Petaka Biohazard: Lorong Kematian

Petaka Biohazard: Lorong Kematian
Sirnasurya yang Suram


__ADS_3

Ciamis, Jawa Barat


Keesokan harinya


“Inilah hutan Sirnasurya yang ramai dibicarakan orang!” Ilham menunjuk ke arah kanan.


Ardana menghentikan mobil Ford Ranger warna putih yang dikemudikannya ke pinggir jalan setelah Ilham memberitahunya bahwa mereka sudah tiba di dekat hutan yang dimaksud. Hutan buatan tersebut ternyata lebih lebat dari foto yang beredar. Dia pun tahu hutan yang ada di seberang kanan mereka tumbuh sedemikian rupa berkat rekayasa biologi. Sesuai namanya, nyaris tidak tampak sama sekali celah-celah yang bisa dimasuki oleh pancaran sinar matahari. Seolah cahaya Surya langsung sirna, tenggelam bersama lebat dan rapatnya pepohonan yang ada di sana. Suasana suramnya didukung oleh keadaan langit yang agak mendung namun tidak kunjung menurunkan hujan.


Di sana juga terdapat garis polisi yang sudah berubah kusam. Tampaknya pihak kepolisian sudah menandainya sebagai daerah terlarang semenjak kejadian orang hilang setelah masuk ke sana semakin banyak. Beberapa kamera pengawas tertangkap oleh penglihatan Ardana yang tidak sengaja menyisir keadaan sekitar mereka. Semuanya masih dalam keadaan aktif, ditandai dengan nyala kedipan lampu merah setiap lima detik sekali.


“Orang sipil yang datang melintas sudah pasti ketahuan dan akan diamankan untuk diinterogasi,” kata Ilham sambil mengeluarkan binokular. Dengan benda itu dia memantau kondisi hutan yang seolah tidak memiliki kehidupan di dalamnya.


Ardana hanya mengetuk-ngetuk jari di roda kemudi tanpa berkata apa-apa. Perjalanan mereka memakan waktu hampir tiga jam perjalanan. Berangkat di pagi hari karena Ilham mengubah rencana mendadak. Begitu tiba di Ciamis, keduanya langsung menuju ke lokasi yang akan mereka selidiki. Cerita tentang orang-orang yang menghilang di sana kembali membayangi pikirannya. Sampai-sampai kejadian tersebut menjadi pembahasan viral di media sosial.


“Kalau hutannya lebat begini, saya pikir pasti akan membingungkan untuk mencari jalan keluar. Tapi tidak mungkin orang tidak bisa keluar kecuali ada sesuatu yang membuat mereka tidak pernah bisa melakukan itu untuk selama-lamanya,” katanya sambil mendekati Ilham.


Ilham menoleh sesaat lalu kembali mengalihkan pandangan ke arah hutan. “Makanya. Sama seperti para petinggi di markasmu, saya curiga ada sesuatu yang tidak tampak oleh mata telanjang namun menjadi sebuah jebakan yang membuat mereka hilang. Sesuatu itu pasti ada di bawah tanah,” balasnya tanpa melepas binokular dari genggamannya.


Mantan perwira Kopassus itu mengernyitkan dahi. Kedua bola matanya melirik kiri ke kanan dengan sekali berkedip. Hutan Sirnasurya yang ada di hadapan mereka tidak berbeda dari hutan lainnya yang ada di Indonesia. Hanya saja dia tidak percaya begitu saja dengan ketenangan wilayah geografis yang didominasi oleh pepohonan yang cukup tinggi tersebut. Kesan suram yang dingin dan kuat sudah tampak bahkan sejak dilihat dari luar. Tidak heran, pemandangan seperti itu dengan cepat menaklukkan alam bawah sadar masyarakat sekitar lalu menimbulkan takhayul dan tabu baru yang simpang siur.


“Nanti malam kita akan mulai bergerak. Berhati-hati karena ini tugas pertamamu. Seperti yang sudah saya beritahukan bahwa saya akan mengawasimu langsung, namun tentunya tidak hanya di situ saja. Saya akan membantumu kalau ada kesulitan yang tidak bisa kamu tangani sendirian. Kamu paham, kan, Ardana?” Dia menyimpan binokularnya sambil melirik si pemuda.


Ardana mengangguk cepat, “Saya paham, Pak. Tapi... ngomong-ngomong boleh kita mampir sebentar ke tempat di mana kita bisa menemukan secangkir kopi? Itu juga kalau Bapak membolehkan.”


Ilham hanya tersenyum. “Sepertinya kamu tidak bisa jauh dari kopi, ya? Baiklah, kita kembali lanjutkan perjalanan saja ke arah utara. Tapi, saya yang mengemudi.”


Akhirnya keinginan Ardana dikabulkan. Pemuda anggota baru Baihaqi Armed Corps mengenakan helm kevlar pinjaman dari Ilham lalu keluar dan memutar dari depan, menggantikan posisi pengawasnya yang sebelumnya ada di sebelah kiri. Begitu Ilham duduk di kursi pengemudi, pria ini segera membawa Ford Ranger yang dikemudikannya kembali ke jalan raya pinggir hutan.


Di tengah perjalanan Ilham melirik senjata andalannya. Sepucuk senapan runduk AWP yang dicat warna loreng darah mengalir khas Kopassus yang tampak garang. Dia memodifikasi mekanisme senjata ini sehingga jadi lebih mematikan dari kondisi asli sebelumnya. Berkat ide kreatif nekadnya yang tidak pernah diceritakan kecuali pada Ardana, peluru anti-material bisa digunakan untuk senjata tersebut meski dalam jumlah terbatas.

__ADS_1


“Tadinya kamu akan saya pinjamkan senjata ini, berhubung kamu juga memiliki kemampuan penembak jitu yang cukup bagus. Hanya saja tidak digunakan untuk pemula karena daya hentaknya cukup mengejutkan. Perlu waktu lama bagi saya untuk berlatih dengan kemampuan baru senjata ini. Pernah suatu hari, saya sampai terjungkal ke kolam ikan di area belakang rumah karena tidak sengaja menarik pelatuknya dan ternyata masih ada pelurunya. Para tetangga ramai-ramai berdatangan karena mengira saya melakukan bunuh diri atau membunuh orang di rumah saya sendiri,” terangnya sambil terkekeh. Tangan kirinya mengelus-elus senjata laras panjang buatan Inggris itu.


Ardana nyaris tertawa dan hanya bisa menahannya dengan mengulum senyum. Itu juga yang dilakukannya di malam sebelum keberangkatan. Ketika mengaku lupa membawa perlengkapan senjata, dalam bayangannya dia akan kena damprat habis-habisan dari Ilham karena dianggap teledor. Yang terjadi adalah sebaliknya. Ilham justru mengajaknya masuk ke ruang bawah tanah di bawah lantai ruang kamar tidurnya. Ardana nyaris melotot melihat isi di dalamnya. Tempat tersembunyi itu lebih mirip gudang senjata lengkap. Hampir semua jenis senjata, amunisi beserta perlengkapan pendukung buatan berbagai negara di dunia ada di sana termasuk yang sudah tidak lagi diproduksi.


Pilihannya jatuh pada senjata buatan Finlandia, Valmet/Sako Rk.95, yang selanjutnya biasa disebut dengan Sako Rk.95. Senapan serbu ini masih dalam kondisi aslinya, berwarna hitam metalik dan tidak sempat menjadi perhatian Ilham untuk dilakukan upgrade khusus. Hanya kebersihannya saja yang tetap diperhatikan sehingga tetap bisa digunakan.


Ilham bahkan merelakan salah satu koleksinya itu menjadi milik si pemuda dengan catatan yaitu jumlah amunisi cekak dan untuk mendapatkannya harus memesan langsung dari Finlandia. Mau tidak mau, karena Ardana sudah menerimanya. Pindad tentu tidak memproduksi amunisi standarnya. Sebanyak 160 butir peluru hanya dimiliki Ilham untuk senjata satu ini.


“Jaga baik-baik senjata itu. Semoga saja itu bisa menjadi maskot keberuntunganmu setiap kali menjalankan tugas,” pesan Ilham.


Ardana mengacungkan jempol sambil menoleh, “Siap, Pak! Terima kasih, tadinya saya mengira akan kena marah.”


“Saya baru akan marah kalau senapan itu kamu gunakan untuk membuat onar sepulang dari sini,” timpal Ilham.


Kedua lelaki beda usia ini tertawa bersamaan, meski sebenarnya tidak ada yang lucu.


* * * * *


Di hari yang sama


WILUJENG SUMPING DI DESA CIKEMBANG.


Gapura dari batu alam itu tidak pernah berubah. Dari balik kacamatanya, Paramitha memandangi kampung tempatnya dilahirkan dengan perasaan yang tidak karuan. Ada bahagia, sedih, penasaran dan banyak lagi. Kenangan masa kecilnya kembali terulang dalam pikirannya, menciptakan visualisasi yang begitu jelas hingga membuatnya sedikit sesak.


Desa Cikembang sudah banyak berubah setelah bertahun-tahun yang lalu. Orang-orangnya tentu sudah tidak mengenalinya lagi bahkan juga tidak mengingatnya. Ketika itu dia masih seorang anak kecil usia tujuh tahun yang tidak berdaya menghadapi perlakuan buruk terhadapnya. Sekarang dia kembali ke tempat di mana semua tragedi di masa lalu menimpanya, membuat dirinya harus menjalani hidup yang tidak pernah diinginkannya. Mengembara di Bandung dengan kehidupan yang sederhana, sambil menyembunyikan jatidiri aslinya sebagai anggota keluarga Catranata. Dari semua warga desa, hanya keluarga sahabatnya yakni Sumita yang tetap menolongnya meski diam-diam.


Kalau bukan karena rindu pada tempat kelahirannya, gadis ini enggan untuk kembali. Namun di baliknya dia memiliki tekad untuk membersihkan nama keluarga Catranata yang tercemar oleh fitnah Facturia hingga mengakibatkan rentetan peristiwa berdarah yang nyaris menghapus mereka dari muka bumi. Para anggota keluarga yang selamat termasuk dirinya terpaksa berpencar ke berbagai kota di Jawa Barat dengan menggunakan identitas samaran. Paramitha masih bisa mengenali mereka dengan kode-kode tertentu yang sudah disepakati. Dalam keadaan seperti itu dia dan anggota keluarga lainnya masih bisa bahu membahu, sekadar saling mengirimkan uang atau melakukan sesuatu yang bisa dikerjakan bersama. Namun untuk kali ini dia menolak bantuan dari para saudaranya ketika memberitahu kedatangannya kembali ke Desa Cikembang.


“Sudah dulu mengenang semuanya, ini kampung halamanmu. Jangan sedih dan takut,” ucapnya dalam hati untuk mengemangati dirinya sendiri.

__ADS_1


Paramitha melewati gapura sambil melihat ke kiri dan kanan. Rumah-rumah di sana masih menggunakan dinding kayu, namun sudah diperbarui sehingga tampak indah. Hanya ada beberapa yang sudah menggunakan tembok bata merah, diberi cat dengan berbagai warna dan tampak berbeda dari kebanyakannya. Yang tetap tidak berubah adalah pepohonan rimbun di berbagai lahan kosong yang dibiarkan tumbuh sebagai sumber oksigen dan penyerap air bagi penduduk desa. Meski sudah bersentuhan dengan beragam teknologi, Desa Cikembang masih mempertahankan nilai-nilai tradisional.


Perjalanannya tertahan sejenak di depan Puskesmas Desa Cikembang yang berjarak beberapa ratus meter dari gapura. Tempat itu termasuk salah satu yang mengingatkannya pada masa kecil. Ayah dan ibunya selalu membawanya ke sini ketika dia sakit. Bahkan fasilitas di dalamnya pada saat itu termasuk yang paling modern dari semua desa yang ada di Kabupaten Ciamis.


Nyaris saja dia kembali larut dalam ingatan masa lalu, hingga kemudian teringat lagi pada sesuatu yang harus dilakukan.


“Oh, iya... rumah orang tua Sumita. Sebaiknya aku segera ke sana saja,” gumamnya.


Di perjalanan, beberapa warga desa sempat memerhatikannya. Penampilannya yang sekarang memang mengikuti gaya masa kini benar-benar membuatnya tidak dikenali lagi. Jaket bomber biru muda yang membalut kaus merah marun berkerah yang didukung celana jeans hitam panjang membuatnya tampak seperti pendatang. Yang lebih penting adalah kacamatanya yang cenderung gelap menyamarkan warna merah kehitaman matanya. Andai saja dia tidak memakainya, mereka sudah pasti akan curiga dan langsung mengenalinya.


Akhirnya dia sampai di sebuah rumah di bagian pemukiman tengah desa dengan pekarangan yang cukup luas dan terdapat pohon rambutan di dalamnya. Rumah Sumita yang dahulu berdinding bambu kini berganti dengan kayu jati pilihan yang harganya mahal. Semua berkat kerja keras sahabatnya yang kini tidak ikut pulang bersamanya. Ayah Sumita yang seorang pegawai negeri sipil di desa itu menolak membangun ulang rumahnya dengan bata merah karena ingin menjalankan amanat turun-temurun.


Rumah semi panggung berukuran besar itu tampak asri dan bersih. Dalam jarak sebelas meter dari pekarangan, Paramitha melihat seorang wanita paruh baya mengenakan daster hijau tua dengan rambut panjang diikat ke belakang baru saja keluar dari rumah keluarga Sumita. Di tangannya ada gunting rumput. Orang itu menghampiri bagian depan pagar tanaman yang mengelilingi pekarangan, lalu memangkas bagian daun yang dianggap mengganggu pemandangan.


Paramitha tahu siapa orang tersebut.


“Punten. Ibu, kumaha damang?” Gadis ini memberanikan diri untuk menghampiri.


Si ibu menoleh. Kedua matanya menyorot Paramitha dari kepala hingga kaki sambil mengernyit keheranan. Bagaimana tidak, seorang gadis muda yang asing dan belum pernah dilihatnya, dengan penampilan yang simpel namun sangat rapi tahu-tahu menghampirinya lalu menanyakan kabarnya. Putrinya sendiri memang selalu bertanya dengan kalimat serupa namun tidak ada terlalu halus dan sopan yang satu ini. Hanya saja dia mulai merasakan perbedaan. Entah kenapa gadis di hadapannya itu seperti pernah bertemu dengannya.


Paramitha masih bersikap tenang agar tidak cepat dikenali oleh ibunya Sumita.


“Mangga, Neng. Ada apa, ya?” Ibunya Sumita menyudahi kegiatan memangkas pagar tanaman lalu mendekati Paramitha.


“Ummm... jadi Ibu sudah tidak mengenaliku lagi, ya?” tanya Paramitha.


Bukannya menjawab, wanita paruh baya itu malah semakin bingung. “Aduh... ari Neng iyeu saha, nya? Kita pernah bertemu di mana, ya?”


Paramitha menunduk sedikit sambil melepas kacamatanya. Dengan pelan dia mengangkat wajahnya kembali dan menatap langsung kedua mata wanita tersebut tanpa menghilangkan senyumnya.

__ADS_1


“Ibu mah... masa sudah lupa dengan Mitha? Ini aku, Bu. Paramitha Asmarani Catranata.”


* * * * *


__ADS_2