
Dengan sorotan cahaya senternya Ardana bisa melihat siluet seseorang yang terkapar di lantai lorong. Ketika didekati ternyata ada jasad manusia dalam posisi terjembab dengan tangan berusaha meraih pintu sebuah ruangan di sisi kiri. Sosok tersebut mengenakan APD (Alat Pelindung Diri) seperti jumpsuit hazmat hijau tua, sarung tangan dengan warna senada dan topeng gas berwarna hitam yang bagian kacamatanya sudah pecah ditembus sesuatu. Darah mengering keluar dari lubang mata. Tidak seperti kondisi mayat di area atas, yang satu ini tampak lemas.
Ardana segera memindahkannya. Terdengar suara gejolak air dalam jumlah kecil dari balik jumpsuit hazmat jasad itu. Tidak terpikirkan oleh pemuda ini untuk membukanya karena dia tahu itu tanda bagian tubuh yang rusak karena meleleh cukup parah. Pada bagian lengan juga terasa sangat lunak. Ardana merasa seperti sedang memindahkan adonan tepung baru yang dibungkus dalam kantung jenazah.
Pintu baja di depannya dalam keadaan terkunci dan tidak ada benda keras apapun di sekitar Ardana yang dapat digunakan untuk membuka paksa. Apalagi kuncinya menggunakan sistem kode angka rahasia yang masih bisa diretas selama masih terdapat aliran listrik.
“Yah... bagaimana bisa dibuka kalau tidak ada listrik? Merepotkan saja!” keluhnya sambil menoleh ke kiri dan kanan.
Ardana teringat pada cara yang dilakukannya beberapa saat sebelum melarikan diri di area lorong lantai dua. Meledakkan pintu baja dengan bahan peledak yang masih tersisa di salah satu ruangan. Sayangnya untuk kembali ke sana sangat tidak mungkin. Di satu sisi, selain dirinya sudah berlari ke berbagai arah lorong yang hampir menyerupai labirin, dia tidak ingin bertemu lagi dengan sosok tinggi besar yang tadi mengejarnya. Di sisi lain, Paramitha juga belum ditemukan. Ardana harus berpacu dengan waktu yang terasa semakin menipis.
“Terserahlah!” umpatnya sambil beranjak dari depan pintu baja. Meneruskan penelusuran dengan mengikuti kembali jalur berkelok yang dipijakinya.
“Pak Ilham? Pak Ilham, masuk!”
Ardana mencoba menghubungi Ilham tetapi tidak bisa. Hanya terdengar suara gemerisik halus. Pemuda ini berhenti sebentar untuk mengulang lagi percobaan berkomunikasi hingga enam belas kali. Hasilnya nihil. Tempat baru yang didatanginya itu seolah tidak bisa ditembus sinyal.
“Tidak bisa terhubung.”
Sreeet! Sreeet!
Baru saja akan memeriksa sisa amunisi dalam senjatanya sambil berjalan kembali, suara langkah kaki yang diseret berkali-kali membuat Ardana batal melangkahkan kaki ke depan. Sempat mengira asalnya dari arah depan, dia teringat pada jasad seseorang dengan balutan hazmat yang dipindahkannya. Untuk meyakinkan kalau dugaannya keliru Ardana membalikkan badan perlahan. Berselang dua detik kemudian matanya membelalak kaget.
HRRRRRRGGHHH! HRRRRGGGHHH!
Sosok berbalut jumpsuit hazmat hijau tua itu benar-benar bangkit dari kematian. Dari kedua lubang mata topeng gas yang masih menempel di wajahnya muncul tentakel-tentakel merah kehitaman seperti hangus terbakar. Tangan kanannya tiba-tiba putus dan robek hingga ke bagian iga. Sebuah kepala baru menyerupai belut berwajah mengerikan muncul dari sana disertai cipratan kental darah merah. Mulutnya yang menyeringai kini menganga lebar menjadi empat bagian seakan siap melahap Ardana hidup-hidup.
__ADS_1
Keberuntungan masih berpihak pada Ardana manakala dia menyadari ada sebuah granat terkunci yang menggantung di sisi kiri jumpsuit hazmat yang dikenakan sosok di depannya. Pemuda ini menunggu kesempatan tepat untuk mencabutnya. Sementara mayat hidup setengah belut mutan itu mendesis garang padanya, dia justru menantang dengan berjalan mendekat.
“Kemarilah... ayo serang aku,” desis Ardana sambil membentangkan tangan.
ZZZZZSSSSSSHHHH!
Ardana bergerak cepat mencengkeram leher belut mutan itu dan menahannya sekuat tenaga. Makhluk tersebut tentu saja memberontak liar, berusaha melepaskan dirinya lalu mencaplok kepala si pemuda. Sementara tangan kirinya tidak bergerak sama sekali dan tampaknya kehilangan daya motorik karena proses perubahan tadi.
Meski merasa jijik karena bisa merasakan langsung paduan sensasi daging lunak belendir di tangan kirinya, Ardana memilih mengabaikannya. Tangan kanannya terus berusaha menggapai kunci granat yang kesulitan diraih karena tubuh mayat hidup setengah mutan itu terus memberontak. Belum lagi tentakel-tentakel merah yang ikut membelit lehernya.
Ardana menarik tangannya. Berusaha merogoh sarung pisau panjang di pinggang kiri. Setelah gagangnya tergenggam kuat, benda tajam itu ditebaskan kasar pada jeratan tentakel yang mulai membuatnya sesak napas.
Zraaat! Zraaaat!
NGHIIIIIKKKHHH!
BLEGGAAAARRR!!
Ledakan hebat muncul tidak lama setelah makhluk itu terjungkal ke lantai. Potongan daging dan seluruh organ dalam tubuhnya yang hancur berantakan terlempar ke berbagai arah. Kepala belutnya terlempar ke sebelah Ardana, menganga dengan sorot mata membeku yang menakutkan.
Suara ledakan tadi ternyata memancing kehadiran makhluk lain dengan wujud yang sama. Jumlahnya mencapai belasan sosok. Mereka berduyun-duyun mendatangi Ardana yang masih terkapar di lantai. Beberapa ada yang sudah mengalami proses perubahan sambil berjalan kaku dengan tangan berusaha menggapai mangsa.
“Bikin susah saja!” Ardana bangkit lagi memungut pisau dan kedua senapan serbu miliknya. Salah satunya yang berjenis Sako Rk.95 digantungkan lagi di belakang bahu kanan.
TATATATATAT! TATATATAT!
__ADS_1
Dalam kilatan api yang berkedip-kedip dan cahaya senter di helmnya, tatapan Ardana menjadi lebih tajam dan awas sambil terus menembaki setiap kepala belut mutan yang mencoba menyambarnya. Makhluk yang dihadapinya tidak sesulit sebelumnya. Tubuh yang lunak dan nyaris meleleh itu ternyata tidak tahan dengan tajamnya peluru 5.56 mm yang menembus hingga keluar lagi. Dalam waktu singkat semuanya berhasil dilumpuhkan. Meski begitu Ardana tahu betapa bahaya gigitan mereka. Lengah sedikit saja kepalanya bisa putus karena dihisap dan digerogoti secara paksa.
Dia melewati jasad-jasad tanpa nyawa itu, kembali meneruskan penelusuran jalur lorong yang seakan memutar ke kiri. Semua ruangan selalu berada di sisi itu sejauh yang dia temukan semuanya dalam keadaan terkunci. Dan ada saja jasad manusia lainnya yang kembali ditemukan, entah itu menempel di dinding dalam balutan daging kehitaman yang sudah mengeras maupun terkapar begitu saja di lantai. Untuk berjaga-jaga dan mencegah terjadinya kejadian serupa, dia menusuk-nusukkan pisaunya ke bagian kepala karena menurutnya di situ pusat aktif regenerasi dan perubahan wujudnya. Satu-dua masih menggelepar bereaksi ketika otak mereka rusak terkena mata pisau yang masih sangat tajam. Sebuah tindakan monoton yang bisa sangat membosankan namun sangat diperlukan di tengah situasi tidak terduga.
Ardana menghentikan aksi menikamnya setelah mencapai ujung lorong yang berbelok tajam ke kiri. Sebuah pintu baja terbuka lebar menarik perhatiannya. Di bawahnya ada senapan serbu SS-1 V5 yang tergeletak bermandikan darah yang mengering. Peluru-peluru berhamburan di sekitarnya. Ketika didekati ternyata itu sebuah gudang senjata yang ditinggalkan dalam kondisi berantakan dengan luas 20 x 20 meter. Tidak hanya senapan dan peluru, berbagai perlengkapan tempur ringan untuk infantri lainnya masih ada dan tersusun rapi. Bahan peledak dan granat tersimpan dalam deretan boks besi yang masih terkunci gembok kecil.
“Wah, panen besar!” serunya kegirangan.
Terbatasnya kapasitas pouch dan ransel khusus yang dibawanya membuat Ardana harus selektif seakurat mungkin. Semua isi gudang senjata itu memang benar-benar menggodanya tetapi dia dihadapkan pada pilihan yang sifatnya realistis; menambah jumlah simpanan amunisinya yang hampir cekak, memilih pistol yang dibutuhkan, lalu mengumpulkan granat dan paket bahan peledak untuk membuat bom.
Saat sedang asyik memilih-milih perlengkapan tempur, matanya tidak sengaja melihat sepotong tangan manusia yang tersembunyi di bawah meja di dekatnya. Sebuah kertas ukuran A4 terselip di sela-sela jari yang menghitam dan lembap. Setelah tahu isinya tidak lebih dari daftar inventaris gudang senjata, dia menghela napas lalu membuang kertas itu ke sembarang arah.
“Selesai. Waktunya pergi dari sini.”
Kini semua bawaan Ardana terasa lebih berat dari sebelumnya. Namun baginya itu bukan masalah daripada harus berkeliaran di area lorong yang dipenuhi mayat hidup dan makhluk mutan tanpa membawa perlengkapan tempur memadai. Setidaknya sampai dia mampu keluar hidup-hidup dari sana bersama Paramitha.
Baru saja setengah jalan, Ardana harus kembali ke gudang senjata dan bersembunyi di sana. Dari arah tangga terdengar suara benda basah dan berat yang diseret lalu menggelinding. Dari kacamata taktisnya tampak kemunculan gundukan daging basah dengan ukuran nyaris menutupi lebih dari setengah area lorong. Seluruh tubuhnya ditumbuhi tentakel yang bisa memanjang dan menggunduk silih berganti setiap kali bergerak. Apesnya lagi secara kebetulan makhluk itu memuntahkan jasad manusia yang sudah tidak berbentuk dan berlendir dari mulut besarnya.
Ardana nyaris muntah kalau tidak segera berbalik arah. Meski mendongkol dia memilih cari aman dengan kembali ke gudang senjata tadi. Sambil mengisi ulang peluru dan menyiapkan granat, pemuda ini mengawasi pergerakan makhluk gumpalan daging yang dilihatnya di depan sana. Rasa haus dan lapar disertai lelah membuatnya ingin sekali merenggangkan otot sambil menikmati ransum roti isi kalengan dan infused water citarasa lemon yang kebetulan ada di dalam ransel.
“Cobaan macam apa lagi ini? Rasa-rasanya tidak ada habis jumlah mereka!” gerutunya. Di tangannya sudah tergenggam granat yang akan dia lemparkan andai sosok tersebut mendekat ke arah gudang.
Perhatiannya teralihkan pada pegerakan lain di belakang makhluk gumpalan daging di sana. Sesosok manusia yang mengendap-endap dengan senjata tajam di tangannya. Ardana mengerutkan kening karena bentuknya tampak familier.
“Hah, itu manusia? Apa yang akan dilakukannya?”
__ADS_1
* * * * *