Petaka Biohazard: Lorong Kematian

Petaka Biohazard: Lorong Kematian
Informasi Berharga


__ADS_3

Desa Cikembang


Di saat yang sama


Ilham menimang-nimang smartphone-nya. Wajah pria paruh baya ini sedikit mengeras dengan rahang menggembung. Di hadapannya ada Odang dan tiga pejabat desa lainnya. Kelima orang itu duduk mengelilingi sebuah meja bundar yang ada di beranda rumah sang kepala desa. Sama seperti Ilham, Odang juga tidak kalah tegangnya. Lelaki agak tambun ini sesekali menyeruput kopi lalu memainkan kedua tangannya yang bertumpu di atas meja.


“Saya kecolongan,” kata Ilham memulai, “ini benar-benar di luar perkiraan saya.”


“Jangan merasa bersalah begitu, Pak Ilham. Yang kecolongan tidak hanya Anda, tapi juga saya dan petinggi desa lainnya.” Odang menatap satu persatu para bawahannya sambil mendesah berat.


“Saya sudah menggunakan drone untuk mengawasi seantero hutan itu selama dua puluh empat jam. Dua puluh empat jam, bukan dua belas jam sehari. Dan saya terpaksa mengurangi jam tidur saya untuk bergantian mengawasi. Seharusnya ini tidak terjadi,” tukas Ilham.


Odang tampak bingung harus membalas apa. Semua tindakan pencegahan yang mereka lakukan sudah maksimal. Namun teta saja ada orang luar yang nekat masuk untuk kemudian mati secara mengenaskan.


“Kudu kumaha deui atuh? Kita sudah melakukan semua yang kita bisa,” keluhnya sedikit kesal. Bukan pada Ilham, namun situasi yang kini seolah menjebaknya. Polisi saja bahkan bingung dan sampai hari ini belum memutuskan penyelidikan mendalam.


Ilham menggeleng keheranan. Beberapa puluh menit setelah kepergian Ardana ke Karanghawur tadi, dia yang sedang duduk minum kopi bersama Odang dikejutkan oleh kehadiran enam warga desa yang tergopoh-gopoh dengan wajah panik. Berita yang mereka bawa sangat mengejutkan. Di bagian depan Hutan Sirnasurya yang berhadapan dengan gapura selatan kembali ditemukan tiga mayat manusia yang bergelimpangan di sekitar dupa berisi kemenyan dan hamparan tikar pandan. Kondisi jenazah yang sangat rusak membuat warga kembali ketakutan. Dan seperti biasa, isu seperti penunggu hutan yang mengamuk dan meminta tumbal kembali merebak. Satu hal yang paling membuatnya malas adalah nama Catranata kembali dikaitkan.


Menurut saksi mata sebenarnya ada empat orang lagi selain para korban. Namun yang ditemukan hanya tiga. Polisi yang menggelar olah TKP hanya menyimpulkan keempat orang sisanya hilang karena melarikan diri entah ke mana. Petugas forensik tidak menemukan tanda-tanda perkelahian, yang menguatkan dugaan ketiga korban dihabisi oleh seseorang atau sesuatu. Di samping itu, ada dua puluh delapan kertas kecil berisi nomor-nomor yang digunakan untuk judi togel berserakan di lokasi.


Yang membuat Ilham dan Odang pusing adalah semua korban berasal dari desa tetangga lain. Hal itu membuat Desa Cikembang menjadi sorotan kesekian kali. Sejak penemuan mayat yang digantung sebelumnya, media massa lokal ramai memberitakannya. Kasus tersebut bahkan menjadi pembicaraan hangat di media sosial. Situasi yang berkembang di luar prediksi membuat keduanya cemas, karena cepat atau lambat orang akan berdatangan untuk masuk ke Hutan Sirnasurya. Artinya, calon korban akan bertambah.

__ADS_1


“Anak itu pergi ke Karanghawur. Dan pesan dariku masih belum dibaca,” gumam Ilham.


Pria paruh baya ini melirik layar smartphone sekali lagi. Tidak ada centang biru yang menandakan pesannya sudah dibaca. Padahal keberadaan Ardana sangat dibutuhkannya di saat-saat seperti sekarang. Apalagi, seharusnya tugas itu dilakukan sendiri oleh pemuda kelahiran Jakarta itu. Dia hanya mengawasi dan sesekali membantu namun pada kenyataannya dia juga yang melakukan setengahnya.


Beberapa saat kemudian sebuah panggilan masuk. Ketika tahu siapa yang menghubunginya, Ilham meminta waktu sebentar pada Odang untuk menjawab. Dia lalu berjalan sedikit ke arah pekarangan sambil menggeser ikon jawab.


[Bagaimana, Ham? Anak itu bisa melakukan misi yang diberikan?] Suara yang familier bagi Ilham, membuatnya sedikit lega.


“Sebenarnya sih tidak bagus-bagus amat, Sir. Anak itu... yah, agak payah dan tidak sesuai ekspektasi saya. Satu lagi, dia penakut,” tegas Ilham sambil menoleh sesaat ke arah Odang dan lainnya di belakang.


Penelpon yang tidak lain adalah Syamsir Al-Baihaqi, pemilik Baihaqi Armed Corps, terdiam beberapa saat.


[Begitu? Harap bersabar, saya tentu tidak mungkin memengaruhi petinggi di perusahaan militer swasta yang saya pimpin sendiri hanya untuk menarik mundur personil dari tugas. Apalagi sampai memecatnya. Tidak, saya bukan orang seperti itu.]


Suara tawa renyah Syamsir terdengar sedikit nyaring dari seberang, menandakan dia sedang dalam keadaan yang tidak memiliki beban berat.


[Biar saya tebak. Ini pasti tentang anak gadis Catranata itu, kan? Saya tidak ada masalah dengan itu karena Paramitha sebenarnya adalah bagian dari misinya juga. Yah, meskipun Ardana belum tahu.]


“Anggap saja kamu benar. Oh, ada yang hampir saya lupa.”


[Apa itu, Ham?]

__ADS_1


“Dugaan kita benar. Ada sesuatu yang disembunyikan pemerintahan Facturia di Hutan Sirnasurya.”


Tidak ada reaksi dari Syamsir. Meski tidak bisa melihat ekspresinya, Ilham bisa merasakan sesuatu. Dianmenunggu kawannya itu bertanya lalu gilirannya menceritakan temuannya tiga hari lalu bersama Ardana.


[Jelaskan, Ham. Saya ingin tahu.]


Ilham menarik napas dalam-dalam sejenak.


“Tiga hari lalu, saya dan Ardana melakukan penelusuran kembali ke tengah Hutan Sirnasurya. Kami menemukan sebuah tanah lapang seluas lapangan futsal di tengah sana yang ditutupi lapisan beton solid. Terpaksa saya membomnya. Ternyata itu hanya untuk menutupi sebuah lubang sumur yang berujung pada sebuah lorong menuju sesuatu di dalam tanah. Dan... ada beberapa mayat tentara berseragam kamuflase tanpa identitas atau lambang kesatuan yang kami temukan. Semuanya dalam kondisi mengenaskan. Di sana juga ada sebuah pintu baja yang ukurannya hampir memenuhi diameter lorong. Untuk sementara penelusuran hanya sampai di situ. Saat ini saya dan Ardana bergantian mengawasi tempat itu.


Sayangnya, kami kecolongan di bagian lain. Hari ini ada tiga mayat dan empat orang hilang lagi di Hutan Sirnasurya. Ardana sedang berada di Desa Karanghawur menemani Paramitha. Saya mengiriminya pesan namun belum dibaca. Kalau sampai nanti sore dia belum kembali, saya akan mencarinya karena dia membawa mobil saya.”


[Tadi kamu bilang tentara berseragam? Saya mau beritahu kamu sesuatu, Kementerian Pertahanan saat ini mulai melakukan penyelidikan. Mereka mendapati indikasi Facturia memiliki satuan militer khusus di luar TNI. Yang kamu temukan itu... pasti sebagian kecil dari mereka. Menhan Arman belum tahu apa tugas dan fungsi pasukan rahasia tersebut. Kabarnya penyelidikan tadi akan berlangsung hingga enam bulan ke depan.]


“Baiklah, terima kasih untuk informasinya. Hanya itu saja yang bisa saya sampaikan. Kalau ada temuan lain, saya akan menghubungimu lagi. Dan cobalah untuk tidak mendahului menelpon, Sir. Kamu itu tinggal duduk nyaman saja. Jangan menyamakan dirimu seperti masa muda kita dahulu.”


[Ya, ya. Terserah kamu saja, Ham. Baiklah, jaga diri baik-baik. Sampai jumpa.]


Klik!


Ilham belum sempat membalas ketika panggilan diputus dari seberang sana. Seperti mendapat semangat baru, gayanya yang tadi sempat menegang kini berubah menjadi lebih tenang. Sesaat kemudian dia menyeringai sambil menggelengkan kepala.

__ADS_1


“Ya, sampai jumpa lagi, Sir. Dasar, pria tua enerjik. Ternyata dia punya informasi berharga juga."


* * * * *


__ADS_2