
Delapan hari kemudian,
Pasundan Regency, Kota Bogor
“Silakan masuk, Kak Ardana. Sudah lama Kakak tidak datang ke sini? Kudengar Kakak bekerja di kota ini juga, ya?”
Gadis muda berhidung mancung yang mengenakan kaus berkerah warna hijau dengan celana jeans biru muda itu mempersilakan Ardana untuk masuk. Sambil berjalan, si tuan rumah langsung menghujani dengan berbagai pertanyaan. Ardana yang memang sudah hapal di luar kepala tentang karakter orang yang ada di sebelahnya itu hanya mengulum senyum. Dia mengenalnya sebagai Lellyta Mariana. Gadis muda bertubuh tinggi semampai yang kini sedang menempuh ilmu di fakultas kedokteran Universitas Indonesia tersebut memang lebih muda darinya, empat tahun di bawah usia Ardana.
Mata yang sedikit lebar dengan wajah yang agak tirus didukung warna kulit yang putih membuat penampilannya mirip seperti keturunan orang Eropa. Ardana tahu dari mana gadis berambut hitam kecokelatan tersebut mendapatkan fisik seperti demikian. Menurut cerita turun-temurun yang diwariskan, salah satu leluhur Lellyta dari pihak ibu adalah seorang pegawai VOC yang berasal dari Denmark.
Ardana mengedarkan pandangannya ke sekeliling mereka. Suasana rumah besar berdinding paduan tembok bercat putih dan batuan alam itu masih tetap sama seperti dia terakhir kali mengunjunginya empat tahun yang lalu. Rumah yang memberinya kenangan akan seseorang yang pernah hidup di dalamnya, dan pernah menjadi salah satu orang yang spesial di hatinya. Pandangan terakhirnya jatuh ke deretan foto keluarga di ruang depan. Kedua matanya tertuju pada salah satu foto seorang gadis yang wajahnya sedikit mirip dengan Lellyta.
Dia menutup kedua matanya lalu memalingkan wajah dari foto tersebut. Ada sedikit sesak yang tiba-tiba muncul. Orang yang ada di foto itulah yang meninggalkan kenangan di hatinya.
“Kak Ardana?”
“Eh, i—iya, sekarang Kakak bekerja di kota ini. Yeah, supaya bisa dekat juga dengan kalian. Kalau masih di Jakarta belum tentu bisa sering berkunjung ke sini,” jawab Ardana cepat. Teguran Lellyta langsung membuat pikirannya buyar.
“Kenapa Kakak tidak terima saja tawaran Mami untuk tinggal di sini?” tanya Lellyta.
Ardana hanya menggeleng pelan. “Belum terpikirkan, kecuali kalau nanti belum ada rumah kos atau kontrakan yang lokasinya bagus untuk ditinggali dan tidak terlalu jauh,” katanya.
“Jadi Kakak masih pulang dan pergi antara Jakarta dan Bogor?” Lellyta melirik penuh rasa penasaran.
“Iya, mau tidak mau. Seperti dulu ketika masih sering datang ke rumah ini,” jawab Ardana sambil menoleh pada gadis itu.
“Ya sudah, Kakak bilang sendiri saja pada Mami,” balas Lellyta santai.
Keduanya kini beranjak ke bagian belakang rumah besar itu. Di mana di sana ada taman kecil dengan kolam ikan dan pot tanaman bonsai dengan selingan bunga-bunga yang ditata indah. Pemandangan serba hijau itu menyegarkan siapa saja yang duduk di sana. Tempat ini merupakan salah satu tempat favorit Ardana setiap kali datang berkunjung. Tidak banyak yang berubah, kecuali jumlah ikan hias dalam kolam yang semakin bertambah.
Seorang wanita paruh baya duduk di kursi kayu tepat di tepi kolam sambil menikmati teh hijau sambil membaca sebuah majalah kesehatan yang terbit dua minggu sekali. Dia mengenakan pakaian kemeja putih dengan celana formal panjang berwarna hitam. Jas putih ala dokter membalut bagian tubuh atasnya. Rambutnya yang masih tampak hitam dan sedikit berombak dibiarkan tergerai. Dari kejauhan Ardana bisa tahu kalau usia wanita tersebut sudah melewati angka empat puluh lima. Masih awet muda dibandingkan ibu-ibu lainnya, pikirnya.
“Mami, coba lihat siapa yang datang?” Lellyta mendahului dan langsung memeluk ibunya dari belakang.
Wanita yang Lellyta panggil dengan sebutan ‘Mami’ hanya menoleh sambil mengerutkan dahi.
“Siapa, Lyta?” tanyanya.
__ADS_1
Lellyta tidak menjawab. Dia hanya memberi kode tangan pada Ardana untuk mendekat. Ardana hanya tersenyum lalu berjalan menuju kolam ikan namun tidak terlalu dekat dengan mereka.
“Orangnya ada di dekat kita tuh, Mam!” tunjuk Lellyta.
Ratna Prasetya menoleh ke belakang. Ardana menyunggingkan senyum tipis sambil mengangguk pelan. Menyadari siapa yang datang ke rumahnya, wanita paruh baya itu tampak senang. Dia melipat majalah dan bangkit kemudian mendekati Ardana.
“Ardana... ya ampun, apa kabarmu, Nak? Sudah lama kamu tidak datang ke sini,” sambutnya ramah dan sangat senang.
Ardana membungkuk sedikit lalu mencium tangan Ratna dengan penuh hormat. “Iya, Tante. Saya sengaja datang berkunjung untuk melihat keadaan Tante, Lelly dan Om Rudy. Oh, iya, Om Rudy ke mana?”
“Om Rudy belum pulang dari kemarin, masih ada tugas di Mapolresta Bogor. Kira-kira sih nanti sore baru pulang. Ayo, kita ke depan saja!” Ratna mengajak Ardana dan Lellyta kembali ke ruang tamu di depan.
“Kak, aku buatkan minuman dulu, ya?” Lellyta memisahkan diri dari mereka sebelum bisa dicegah Ardana yang memang tidak ingin minum apa-apa.
Apa boleh buat, sepertinya Lellyta sengaja membiarkannya untuk mengobrol lebih banyak dengan wanita paruh baya yang entah harus dia sebut sebagai ibu angkat atau apapun itu namanya. Meski Ratna tidak pernah menegaskan itu, namun perlakuannya pada Ardana seolah si pemuda adalah anak kandungnya.
Ardana mengikuti Ratna sampai ke ruang tamu. Keduanya duduk saling berhadapan dengan dipisahkan meja kayu berbentuk oval yang bagian atasnya dilapisi marmer berkualitas nomor satu yang didatangkan dari Italia berwarna hijau kebiruan dengan corak abstrak yang cantik.
“Bagaimana kabar kamu di Jakarta? Lellyta bilang, sekarang kamu bekerja di Bogor ini. Apa benar begitu?”
Mendengar kata dinas kening Ratna mengerut.
“Kenapa kamu tidak bilang dulu pada Tante dan Lyta kalau kamu akan bekerja di sini sebelumnya? Kalau sudah bilang kan semuanya akan Om dan Tante urus, maksudnya agar kamu tidak perlu pusing mencari tempat kos atau kontrakan yang sesuai dengan keinginan kamu.”
“Saya pikir lebih baik hidup mandiri, Tante. Dan memang masih pulang-pergi Jakarta dan Bogor. Lagipula ada banyak rekan yang tinggal tidak jauh dari tempatku bertugas saya berkerja.”
“Memangnya kamu bekerja di mana sekarang?”
“Baihaqi Armed Corps. Lima hari lalu saya baru mulai bertugas.”
Tidak lama kemudian Lellyta muncul dengan nampan berisi tiga gelas teh dingin dengan irisan lemon asli di bagian pinggirnya.
“Mami ingin Kakak ikut tinggal di sini. Kuharap Kakak tidak keberatan,” kata gadis itu sambil memberikan minuman pada Ardana.
Ardana yang enggan tersenyum mencoba untuk bisa membuat senyuman simpul dengan sorot mata seolah dirinya senang. Entah apakah ibu dan anak di depannya bisa membaca isi hatinya. Bertahun-tahun yang lalu, kakak Lellyta yang bernama Stella Marinia adalah kekasihnya. Mereka berdua bertemu secara tidak sengaja di sebuah toko buku ketika Ardana pergi ke Bogor. Sejak saat itu keduanya menjadi semakin akrab dan mulai tumbuh perasaan saling suka dan mencintai.
Dalam waktu enam bulan setelah pertemuan pertama itulah Ardana dan Stella menjalin hubungan asmara tanpa diketahui oleh kedua orangtua si gadis. Namun, masalah pun datang ketika hubungan mereka berdua ketahuan oleh Rudy Wijaya, ayah Stella yang saat itu masih berpegang teguh pada cara pandang yang membedakan status sosial. Polisi berpangkat Brigadir ini tidak merestui hubungan tersebut. Hanya Lellyta yang diam-diam mendukung hubungan kakanya dengan Ardana.
__ADS_1
Reaksi Stella yang terjadi kemudian mengejutkan Rudy dan Ratna. Anak sulung mereka menjadi orang yang selalu melawan keinginan mereka untuk tidak mendekati Ardana. Ardana yang enggan menjadi penyebab masalah meminta Stella secara baik-baik untuk mengakhiri hubungan mereka. Stella menolak dan kukuh pada pendiriannya.
Di tengah perseteruan itu tidak ada yang mengetahui Stella mengidap penyakit kanker darah stadium tiga. Ironisnya, Ardana adalah orang pertama yang menyadari keadaan yang dialami gadis pujaan hatinya. Dia pun berusaha agar Stella bisa pulih dan tidak memikirkan masalah yang mereka hadapi. Namun takdir berkata lain. Gadis cantik itu tidak kuasa melawan takdir. Dalam pelukan Lellyta dan kedua orangtuanya dia berpulang tanpa ada Ardana di sampingnya.
Setelah wafatnya Stella, Ardana diam-diam menemui Lellyta yang bersedia menunjukkan makam Stella. Gadis pujaan hati yang tidak didampinginya di saat-saat terakhir hidupnya itu sudah terbaring dengan tenang di bawah cungkup marmer yang dingin. Lellyta membiarkan Ardana menangis tersedu-sedu di samping makam kakaknya, lalu memberitahu kalau kedua orangtuanya menyesal setelah membaca semua yang Stella tulis dalam buku hariannya. Di dalamnya ada banyak pengalaman gadis itu semasa hidupnya ketika masih bersama Ardana.
Hubungan antar kedua pihak yang sebelumnya memburuk kemudian berubah menjadi kekeluargaan yang hangat. Rudy dan Ratna akhirnya bisa menerima Ardana dan keadaan hidupnya. Terkadang anak muda ini mengunjungi keluarga mendiang kekasihnya setiap bulan. Lama kelamaan Ardana sudah mereka anggap sebagai bagian dari mereka.
Dan sekarang mereka menginginkannya untuk tinggal bersama di rumah besar itu.
Ardana tidak langsung menerima, namun juga tidak mengutarakan penolakan. Dia bergantian menatap Lellyta dan ibunya dengan sedikit serius. Sedikit helaan napas membantunya untuk bisa menjawab dengan tenang.
“Kalau Om, Tante dan Lellyta menginginkan demikian, maka baiklah. Saya akan tinggal di sini,” ujarnya.
“Tapi... saya akan tinggal setelah pulang dari penugasan lapangan pertama. Lusa nanti saya akan berangkat ke Bandung,” tambahnya.
* * * * *
Makam dengan cungkup marmer hijau itu tampak terawar seperti makam lainnya. Tidak ada rumput liar yang tumbuh di tengahnya. Begitu juga dengan jalan yang menjadi akses melintas bagi mereka yang berziarah, bersih dan tidak ada sampah yang tertinggal. Petugas pemakaman benar-benar membuktikan tanggung jawabnya mengurusi mereka yang sudah beristirahat dengan tenang di area TPU yang berada di tengah kota hujan itu.
Stella Marinia
Lahir: 10 April 2000
Wafat: 9 Maret 2017
Sebelum senja benar-benar datang, Ardana sudah datang ke sana. Kini dia duduk di samping makam itu. Meski tidak ada ekspresi kesedihan, kedua matanya tampak berkaca-kaca. Perlahan dia mengulurkan tangan kanannya, mengusap bagian nisan dengan sangat hati-hati sambil tersenyum.
“Aku sudah mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Meskipun kami sudah beristirahat cukup lama tapi aku yakin kamu sudah tahu. Padahal... aku sangat berharap kamu bisa ada di sisiku dan bangga melihatku yang sekarang. Tapi tidak apa-apa, asalkan aku tetap datang ke sini dan mengingatmu sampai aku benar-benar menyusulmu. Oh, iya, ibu dan adikmu masih tetap ramah padaku. Aku juga diminta tinggal di rumahmu,” celoteh Ardana, seolah-olah orang yang diajaknya mengobrol benar-benar ada bersamanya.
Pemuda ini menuangkan air mawar pada makam tersebut lalu menaburkan bunga-bunga yang dibelinya di depan pemakaman.
“Aku akan berangkat ke Bandung, lusa nanti. Ada tugas pertama yang harus kuselesaikan. Setelah pulang dari sana, aku akan memenuhi permintaan ibu dan adikmu untuk tinggal bersama. Jangan khawatirkan keadaanku, aku akan jaga diri baik-baik dan pulang. Aku pamit dulu, ya? Sampai ketemu lagi nanti,” desisnya.
Kembali, Ardana mengusap nisan makam dengan penuh kelembutan seolah dia sedang membelai kepala seseorang yang dikasihinya. Dia bangkit lalu membalikkan badan, meninggalkan area pemakaman dengan hati yang tegar.
* * * * *
__ADS_1