
Ardana sudah berada di dalam mobil angkot yang akan menuju ke Kecamatan Antapani, tepat di sebelah supir. Dia memilh duduk di sana dengan harapan agar bapak paruh baya pengemudi angkutan umum itu bisa diajak mengobrol. Terlebih ekspresi yang ditampakkan selalu ramah. Di belakang mereka para penumpang lain duduk dengan tenang sambil sibuk dengan urusan masing-masing. Maksudnya adalah bermain smartphone untuk berkirim pesan atau sekadar menonton video. Hanya Ardana saja yang tidak sampai ikut-ikutan dan memilih menikmati pemandangan kota Bandung. Pengemudi angkot mengemudikan kendaraan roda empatnya dengan sedikit cepat namun hati-hati. Tampaknya dia sudah terbiasa dengan lalu lintas yang sedikit runyam di ibukota Provinsi Jawa Barat tersebut.
Jarak dekat tiga rebu…
Jarak jauh tujuh rebu…
Angkot mogok mah… saredona…!
Nanananana saredona…!
Nanananana saredona…!
Nanananana saredona…!
Saredona…!
Sebuah lagu dari Kuburan Band mengalun dari pemutar musik di dasbor mobil, membuat Ardana tersenyum. Dia memang menyukai lagu itu dan termasuk salah satu penggemar band-nya. Sambil mendengarkan, kedua matanya menelisik setiap bangunan dan tempat-tempat menarik yang ada di seberang kirinya. Dia merencanakan untuk mengunjungi beberapa di antaranya selesai bertugas nanti.
“Maaf, Kang? Dari penampilan Akang teh... sepertinya orang baru ke sini, ya?” Supir angkot di sebelahnya tiba-tiba memulai obrolan tanpa diminta.
Ardana menanggapi dengan senyuman dan mengangguk. “Iya, saya baru kali ini datang ke Bandung. Kotanya menarik, karena saya biasa baca tentang kota ini dari internet atau buku-buku wisata saja. Sekarang bisa mengunjungi langsung,” ungkapnya.
“Hade pisan, kalau di Bandung ini mah lebih baik perbanyak pergi ke tempat-tempat menarik. Di sini mah banyak, tinggal pilih saja. Ada Braga, Museum Konferensi Asia-Afrika dan lain-lain,” balas sang supir sambil mengacungkan jempol. Dari gayanya, orang ini tampak bangga dengan kota tempatnya mencari nafkah.
__ADS_1
“Ari Akang téh dari mana?” tanyanya lagi.
Ardana mengangkat alis sambil memerhatikan jalan raya di depan.
“Dari Jakarta. Saya ke sini ada keperluan tugas dari pusat. Yah, penugasan pertama karena saya baru bekerja. Saya diberi waktu dua minggu, semoga saja selesai dalam waktu satu minggu saja, karena minggu berikutnya akan saya gunakan untuk berkeliling di Bandung. Maklum, namanya juga orang baru. Kalau saya datang ke suatu daerah, biasanya saya paling suka berkeliling. Cari tempat, cari makanan atau spot berfoto yang bagus supaya bisa dipamerkan. Asalkan ada uang cukup di dompet,” jawabnya berkelakar.
Supir angkot di sebelah Ardana tertawa mendengar jawaban si pemuda. “Aduh, anak muda sekarang mah apa saja ingin dijelajahi. Tapi bagus, apalagi kalau berbelanja. Lumayan atuh, ada pemasukan untuk daerah dan pedagang lokal.”
“Termasuk Bapak juga, ya? Kalau banyak wisatawan meski sudah ada angkutan daring, mereka pasti ingin coba naik angkot di Bandung,” timpal Ardana.
Kedua orang ini lalu tertawa renyah. Ardana mulai menyukai karakter bapak supir angkot di sebelahnya yang menurutnya ramah, humoris dan pandai bicara santai dengan orang baru. Obrolan mereka pun berlanjut membahas hal-hal lain yang menarik di Kota Bandung. Hingga tidak terasa mobil angkot sudah memasuki kawasan Jalan Subang. Dari kaca spion tengah, Ardana melihat sepertinya hanya dia yang baru akan turun. Di belakang wajah-wajah penumpang yang sama masih ada dan sibuk dengan gawai mereka.
“Saya turun di depan Apotek Kimia Farma Antapani saja, Pak,” katanya sambil melongok ke depan.
“Oh, siap. Tenang wéh, pasti sampai,” balas sang supir angkot dengan percaya diri.
“Kembaliannya ambil saja, Pak. Rezeki tidak boleh ditolak,” pesannya.
“Tapi... ongkosnya mah hanya tujuh ribu rupiah.” Supir angkot itu tetap ingin memberikan uang kembalian.
Ardana menolak cepat. “Tidak perlu, Pak. Saya sudah berniat memberikan uang dalam jumlah sebesar itu.”
“Yang benar ini, Kang? Kalau begitu saya terima, semoga urusan Akang di kota ini dipermudah. Aaamiin,” balas supir angkot tersebut dengan sangat senang.
__ADS_1
“Aamiin, terima kasih. Hati-hati dan jangan mengebut, Pak! Semoga kita bisa bertemu lagi,” balas Ardana.
Mobil angkot itu pun berlalu dari Ardana yang kini berdiri mematung di pinggir jalan. Sebelum melanjutkan perjalanan, dia masuk ke apotek lalu membeli sepuluh strip tablet vitamin C. Setelah mendapatkan barang yang diinginkannya, perjalanan diteruskannya dengan berjalan kaki. Meski sebenarnya masih jauh dari pertigaan tempatnya turun, Ardana tidak memesan ojek daring karena menganggap jarak dari apotek menuju Cicalengka tetap cukup dekat. Beberapa penduduk lokal sempat memerhatikannya karena penasaran, yang sesekali dibalas oleh Ardana dengan senyuman atau mengangguk menampilkan ekspresi keramahan.
Tidak sia-sia usahanya menempuh perjalanan dengan berjalan kaki ke Cicalengka Raya. Di kawasan pemukiman yang cukup sepi itu dia mulai mencari alamat rumah yang menjadi tujuannya.
“Akhirnya, sampai juga!” serunya.
Di depannya kini ada sebuah rumah dengan pekarangan kecil yang asri. Pintu gerbangnya dibiarkan dalam keadaan terbuka. Rumah berlantai dua dengan gaya minimalis itu bernuansa serba hijau dan putih dengan paduan batuan alam yang tampak cantik. Ada belasan pot tanaman hias dari tanah liat dan plastik yang diletakkan di pinggir pekarangan maupun digantung dengan tali-tali yang juga dihiasi tanaman anggur yang merambat bebas. Beberapa ekor burung kecil juga kedapatan sedang bertengger sambil menoleh-noleh ke berbagai arah.
Begitu melangkahkan kaki memasuki pekarangan, dia sudah bertatap wajah langsung dengan seseorang yang duduk di beranda. Tampaknya kehadirannya sudah dinanti-nanti sejak beberapa saat yang lalu. Lelaki berambut hitam lurus dan sedikit beruban itu duduk bersandar di kursi kayu jati, di balik meja bundar dari bahan yang sama. Penampilannya begitu sederhana, hanya mengenakan kaus oblong putih dengan celana panjang cokelat tua. Kedua matanya memerhatikan Ardana tanpa berkedip sedikitpun, sedikit tajam.
“Kamu... yang bernama Ardana, kan?” tanyanya.
Ardana mengangguk pelan tanpa menjawab.
“Kalau ditanya itu mengangguklah dengan mantap!” tegur si tuan rumah seraya bangkit dan berjalan ke arahnya. “Jangan seperti anak kecil yang takut dihukum karena mencuri buah milik tetangga!”
Terkejut dengan respon tuan rumah, Ardana nyaris mundur ke belakang namun urung dilakukan. Untuk apa mundur?
“I—iya, Pak. Saya Ardana Putra dari markas pusat!” balas Ardana, tegas namun agak terbata.
Tuan rumah menghela napas lalu berbalik lagi ke beranda. Wajahnya tampak masam melihat Ardana yang berdiri mematung dengan wajah kebingungan.
__ADS_1
“Ayo, masuk! Pasti melelahkan, ya? Perjalanan Jakarta-Bandung itu tetap saja lumayan jauh.” Tanpa menoleh, dia duduk kembal di tempatnya semula.
* * * * *