
POV AUTHOR.
"Solbin?? Maksudmu??" Tanya Y/n dengan salah satu alisnya yang terangkat.
"Hemm, ini ada kaitannya juga dengan penculikan Nuna." Jelas Namjoon.
"Wae?? Penculikan?? Maksudmu Solbin ada dibalik penculikkanku??" Tanya Y/n kembali.
"Ne." Jawabnya sembari menurunkan wajahnya.
Y/n lalu membuang nafas jengah, dengan kedua tanganya yang meremas rambutnya kesal.
"Aku sudah menduganya sejak awal." Gerutu wanita itu.
"Emm, Nuna!! Kedatanganku kemari, sebenarnya aku ingin meminta maaf pada Nuna." Ucap Namjoon dengan gugup.
Manik wanita itu pun, seketika menatap intens pria yang kini sudah menjadi adik iparnya itu.
"Minta maaf untuk apa??"
"A-aku minta maaf, karena sebelumnya aku juga terlibat dalam rencana penculikan Nuna."
"Apa??" Teriak Y/n terbelakak kaget, sembari bangkit dari duduknya.
Namjoon pun langsung tersontak dengan teriakan kakak iparnya itu.
"Nuna, kumohon dengarkan dulu penjelasanku!! Aku benar-benar menyesal Nuna. Dan aku mohon Nuna jangan marah dulu!! Beri aku kesempatan untuk menjelaskannya!! Aku mohon Nuna." Bujuk pria itu, dengan sorot mata yang benar-benar memohon.
Y/n lalu membuang nafas kasar, dan dengan terpaksa ia pun kembali duduk. Karena jujur saja ia juga ingin mengetahuinya lebih jelas.
"Lanjutkan!!" Pinta Y/n dengan dingin.
Namjoon lalu menggangukan kepalanya tanpa melihat kearah Y/n.
"Apa Nuna tau bahwa aku dan Seokjin Hyung tidak akur??"
Y/n pun mengkerutkan keningnya seketika.
"Wae?? Kau dan Seokjin tidak akur?? Kenapa??" Tanya wanita itu penasaran.
"Hemm,,kami sudah tidak akur kurang lebih 5tahun yang lalu. Dan apa Nuna juga tau?? Aku bukan adik kandungnya." Ujar Namjoon, yang kini sudah berani menatap kakak iparnya itu.
"Wae?? Ya!! Kenapa aku tidak mengetahui semua ini?? Kenapa Seokjin tidak pernah menceritakan tentang keluarganya padaku??" Gerutu Y/n saat itu juga.
"Ah, aku sudah menduganya. Tapi kurasa Seokjin Hyung terpaksa melakukannya. Mungkin dia hanya tidak ingin membebani Nuna dengan masalahnya." Jelas Namjoon.
"Mungkin?? Aisss, tapi aku juga kena imbasnya. Justru karena aku tidak mengetahui apa-apa. Aku jadi tidak mengerti kenapa aku yang harus menjadi sasaran kalian, eoh??" Tekan Y/n dengan kesal.
"Ah, maafkan aku Nuna."
"Sudah!! Jangan terus meminta maaf padaku!! Sekarang apa kau bisa ceritakan awal permasalahanmu dengan Seokjin!! Dan kenapa Solbin bisa berniat untuk menculikku??"
"Tentu Nuna, aku akan menjelaskan semuanya padamu!!" Jawab Namjoon dengan cepat.
Y/n pun hanya menganggukan kepalanya, dengan sorot matanya yang sudah siap mendengarkan penjelasan adik iparnya itu.
Saat itu pun, Namjoon langsung menceritakan awal ia bertemu dengan Seokjin. Hingga rasa bencinnya karena Solbin lebih menyukai Seokjin. Ceritanya sangat sama persis dengan cerita yang pernah Seokjin ceritakan pada Yoongi waktu itu.
Hingga akhirnya Namjoon pun sudah selesai dengan ceritanya.
"Jadi begitulah Nuna, awal permasalahan kami." Ucap Namjoon mengakhiri ceritanya.
Y/n lalu menghelas nafas berat.
"Aigoo, bisa-bisanya kau bertingkah sebodoh itu, eoh?? Hanya karena kau mencintai gadis jahat itu, kau rela membenci kakakmu sendiri. Pantas saja Seokjin selalu memintaku untuk menjauhimu." Pekik wanita itu sembari memijat pelan keningnya dengan jari-jari tanganya.
"Hemm, aku memang bodoh Nuna. Dan aku benar-benar menyesalinya." Lirih Namjoon dengan nada parau.
"Kenapa kau baru menyesalinya sekarang?? Bukankah kau sangat mencintai wanita ular itu?? Eoh, maaf maksudku Solbin." Cetus Y/n sembari menatap intens pria dihadapannya itu.
"Dia tidak membalas cintaku Nuna, Dia ingkar janji padaku." Jawab Namjoon sembari menurunkan wajahnya kembali.
"Eoh, jangan bilang karena cintamu tak terbalaskan!! Lalu kau ingin balas dendam padanya. Dan akhirnya kau memberitahukan semuanya padaku."
"Tentu saja tidak Nuna!! Sebelum penculikan Nuna terjadi, saat itu aku sudah ragu untuk membantunya. Bahkan berkali-kali aku mencoba untuk menghalangi niat jahatnya itu. Tapi aku tidak berhasil." Jelas Namjoon yang sedikit merendahkan suaranya diakhir kalimatnya.
"Wae??" Tanya Y/n menatap tajam kearahnya
"Dia dibantu ayahnya Nuna."
"Apa??" Teriak wanita itu kembali dengan bola matanya yang membulat sempurna.
"Aiss, Nuna aku mohon jangan sering berteriak!! Nanti orang-orang disini bisa mendengarnya." Pinta Namjoon dengan wajah sedikit panik.
"Eoh, maaf!! Aku terlalu syok karena ceritamu. Sudah kau teruskan kembali ceritamu!!" Ujar Y/n sembari mengatur nafasnya kembali.
"Saat itu ayahnya Solbin hanya meminjamkan kedua anak buahnya saja untuk membantu rencana anaknya itu. Selebihnya Solbinlah yang banyak mengambil peran disana. Awalnya semua berjalan dengan lancar, hingga saatnya. Anak buah Enwoo terus mencari kebeneran tentang penculikanmu. Dan tentu saja itu membuat Solbin ketakutan. Sejak saat itu aku selalu membujuknya untuk meminta maaf padamu, tapi ia tetap tidak mau. ia malah---."
"Malah apa Namjoon?? Kenapa kau berhenti??" Tekan Y/n menatap tajam Namjoon saat itu.
"Solbin malah, membayar seseorang untuk menutupi kejahatannya."
"Tunggu!! Apa yang kau maksud menutupi kejahatannya?? Apa pria tua yang mengirimi surat padaku waktu itu, ada kaitanya dengan Solbin??" Potong Y/n saat itu.
Kedua mata Namjoon pun terangkat kearahnya.
__ADS_1
"Nuna sudah tau??" Tanya Namjoon dengan sorot matanya yang penuh tanda tanya.
"Eoh, aku sudah tau." Jawab Y/n sembari menarik nafas jengah.
"Jika Nuna sudah tau, kenapa Nuna tidak mengakuinya saja. Dan kenapa Nuna malah berpura-pura mengenal pria tua itu??" Tanya Namjoon penuh penekanan.
"Itu--itu karena aku mempunyai alasan tersendiri Namjoon. Aku terpaksa berbohong. Karena Jika aku mengatakan yang sebenarnya, Seokjin pasti tidak akan mengijinkanku untuk keluar kembali. Dan aku juga tidak mungkin harus terus-menerus terkurung dirumah itu. Dan sejak saat itulah, aku memutuskan untuk mencari taunya sendiri." Jelas Y/n.
"Aku mengerti sekarang Nuna. Aiss, Solbin dia benar-benar sudah menyusahkan semua orang saja." Gerutu Namjoon saat itu dengan kesal.
Y/n lalu menatap kembali kearah Namjoon.
"Tapi, jika boleh tau!! Kenapa pria itu bisa diponis mati karena bunuh diri?? bagaimana Solbin bisa melakukan rencananya dengan begitu rapih?? Dan tentang surat itu??"
"Pria tua itu adalah salah satu anak buah ayahnya. Dan saat itu ia sangat membutuhkan uang untuk pengobatan istrinya yang sedang koma. Dan Solbin pun menawarkan sejumlah uang yang cukup besar pada pria tersebut. Tentu saja pria tua itu langsung menyetujuinya begitu saja, karena didalam pikirannya saat itu hanya kesembuhan istrinya. Awalnya Solbin tidak berniat untuk membunuh pria tua itu, namun dengan tiba-tiba pria itu sendirilah yang menawarkan nyawanya untuk mendapatkan uang tersebut."
"Apa?? Pria itu rela mati demi uang??" Tanya Y/n tak percaya.
"Hemm, pria tua itu terpaksa melakukannya. Karena saat itu ia juga bingung darimana ia akan membayar uang tersebut, jika bukan dengan menukar nyawanya sendiri. Sejak saat itulah Solbin melanjutkan aksi jahatnya. Dia menyetting semuanya dengan baik, pria itu dibunuh dengan cara digantung diri agar terkesan ia mati karna bunuh diri. Dan surat itu?? Asal Nuna tau!! Surat itu adalah tulisan tangan Solbin sendiri, dialah yang menulis semua isi dalam surat tersebut."
"Wae?? Dia benar-benar berniat melakukannya??" Ketus Y/n dengan geram.
"Eoh, tapi Nuna juga musti tau!! Surat yang Nuna baca itu, sebenarnya adalah ungkapan rasa bersalah Solbin yang sebenarnya. Dia benar-benar menyesali perbuatannya."
Y/n seketika terkekeh kesal.
"Hahhh, dia menyesali perbuatannya?? Tapi dia juga tega membunuh pria yang tak berdosa. Lalu bagaimana dengan nasib istrinya saat ia terbangun nanti??"
"Istrinya sudah meninggal Nuna. Istrinya saat itu tidak tertolong." Jawab Namjoon dengan cepat.
"Apa?? Meninggal??" Tanya Y/n tercengang.
Namjoon lalu menganggukan kepalanya dengan cepat.
"Ne, tapi semua biayaya rumah sakitnya sudah ditanggung oleh Solbin. Dia menepati janjinya pada pria itu." Jelas pria itu.
Y/n lalu menghelas nafas berat.
"Aku jadi merinding setelah mengetahui semuanya. Solbin dia ternyata sangat menakutkan." Gumam wanita itu.
"Nuna jangan hawatir!! Jika Nuna ingin melanjutkannya kejalur hukum, aku bersedia untuk menjadi saksi dipengadilan nanti." Tawar Namjoon dengan senang hati.
"Eoh, aku akan pikirkan lagi nanti. Lalu rencanamu apa sekarang Namjoon??" Tanya Y/n seketika memalingkan pembicaraan.
"Rencana?? Rencana besok aku akan pulang ke Jepang bersama ayahku Nuna." Jawab Namjoon sembari tersenyum.
"Wae?? Untuk apa kau pulang ke Jepang?? Dan kenapa ayahmu juga ikut?? Bukankah ayahmu sekarang sudah memegang salah satu perusahaan Seokjin??" Tanya Y/n kebingungan.
"Satu minggu yang lalu kakekku di Jepang meninggal dunia, dan perusahaannya tidak ada yang mengelola. Jadi aku dan ayah terpaksa harus menggantikan posisi beliau." Jelas Namjoon.
"Ibu tidak ikut. Karena ia harus tetap tinggal disini untuk menjaga kakek."
"Eoh, kau benar!! Orang tua Enwoo kan ada di Jerman. Mereka tidak mungkin bisa menjaga kakek, selain Ibunya Seokjin." Ujar Y/n sembari menganggukan kepalanya.
"Benar Nuna!! Dan aku mohon, setelah aku dan ayah pergi nanti. Tolong sampaikan permohonan maafku pada Seokjin Hyung!!" Pinta Namjoon sembari menatap harap pada kakak iparnya itu.
"Wae?? Kenapa kau tidak langsung menemuinya??" Tanya Wanita itu dengan satu alisnya yang terangkat.
"Ahh, kurasa aku belum berani untuk menemuinya. Aku takut dia masih membenciku. Untuk bertemu denganmu saja, aku sangat gugup." Jelas Namjoon dengan wajahnya Yang menunduk.
Y/n dengan cepat langsung menepuk bahu adik iparnya itu.
"Baiklah, aku mengerti. Aku akan coba bicara padanya nanti." Ujar Y/n dengan lembut.
Seketika manik Namjoon pun menatap binar kearah Y/n.
"Benarkah?? Gomawo Nuna, aku sangat senang mendengarnya. Seokjin Hyung memang tidak salah memilihmu sebagai istrinya. Kau orang yang sangat berhati baik." Tuturnya dengan raut wajah begitu senang.
"Eoh, kau terlalu berlebihan. Kau juga sebenarnya anak yang baik Namjoon. Hanya saja kau salah dalam melangkah." Jelas Y/n.
"Hemm, kurasa juga begitu."
"Yasudah, sebaiknya kita segera makan makanan kita!! Sedari tadi kita hanya sibuk berbicara. Lihatlah!! Makanannya sampai dingin seperti ini." Ajak wanita itu dengan senyuman manis diwajahnya.
"Ouh iya, aku sampai lupa. Kalau begitu kita makan sekarang!!" Balas Namjoon yang tak kalah memberikan senyumannya.
Mereka pun akhirnya menyantap makanan mereka, di akhir perbincangan mereka.
...
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Keesokan harinya.
Jam 08:00 pagi.
Seokjin, Y/n dan Enwoo sedang sarapan didapur.
Mereka sedang sibuk menyantap makanan mereka masing-masing di meja makan.
Y/n saat itu duduk disamping suaminya. Terlihat berkali-kali bola matanya melirik kearah suaminya tersebut.
Hingga akhirnya.
"Seokjin." Panggilnya tiba-tiba.
Seokjin pun hanya berdeham sebagai jawabannya.
"Apa kau tau, Namjoon dan ayahnya akan pulang ke Jepang pagi ini??"
"Uhukk,, Uhukk."
Seketika Seokjin langsung tersedak, setelah mendengar perkataan istrinya itu.
Manik Y/n dan Enwoo pun seketika tersontak kaget. Dan dengan cepat Y/n pun langsung memberikan air minum pada suaminya itu.
"Aigoo, kau kenapa eoh?? Cepatlah minum air ini!!" Suruh Y/n dengan panik.
Seokjin dengan cepat langsung meminum segelas air tersebut. Ia lalu memukul-mukul dadanya dengan raut wajah yang memerah. Setelah ia selesai minun, maniknya pun langsung tertuju pada istrinya kembali.
"Kau tau darimana mereka akan pergi ke Jepang??" Tanya Seokjin menatap tajam Y/n saat itu.
"Eoh, itu. Namjoon memberitahuku kemarin, dan----."
Belum saja Y/n menyelesaikan perkataannya. Seokjin langsung bangkit dari duduknya dan pergi kedalam kamarnya.
Y/n pun langsung ikut bangkit dari duduknya.
"Ya!! Seokjin-ah. Kau mau kemana??" Panggil Y/n dengan panik.
Enwoo pun terhenti dari santapannya.
"Apa dia benar-benar sangat membeci kedua pria itu?? Sampai-sampai dia tidak mau mendengar nama mereka." Gumam Enwoo dengan jari-jarinya yang mengetuk-ngetuk meja makan.
Sedangkan Y/n, ia hanya menghelas nafas berat, lalu duduk kembali dikursinya.
"Enwoo-na. Apa aku salah bicara??"
Tanya Y/n frustasi.
Enwoo lalu menoleh kearah wanita dihadapannya itu.
"Tidak!! Kurasa Seokjin Hyung yang terlalu berlebihan." Jawabnya dengan santai.
Y/n hanya terdiam tanpa kata. Sedangkan Enwoo, dia kembali menyantap makanannya.
Sepermenit kemudian, Seokjin turun kembali dari kamarnya dengan tergesa-gesa.
Manik Y/n dan Enwoo pun kembali menoleh kearahnya.
"Kau mau kemana Seokjin??" Tanya Y/n bangkit dari duduknya kembali.
Seokjin lalu menoleh kearahnya dengan intens.
"Cepat ganti pakaianmu!! Kita akan pergi kebandara sekarang." Jawab pria itu dengan wajah datar.
Kedua alis wanita itu pun terangkat keatas.
"Bandara?? Mau apa kita kesana??"Tanya Y/n kebingungan.
"Tentu saja kita akan mengantarkan ayah dan juga Namjoon." Jawab Seokjin dengan cepat.
"APA??" Teriak Y/n dan Enwoo secara bersamaan dengan raut wajah tercengang hebat.
"Wae?? Kalian kenapa?? Apa aku salah bicara?? Dan kau sayang. Apa kau tidak mau ikut?? Yasudah kalau begitu aku akan pergi sendirian sa--"
"Tidak-tidak. Aku mau ikut. Sebentar aku akan ambil jaketku dulu." Potong Y/n dengan tiba-tiba. Ia pun dengan cepat langsung pergi kedalam kamarnya.
Setelah Y/n pergi, Enwoo dan Seokjin pun saat itu hanya saling bertatap wajah dengan ekpresi yang berbeda.
Seokjin menatap datar Enwoo. Sedangkan Enwoo menatap bingung Seokjin.
Seketika pandangan mereka buyar. Saat Y/n sudah turun dari kamarnya.
"Aku sudah siap, ayo kita pergi." Ajak Y/n sembari menggandeng tangan suaminya itu.
"Baiklah." Jawab Seokjin sembari tersenyum. Lalu maniknya tertuju kembali pada Enwoo.
"Enwoo-na. Aku dan Y/n pergi dulu." Sambungnya, sembari pergi bersama istrinya saat itu juga.
Enwoo pun hanya menganggukan kepalanya.
"Apa aku tidak salah dengar?? Eoh, sudahlah!! Bukankah itu hal yang bagus." Gumamnya, dan kembali menyantap makanannya.
...
Bersambung.....
__ADS_1