Puisi

Puisi
EPS 50


__ADS_3

POV AUTHOR.


Y/n lalu membalas senyuman Seokjin.


"Eoh, benarkah? Kenapa kau bisa berpikir bahwa Solbin yang sudah menculikku??" Tanya Y/n, yang penuh tanda tanya.


Seokjin lalu mengangguk mantap, sembari mengangkat kedua matanya menatap gadis dihadapannya.


"Iya benar!! Bahkan aku dan Enwoo sempat membahasnya waktu itu. Hanya saja saat itu kami berdua tidak mempunyai bukti untuk menuduh Solbin. Agrhhh untung saja kasus ini sudah terselesaikan. Jika belum, yang ada nanti aku malah terus menuduh Solbin yang bukan-bukan."Jelas pria itu dengan rasa sesal terlihat diwajahnya.


Y/n hanya bisa tersenyum paksa saat mendengar jawaban dari suaminya itu. Jujur saja saat itu ia merasa sangat sedih, saat Seokjin terus mengungkapkan rasa sesalnya yang sudah menuduh Solbin. Tapi Gadis itu juga tidak bisa berbuat apa-apa. Wajar baginya jika Seokjin berpikiran seperti itu, karena memang Seokjin tidak mengetahui kebenarannya.


Walau pun dalam hatinya, ia ingin sekali mengatakan yang sesungguhnya pada Seokjin saat itu juga. Tapi itu tidak mungkin. Dia belum mempunyai bukti yang kuat untuk menuduh Solbin. Terutama memang ada alasan lain mengapa ia harus berpura-pura tidak tau. Ya untuk apa lagi dia berbohong, kalau bukan ingin menyelesaikan masalahnya dengan Taehyung.


Y/n pun saat itu berusaha bersikap normal kembali, agar Seokjin tidak curiga dengan sikapnya. Ia lalu mencoba bertanya kembali, melanjutkan pembicaraannya barusan.


"Kenapa kau bisa curiga kalau Solbin adalah pelakunya, hemm??" Tanya Gadis itu.


Seokjin lalu memiringkan kepalanya, sambil berdecak kesal.


"Wae?? Apa kau lupa?? Tentu saja aku akan mencurigainya karena kau tau sendiri. Solbin adalah orang yang paling menentang pernikahan kita. Aku kira dia akan balas dendam padamu karena kau sudah menjadi istriku." Jelas Seokjin.


"Kau benar Seokjin. Ucapanmu memang benar. Dan aku yakin itulah alasan mengapa Solbin ingin mencelakaiku." Gumam dalam hati gadis itu.


Y/n lalu menatap intens kembali suaminya itu.


"Ah,sudahlah!! Kurasa semua masalah ini juga sudah selesai. Lebih baik kita pergi kekamar saja untuk beristirhat!! Bagaimana?? Aku sudah sangat lelah untuk hari ini." Ajak Y/n sambil berdiri mendahului Seokjin.


Seokjin pun menonggakan wajahnya kearah istrinya, dan langsung menyusul bangkit dari duduknya.


"Baiklah, aku juga sudah sangat lelah. Kalau begitu ayo kita pergi kekamar!! Kita beristirhat sampai besok siang." Ajak balik Seokjin, yang langsung menggemgam tangan wanitanya, dan membawanya pergi kekamar mereka.


"Apa kau sedang mau latihan mati??"Tanya Y/n saat menaiki anak tangga.


Seokjin seketika tehenti dari langkahnya, dan menatap kaget istrinya itu.


"Wae?? Maksudmu latihan mati bagaimana??" Tanya Seokjin kebingungan.


Y/n lalu membalikan badanya menghadap kearah Seokjin.


"Tadi kau bilang ingin beristirahat sampai besok siang. Apa kau akan benar-benar terus tertidur sampai besok siang hemm?? Bukankah itu sama saja kau sedang latihan untuk mati??" Ledek Gadis bertubuh mungil itu.


Seokjin seketika tertegun. Dan beberapa detik kemudian ia baru mengerti dengan maksud perkataan istrinya itu.


"Wae?? Apa kau mendoakanku agar cepat mati, eoh??" Ungkapnya sedikit kesal.


"Tidak. Sudahlah aku mau kekamar!!" Jawab Y/n yang langsung meninggalkan suaminya itu.


Dengan cepat Seokjin pun langsung segera menyusul istrinya itu dengan wajah sedikit kesal, Setiap langkah selalu ia hentikan dengan pertantanyaan-pertanyaan konyolnya itu. Y/n hanya bisa terkekeh gemas dengan tingkah Seokjin saat itu.


...


Keesokan harinya, tepat jam 09:00 pagi.


Disebuah butik milik Jungkook.

__ADS_1


"Waw, sejak kapan kau kembali dari Indonesia??" Tanya Jungkook antusias saat melihat sosok Jimin datang kebuktiknya.


Jimin lalu berhenti tepat dihadapan Jungkook. Terlihat ia begitu keren dengan kaca mata hitam yang menghiasi wajah imutnya.


"Apa kau tidak akan mempersilahkanku untuk duduk terlebih dahulu??" Tanya Balik Jimin sambil menyedekapkan kedua tangan didadanya.


Jungkook langsung tertegun sambil terkekeh. Ia lalu menepuk keningnya dan menatap kembali sahabatnya itu.


"Eoh, maafkan aku Hyung. Saking kagetnya melihatmu ada dibutikku, aku sampai lupa. Kalau begitu ayo kita duduk diruang pribadiku!!" Ajak Jungkook yang langsung berjalan pergi menuju ruangannya.


Jimin pun mengangguk sembari tersenyum sekilas dan langsung mengikuti arah Jungkook pergi.


...


Beberapa saat kemudian Mereka berdua pun sudah duduk disebuah sofa diruangan khusus milik Jungkook.


Jimin lalu menyenderkan punggungnya kesofa, dengan kedua tangan yang terlentang diatas dasar sofa sebagai sandarannya.


Jungkook lalu menyuguhkan secangkir kopi panas di atas meja, tepat dihadapan mereka. Ia pun duduk disamping Jimin dan menoleh kearahnya.


"Jadi, sejak kapan Jimin Hyung pulang kemari??" Tanya Jungkook mengawali pembicaraan.


"Kemarin. Jujur kedatanganku kemari, aku masih kesal dengan Seokjin Hyung." Cetus pria itu sembari membuka kaca mata hitamnya.


"Wae??" Tanya Jungkook dengan polos.


"Aku kesal, karena saat itu dia tidak datang keacara pesta yang ku adakan 2bulan yang lalu. Bukankah dia sudah berjanji akan datang bersama istrinya?? Dia benar-benar sudah ingkar janji. Padahal aku sangat berharap dia akan datang bersama istrinya." Gerutu Jimin.


Jungkook sempat tertegun. Ia pun mencoba mengingat kembali alasan kenapa Seokjin tidak bisa datang saat acara pesta Jimin diadakan saat itu.


"Eoh, maafkan aku Hyung!! Aku rasa ini semua salahku. Saat itu aku lupa memberi tahumu, bahwa Seokjin Hyung sudah menitipkan pesan padaku. Dia bilang dia tidak bisa datang, karena saat itu istrinya sedang ada dalam masalah." Jelas Jungkook sembari mengusap-ngusap tengkuk lehernya karena merasa tak enak hati.


Jimin langsung menegakan tubuhnya kembali dan menatap tajam pada pria berwajah kelinci itu.


"Wae?? Memangnya istri Seokjin Hyung kenapa?? Aiss, kenapa aku tidak tau apa-apa??" Tanya Jimin sedikit kesal.


"Aku juga kurang tau. Tapi menurut kabar yang ku tau. Saat itu istri Seokjin Hyung pernah diculik seseorang. Bahkan setelah kejadian itu, Seokjin Hyung tidak pernah lagi mengontekku. Dia sangat fokus pada istrinya." Jawab Jungkook kembali.


Jimin lalu membuang nafas berat, sembari menopang dagunya dengan punggung tangannya.


"Apa sebaiknya kita pergi saja kerumahnya?? Aku ingin sekali bertemu dengannya. Tapi. Ah, kurasa tidak perlu kerumahnya juga." Ungkap Jimin.


Jungkook lalu mengangkat kedua alisnya.


"Kenapa lagi??" Tanyanya.


"Karena minggu ini aku akan mengadakan pesta lagi, anggap saja ini pesta perayaanku yang sudah kembali ke Korea." Jawab Jimin kembali.


"Kau ternyata suka sekali membuat acara pesta Hyung." Balas Jungkook sambil terkekeh.


"Eoh, itu sudah menjadi kebiasaanku. Kau juga tau sendiri, sedari dulu aku memang sudah sangat menyukai pesta."


Jungkook pun mengangguk mengerti.


Diarah lain Jimin kembali melihat sahabatnya itu dengan semangat.

__ADS_1


"Eoh, dan aku minta tolong!! Nanti kau saja yang menghubungi Seokjin Hyung, untuk datang keacara pestaku. Dan juga tolong katakan padanya!! Tidak ada penolakan kali ini. Aku tidak mau tau. Dia harus datang bersama istrinya!!" Pinta Jimin penuh penekanan.


"Ya!! Kenapa kau menyuruhku?? Kenapa kau tak menghubunginya sendiri?? Hyungkan juga punya nomer ponselnya?? Kenapa mesti aku??" Cetus Jungkook menatap malas sahabatnya itu.


"Wae?? Apa kau lupa?? Seokjin Hyung sangat sulit untuk dihubungi. Waktu itu saja aku pernah menghubunginya untuk membelikanku obat sakit perut. Dia malah baru membalasnya satu minggu kemudian. Apa kau bisa bayangkan?? Bagaimana jika aku mati karena menahan mules pada perutku, Eoh?? Aku benar-benar seperti kentang dimata Seokjin Hyung. Sebegitunya dia mengabaikan pesan dariku. Aku sangat terluka saat itu." Keluh Jimin sambil memanyunkan bibirnya.


Jungkook pun langsung tertawa terbahak-bahak mendengar keluhan sahabatnya itu.


Jimin yang merasa bingung dengan tingkah Jungkook, ia pun langsung menatap aneh sahabatnya itu. Dan langsung menepuk pundak Jungkook dengan kesal.


"Ya!! Kenapa kau menertawaiku?? Memangnya ada yang lucu, hohhh??" Tanya Jimin dengan nada kesal.


Jungkook pun mulai mengehentikan tawanya perlahan. Dengan jari telunjuk yang mengusap air matanya yang mulai keluar dari ujung matanya, karena saking enaknya tertawa.


"Ya!! Jimin-si. Apa kau pikir Seokjin Hyung itu pembantumu, Eoh?? Tentu saja dia tidak akan merespon pesanmu. Karena kau memintanya untuk membelikan obat sakit perut. Dia pasti merasa direndahkan, masih untung kau mendapatkan balasan pesan darinya, walaupun baru satu minggu ia baru membalasnya. Apa kau lupa?? Seokjin Hyung itu sekarang adalah pengusaha besar dikorea selatan. Maka wajar saja jika Seokjin Hyung akan bersikap seperti itu. kau ini ada-ada saja." Jelas Jungkook sambil menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tertawa kecil.


"Wae?? Tapi kenapa saat Sohye memberinya pesan atau pun menelponnya sekedar untuk membelikan jus, ataupun cemilan. Seokjin Hyung selalu cepat merespontnya, dan selalu mengabulkannya. Apa itu adil?? Aku kan juga sahabatnya." Keluh Jimin dengan sebal.


Jungkook sempat tersontak saat mendengar Jimin menyebut seorang nama wanita itu.


"Tentu saja Seokjin Hyung akan bersikap seperti itu. Kau tau sendiri Sohye adalah wanita yang paling Seokjin Hyung cintai. Jadi sudah pasti Seokjin Hyung akan selalu mempeoritaskan Sohye dari apapun. Termasuk kau Hyung." Jelas Jungkook.


"Hahh,, peoritas apanya?? Buktinya perempuan itu malah meninggalkan Seokjin Hyung saat Seokjin Hyung benar-benar sedang membutuhkannya. Dia malah lebih mementingkan karirnya untuk berkuliah kembali di luar negeri. Haisss,, aku benar-benar tak habis fikir. Padahal Seokjin Hyung bisa memberikan apapun yang dia inginkan. Kenapa dia harus repot-repot bersekolah tinggi-tingi diluar negeri." Cetus Jimin semakin kesal.


"Sudahlah, kenapa arah pembicaraan kita malah membahas wanita itu?? Lagi pula itu hanya masalalunya. Dan yang terpenting, saat ini Seokjin Hyung sudah mendapatkan penggantinya Sohye. Yaitu Y/n. Kurasa itu memang yang terbaik untuk mereka berdua." Jelas Jungkook sembari tersenyum simpul.


"Apa kau yakin Seokjin Hyung mencintai istrinya dengan sungguh-sungguh?? Kau tau sendiri Seokjin Hyung dulu sangat cinta mati pada Sohye?? Sampai-sampai setelah kepergian Sohye, Seokjin Hyung tidak pernah lagi mau menerima wanita lain dihatinya selama 5tahun lamanya." Jelas Jimin penuh penekanan.


"Haisss,, sudahlah Hyung!! Kenapa kau malah semakin mengungkit masalalu Seokjin Hyung?? Kita semuakan sudah berjanji padanya, untuk tidak mengungkit masalalunya lagi. Biarkan Seokjin Hyung hidup dengan bahagia bersama istrinya sekarang. Dan masalah Seokjin Hyung mencintai istrinya atau tidak. Itu bukan urusan kita!! Kita hanya bisa mendoakan agar Seokjin Hyung benar-benar bisa melupakan Sohye." Jelas Jungkook kembali.


Jimin lalu berdecak kesal.


"Baiklah, Aku tidak akan mengungkitnya lagi. Tapi Jungkook-si. Saat aku mendengar Seokjin Hyung yang waktu itu memberi kabar bahwa dia akan menikah. Jujur saja saat itu aku sangat terkejut. Aku malah sempat berpikir pernikahannya itu hanya sebuah setingan. Tapi kurasa kau benar!! Seokjin Hyung memang sudah memulai kehidupannya yang baru. Aku juga sangat bahagia dan sekaligus terharu, mendengar Seokjin Hyung sekarang sangat perhatian pada istrinya." Ujar Jimin sambil tersenyum senang.


"Ah, kau benar. Saat itu aku juga merasakan hal yang sama sepertimu. Tapi aku juga sangat merasa bersalah pada Y/n." Ujar Jungkook yang seketika merubah ekpresi wajahnya menjadi murung, ia pun menundukan kepalanya.


"Wae??" Tanya Jimin penasaran.


Jungkook lalu  membuang nafas sesak, dan kembali melihat kearah Jimin yang sedang menatapnya.


"Saat itu, aku mengatakan pada Y/n bahwa Seokjin Hyung tidak pernah berpacaran dengan siapapun, aku malah mengatakan kalau Y/n adalah cinta pertamanya Seokjin Hyung. Apa itu akan menjadi sebuah masalah?? Aku takut suatu saat nanti Y/n akan mengetahui semuanya. Dia pasti akan merasa terhianati oleh kita semua. Aku takut dia akan membenci kita semua." Jelas Jungkook penuh penyesalan.


"Sudahlah!! Kau jangan terlalu memikirkannya. Kita hanya perlu diam dan tak berkata apapun padanya, tentang masalalu Seokjin Hyung. Biarkan masa lalu Seokjin Hyung terkubur untuk selamanya, dan kita hanya bisa berdoa agar rumah tangga Seokjin Hyung selalu bahagia." Balas Jimin sambil mengusap-ngusap punggung sahabatnya itu.


Jungkook hanya mengangguk mengerti dengan senyuman paksa dibibinya.


"Eoh, kalau begitu cobalah kau hubungi Seokjin Hyung!! Beritahu dia untuk datang kepestaku minggu ini." Pinta Jimin mencoba memalingkan pembicaraan.


"Baiklah Hyung, nanti aku akan mencoba menghubunginya." Jawab Jungkook seketika merubah ekpresinya menjadi tidak murung kembali.


Jimin pun tersenyum lebar, dan langsung mengambil secangkir kopi yang sudah berada di atas meja sedari tadi, dan langsung meneguknya.


Mereka pun lalu berbincang kembali, membahas tentang bisnis mereka masing-masing.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2