Puisi

Puisi
Eps 10 Pertemuan keluarga


__ADS_3

POV Y/N.


"Terimakasih banyak sudah mau mampir ke lestoran kami, jangan lupa datanglah kemari lagi di lain kesempatan!!" Salamku saat itu pada pelanggan terkahir kami.


Ketika semua pelanggan sudah pergi, Aku pun langsung membereskan semua sisa-sisa makanan di atas meja, lalu membawanya ke dapur.


Sesampainya di dapur, Aku menaruh makanan sisa itu di atas meja dapur. Aku melihat salah satu piring masih berisikan makanan utuh yang belum di makan.


"Eoh, Orang kaya sekarang, Memang suka sekali menghamburkan uang untuk membeli makanan yang tidak mereka makan sama sekali. Sayang sekalikan?? Makanannya jadi mubazir, lebih baik Aku sisihkan saja untuk bekal Oppa Yoongi. Lagian ini kan masih bersih." Celotehku saat itu dan langsung menyiapkan makanan itu ke wadah bekal kakakku.


"Y/n, Kau ini memang adik durhaka." Cetus Hoseok tiba-tiba mengahampiriku.


Aku menoleh kearahnya.


"Ya!! Tidak ada perkataan lain apa, selain mengejekku dengan perkataan itu." Cetusku.


"Tidak, Itu memang kata yang pas untukmu." Ledeknya kembali.


"Sudah, berhentilah mengejekku terus!! Kita sesama orang miskin tidak perlu saling mengejek, Kau juga sering memakan makanan yang tak habiskan?? Jadi apa bedanya, lebih baik kau diam saja sekarang!! Atau kau mau mati di tanganku!!" Ucapku balik meledek.


Hoseok mendelikan matanya kearahku.


"Aisss,(Berdesis) Kau ini memang preman sekaliya?? Maksudku, apa Yoongi tau kalau kau selalu memberinya makanan sisa??"


Aku seketika tertegun lalu menoleh ke arahnya.


"Tidak tau, Hehe." Jawabku Terkekeh tampa dosa.


Hoseok hanya terbelakak kaget sambil menepuk keningnya saat mendengar jawabanku.


"Sudahlah, Aku pinjam kunci motormu. Takutnya Kakakku menunggu terlalu lama." Pintaku saat itu.


Hoseok hanya mengangguk.


"Baiklah."


Merogoh saku celananya, lalu melemparkannya ke arahku, Dengan sigap aku langsung menangkapnya.


"Ok, terimaksih Hoseok." Ungkapku ersenyum lebar kepadanya.


"Sekalian kau isi bengsin motorku." Teriaknya.


Aku hanya berdeham dan langsung pergi saat itu juga.


Sebelumnya, setiap Jam istirahat Aku sering menyempatkan waktu untuk pergi ke tempat kerja Kakakku untuk mengantarkan bekal padanya


...


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


30 menit kemudian, Aku sudah sampai di tempat kerja Kakakku. Dia terlihat sudah menungguku di tempat kantin seperti biasaanya. Aku pun bergegas pergi untuk menghampirinya.


Sesampainya disana.


"Oppa menunggu lama??" Tanyaku lalu duduk di sampingnya.



Yoongi menggelengkan kepalannya.


"Tidak, Aku baru beres menyapu halaman kantor." Tersenyum lebar.


Aku pun langsung membuka bekal kakakku, sebelumnya kami sering makan bersama saat jam istirahat. Kakakku bekerja sebagai office boy di sebuah perusahaan, karena saat itu ia hanya lulus sampai bangku SMP dan langsung mencari pekerjaan untuk membiayayai hidupku, saat orangtuaku tak ada.


Saat itu kami sedang asik menyantap makanan kami, dan tiba-tiba saja.


"Sedang apa kau disini??" Tanya Seseorang berdiri di hadapan kami.


Seketika Aku dan Kakakku menoleh ke arah orang itu, mata dan mulutku terbuka lebar saat melihat Seokjin ada di hadapanku.


Seokjin hanya memiringkan kepalanya, dengan mengangkat salah satu halisnya.



Kami berdua pun langsung bangkit dari duduk kami. Terlihat Kakakku Yoongi seperti canggung saat berhadapan langsung dengan Seokjin.


"Yang seharusnya bertanya itu aku, Kenapa kau bisa disini??" Tanyaku bangkit dari dudukku.


"Kakekku sudah pensiun dari pekerjaannya. Dan sekarang perusahaan ini Aku yang pegang." Jawabnya cetus.


Aku hanya terdiam sambil menatap aneh kearahnya.


"Lalu Pria di sampingmu itu siapa??" Tanyanya kembali.


Kakakku sedikit tertegun dengan pertanyaan Seokjin yang tiba-tiba, ia juga ikut berdiri disampingku.


"A-aku Min Yoongi, Aku kakaknya Y/n." Ucapnya sambil membungkukan badannya ke arah Seokjin.


Mataku mengikuti gerak tubuh Kakakku yang sedang membungkuk memberi hormat pada Seokjin saat itu. Aku mengkerutkan keningku, membuang nafas kasar, lalu menegur kakakku.


"Ya!!!" Teriakku sembari menepuk punggung Yoongi.


Sontak Kakakku terbelak dengan teriakanku, ia pun langsung menegakan kembali tubuhnya dan melihat ke arahku. Begitupun dengan Seokjin, ia menatap Aneh ke arahku.


Aku menyedekapkan kedua tangan di dadaku, menatap kesal kearah kakakku.


"Y/n-ah, kau kenapa??" Tanya kakakku kebingungan.


Aku membuang nafas singkat.


"Aisss,,, kenapa Oppa malah membungkukan badan ke arahnya??" Tegurku saat itu.


"Itu karena--."


"Aku atasannya, lalu apa salahnya jika Kakakmu memberi hormat ke padaku??" Ucapnya Memotong perkataan Yoongi dengan santai.


Aku menatap geram ke arah Seokjin. Aku fikir perkataannya barusan sudah menyinggung perasaanku.


"Keterlaluan, Ikut Aku sekarang juga!!" Teriakku kesal Menarik tanganya dengan kasar.


Yoongi menatap cemas kearah kami berdua.


"Y/n. Kau mau kemana?? Kau tak usah marah, yang di katakan Tuan Seokjin memang benar." Bujuk Kakakku.

__ADS_1


Seokjin Menoleh kearah Yoongi.


"Kau tak perlu hawatir, kembalilah bekerja!!" Suruhnya saat itu.


Aku pun pergi saat itu juga bersama Seokjin.


...


.


.


.


.


.


.


.


1Menit kemudian Aku dan Seokjin berhenti di sebuah halaman kantor dengan nafas yang tak beraturan. Aku mulai menatap kesal ke arahnya.


"Seokjin-ah. Kau ini benar-benar tidak bisa menghargai orang lain." Bentakku Menunjuk kearahnya.


Seokjin hanya tersenyum smirk.


"Hemmm,, maksudmu perkataanku barusan pada Kakakkmu??" Ungkapnya dengan wajah tampa dosa.


Aku hanya berdeham kesal, dan memalingkan wajahku darinya.


Seokjin menyedekapkan kedua tangan didadanya, lalu mulai bicara lagi padaku.


"Lalu salahnya dimana?? Kakakmu itu memang bawahanku bukan?? Eoh, Aku tau. Mungkin kau tak terima karena kita akan menikah, lalu kau ingin Aku bersikap hormat padanya, Ingatlah Y/n. Kita tidak akan benar-benar menikah, pernikahan kita hanya sebatas di atas kertas." Tegasnya padaku.


Aku semakin geram dengan perkataan Seokjin barusan, Nafasku mulai terasa sesak saat itu karena sudah menahan lama amarah pada diriku, aku menatap geram kearahnya.


"Hey, kenapa kau menatapku seperti itu?? Baiklah Aku akan berbaik hati saat ini, Aku akan menaikan jabatan Kakakmu sebagai meneger di kantorku, Bukankah itu sangat menakjubkan Y/n?? Itu juga karena Aku tak ingin orang lain tau, kalau seorang Kim Seokjin akan menikah dengan adik seorang office boy. Dimana reputasiku nanti." Celotehnya yang semakin membuat amarahku meluap-luap, dan.


Plakkkkkkk.


Tanganku mendarat tepat di pipinya.


Seokjin langsung terbelakak kaget melihat ke arahku, tangannya pun langsung menyentuh bekas tamparanku di pipinya.


"Jaga ucapamu Seokjin!! Aku masih bisa terima jika yang kau hina itu aku. Tapi jika yang kau hina itu Yoongi kakakku, Aku tidak akan pernah bisa menerimanya. Kau tidak pernah tau pengorbanan Yoongi untuk keluarganya. Aku tidak marah karena kakakku adalah bawahanmu. Tapi Aku tidak terima jika kau merendahkan pekerjaan kakakku. Mengerti!!" Bentakku.


Mataku mulai berkaca-kaca, Sedangkan Seokjin hanya terdiam menatap tajam ke arahku.


"Kenapa kau menatapku seperti itu?? Seokjin, kau tak pernah tau betapa tersiksanya diriku ketika aku harus menerima kenyataan, bahwa aku harus menikah dengan seorang Pria seegois dirimu. Jika Tuhan memberiku kesempatan hidup yang kedua. Aku sangat berharap untuk tidak pernah di pertemukan dengan dirimu. Dan satu lagi. Jika kau malu menikahi orang miskin sepertiku, lebih baik kau pergi temui Kakekmu dan bilang padanya untuk membatalkan pernikahan ini!!" Gerutuku yang tampa sadar tangisanku pun pecah.


Kedua mata Seokjin terangkat menatap sesal ke arahku. Ia terlihat seperti sangat terkejut saat melihatku menangis dihadapannya.


"Y/n, Kau menagis??" Tanyanya sendu.


Aku tak menjawab pertanyaannya, Aku hanya menangis dengan salah satu tangan menutupi wajahku.


Ia lalu berjalan maju lebih dekat ke arahku.


"Y/n. Aku minta maaf, Aku tidak bermaksud membuatmu menagis, Aku benar-benar tidak tau jika Yoongi kakakmu sangat berarti untukmu. Maafkan semua perkataanku barusan, Aku mohon maafkan Aku." Ungkapnya menyesali perkataannya, ia mengusap pundakku.


"Berjanjilah padaku, untuk tidak merendahkan orang lain lagi." Pintaku saat itu tampa meliaht kearahnya.


"Ya, Aku berjanji."

__ADS_1


__ADS_2