunya tentu sangat tidak sedap tetapi seakan tidak berpengaruh pada Paramitha. Dia melenggang bebas menyusuri lorong sambil mencari-cari sesuatu hingga ke tiba di depan ruangan terakhir di bagian kanan dinding.
“Akhirnya ketemu juga,” gumamnya sambil masuk ke dalam.
Ingatan masa lalunya kembali muncul. Ruangan yang penuh dengan meja dan kursi beserta ribuan kertas kusam yang berantakan itu mendadak berubah menjadi rapi. Dirinya yang masih menjadi seorang anak kecil dibawa paksa ke sana oleh orang yang sama. Ada satu lelaki lain berseragam loreng dengan nama ‘Togar Siahaan’ di dada kanan menatapnya dingin, duduk di balik meja kerjanya bersama tiga serdadu pengawalnya. Di belakang mereka terdapat sebuah bendera merah dengan lambang yang sama seperti pada pintu.
Lelaki berambut cepak dengan tanda nama tersebut mengambil sebatang cerutu impor dari wadah besi di atas meja lalu menyulutnya dengan korek gas. Benda panjang berisi tembakau berkualitas unggulan itu dihisapnya penuh kenikmatan. Dengan pongah, meja kerjanya diduduki olehnya sendiri.
“Jadi... ini anaknya? Sayang sekali, mungkin dia tidak akan bertahan lama kalau uji cobanya terlalu kasar.”
“Orangtuanya sudah Mayor singkirkan, untuk apa Tuan Mayor mendadak mengasihaninya seperti itu?”
__ADS_1
“Mengasihaninya? Tidak juga, justru saya penasaran dan ingin melihat prosesnya.”
“Kalau begitu, bawa saja anak ini ke ruangan eksperimen khusus. Jangan membuang waktu lagi dengan berusaha menghiburnya!”
“Tenang dulu, jangan dilakukan terburu-buru!”
Paramitha memalingkan wajahnya sambil memejamkan mata erat begitu visualisasi tadi menghilang. Tangan kanannya yang menggenggam kujang hitam mengepal sangat kuat.
Perlahan kedua matanya kembali terbuka. Seisi ruangan itu diamatinya dengan saksama. Dan di sudut ruangan dia menemukan sesosok jasad berseragam tentara, duduk terpojokkan dengan jejak ekspresi ketakutan luar biasa di wajahnya yang sudah hampir rusak parah. Meski tampak sudah lama, hampir tidak ada proses pembusukan kecuali dari bagian dagu ke bawah menuju dada yang rusak terkoyak. Matanya yang membelalak sudah berubah kehitaman dan tampak mengeras.
Togar Siahaan.
Mata Paramitha mendadak pedih membaca nama yang ada pada jasad tersebut. Orang yang tadi muncul dalam visualisasi masa lalunya kini tidak lebih dari jasad rusak tanpa nyawa yang terabaikan di tempat yang suram. Orang itulah yang bertanggungjawab atas kematian ayah dan ibunya.
Jasad Togar tiba-tiba bergetar hebat. Kedua bola matanya bergerak-gerak lalu pecah. Dari lubangnya muncul belasan tentakel merah kecil yang menggeliat liar. Tubuhnya kemudian mengalami regenerasi cepat di awali dengan mengelupasnya kulit kehitaman yang membalut jasad. Paramitha yang sempat terperanjat kini mundur perlahan sambil tetap dalam posisi bertahan.
HRRRRRGGHHH! MMPPPFFUUEEEEUUUKKHHH!
Makhluk yang ada di depan Paramitha bukan lagi Mayor Togar. Tubuh mayat hidup yang masih meregenerasi itu bergerak-gerak seperti ada sesuatu yang hidup di dalamnya. Wujudnya berubah menjadi makhluk mutan setengah manusia dengan seluruh lubang di kepala mengeluarkan tentakel-tentakel merah berselimut lendir kuning yang kental. Bagian dahinya seketika muncul retakan parah yang terus terbuka lebar. Dari bagian tersebut muncul empat bola mata baru berwarna kuning dan merah yang melotot liar.
Paramitha tidak langsung menyerang. Dia masih tetap melangkah mundur dengan hati-hati dan keluar dari ruangan. Makhluk aneh di depannya berusaha menyerang namun masih terlalu sempoyongan. Hanya berselang tiga detik setelah proses regenerasi pertama, tangan kanannya kembali mengalami perubahan. Kuku-kukunya memanjang dan mengeras seperti tanduk runcing yang sangat tajam hingga mencapai bagian betis.
NGHIIIIIIIKKKHH....!
Makhluk mutan itu berlari menerjang Paramitha yang terkesiap melihat perubahan wujudnya.
__ADS_1
* * * * *