
Ruangan dengan jendela lebar itu ternyata masih memiliki bagian lain di sebelah kanan dari pintu masuknya, dengan ukuran yang sama yakni 100 x 100 meter. Sebuah kaca yang tampaknya transparan sebatas pinggang orang dewasa berfungsi sebagai penyekat. Jauh di depan mereka, pintu masuk menuju bagian seberangnya yang tertutupi sesuatu berwarna hitam tadi di sudut kanan tampak terkunci rapat. Bagian yang dimasuki oleh Ardana dan Paramitha mirip ruang kendali dengan berbagai peralatan yang tidak mereka ketahui apa fungsinya. Karena tidak adanya cadangan listrik maupun pembangkit daya alternatif lainnya, Ardana tidak bisa menguji semuanya.
Kondisi di dalam sana sendiri tampak berantakan. Paramitha kembali berdiri mematung di tengah-tengah ruangan yang luas tersebut sementara Ardana sibuk berkeliling menjelajahi setiap sudut. Beberapa kabel dalam berbagai ukuran sudah dalam keadaan putus hingga pelindungnya mengelupas.
“Ruangan ini sepertinya tempat pengujian. Dan yang di seberang kaca transparan itu pasti ada semacam... ya, semacam tempat khusus untuk melihat prosesnya,” imbuhnya sambil memandangi kaca pemisah.
Paramitha tidak menanggapi. Matanya mengedar luas, menyapu setiap bagian dalam ruangan dengan sangat teliti dengan bantuan cahaya senter di tangan kiri. Memang tidak ada jasad manusia yang mereka temukan di sana, namun entah kenapa dia merasakan sesuatu yang kurang disukainya. Perlahan, dia beranjak menuju sebuah meja besi berkarat yang berada tidak jauh darinya. Ada beberapa lembar kertas putih berukuran A5 berserakan di atasnya. Tampak kusam dan mulai buram namun Paramitha masih bisa membaca isinya dengan cukup jelas.
Pada lembar pertama berisi anatomi sebuah bunga yang tampak tidak biasa. Menyerupai mawar namun dengan detail yang tidak normal karena menyerupai kupu-kupu yang mengepakkan sayap. Warnanya hitam dengan banyak bintik warna merah darah yang tajam. Lembar berikutnya berisi rumus-rumus yang tidak dimengerti olehnya. Hampir seluruh sudutnya dipenuhi dengan catatan kecil yang menyebutkan berbagai kemungkinan tentang regenerasi dan pengembangbiakan benih mawar tadi.
“Kamu mendapatkan sesuatu?” tanya Ardana yang baru saja mendekat.
Paramitha menoleh. “Lihat ini, Dan. Mungkin kamu mengerti,” ujarnya.
Ardana mengambil lembar kertas yang pertama. Dari raut wajahnya dia tampak serius memerhatikan gambar jenis bunga yang menurutnya aneh.
“Seperti bunga mawar... hmmm, tapi aneh. Meski bukan lulusan IPA, bentuknya tidak normal. Kulihat susunan tangkai hingga ke kelopaknya lebih mirip monster yang menyeramkan,” komentarnya sambil menggaruk-garuk bagian belakang kepala.
Paramitha menoleh ke arah kaca penyekat di belakang mereka. Rasa penasarannya untuk melihat apa yang ada di balik sana menjadi semakin besar. Satu-satunya cara untuk masuk ke sana adalah melalui pintu baja di sudut kanan, yang mereka lihat terkunci rapat.
“Yang ini semacam rumus, lalu yang ini... eh, tunggu dulu.”
Mulut Ardana langsung mengatup rapat ketika melihat lembar terakhir. Matanya sedikit membesar.
“Neng, lihat kertas ini,” katanya sambil menoleh pada Paramitha. Kertas di tangannya diberikan pada gadis itu dengan sedikit tertahan.
Paramitha mengambilnya lalu melihat isinya. Entah harus terkejut atau bagaimana, yang jelas ekspresinya tampak datar tidak seperti Ardana.
EKSPERIMEN DARAH HITAM. DISETUJUI OLEH PUSAT PENGADAAN SENJATA BIOLOGIS LANGSUNG DI BAWAH PRESIDEN JOHAN FACTURIA.
Di luar dugaan Paramitha, Ardana yang semula tampak terkejut malah seperti ingin tertawa membaca judul di bagian atas lembaran kertas terakhir.
“Apanya yang lucu, sih?” Paramitha tampak tidak suka melihat tingkah laku pecicilan si pemuda.
Ardana menyeringai geli sambil menoleh pada gadis itu. “Nama eksperimennya konyol. Perancangnya pasti malas memikirkan nama yang lebih baik dari ini.”
Mendengar alasan Ardana, Paramitha hanya bisa menghela napas sambil memejamkan mata. Kertas yang ada di tangan kekasihnya itu diamatinya lagi. Gambar yang disebutkan sebagai perubahan akhir bunga mawar pada lembaran pertama. Bentuknya jauh lebih menyeramkan. Tentakel-tentakel merah keluar dari dalam mahkota dengan kepala berwajah manusia yang hancur. Semua bagian mahkota bunga mengembang lebar dengan banyak gerigi tajam yang hampir tidak terhitung. Perancang gambarnya bahkan seperti sengaja, menambahkan beberapa mayat manusia yang tidak berbentuk dan terjerat dalam belitan tentakel makhluk tersebut.
“Kamu percaya kalau objek dalam gambar ini ada di balik sana?” tanya Ardana.
Paramitha menatap Ardana, sangat lekat.
“Mungkin. Tapi sejak tadi aku tidak mendengar apa-apa dari sana.”
__ADS_1
Lembar kertas terakhir berisi gambar mengerikan tadi diambil lagi oleh Ardana. Dia membawanya berjalan mendekati pintu pemisah yang berada di sudut kanan yang memisahkan ruangan tempat mereka berada dengan bagian lain yang ada di balik sekat kaca.
“Aku mengambil granat dan bahan peledak dari gudang senjata tadi. Akan kucoba untuk ledakkan pintu ini sampai ringsek,” ujarnya.
Ransel yang sejak tadi membebani tulang punggungnya diletakkan di lantai. Dia mengambil sebuah bahan peledak dalam selubung alumunium seukuran bata merah yang sudah dilengkapi tali sumbu. Meski tidak mengerti kenapa benda berbahaya seperti itu selalu ditemukannya dalam bentuk dan kemasan dengan sangat konvensional, Ardana merasa sudah lebih dari cukup ketimbang memaksakan diri mencari bom yang bisa dikendalikan dengan alat kontrol.
Bagian luar aluminium pembungkusnya ternyata sudah dilengkapi perekat super kuat yang dapat menempel di benda manapun. Setelah bahan peledak ditempelkan di tengah pintu, Ardana menekannya sedikit untuk memastikan tidak akan jatuh.
“Selesai,” ucapnya senang.
Ardana menghampiri Paramitha lalu menariknya keluar dari ruangan. Mereka merapat di balik pintu baja. Sepucuk pistol suar kembali menjadi tumpuannya karena dia tidak membawa korek api.
“Yah, apa boleh buat,” desahnya.
Plump!
Segera setelah suar yang ditembakkannya meluncur ke arah pintu sekat, Ardana melompat ke kanan lalu menjatuhkan diri. Paramitha yang tahu ledakan hebat akan terjadi memilih menutup telinga sekuat mungkin sambil duduk membungkuk di lantai, hanya sejengkal dari tubuh Ardana. Kedua matanya dipejamkan dengan kuat hingga tampak seperti sedang meringis.
BLEGGAARRR!!
KLONTRAAANGG!! PYAAARRR!!
Suara ledakan bersamaan dengan kaca yang pecah berantakan kembali membuat dinding dan lantai di sekitarnya bergetar. Ardana bisa merasakan reruntuhan kecil dari langit-langit berjatuhan di atas dan sekitar tubuhnya. Jilatan api ada yang sampai melebar keluar dari pintu hingga beberapa jengkal, disusul gumpalan asap dan debu dari serpihan bagian dalam ruangan yang terpental. Selama beberapa detik kedua muda-mudi itu tidak bergerak sampai kemudian Paramitha membuka mata perlahan sambil berkedip beberapa kali. Sesaat telinganya masih berdengung lalu perlahan mulai normal kembali.
Dia menoleh pada Ardana yang masih terlungkup dengan tangan memegang erat helm kevlar. Dilihatnya kedua tangan kekasihnya itu mulai terbuka menjauh dari kepala lalu mengangkat wajah.
“Aku baik-baik saja,” jawab Paramitha singkat.
Setelah benar-benar memastikan dirinya dan gadis itu tidak terluka Ardana menyiapkan senjatanya untuk berjaga-jaga. Masih tetap dalam formasi merapat, keduanya kembali memeriksa ke dalam ruangan.
Yang mereka lihat sekarang adalah sisa-sisa kehancuran akibat ledakan yang diatur Ardana. Kepulan asap dan debu masih bertahan di bagian seberang dari balik sekat kaca. Pecahan bata dan kaca serta beberapa benda operasional semakin membuat tempat tersebut jadi lebih kacau dari sebelumnya. Berharap agar hanya pintu sekat saja yang hancur, efeknya malah melebar hingga hampir mendekati pintu keluar yang jaraknya cukup jauh.
“Ya ampun, kalau saja tempat ini masih beroperasi pasti aku sudah dituntut ratusan juta rupiah.” Ardana menepuk keningnya sambil menggeleng-geleng kepala.
Perhatian Ardana kemudian tertuju pada bagian lain di seberang kaca penyekat yang hancur. Warna hitam yang mendominasi di sana benar-benar membaur dengan asap dan debu yang masih bergumul tebal. Lagi-lagi cahaya senter tidak bisa menembusnya.
“Kamu tetap di sini, untuk jaga-jaga saja kalau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan,” larangnya ketika Paramitha mulai mengikutinya lagi.
“Tapi, Dan?”
“Tidak, tetap di sini!”
Ardana menatap Paramitha beberapa saat. Sorot matanya menegaskan kalau dirinya enggan diikuti oleh si gadis untuk menghindari kemungkinan terburuk yang sewaktu-waktu bisa terjadi. Untuk antisipasi lebih lanjut dia meminjamkan pistolnya pada Paramitha.
__ADS_1
“Bidik dan tembak. Kamu pasti bisa,” kata Ardana sambil berlalu meninggalkan Paramitha menuju dinding penyangga kaca sekat. Tanpa kesulitan berarti dia melompatinya begitu saja lalu kembali bersiaga.
Paramitha mengamati pergerakan Ardana dengan harap-harap cemas meski wajahnya tampak tenang. Perasaannya tiba-tiba menjadi tidak enak. Firasatnya mengatakan akan terjadi sesuatu tidak terduga yang sangat ingin dihindarinya. Namun dia tidak berusaha mencegah keingintahuan Ardana untuk memeriksa apa yang ada di balik sana.
Ardana yang sudah kepalang melewati dinding penyangga kaca sekat terus berjalan perlahan sambil menodongkan senjatanya, menembus kepulan asap dan debu yang masih tersisa. Samar-samar, hampir di sekelilingnya tertutup oleh warna hitam yang menurutnya tampak aneh. Semacam kerak yang dibiarkan terlalu lama hingga mengeras namun lembap. Saat mendongakkan wajah ke atas, langit-langit di bagian tempatnya berada sekarang ternyata lebih tinggi dari sebelahnya. Setelah mengira-ngira, dia menyimpulkan kemungkinan tinggi dari lantai ke langit-langit mencapai hampir lima puluh meter.
“Kenapa yang di sini langit-langitnya lebih tinggi, ya?” gumamnya.
Paramitha mencoba melongok. Dari tempatnya berdiri dia masih bisa melihat Ardan dengan cukup jelas.
“Ada apa, Dan?” tanyanya dengan lantang.
Ardana menoleh ke arahnya. “Langit-langit di bagian ini jauh lebih tinggi dari tempatmu berdiri, Neng.”
“Tinggi? Seberapa tinggi, Dan?” Paramitha mencoba meminta kejelasan.
“Lima puluh meter,” sahut Ardana, “dari lantai ke langit-langitnya.”
Sambil mengibas-ngibaskan tangannya, Ardana kembali melanjutkan penyelidikan. Kerak hitam yang menggumpal di sudut lantai hingga sebagian dinding diamatinya dengan sangat teliti. Dia pun memberanikan diri untuk menyentuh secara langsung. Terasa kasar dan lembap. Yang membuatnya penasaran adalah ketika bagian yang diuji ditekan dengan sekuat tenaga, terjadi perubahan tekstur menjadi lebih lunak.
Ardana mengerutkan dahi keheranan, mengira dirinya melakukan kekeliruan. Dia mengulangi lagi tekanan serupa. Hasilnya tetap sama.
“Aneh, tadi terasa kasar dan keras,” gumamnya.
Tidak kehabisan akal, dia mencoba cara lain. Dengan sebatang besi yang tadi ditemukan dan dibawa, bagian yang diuji coba kini dicungkil dengan benda tersebut. Kini dia sudah mendapatkan sepotong kecil sampel yang siap dimasukkan ke dalam wadah kaleng berbeda.
“Eh, Mitha? Sudah kubilang jangan ke sini!”
Ardana membalikkan badan saat menyadari ada pergerakan yang berada tidak jauh darinya. Sempat mengira Paramitha menghampirinya, yang dilirik justru masih tetap di tempatnya semula. Tidak bergeser apalagi berpindah tempat. Gadis itu balik menatapnya dengan heran saat melihat kedua mata si pemuda memerhatikannya dengan ekspresi terkejut.
Brugg! Gdebrugg!
Dua buah benda yang tampak berat jatuh lalu berguling ke arah Ardana. Karena tidak tampak jelas, dia mengarahkan cahaya senter ke sumber suara yang berada tepat tiga meter di samping kanannya. Dua jasad manusia yang sudah hancur tidak berbentuk dan berselimut lendir merah kehitaman membuatnya bergidik ngeri luar biasa. Insting bertahan hidupnya seketika memberi tanda ada bahaya yang sangat dekat dengannya.
Tanpa membuang waktu lagi Ardana bergerak cepat melompati dinding penyangga sekat, kembali ke arah Paramitha.
“Dan, kenapa kamu tampak panik begitu?”
Pertanyaan Paramitha tidak digubrisnya. Yang dilakukannya malah memegang kedua bahu gadis itu kemudian membawanya jatuh bersama ke bawah meja. Posisi mereka berdua kini terlindungi dari sesuatu yang akan muncul dari depan. Bagian bawah depan dan kedua sisi meja memiliki plat besi yang menjadi penghalang.
Paramitha ingin sekali melakukan protes namun dicegah oleh Ardana saat jari telunjuk kekasihnya bergerak menutupi bibirnya. Antara heran dan penasaran, matanya yang merah kehitaman melotot tajam pada Ardana.
“Ada apa, sih?! Apa yang—hmmpf...!”
__ADS_1
“Ssssshhh! Tahan suaramu, Neng.”
* * * * *