Petaka Biohazard: Lorong Kematian

Petaka Biohazard: Lorong Kematian
Rahasia di Balik Lemari Besi


__ADS_3

Sebuah area basement cukup luas yang berfungsi sebagai tempat parkir kendaraan menjadi akhir dari jalur lorong yang dilewati Ardana dan Paramitha. Keduanya sempat tertahan sambil memastikan situasi tetap aman. Beberapa kendaraan tempur lapis baja yang didominasi panser dan truk sepuluh ban teronggok begitu saja dalam kondisi yang dapat dikatakan masih cukup baik. Tampaknya sudah cukup lama tidak digunakan. Warna kamuflase loreng bernuansa hijau dan cokelat pada semua kendaraan itu sedikit terganggu oleh bekas cakaran dalam jumlah besar maupun noda darah di kaca depan.


“Jangan jauh-jauh!” Ardana melirik Paramitha lalu kembali bergerak. Si gadis mengikutinya dengan sangat rapat sambil tetap waspada.


Ardana mulai memeriksa satu persatu kendaraan yang mereka dekati. Di setiap mobil lapis baja yang pintunya terbuka, beberapa mayat tentara ditemukan masih terduduk di kursi pengemudi atau berusaha keluar. Ada juga yang berada dalam posisi seperti jatuh tersungkur atau terjungkal seperti berusaha menghindar. Ardana baru menyadar hampir setiap mayat di yang ditemukannya memiliki bekas luka tertembus benda tajam di bagian kepala atau leher. Bahkan ada yang sampai robek lebar hingga ke dada. Ribuan selongsong peluru dan belasan senjata api yang berserakan menjadi tanda pernah adanya sesuatu yang terjadi hingga merenggut nyawa para serdadu malang tersebut.


“Hah!”


Jasad seorang perwira dengan rahang yang patah dan hancur di atas sebuah turet panser tiba-tiba jatuh terkulai di dekat Ardana. Kejutan kecil tak terduga itu membuatnya melompat ke belakang hampir melewati Paramitha. Hanya dari kepala ke pinggang saja yang hampir menimpanya, sementara bagian tubuh yang lain masih tersangkut di lubang palka turet. Bau busuk luar biasa langsung menyebar.


“Hati-hati, Mitha. Ya ampun, baunya sangat menyengat begini!” Ardana menutup rapat hidung dan mulut dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya bereaksi menodongkan senjata ke berbagai arah.


Beberapa meter di depan deretan kendaraan terbengkalai yang ada di sekeliling mereka, terdapat sebuah bangunan berlantai dua yang cukup menarik rasa penasaran. Menyatu dengan dinding lorong yang terdiri dari lapisan beton solid. Dari kaca jendela yang pecah di lantai dua tersembul jasad tentara lain dalam posisi terlungkup dan mengering, nyaris tinggal tulang-belulang saja.


Ardana dan Paramitha mendekati bangunan tersebut sambil menoleh ke semua arah. Setelah sampai di depan pintu besi yang terbuka ke dalam, si pemuda mendorongnya perlahan. Bunyi karat yang tergesek membuatnya risih. Paramitha mendahului masuk ke dalam ruangan yang sangat berantakan dengan banyak kertas bertebaran di lantai dan meja, membaur dengan kursi-kursi yang terjungkal. Ardana menghela napas sambil menatap nanar. Kedua matanya lalu menyalang penuh siaga ke setiap sudut.


“Kalau kamu ingin memeriksa sesuatu di sini, kamu lakukan saja sekarang. Aku akan berjaga di pintu,” katanya pada Paramitha tanpa menoleh sedikitpun. Pemuda ini kemudian berdiri di depan pintu sambil bergantian mengawasi si gadis dan deretan panser yang berhadapan langsung dengan gedung.


Kesempatan itu juga digunakan olehnya untuk kembali mencoba menghubungi Ilham. Berkali-kali dia menekan tombol pemicu koneksi agar mendapatkan frekuensi dan jaringan yang bisa dijangkau namun hasilnya nihil. Lagi-lagi suara gemerisik halus yang terdengar.


Ardana mendesah sebal, membiarkan dirinya duduk merosot di dekat pintu dengan kedua kaki yang diluruskan ke depan. Diliriknya Paramitha yang mulai sibuk membuka setiap rak lemari dan meja. Gadis itu tampak serius memilah beberapa kertas berisi sesuatu yang penting. Setiap kali menemukannya dia memisahkannya di atas meja yang berada tepat di depan jendela.


“Dan, ke sini!” perintah Paramitha. Gadis itu tampak mengerutkan dahi melihat salah satu lembar kertas di tangannya.


“Ada apa?” tanya Ardana sambil berjalan menghampiri si gadis.


Paramitha tidak menjawab, hanya menyerahkan kertas di tangannya pada Ardana. Ketika dilihat dengan jelas, ternyata ada sebuah peta sederhana dengan titik awal di ruangan itu. Ardana menyimpulkannya demikian karena jika dilihat dari atas tampak sesuai dengan tempat mereka berada. Ada sebuah celah menuju ruangan lain di belakangnya, tertutup oleh sesuatu yang tampak menyerupai lemari ditandai dengan simbo berbentuk huruf X.


Ardana menoleh ke belakang mereka. Di sana memang ada sebuah lemari besi yang tertutup rapat. Pemuda ini kemudian mencoba membuka paksa dengan memukul gembok yang mengikat pintunya dengan pukulan popor senapan.


DRAKK!

__ADS_1


DRAKK!


“Masih susah dibuka,” keluhnya setelah mendapati gembok pengunci pintu lemari tidak meninggalkan bekas rusak meski sudah dihantam popor senjatanya berkali-kali.


Tidak adanya benda pencungkil yang bisa digunakan lagi, membuat Ardana tertarik menggunakan cara lain yang lebih simpel. Seakan tahu apa yang akan dilakukan kekasihnya, Paramitha mundur perlahan ke sudut ruangan dekat meja. Di saat bersamaan, Ardana mengarahkan ujung shotgun-nya langsung ke gembok dalam jarak sekitar tiga jengkal.


JDAR!


Krinting!


Gembok berbentuk persegi itu pecah menjadi dua bagian yang tidak rata dan jatuh di bawah pintu lemari. Dengan satu tangan yang tetap menodongkan shotgun, Ardana membukanya dengan hati-hati. Benda tinggi menjulang hingga nyaris mencapai langit-langit itu tampak tidak bisa dipercaya dan dalam bayangannya, ada sesuatu yang mengerikan yang akan menerkam dirinya. Kenyataannya, apa yang ada di balik pintu lemari tidak lebih dari susunan rak dengan banyak ATK (Alat Tulis Kantor) yang sangat tidak penting untuk situasi sekarang.


Sambil mendesah berat, Ardana menutup kembali lemari itu lalu menoleh pada Paramitha. “Sepertinya ada di lantai dua.”


Keduanya segera menaiki tangga lurus yang berada dekat dengan pintu masuk. Sambil mengisi ulang amunisi STF/12 di tangannya, Ardana melongokkan kepala. Tepat di depannya ada lemari yang sama seperti di bawah dengan posisi yang sama. Tidak jauh dari tanggaa, ada enam jasad manusia berseragam tentara warna hitam polos tanpa tanda pengenal atau lambang kesatuan yang tergeletak, sudah temasuk dengan dua yang mereka lihat dari luar tadi. Ruangan lantai dua tersebut ternyata adalah tempat mengatur keberangkatan dan kedatangan semua kendaraan yang terparkir di area basement. Termasuk juga muatan yang ada di dalamnya yang ditulis dengan kode kombinasi angka dan huruf yang berbeda satu dengan yang lainnya. Tanggal terakhir menunjukkan semua tiba pada 25 Mei 2009 pukul 16.29 WIB.


Ardana mengangkat alis kanannya. Tidak terpikirkan sebelumnya untuk memeriksa semua truk di luar sana. Tapi peta sederhana dalam kertas HVS kusam yang diterimanya dari Paramitha lebih menarik minatnya untuk melakukan penelusuran. Dia beralih pada lemari besi di belakang mereka. Sama seperti sebelumnya, gembok pengunci yang menutupi kedua belah pintunya dihancurkan hanya dengan sekali tembakan.


“Sepertinya ini jalan rahasia yang ada di dalam peta tadi. Tapi... mengarah ke mana lagi?” Ardana tampak kebingungan sambil mengamati lagi peta dalam kertas yang mereka temukan di lantai satu. Gambar jalur memanjang yang tampak di dalamnya putus begitu saja, seolah orang yang membuatnya sengaja melakukan itu.


“Kamu yakin mau memeriksa isinya?” tanya Paramitha sambil menatap langsung Ardana.


“Entahlah, kalau tidak jelas begini sih aku jadi agak malas meneruskannya,” jawab Ardana dengan nada suara yang sumbang. Pemuda ini mulai ragu untuk memasuki jalur rahasia tersebut, terlebih dia khawatir akan bertemu makhluk aneh mengerikan atau perangkap tidak terduga yang sulit untuk dihadapi.


“Kalau kamu ragu, biar aku sendiri saja yang masuk. Kamu berjaga lagi saja. Tampaknya jalur rahasia ini tidak terlalu panjang,” usul Paramitha.


“Eh, mana bisa begitu? Aku bertanggungjawab atas keselamatanmu,” sahut Ardana dengan cepat. Ekspresi wajahnya berubah menjadi cemas.


Paramitha mengalihkan pandangannya ke arah jalur rahasia.


“Kalau tidak dicoba, kita mana bisa tahu. Kakiku sudah membaik dari sebelumnya dan kurasa bisa untuk berlari dengan cepat kalau ada sesuatu,” tegas si gadis.

__ADS_1


“Tapi di tempat ini tidak ada yang benar-benar aman, Mitha.”


“Iya, termasuk dengan ruangan ini. Mayat hidup yang ada di dekat kita bisa hidup lagi sewaktu-waktu.”


Ardana mulai bingung. Didebat sekeras apapun, Paramitha tetap bersikukuh pada pendiriannya. Keteguhan gadis itu terkadang bisa sangat kuat lebih dari batu karang yang mampu mengaramkan kapal yang tidak hati-hati. Tetapi, bagaimanapun dia tidak bisa membiarkan Paramitha berkeliaran seorang diri hanya sekadar memeriksa sesuatu yang risikonya tidak mereka ketahui. Ilham pasti akan sangat berang jika sampai tahu anak asuhnya tersebut terluka meski hanya satu goresan kecil atau bahkan celaka.


“Baiklah, baiklah. Kita akan memeriksanya bersama-sama.” Pemuda ini akhirnya menyerah kalah dari Paramitha.


Tanpa memperpanjang perdebatan, Ardana membiarkan Paramitha memasuki jalur rahasia di balik lemari besi tersebut dengan pengawalan dirinya. Alas sepatu yang bertemu langsung dengan lantai baja yang keras menimbulkan suara ketukan berirama seiring dengan serempaknya langkah kaki kedua sejoli ini. Suasana berbeda langsung menyambut mereka ditandai hawa dingin yang lebih terasa dari jalur atau ruangan lain. Untuk mencegah terjadinya kejutan yang tidak diinginkan, Ardana mengganti senjatanya dengan senapan serbu SS2 V-4 Pindad yang diambilnya dari salah satu mayat tentara di depan pintu masuk menuju lorong beberapa hari lalu. Sejak awal masuk kembali ke tempat terkutuk itu, senjata ini tidak lebih menjadi aksesoris dirinya belaka. Selain amunisinya yang masih melimpah, Ardana ingin menjajalnya secara langsung.


Perjalanan mereka berakhir di sebuah pintu baja yang tertutup namun tidak terkunci. Bagian engselnya tampak berkarat parah oleh sisa lendir merah yang sudah mengering.


“Uuuuggh... be—berat sekali,” desis Ardana sambil berusaha mendorong pintu itu.


NGGHHIIIIIIIK.... KRRRRIIIIIITTT...!


Suara baja yang saling bergesekan hingga memekakkan telinga membuat Paramitha menutup telinga rapat-rapat. Yang kebagian menderita sudah tentu Ardana. Dia tidak sempat menyumpal indera pendengarannya dengan sesuatu yang bisa meredam efek tuli sesaat. Pintu baja tersebut akhirnya terbuka lebar. Ardana yang merasa lega mengusap-usap kedua telinganya sambil meringis. Gendang telinganya seperti hampir pecah ditambah sensai ngilu yang membuatnya sangat tidak nyaman.


“Aku tidak akan lagi membuka pintu yang seperti ini!” umpatnya.


Pemuda ini menoleh pada Paramitha yang berdiri tepat di sebelah kanannya. Ekspresi gadis itu tampak seperti terkejut bukan main.


“Ini... mustahil!” desis Paramitha tertahan.


“Hei, kenapa?” tanya Ardana.


Tanpa menunggu jawaban si gadis, wajahnya ikut menghadap ke arah depan.


Puluhan ranjang besi berserakan penuh mayat manusia tersaji tepat di hadapan mereka. Sebagian sudah dalam keadaan terkoyak dengan darah kering yang membanjiri lantai. Di bagian langit-langit menjuntai jalinan rantai yang saling terhubung, mengikat sosok-sosok mengerikan dalam beragam bentuk yang tampaknya sudah mati.


* * * * *

__ADS_1


__ADS_2