Petaka Biohazard: Lorong Kematian

Petaka Biohazard: Lorong Kematian
Dinding Kaca Hitam


__ADS_3

Moncong STF/12 itu seolah menjadi kepanjangan mata dan tangan Ardana. Sambil duduk bersandar di barisan anak tangga tangannya bergerak aktif menjadikan shotgun buatan Italia tersebut sebagai tameng sekaligus senjata. Mengarahkan ujung larasnya ke kiri dan kanan beberapa kali. Setelah dirasa aman dia memberanikan diri untuk naik kembali. Suara gumaman bergema dari berbagai penjuru namun Ardana tahu asalnya bukan dari manusia.


“Aman. Kita bisa keluar sekarang,” katanya pada Paramitha yang masih berdiri di ujung bawah sana, sambil mengulurkan tangannya.


Paramitha menerima uluran tangan Ardana sambil bergegas naik. Senter di tangannya di arahkan ke kiri dan kanan. Ardana membiarkannya melakukan itu karena makhluk-makhluk yang ada di area lorong tampaknya tidak sensitif dengan pergerakan cahaya.


“Setelah ini kita ke mana?” tanya Ardana. Sebelum keluar dari tempat yang dianggapnya terkutuk itu, dia ingin tahu apa yang ingin dilakukan si gadis.


Paramitha tidak langsung menjawab. Wajahnya menoleh ke jalur lorong sebelah kiri yang tampak berkelok ke kanan.


“Seingatku, di sana ada jalur menuju ke bawah. Tapi lebih dalam dari yang ini,” jawabnya sambil melirik ruangan di bawah.


Ardana melirik ke jalur yang dimaksud Paramitha.


“Masih jauh?”


“Mungkin. Tapi tidak tahu kalau kita belum melihatnya langsung, Dan.”


Kini Ardana dilanda dilema. Di satu sisi dia tidak bisa membiarkan Paramitha ikut terlalu lama bersamanya. Kabar tentang keadaan dan keberadaan gadis Catranata itu sangat dinanti-nanti oleh Ilham dan Nina. Di sisi lain, melihat betapa besar keinginan Paramitha untuk mengingat semua yang pernah dialaminya dengan menelusuri ulang lorong, hatinya menjadi luluh seketika. Apalagi motivasinya yang ingin membersihkan nama baik kedua orangtua dan keluarga Catranata yang selama ini dijatuhkan semakin mengkristal.


Ardana bagaimanapun juga tidak bisa mengabaikan Paramitha. Sekeras apapun dia berusaha membawanya keluar maka gadis itu tetap akan melawannya. Dengan keyakinan yang pasti, dia memilih untuk menjaga Paramitha sampai masalah yang tengah dihadapi bisa mereka selesaikan bersama.


“Baiklah. Kita ikuti jalur ke sana,” katanya.


Paramitha memimpin di depan. Ardana mengikuti di belakang dalam jarak yang sangat dekat sekitar empat jengkal. Jalur baru yang mereka ikuti ternyata lebih panjang. Tidak ada ruangan di kiri dan kanan maupun jalan memotong. Hanya saja ada yang menarik bagi Ardana. Dinding sisi kanan terdapat banyak gambar ular emas yang melilit pisau dengan diapit dua ular hitam, persis seperti yang pernah diceritakan Paramitha padanya.


Di lantainya kembali ditemukan beberapa jasad manusia berserakan dan saling mengimpit satu sama lain. Berbeda dari yang sebelumnya dilihat oleh Ardana maupun Paramitha, hampir semua mayat dalam keadaan hangus total dengan mengeluarkan lendir merah kental berbau menyengat. Bukan busuk, tetapi mirip seperti daging yang terbakar. Semula Ardana mengira mereka terbakar hidup-hidup dari luar karena di dinding ada bekas jilatan api. Namun dugaannya keliru saat memberanikan diri memeriksa salah satu jasad tentara yang terduduk dan mulutnya menganga. Bagian rongga mulut didapatnya mengeras lebih solid dibandingkan seluruh anggota tubuh lainnya.


Ardana berjongkok sambil mencari-cari sesuatu. Sebatang besi sepanjang dua puluh sentimeter diambilnya. Dengan sangat hati-hati benda itu dimasukkannya ke dalam mulut jasad tentara tersebut. Tiba-tiba bagian rahang bawahnya patah dan jatuh. Sepotong tentakel abu-abu kehitaman tersangkut pada bagian gigi geraham bawah sebelah kiri hingga ke dalam tenggorokan. Dengan menggunakan ujung besi yang kebetulan tajam, tangannya berusaha memotong sedikit bagian yang masih tampak kenyal dan lunak.

__ADS_1


Dari salah satu pouch-nya dia mengeluarkan sebuah wadah tabung kaleng kecil seukuran genggaman telapak tangan. Potongan tentakel tadi dimasukkannya ke dalam dengan cara ditusuk lalu diangkat. Setelah itu dilepaskan sambil dijepit dengan tutup wadah dan ditutup rapat.


“Euh... ini menjijikkan,” keluhnya. Hampir saja dia muntah lagi kalau tidak segera membuang muka seraya menutup hidung dan mulut.


Bagian tentakel yang masih tersangkut ke rahang bawah jasad itu diamatinya dengan teliti. Dahinya mengerut erat saat menemukan sesuatu yang janggal. Pada bagian dalam tentakel yang terpotong terdapat susunan jaringan yang mirip dengan belut listrik. Hanya saja terdapat beberapa bulatan mirip tumor lunak berwarna kuning yang menurutnya memiliki fungsi khusus seperti menampung sesuatu. Bagian tersebut coba ditusuknya dengan ujung besi.


“Dan, tinggalkan saja!” tegur Paramitha dengan suara tertahan. Gadis ini tampak kurang suka melihat tindakan Ardana.


“Oh, eh? Iya, iya.” Ardana berdiri kembali sambil memasukkan wadah kaleng kembali ke dalam pouch.


Paramitha menyilangkan tangan di depan dada tanpa melepas tatapannya dari Ardana. Karena tidak ada lagi yang perlu diperiksa, mereka berdua kembali meneruskan penyusuran jalur lorong. Ardana masih beberapa kali membalikkan badan sambil menyorotkan cahaya senter ke arah berlawanan dari tujuan mereka.


Setelah melewati banyak jasad tak bernyawa, keduanya dihadapkan dengan genangan air yang tingginya mencapai mata kaki. Di langit-langit terdapat noda bekas rembesan air yang masih tampak lembap. Memanjang dari tempat keduanya berdiri hingga ke depan. Meskipun tidak mencurigakan namun Ardana tidak langsug percaya begitu saja. Dia meminta Paramitha menahan langkah sementara dia berjalan beberapa meter ke depan sambil menginjak-injak lantai yang tergenang. Khawatir akan adanya bagian yang sudah jebol maupun rusak.


“Genangannya memanjang ke ujung sana,” kata Ardana sambil menunjuk ke depan lalu menoleh pada Paramitha. “Bagaimana kalau aku yang di depan dan kamu tetap merapat denganku?”


Paramitha tidak langsung menjawab. Dengan hati-hati gadis itu menghampiri Ardana sambil melongok ke arah depan. Kedua matanya menyipit saat melihat sesuatu di sana.


Ardana menoleh kembali ke depan. Meski tidak melihatnya dia tetap maju diikuti Paramitha. Baru setelah berjalan beberapa meter tampak olehnya sebuah ruangan di sisi kiri yang memiliki dinding kaca yang kusam setinggi pinggang orang dewasa. Bentuknya melebar hingga puluhan meter mengikuti jalur dengan ujung sebuah pintu baja yang terbuka lebar.


“Ruangan ini...,” desis Paramitha lemah.


“Ada apa?” Ardana yang mendengar langsung menoleh.


Keduanya beradu pandang. Ardana bisa melihat jelas kekhawatiran yang begitu besar yang tersirat dari kedua mata Paramitha.


“Kenapa, Neng?”


“Aku ingat ruangan ini.”

__ADS_1


Ardana menoleh ke arah dinding kaca di sisi kiri mereka tersebut. Pemuda ini mendekat lalu mendekatkan wajahnya sambil kedua matanya bergerak ke kiri dan kanan untuk melihat apa yang ada di baliknya. Cahaya senter di helm kevlarnya ternyata tidak bisa menembus kaca yang tertutupi sesuatu berwarna hitam.


“Memangnya... ini ruangan apa?” Dia membalikkan badan ke arah Paramitha yang berdiri mematung.


Paramitha menggeleng.


“Aku tidak tahu secara pasti isinya. Yang masih kuingat, saat itu ada orang yang meminta tolong ingin dikeluarkan. Tubuhnya tampak kurus dan matanya sangat cekung, dan dia tampak ketakutan. Lalu dari belakang ada sesuatu yang menariknya kembali. Teriakannya sangat keras hingga membuat kacanya bergetar,” jelasnya.


Mendengar penuturan Paramitha, bulu kuduk Ardana merinding. Entah kenapa tiba-tiba dia jadi bisa membayangkan apa yang pernah diingat si gadis dengan sangat jelas. Jika kejadiannya memang benar demikian, maka yang di balik dinding kaca itu pasti sebuah tempat yang tidak seharusnya dimasuki oleh manusia.


“Setelah melewati jalur ini, di depan sana masih ada tempat lain,” kata Paramitha, membuyarkan bayangannya.


“Begitu, ya?” Ardana mengerjapkan mata berkali-kali tanpa menoleh.


“Kamu mau coba periksa ruangan ini, Dan?”


“Entahlah. Kalau kamu tidak keberatan, aku akan melakukannya.”


Paramitha mengangguk sebagai tanda persetujuan. Ardana segera bergegas mendekati pintu baja yang terbuka hingga menutupi seperempat lebar dari jalur lorong. Sebelum benar-benar masuk ke sana, dia memastikan Paramitha tetap merapat dekat dengannya.


Khawatir akan adanya kemunculan mayat hidup atau makhluk mutan dari arah luar saat dia masuk menyerbu, tangannya kini merogoh salah satu pouch di pinggang kiri. Ardana menarik sebuah kompresor lalu memasangnya di ujung laras senjatanya agar tidak menimbulkan suara nyalak yang terlampau keras. Setelah persiapan kecil tersebut selesai, dia menoleh pada Paramitha.


“Tetap merapat dekat pintu sampai aku bilang aman,” katanya sambil bersiap.


Paramitha tidak menjawab namun tetap melakukan seperti yang dikatakan Ardana padanya. Berselang tiga detik kemudian Ardana bergerak cepat memasuki ruangan. Tidak terdengar suara apapun setelahnya selama beberapa saat.


Belasan detik kemudian terdengar Ardana berseru, “Aman!”


Si pemuda kembali menampakkan diri, keluar dari ruangan.

__ADS_1


“Kamu pasti tertarik dengan apa yang kutemukan,” katanya.


* * * * *


__ADS_2