Petaka Biohazard: Lorong Kematian

Petaka Biohazard: Lorong Kematian
Mereka Harus Tahu


__ADS_3

Paramitha balas menatap Marni dengan serius dan tenang. Ketika dia akan menggerakkan bibirnya untuk menjawab, Ardana memegang tangannya sebagai tanda untuk mengambil alih. Pemuda ini mengangguk padanya untuk meyakinkan.


“Ibu benar,” kata Ardana seraya memalingkan wajah pada Marni, “kedatangan saya dan keponakan ibu ke sini memang ada tujuan.”


Kali ini Marni mengambil sikap untuk tetap diam dan membiarkan Ardana menceritakan sendiri dengan sangat jelas. Wanita paruh baya dan bibi dari Paramitha itu menyandarkan badan tanpa melepas tatapannya pada Ardana dan Paramitha. Sedikit banyaknya kepercayaan pada pemuda yang menjadi kekasih keponakannya tersebut mulai muncul.


“Sebenarnya, jika warga Desa Cikembang tahu Paramitha kembali maka keselamatannya akan terancam. Saya lebih dari sekadar kekasih keponakan ibu, tapi juga penjaga pribadinya. Karena itu, agar tidak menimbulkan kecurigaan warga maka saya mendorong Paramitha untuk pergi ke rumah ini meski hanya beberapa jam saja. Ini juga demi menemukan jawaban yang sekiranya bisa digunakan untuk membersihkan nama baik ayah dan ibu Paramitha, yakni Tuan Lingga dan Nyonya Erni. Di luar itu, tentu Paramitha sangat senang melihat bibinya baik-baik saja meski harus terpisah sedemikian lamanya.


Kasus orang hilang yang terjadi di Hutan Sirnasurya selama ini, menurut banyak orang berhubungan dengan kematian ayah dan ibu Paramitha. Seperti sebuah pemicu, kejadian itu akhirnya mengantarkan keluarga Catranata ke peristiwa lain yang tidak kalah tragis. Entah siapa yang pertama kali menghembuskannya, mereka diisukan menumbalkan Linggasatria sendiri beserta istri beliau untuk ilmu hitam. Malam itu hampir sebagian besar anggota keluarga terbunuh dan yang selamat melarikan diri untuk kemudian bersembunyi sampai detik ini. Sayangnya misteri tidak berakhir sampai di situ. Sejak saat itulah banyak orang yang hilang ketika masuk ke Hutan Sirnasurya. Jumlahnya bahkan mencapai lima ratus lebih.”


Ardana berhenti berbicara untuk menarik napas dalam-dalam. Seperti yang telah dialaminya bersama Ilham, semua yang mereka temukan di dalam hutan itu sangat mengerikan. Meski tidak ada kesepakatan, keduanya memilih merahasiakan sampai jangka waktu yang tidak menentu.


Tetapi, di sini dia sudah menyinggungnya lebih jauh di hadapan Marni dan Paramitha. Terlebih sudah ada korban jiwa yang jatuh. Dia mulai ragu apakah harus mengungkap semuanya atau hanya membatasi ceritanya pada hal tadi saja. Seperti orang yang kebingungan, kedua matanya melirik sedikit ke kiri dan kanan dengan wajah agak menunduk. Memberitahu ataupun merahasiakan yang selanjutnya kini menjelma sebagai simalakama.


“Ardana, kalau kamu memang ingin membantu lebih baik beritahu atau tidak sama sekali!” Suara hatinya muncul, seolah sedang marah karena kelabilan yang dilakukannya.


Paramitha tiba-tiba berdiri lalu memegang bahu si pemuda. Usapan lembutnya seolah menjadi kekuatan yang mengalir cepat pada diri Ardana yang membulatkan keberaniannya untuk kembali berbicara.


“Karena saya sudah terlanjur bicara, maka saya akan menjelaskan sampai akhir. Kedatangan saya ke Desa Cikembang sebenarnya untuk melakukan penyelidikan atas kasus orang hilang di hutan itu. Sementara banyak orang berkeyakinan Sirnasurya menjelma menjadi hutan yang angker dan meminta tumbal, justru yang saya lihat adalah... sesuatu yang seharusnya dicemaskan oleh desa yang ada di sekitarnya. Kasus mayat yang ditemukan menggantung dengan kulitnya sendiri di pohon itu sebenarnya hanya salah satu buktinya,” lanjut Ardana dengan sedikit tertahan.


Dengan sangat rinci, Ardana menjelaskan bagaimana dia dan Ilham yang memulai penyelidikan malah bertemu makhluk hitam bertubuh hangus yang menyerang mereka. Kemudian menemukan potongan kaki yang hampir meleleh dan busuk di tengah hutan, hingga adanya sebuah tempat rahasia yang ada di bawah tanah Hutan Sirnasurya dengan banyak jasad para tentara dalam kondisi mengerikan. Dia tidak melewatkannya sama sekali.


Sebenarnya, semua hal yang diungkap olehnya juga untuk diketahui oleh Paramitha. Setelah beberapa hari mencoba mencari benang merah antara temuannya dengan tragedi yang menimpa keluarga Catranata, pemuda ini menemukan semacam klu tambahan. Mau tidak mau yang satu itu juga harus disampaikannya.

__ADS_1


“Tanpa bermaksud membuat Paramitha dan Ibu bersedih, saya memiliki kesimpulan sementara kalau yang terjadi pada ayah dan ibunya itu....” Lagi-lagi Ardana tertahan untuk melanjutkan penutup atas penjelasannya.


“Apa? Apa yang terjadi pada saudari dan kakak ipar saya?” desak Marni tiba-tiba.


Paramitha yang semula diam menyimak ikut mendesak. “Dan, kenapa? Kamu... apa yang kamu tahu tentang apa yang terjadi pada ayah dan ibuku?”


Tatapan gadis Catranata itu membuat Ardana tidak tega untuk menyampaikannya secara langsung. Keberanian yang sudah dikumpulkan bahkan mengkristal mendadak terhapus begitu saja dari hati dan pikirannya. Dengan sedikit lemas, dia menundukkan kembali wajahnya ke arah meja.


“Kamu bilang kamu punya kesimpulan tentang kematian Erni dan suaminya. Lantas, kenapa tidak kamu katakan saja sekarang?” Marni yang tidak sabar terus mendesak dengan sedikit emosi.


“Bibi, tenang dulu,” sahut Paramitha. Ekspresi wajahnya menampakkan jelas dirinya kurang suka ketika Ardana didesak oleh bibinya. “Biarkan Ardana menjelaskan pada kita.”


Ardana mengambil cangkir teh bagiannya dengan tangan sedikit gemetar. Diseruputnya dengan sangat hari-hati namun itu justru hampir membuat isinya menumpahi pakaiannya sendiri. Benar-benar momen yang mendebarkan baginya, bahkan untuk pertama kali dalam hidupnya. Karena sebentar lagi dia harus menyampaikan sesuatu yang sensitif menyangkut kematian orang di hadapan para ahli warisnya.


* * * * *


Sehari sebelum menuju Desa Karanghawur


Ardana mengendap-endap dalam keremangan cahaya yang teredam oleh lebatnya pepohonan di Hutan Sirnasurya. Meski drone yang digunakan Ilham untuk memantau dari udara hanya sesekali melintas namun area tanah lapang berlubang yang mereka ledakkan dijaga ketat oleh empat kamera pengawas di masing-masing sudutnya. Tetap saja bukan masalah. Berkat keahlian liciknya melakukan sabotase, hal itu dapat diatasi dengan mudah. Toh, dia bisa melakukan perbaikan ulang.


Setelah turun ke dalam lubang yang menjadi akses langsung menuju lorong rahasia, pemuda ini harus merelakan diri melintasi jasad membeku para tentara yang seolah-olah sedang memerhatikannya. Suasananya memang berbeda karena dia masuk hanya seorang diri. Setiap kali melewati satu jasad, saat itu juga dia merasa sedang diawasi. Berulang kali dia membalikkan badan untuk memastikan dirinya hanya berhalusinasi. Pintu baja di depannya masih tetap dalam keadaan seperti terakhir mereka tinggalkan.


Dengan hati-hati pula dia melewati jasad tentara yang memegangi pintu dengan tangan terulur. Cahaya senter yang disorotkan langsung ke dalam membuatnya kembali bergidik ngeri. Ternyata ada banyak mayat lain yang kondisinya tidak kalah menakutkan untuk dilihat. Banyak di antaranya yang berakhir dalam kondisi tubuh penuh luka bakar dan terkoyak hancur. Secara kasat mata tampak seperti efek ledakan hebat. Namun dia tidak menemukan bekas api di dinding lorong sama sekali. Tidak sedikit yang sudah tidak bisa dikenali dari wajah masing-masing.

__ADS_1


“Benar-benar... me—mengerikan. Sesuatu apa yang bisa meninggalkan efek kematian seperti ini?” desisnya bergetar.


Sambil merapatkan jari telunjuk di dekat pelatuk Sako Rk.95 yang digenggamnya, Ardana berjalan perlahan menyusuri lorong yang berakhir menjadi sebuah perempatan. Dua jalur mengarah ke kiri dan kanan serta satu jalur lainnya tetap lurus ke depan. Sejenak pemuda ini bimbang sebelum akhirnya memutuskan untuk mengikuti jalur bagian kanan.


Setelah beberapa menit berlalu, dia menemukan beberapa ruangan di sisi kiri dan kanan lorong dalam keadaan terbuka. Ketika dimasuki satu persatu ternyata semuanya berisi berkas-berkas yang ditinggalkan. Jumlahnya pun sangat banyak karena setiap ruangan memiliki lima rak besar yang penuh dengan kertas-kertas kusam dan lembap.


“Berkas sebanyak ini mereka tinggalkan. Kalau di markas pusat sih hanya untuk dibakar,” komentarnya.


Suasana yang terlalu hening lama kelamaan membuatnya tidak betah. Dia merasa ada yang sedang mengawasi dirinya dari bagian yang tidak terlihat. Penyelidikannya berakhir pada salah satu ruangan yang berada di paling ujung bagian buntu. Ruangan ini memiliki ukuran yang lebih besar dari tempat bermain futsal yang biaa dilihatnya di Jakarta. Terdapat beberapa meja dan kursi yang berserakan beserta rak arsip yang tumbang saling bertindihan. Isinya berhamburan di mana-mana. Bau amis darah yang terawetkan langsung menyambutnya.


Di dekat pintu masuknya terdapat jasad seorang prajurit yang mati dalam keadaan berdiri dengan sesuatu yang menancap di dahi dan dadanya. Ketika diperhatikan dengan sangat dekat ternyata itu adalah potongan tentakel berwarna merah pekat yang sudah mengeras dan tampak beku. Tidak hanya satu, sampai ke bagian tengah ruangan juga ada jasad tentara lainnya yang terduduk dengan sesuatu yang terselip di tangannya. Bagian lehernya seperti putus dan menggantung dengan sisa kulit yang menua


Entah mengapa Ardana tertarik pada jasad yang satu itu. Dengan bersusah payah dia melangkahkan kaki melewati kertas-kertas yang berserakan di lantai dan bertumpuk tidak karuan. Setelah sampai, diamatinya dengan detail selembar kertas yang tampak kemerahan karena sudah terkena darah.


Ardana mengambilnya perlahan untuk membaca isi tulisan di dalamnya. Rupanya itu adalah sebuah memo. Keningnya mengerut sedikit longgar karena berusaha membaca kata demi kata yang mulai memudar karena noda darah.


*Salam Kebangkitan


Kepada Mayor Togar, Anda diberi kuasa penuh untuk menyingkirkan pasangan suami istri dari keluarga Catranata itu. Saya tidak mau tahu bagaimana caranya. Yang pasti harus ada berita kematian mereka di Hutan Sirnasurya karena ditumbalkan untuk tujuan ilmu hitam*.


Ardana terkejut. Dengan hati-hati selembar kertas berisi memo tadi disimpan di saku celananya meski berbau amis dan busuk yang menjadi satu cukup mengganggu penciumannya.


* * * * *

__ADS_1


__ADS_2