Petaka Biohazard: Lorong Kematian

Petaka Biohazard: Lorong Kematian
Sepasang Mata Mengerikan


__ADS_3

Dari balik perlindungan sebuah bangkai truk yang sudah terbakar, Ilham berusaha mengamati pergerakan makhluk senjata biologis yang sedang berusaha keluar dari lubang besar di dinding basement. Tentakel-tentakel hitam berbintik merah darah yang besar itu terus bergerak, menimbulkan gempa kecil yang terjadi beberapa kali. Ditambah lagi dengan tabir debu dan asap yang terus bergulung di sekitar mereka membuat jarak pandang terganggu. Kelima manusia berseragam militer yang tengah bersembunyi di antara deretan sisa kendaraan terbengkalai di sana tidak bisa berbuat banyak.


Makhluk berwujud kubah bunga merekah dengan bagian tengah diisi gumpalan daging merah itu tampak lapar. Beberapa jasad makhluk mutan yang sudah mati diangkat tinggi-tinggi dengan semua tentakelnya. Pada bagian gumpalan tersebut bermunculan belasan mata kuning yang mengelilingi sebuah celah lentur menyerupai mulut gurita. Jasad-jasad tak bernyawa tadi dilepaskan hingga jatuh ke dalamnya untuk kemudian dikunyah dengan sangat kasar. Nasib yang sama berlaku juga untuk gerombolan mayat hidup yang baru saja keluar dari ruangan rahasia di balik bangunan pemantau.


“Benar-benar makhluk yang mengerikan!” Didin menelan ludahnya melihat bagaimana makhluk berwujud bunga hitam raksasa bertentakel itu memakan jasad makhluk mutan dan mayat manusia dengan rakus.


Letnan Kopassus ini sebelumnya tidak pernah membayangkan tugas lapangan pertamanya akan langsung menghadapi bahaya yang lebih mirip disebut mimpi buruk daripada menangani ******* atau kriminal bersenjata. Dalam keadaan demikian dia sebenarnya ingin sekali mendekat lalu menghujani sasaran dengan ledakan namun urung dilakukan. Ketiga anak buahnya berada agak jauh dari posisinya. Satu-satunya orang yang berada tepat di sebelahnya hanya Ilham Jati Rahwana. Sama sepertinya, lelaki paruh baya tersebut tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya.


“Cepat atau lambat, makhluk itu akan menemukan kita di sini,” kata Ilham sambil mencoba memasang pelontar granat portable pada bagian bawah senapan serbu SCAR L miliknya. “Din, kamu pernah belajar taktik demolisi selama pelatihan, kan?” tanyanya kemudian pada Didin.


“Iya, Pak. Tapi kita tidak membawa alat peledak saat ini!” jawab Didin sambil setengah berteriak. “Saya juga tidak menduga akan bertemu dengan makhluk sebesar itu di tempat yang menurut saya sangat buruk!”


“Tapi pelontar granat ada, kan? Saya tahu kamu bisa menyerang secara cepat dengan senjata itu di beberapa kesempatan dalam pelatihan di Batujajar.” Baru saja Ilham selesai mengatakan ini, salah satu tentakel makhluk bunga hitam itu menghantam tepat ke bagian atas truk tempat mereka bersembunyi hingga remuk redam.


Semua anak buah Didin yang berada saling terpisah menahan napas dengan mata membelalak. Sempat mengira Ilham dan pemimpin mereka terbunuh karena melihat betapa parah kerusakan truk akibat hantaman tadi, kepala sang letnan yang menyembul lalu menoleh-noleh membuat ketiga serdadu itu kembali tenang.


Didin meringis sambil berusaha bangkit kembali lalu mengintip. Dia bersyukur kepalanya masih menyatu dengan jasad. Jika saja dirinya dan Ilham terlambat menjatuhkan diri, nyawa mereka sudah dipastikan melayang. Tidak ada waktu untuk menanyakan keadaan mantan pelatihnya tersebut. Melihat purnawirawan perwira menengah Kopassus di sebelahnya itu baik-baik saja sudah cukup membuat lega.


“Ada, Pak. Masing-masing dari kami membawa lima granat untuk dilontarkan. Tapi jika digabungkan dengan yang kita berlima miliki pun tidak akan cukup ampuh melumpuhkan monster sebesar itu. Butuh sesuatu dengan daya hancur yang lebih dahsyat seperti Anti Tank Guided Missile,” balasnya menanggapi perkataan Ilham yang sebelumnya.


Ilham mau tidak mau harus kembali memutar otak. Di tengah situasi tidak terduga itu dia mengharapkan sekali keberadaan Ardana yang saat ini entah ada di mana. Meski secara kasat mata tidak tampak meyakinkan di pertemuan pertama mereka, kemampuan yang dimiliki si pemuda membuat Ilham memercayakannya untuk memegang keamanan Paramitha dan melaksanakan tugas penyelidikan yang sebenarnya berbahaya.


Sebelum mereka benar-benar menemukan rencana terbaik untuk menyerang, sesosok makhluk mutan lain tiba-tiba muncul dengan cara melompat turun dari jendela bangunan pemantau. Penampilannya yang berbeda menarik perhatian Ilham dan para serdadu Kopassus itu. Tubuhnya menyerupai manusia dengan seragam tentara usang dan berlumuran darah. Namun bagian dadanya rengkah dengan gumpalan daging bermata kuning yang menyalang liar. Sebagian anggota tubuhnya terkena luka bakar cukup parah ditandai dengan aroma daging hangus yang menyeruak.


Togar Siahaan yang bermutasi kini meraung keras seperti dilanda kemarahan dan mulai mengamuk, melecutkan beberapa tentakel yang keluar dari dada dan punggungnya. Ia membalikkan tubuhnya ke arah makhluk bunga hitam raksasa yang berusaha menjebol dinding basement yang sudah remuk redam. Sebuah pemandangan tidak terduga terjadi di mana tiba-tiba tubuh Togar ditarik dengan tentakel-tentakel besar yang langsung menyambarnya. Jasadnya kemudian seperti ditelan bulat-bulat monster tersebut tanpa perlawanan.


“Apa-apaan itu?! Mereka saling memakan satu sama lain?” Didin tidak percaya dengan apa yang baru saja disaksikannya.


Tidak ada yang menyahut. Masing-masing terpaku di tempat tanpa menarik pelatuk senjata yang tadi sempat menyalak garang.


Sesaat setelah jasad Togar dimasukkan ke dalam mulut makhluk bunga raksasa itu, terjadi lagi sesuatu yang membuat Ilham berserta Didin dan anak buahnya ternganga. Warna bintik merah darah di sekujur tubuh hingga tentakelnya semakin menguat, seakan memuat aliran listrik yang begitu besar. Perubahan yang tidak terduga tadi ternyata berpengaruh pada wujud fisiknya. Kelopak bunga yang tampak rusak kini mulai meregenerasi sendiri dan membentuk ulang perwujudan si monster.

__ADS_1


Setelah beberapa menit berlalu, wujud bunga hitam raksasa yang dilihat Ilham dan keempat personil Kopassus yang sedang bertahan tidak lagi ada. Berganti dengan wujud aneh lain yang tidak kalah mengerikan. Kelopaknya berubah menyerupai sayap penuh gerigi di setiap sisi dan mampu dikepakkan. Gumpalan daging di tengah mahkota beralih wujud menjadi kepala manusia setengah hewan yang tidak memiliki kulit. Semua matanya yang semula berjumlah belasan kini tersisa dua dan berwarna merah kehitaman yang tajam. Begitu juga dengan semua giginya yang bermandikan darah. Ketika rahangnya terbuka lebar, sebuah mulut baru muncul dengan mengeluarkan raungan yang memekik.


NGHHRRRRRIIIIKKKK!


* * * * *


“Aaaaarrgghh!”


Brukk!


Paramitha tiba-tiba ambruk dan terduduk di atas jalan. Gadis berambut lurus sebahu dengan poni menyamping ke kiri itu memegangi kepalanya cukup erat. Wajahnya meringis menahan rasa sakit yang tiba-tiba menyerang.


“Eh? Paramitha!” seru Ardana, panik.


Sempat mengira kekasihnya pingsan tiba-tiba, pemuda berambut cepak yang mulai sedikit gondrong ini buru-buru meletakkan ransel dan senjatanya lalu duduk berlutut di sebelah si gadis. Dipegangnya dengan lembut bahu dan kepala Paramitha untuk memastikan agar kesadaran tetap terjaga.


“Mitha? Kamu kenapa?” tanyanya cemas.


Ardana mengangguk, “Baiklah. Kita bergeser dulu ke kanan.”


Meski kondisinya sendiri belum benar-benar membaik, Ardana tetap membantu Paramitha berdiri kembali. Bukan sesuatu yang mudah untuk dilakukan tapi cukup untuk membuat keduanya bisa berjalan perlahan-lahan ke dinding sisi kanan jalur transit. Setelah sampai, dia mendudukkan kekasihnya dengan hati-hati. Mengabaikan rasa ngilu yang masih terasa samar di punggung pemuda berseragam hijau tua ini membelai kedua sisi wajah dan tengkuk Paramitha.


Paramitha yang tidak ingin merepotkan Ardana memaksakan diri untuk melawan rasa sakit. Matanya yang semula sayu dibuat seperti terjaga sepenuhnya. Di saat itulah, Ardana tersadar akan suatu perubahan. Warna merah kehitaman pada sepasang mata indah si gadis tampak lebih jelas dan tajam seolah bereaksi terhadap sesuatu. Lebih terkesan menakutkan daripada yang pernah muncul ketika Paramitha marah padanya.


“Mitha, matamu,” ucap Ardana tertahan.


“Kenapa, Dan? Kenapa dengan mataku?” Paramitha yang terperanjat karena melihat perubahan ekspresi pemuda di hadapannya tidak bereaksi secara gestur.


“Sebentar,” sahut Ardana seraya merogoh salah satu saku rompi anti peluru yang berukuran hanya 5x6 sentimeter. Sebuah cermin kecil diserahkannya pada Paramitha.


Melalui cermin itu, Paramitha baru menyadari kedua matanya mengalami perubahan yang tidak biasa. Tidak ada kata-kata yang kelluar dari lisannya. Mulutnya seolah bungkam oleh sesuatu yang tak kasat mata.

__ADS_1


NGHHRRRRRIIIIKKKK!


“Apa itu?”


Ardana berdiri dengan refleks lalu berlari ke tengah jalan transit untuk mengambil semua senjata dan ranselnya. Suara raungan yang memekik dari arah basement membuatnya penasaran. Sudah pasti ada yang mereka berdua lewatkan. Terlebih Togar yang bermutasi malah menghilang ketika dia nyaris membumihanguskan area itu. Dugaannya, makhluk itu masih berada di dalam sana.


“Ardana,” panggil Paramitha.


Ardana hanya merespon dengan menoleh. Pemuda ini kemudian menghadapkan badannya ke arah ujung jalan transit yang mengarah langsung ke basement. Kini hatinya bimbang untuk memilih menyelidiki sumber suara tadi dan tetap membawa Paramitha pergi. Kondisi si gadis Catranata yang tiba-tiba menurun tanpa sebab jelas semakin menambah kerisauan hatinya.


“Kita harus kembali ke sana lagi, Dan,” ucap Paramitha, menyadarkan Ardana yang sedang bergelut dengan pikirannya sendiri.


“Tapi... bagaimana denganmu sendiri? Aku harus membawamu keluar dari sini,” sanggah Ardana seraya berlutut. Dibelainya wajah Paramitha.


Paramitha menggeleng. Ada ketidaksukaan yang tampak di wajahnya mendengar kalimat tadi.


“Kita kembali ke sana, sekarang!”


Ardana Putra menarik napas dalam hingga wajahnya tertunduk dan mata terpejam. Sikap tegas Paramitha untuk kembali ke area basement sama sekali bukan hal yang ingin didengarnya. Lebih jauh lagi, si gadis berusaha bangkit dan berjalan kembali ke arah sana seakan tidak merasa kesakitan seperti sebelumnya. Terperangah, Ardana berusaha menahan langkah kekasihnya itu. Pemuda berseragam taktis hijau tua ini tidak bisa menerima begitu saja keinginan Paramitha yang dianggapnya terlalu berbahaya.


“Hei, apa-apaan kamu? Aku belum memutuskan apapun, Mitha!” hardiknya sambil berusaha memegang bahu Paramitha.


Paramitha menepis tangan Ardana tanpa berusaha menoleh. Tindakan tidak terduga tersebut membuat si pemuda terperanjat. Mau tidak mau dia harus mengambil keputusan tepat agar tidak terjadi sesuatu yang bisa membahayakan keselamatan gadis Catranata itu.


“Mitha!” panggilnya sambil berlari kecil menyusul. “Baiklah, kita akan kembali ke basement!”


Langkah kaki gadis cantik itu seketika terhenti. Dia membalikkan badan pada Ardana yang kini sudah menggenggam senjata dan barang-barang temuan mereka.


“Tapi bantu aku membawa semua barang-barang penting ini,” pinta Ardana.


* * * * *

__ADS_1


__ADS_2