Puisi

Puisi
EPS 52


__ADS_3

POV AUTHOR.


30menit kemudian Seokjin dan Y/n sudah sampai ditempat tujuan. Tempat dimana Pesta Jimin digelar.


Y/n turun dari mobilnya, dengan satu tangan yang digenggam lembut oleh suaminya.


Ia saat itu terlihat sangat cantik dan elegant. Dengan gaun hitam panjang dan ketat, sehingga memperlihatkan lekuk tubuh indahnya. Dan tak lupa hiasan punggung gaunnya yang sedikit memperlihatkan punggung mulusnya. Rambut yang dibiarkan panjang terurai, dan hiasan wajah yang sederhana. Tidak mengurangi kecantikkannya.


Begitu pun dengan Seokjin. Sudah tidak bisa diragukan lagi. Dia benar-benar nyaris sempurna. Ketampanannya sudah tidak bisa diungkapkan lagi dengan kata-kata.


Suasana saat itu terlihat cukup meriah, terlihat banyak tamu undangan penting disana.


Saat itu Y/n merasa tak percaya diri. Ia hanya terdiam diambang pintu, saat melihat orang-orang disana berpenampilan mewah. Sepertinya mereka bukan dari kalangan biasa.


Seokjin yang menyadari sikap istrinya itu dengan cepat langsung merangkul pinggang ramping istrinya, dan sedikit menarik pinggang Y/n hingga benar-benar menempel padanya.


"Sudah sayang, jangan berpikiran yang tidak-tidak!! Kau sekarang adalah istriku. Istri dari CEO terbesar dikorea selatan. Kau adalah Nyonya Kim sekarang. Jadi kumohon buanglah rasa tak percaya dirimu itu!! Ya." Pinta Seokjin dengan tatapan lembut.


Y/n hanya menganggukan kepalanya dengan senyuman tipis dibibirnya. Seokjin lalu mengajaknya untuk berjalan lebih masuk keruangan pesta disana.


Sesaat mereka sudah didalam, Seokjin lalu mencari-cari keberadaan Jimin dengan sorot matanya. Tiba-tiba.


"Hey, Seokjin Hyung!! Cepatlah kemari." Panggil Jimin sambil melambai-lambaikan tangannya kearah Seokjin.


Kedua manik pasangan itu pun menoleh bersamaan kearah suara tersebut.


"Eoh, Jimin-si." Balas Seokjin yang juga melambaikan tangannya, sesaat setelah melihat Jimin.


"Ayo sayang kita hampiri mereka!!" Ajak Seokjin yang langsung menggandeng tangan istrinya.


Y/n hanya tersenyum. Mereka pun akhirnya berjalan pergi menuju tempat dimana Jungkook dan Jimin berada.


Sesampainya Seokjin dihadapan kedua sahabatnya itu. Jimin langsung memeluk erat tubuh Seokjin. begitu pun jungkook, ia melakukan hal yang sama.


"Wah,, Seokjin Hyung. Kau terlihat gemukan sekarang." Ujar Jimin sambil menatap kagum Hyungnya itu, setelah melepaskan pelukannya.


Seokjin terkekeh.


"Eoh, kau benar!! Akhir-kahir ini berat badanku terus naik, mungkin karena istriku terlalu memanjakanku, hingga aku tak bisa mengontrol timbanganku." Jawab Seokjin sambil menatap hangat istrinya itu.


Y/n hanya tersenyum kikuk, saat Semua manik tertuju padanya.


"Apa ini istrimu Hyung??" Tanya Jimin setelah menoleh kearah Y/n.


"Hemm,, Dia istriku!! Oyah, kalian pasti belum pernah berkenalankan bukan?? Y/n dia Jimin sahabatku. Dan Jimin, ini Y/n istriku." Ucap Seokjin mempekenalkan kedua orang tersebut.


"Eoh, namaku Y/n." Ucapnya sambil tersenyum hangat kearah Jimin.


"Jimin." Balas Jimin yang juga tersenyum.


Mereka saat itu saling memperkenalkan diri, dan juga saling berjabatan tangan.


"Bagaimana kalau kita duduk sekarang!!" Ajak Jungkook yang sedari tadi baru mengeluarkan suaranya.


Semua manik menoleh kearahnya.


"Eoh, kau benar!! Ayo sayang kita duduk!!" Ajak Seokjin sambil membawa istrinya untuk duduk disebuah sofa.


Saat itu Jimin ternyata diam-diam sedang mencuri-curi pandang kearah gadis dihadapannya itu. Dan seketika, ia pun berbisik ketelinga Jungkook dengan amat pelan.


"Apa kau merasa Istri Seokjin Hyung, mempunyai kemiripan dengan Sohye??"


Seketika mata Jungkook terbelakak bukan main. Dengan cepat ia langsung menepuk paha pria disampingnya itu dengan kesal.


"Kau bodoh?? Bisakah kau jangan dulu membahasnya didepan mereka."Bisik Jungkook kesal.


Seokjin dan Y/n pun menatap bingung kearah dua pria dihadapanya itu.


"Wae?? Kalian kenapa??" Tanya Seokjin.


Kedua pria itu seketika tersontak dengan pertanyaan Hyungnya itu. Dengan cepat mereka berusaha bersikap normal kembali agar Seokjin tidak curiga kepada mereka berdua.


"Ah, tidak Hyung!! Kami hanya sedang membicarakan seorang wanita." Jawab Jimin sambil tersenyum kaku.


"Benar Hyung, Jimin bilang dia menyukai salah satu tamu undangan disini." Sambung Jungkook, yang saat itu juga langsung mendapatkan tatapan sinis dari Jimin.


"Benarkah?? Siapa yang kau incar??" Tanya Seokjin sambil menatap intens kearah Jimin.


Jimin hanya menelan ludahnya pahit-pahit. Seakan bingung harus menjawab apa. Ia merasa sangat gugup saat melihat sorot mata Seokjin yang menatapnya tajam.


"Seokjin, aku ijin ketoilet dulu??" Ucap Y/n. Yang tiba-tiba memecah ketegangan.


"Mau kuantar??" Tawar Seokjin yang seketika menoleh kearah istrinya yang sudah berdiri.

__ADS_1


"Ah, tidak. Aku bisa pergi sendiri." Tolak Y/n.


Kedua sahabatnya itu lalu terkekeh lucu, saat melihat tingkah Hyungnya itu.


"Ya, Seokjin Hyung. Tentu Saja istrimu akan menolaknya. apa kau mau masuk kedalam toilet wanita ,eoh??"Ledek Jimin sambil terus membungkam mulutnya karena menahan tawa.


"Sudahlah Hyung, Y/n pasti tidak akan kenapa-napa. Bukankah begitu Y/n??" Tanya Jungkook beralih menatap Y/n.


Y/n lalu tersenyum simpul.


"Eoh, betul yang dikatan Jungkook. Aku bisa pergi sendiri. Kau tunggu saja disini, aku akan segera kembali." Ujar gadis itu, tampa basa-basi langsung berlalu pergi meninggalkan ketiga pria itu.


Setelah Punggung Y/n sudah tak terlihat, Seokjin kembali menatap tajam pria bernama Park Jimin itu.


"Apa kau sudah gila, eoh?? Aku mendengar semuanya. Kau barusan menyebut nama wanita itu, Eoh." Ucap Seokjin dengan sorot mata yang begitu kesal.


Jimin sedikit menurunkan wajahnya, tak berani menatap langsung pria dihadapannya.


"Hyung, aku benar-benar minta maaf. Aku tak sengaja, aku benar-benar kaget saat melihat sosok Y/n tadi, hingga aku tak bisa mengontrolnya." Jawab Jimin dengan raut wajah yang penuh sesal.


Seokjin lalu membuang nafas kasar, sambil memalingkan padangannya kearah lain.


"Bagaimana jika istriku mendengarnya?? Dia pasti akan curiga dan akan menanyakannya padaku." Pekik Seokjin.


Jungkook yang merasa suasana mulai tegang kembali, saat itu ia mencoba untuk mencairkannya.


"Sudahlah Hyung!! mungkin benar yang dikatakan Jimin Hyung. Dia memang tak sengaja mengatakannya. Aku pun juga pernah diposisi yang sama seperti Jimin Hyung. Hanya saja waktu itu aku masih bisa mengontrolnya. Dan--."


"Apa kalian berpikir, aku menikahi


Y/n karena dia mirip dengan wanita itu, hemm??" Tanya Seokjin seketika memotong perkataan Jungkook.


Seketika kedua pria itu dibuat bungkam dengan ucapan Seokjin. Dengan mata yang berhasil membulat sempurna. Mulut mereka terus terbuka karena tak menyangka Seokjin akan secepat itu menangkap apa yang sedang mereka pikirkan.


"Ti-tidak Hyung. Kami tidak pernah berfikiran seperti itu. Jelas istrimu lebih baik darinya." Jawab Jimin dengan gugup.


"Hyung, aku mohon jangan merusak suasana pesta malam ini!! Kita datang kemari untuk bersenang-senang bukan?? Dan Jimin Hyung juga sudah meminta maaf padamu tadi, jadi sudahlah akhiri perdebatan ini!! Yang ada istrimu malah akan curiga jika kau bersikap seperti ini terus." Jelas Jungkook sambil menepuk bahu Hyungnya itu.


Seokjin menarik nafas lelah, sambil tersenyum tipis. Menundukkan kepalanya sekilas. Dan kembali menatap sahabatnya itu.



"Baiklah, kali ini aku maafkan. Dan aku juga minta maaf karena terlalu sensitif pada kalian. Aku hanya takut istriku akan kecewa, jika tahu masa laluku. Dan aku mohon!! Jangan pernah lagi kalian membahas tentang wanita itu. Terutama untukmu Jimin-si, bisakah kau tidak asal bicara lagi." Jelas Seokjin sambil mengambil segelas minuman diatas meja.


Jimin langsung mengangkat kedua matanya, menatap Hyungnya itu.


"Ingat jaga ucapanmu Jimin Hyung!!" Ucap Jungkook sambil menyiku lengan sahabatnya itu.


"Baik, aku mengerti. Aku benar-benar tak menyangka Seokjin Hyung sangat menakutkan jika sedang marah." Gumam Jimin sambil menundukan kepalanya.


Seokjin dan Jungkook hanya bisa terkekeh saat mendengar gumaman sahabatnya itu. Selang beberapa menit, tiba-tiba Jimin mulai mengangkat wajahnya kembali melihat kearah Seokjin.


"Oyah, Hyung. Apa pekerjaanmu sekarang baik-baik saja??" Tanya Jimin mencoba memulai pembicaraan kembali.


"Emm,, pekerjaanku saat ini baik-baik saja." Jawab Seokjin sambil meneguk minumannya.


"Lalu kau bagaimana?? Apa kau berencana untuk kembali pergi keluar negeri??" Sambung Seokjin menatap intens sahabat itu.


"Eoh, kurasa untuk beberapa tahun ini aku akan menetap disini dulu Hyung. Ayahku terus memaksaku untuk melanjutkan bisnisnya yang sempat tertunda. Aku tidak bisa menolaknya." Jawab Jimin sambil menuangkan bir kedalam gelasnya.


"Eoh, apa kau akan beralih profesi??" Tanya Jungkook.


Jimin hanya menganggukan kepalanya, sambil meneguk bir yang baru saja ia tuangkan.


"Kalau boleh tau, bisnis apa yang akan kau kerjakan??" Sambung Seokjin.


"Komponen Tv xxx." Jawab Jimin dengan cepat.


Seokjin sempat terdiam, ia seperti sedang mengingat-ingat sesuatu. Seperdetik ia kembali bicara.


"Bukankah perusahaan yang mengelola komponen Tv xxx itu hanya dikerjakan oleh perusahaan Park TXV??" Tanya Seokjin.


"Eoh, itu memang perusahaan ayahku, Hyung." Ungkap Jimin dengan santai.



Seokjin seketika terbelakak. Terkecuali Jungkook, ia memang sudah mengetahuinya.


"Benarkah?? Kenapa aku baru mengetahuinya, kalau kau adalah anak CEO dari perusahaan TXV." Ucap Seokjin.


"Hyung, apa kau benar-benar tidak tau?? Eoh, tapi itu wajar juga. Kalian berduakan memang jarang sekali bertukar informasi pribadi. Wajar bila Seokjin Hyung akan kaget." Jelas Jungkook.


"Bukan. Aku kaget bukan karena itu. Tapi aku kaget, karena perusaahan Park TXV itu bulan depan akan bekerja sama dengan perusahaan lamaku." Jelas Seokjin.

__ADS_1


"Benarkah?? Bukankah itu ide yang bagus?? Kita akan jadi sering bertemu." Ungkap Jimin antusias.


Dengan cepat Seokjin langsung menggelengkan kepalanya.


"Tidak, aku sudah lama tidak mengurus perusahaan disana. Perusahaan itu sudah dipegang oleh ayah tiriku, semenjak aku memegang perusahaan kakekku." Jelas pria tampan itu.


"Lalu, jadi aku harus bekerja sama dengan ayah tirimu Hyung?? Aigoo bukankah ayah tirimu sama liciknya dengan anaknya, siapa namanya??" Ujar Jimin sambil meletakan gelasnya keatas meja.


"Namjoon maksudmu??" Jawab Jungkook.


"Eoh, benar!! Apa kau tidak salah sudah mempercayakan perusahaanmu padanya Hyung??" Tanya Jimin kembali.


"Aku sudah membuat rencana agar ayah tiriku tersingkir dari perusahaan itu." Jawab Seokjin sambil tersenyum remeh.


"Wae?? Maksudmu bagaimana?? Kau sendiri bukan yang meminta ayah tirimu untuk memegang perusahaanmu yang dulu, tapi kau juga yang ingin menyingkirkannya kembali. Aku benar-benar tak mengerti dengan maksudmu Hyung." Ujar Jungkook sambil mengkerutkan keningnya.


"Itu hanya permainanku saja, aku hanya menjaga citraku sebagai CEO ternama dimata karyawanku. Jadi aku terpaksa melakukanya, karena aku tau. Jika aku tidak menjadikan ayah tiriku sebagai direktur disana, reputasiku akan jelek dimata orang-orang. Tapi kau tenang saja Jimin. Sebelum kerja sama perusahaanmu dimulai, semuanya akan berubah, dan akan kupastikan ayah tiriku sudah tidak ada disana lagi." Tutur Seokjin sembari tersenyum simpul.


"Maksudmu Hyung??" Tanya Jimin kebingungan.


"2hari lagi perusahaan itu akan ada manager baru, dan dia adalah kakak iparku."


"Maksudmu kakaknya Y/n??" Tanya Jungkook.


Seokjin menganggukan kepalanya.


"Eumm,, aku akan menyingkirkan ayah tiriku lewat Yoongi kakaknya Y/n. Tentunya dengan cara yang halus, untuk memulai permainannya." Jawab Seokjin.


"Aku hanya berharap yang terbaik saja Hyung untukmu." Ujar Jimin.


"Hemm, Dan kau Park Jimin. Kuharap nanti kalian bisa bekerja sama dengan baik." Pinta Seokjin menatap Jimin dengan penuh harap.


Jimin lalu tersenyum lebar.


"Siap Hyung. Aku akan menjadi rekan bisnis yang baik, he." Jawab pria berwajah imut itu.


"Lalu bagaimana perkerjaanmu Jungkook-si??" Tanya Seokjin seketika beralih melihat kearah Jungkook.


"Ah, pekerjaanku masih sama saja, tidak ada yang berubah." Jawab Jungkook dengan santai.



Semua hanya mengangguk mengerti, dan langsung meneguk minuman mereka masing-masing.


Tiba-tiba ada seorang wanita cantik, bertubuh tinggi semampai datang menghampiri mereka berdua.


"Permisi, apa aku boleh bergabung dengan kalian??" Ujar wanita itu. Yang sontak membuat ketiga pria itu menatap heran kearahnya.



Ketiga pria itu hanya saling melemparkan tatapan bingung, dengan kening yang mengerenyit. Tak memberi jawaban apapun kepada sosok wanita yang sedari tadi menunggu persetujuan mereka. hingga saatnya.


"Ah, maaf. Apa kedatanganku membuat kalian tidak nyaman??" Tanya wanita itu.


Ketiga pria itu lagi-lagi dibuat terbelakak dengan pertanyaan wanita itu.


"Ah, tidak-tidak. Silahkan duduk." Jawab Jungkook dengan cepat.


Wanita itu pun tersenyum senang, dan dengan cepat ia langsung duduk disamping Seokjin.


Seketika Seokjin pun tertegun kaget, sembari menoleh kearah dua sahabatnya yang juga menatap bingung wanita disampingnya itu.


Dengan cepat Seokjin langsung menggeser duduknya sedikit menjauh. Karena jujur saja saat itu ia merasa sangat tidak nyaman. Namun tampa rasa malu wanita itu malah makin menempel disamping Seokjin.


Melihat ekpresi Hyungnya yang saat itu sangat tidak nyaman, Jimin mencoba mengalihkan suasana.


"Eoh, maaf Nona. Kalau boleh tau namamu siapa?? Dan kau datang bersama siapa disini??" Tanya Jimin.


"Oh, maaf aku sampai lupa memperkenalkan diriku. Namaku Nancy, aku datang bersama ayahku." Jawab wanita itu, dan langsung menoleh kearah Seokjin yang sedang memasang wajah canggung.


"Oppa, boleh tau namamu siapa??" Tanya gadis itu yang dengan tidak sopannya langsung memegang tangan pria tampan disampingnya itu.


Seokjin lalu melepaskan pegangan tangan wanita itu, sembari tersenyum paksa.


"A-aku Kim Seokjin." Jawabnya singkat dan langsung memalingkan wajahnya kembali.


"Wah, nama yang indah." Jawab gadis itu yang malah semakin tidak sopannya menempel erat disamping Seokjin.


Jimin dan Jungkook hanya saling melemparkan tatapan bingung, saat melihat gadis itu yang malah semakin menempel kepada Seokjin.


"Nona aku rasa kau terlalu--."


"KIM SEOKJINNNNNNNNN."

__ADS_1


Panggil Y/n yang tiba-tiba datang dengan raut wajah kesal.


Bersambung...


__ADS_2