Puisi

Puisi
BAB 3 # EPS 21 JANJI SUCI


__ADS_3

POV Y/N.


Hari itupun telah tiba. Tgl 1 januari 2019.


Aku melangsungkan pernikahanku bersama Seokjin Di sebuah gedung megah dengan fasilitas super mewah.


Semua orang sudah berkumpul termasuk orangtuaku. Hari ini menjadi sebuah moment inti bagiku, dimana aku dan Seokjin akan menjadi sepasang suami istri.


Mereka bersorak ketika kami berjalan. Bertemu di satu titik yang menjadi pusat perhatian. Aku sangat takut dan juga gugup.


Aku fikir hari ini akan mudah, karena aku hanya perlu berakting dengan baik. Tapi kenyataannya ini lebih sulit dari dugaanku. Perasaanku campur aduk saat itu.


Aku sedih melihat kedua orangtuaku menatapku penuh rasa bersalah terutama Yoongi kakakku. Aku merasa berdosa karena harus memainkan sebuah moment sakral. Apalagi aku akan mengucap janji suci pada tuhan.


Aku merasa bersalah karena harus membohongi semua orang. Terutama kakeknya Seokjin dan juga orangtuanya.


Seketika Aku teringat dengan Taehyung. Aku sangat merasa buruk karena telah menghiantainya walau saat ini kami sedang bertengkar hebat, tapi aku tak benar-benar meninggalkannya.


Aku menatap Seokjin yang juga sedang menatapku penuh ragu. Aku merasakan ada banyak kehawatiran pada dirinya. Entah apa yang sedang ia hawatirkan, tapi aku dapat merasakannya.


Penghulu sudah ada di tengah. Menjadi perantara untuk menyatukan kami berdua.


"Kalian sudah siap??" Tanya penghulu.


Aku dan Seokjin menggangukan kepala, Masing-masing menghelas nafas karena gugup.


Penghulu mulai merapali.


"Kim Seokjin. Apakah kau berjanji dihadapan tuhan untuk saling memiliki dan menjaga satu sama lain, Dalam susah maupun senang, Dalam kelimpahan ataupun kekurangan, Dalam sehat maupun sakit, untuk saling mengasihi dan mengharagai sampai maut memisahkan kalian sesuai hukum tuhan yang tulus."


Seokjin menarik nafas panjang menoleh kearahku. Dan mulai berkata.


"Aku mengambil engkau sebagai istriku, untuk saling mengasihi dan menjaga dari sekarang sampai selama-lamanya, pada susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit, untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita, dan inilah janji setiaku yang tulus."


Seokjin sudah selesai mengucap janji, lalu


Penghulu mulai bertanya padaku.


"Min-Y/n. Apakah kau berjanji untuk selalu menghormati dan menyayangi serta mengasihi suamimu dalam keaadan apapun sampai maut memisahkan kalian??"


Aku sempat terdiam sejenak, menelan ludah sekilas, mengumpulkan keberanianku untuk menatap Seokjin.


"Kim Seokjin. Aku bersedia menjadikanmu sebagai suamiku. Menghormati dan menyayangimu, dalam keadaan apapun sampai maut memisahkan kita, itulah janjiku yang tulus." Ucapku membuang nafas lega.


Kebohongan ini terasa sakit, karena aku telah berdusta di moment sakral ini. Tangisanku pun pecah dan membuat suasana ini menjadi dramatis, Aku merasa tak bisa berbuat apa-apa lagi. Pikiranku hanya tertuju pada Taehyung saat itu.


Seokjin mengusap-ngusap jemariku dengan lembut, mencoba menenangkanku walaupun ia tidak tau tentang sebenarnya. Aku tersenyum simpul kearahnya. Kemudian ia memasangkan cincin di jari manisku.


Kami saling bertukar cincin pernikahan. Menatap satu samalain, ada banyak makna tersirat di bola mata kami, hanya kami yang tau arti makna itu.


Seokjin mendekat kearaku, memiringkan kepalanya dan berbisik.


"Jangan menangis, maafkan aku harus melakukannya." Bisiknya dan satu kecupan mendarat tepat dibibirku.


Deru nafas Seokjin terasa sangat diwajahku, mataku terbuka saat ciuman itu berlangsung. Mata kami saling bertemu satu sama lain.

__ADS_1


Semua tamu undangan berdiri dan bertepuk tangan sebagai ucapan selamat kepada mempelai. Membuat Aku dan Seokjin spontan melepaskan ciuman itu, Kami saling memalingkan wajah karena merasa malu.


Aku masih tercengang karena tak percaya Seokjin akan benar-benar melakukan itu padaku. Tangisan tadipun seketika terhenti oleh ciuman itu saking terkejutnya.


Semua orang mendekat kearah kami berjabat tangan dan berfoto. Termasuk orangtua kami.


Acara itu pun sudah selesai, dan berjalan lancar tampa hambatan apapun.


...


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Seokjin membawaku kesebuah rumah miliknya.


Karena setelah menikah aku dan Seokjin akan tinggal satu atap namun dikamar yang berbeda.


Barang-barangkupun sudah dipindahkan kesebuah kamar yang akan ku tempati nantinya.


Aku berjalan mengikiti Seokjin dari belakang menuju kamarku.


Kamipun terhenti di sebuah pintu berwarna cokelat.


"Ini kamarmu, kau bisa beristirahat sekarang!!" Ujarnya membukakan pintu kamar yang akan ku tempati.


Aku hanya mengangguk dan masuk kedalamnya. Seokjin mengikutiku dari belakang.


Aku hanya melihat-lihat suasana kamar saat itu, lalu duduk di kasurku.


"Kau menyukainya??" Tanyanya menyedekapkan kedua tangan didada.


"Ya, kamarnya bagus, bersih dan aku suka." Jawabku tersenyum.


"Baiklah, Selamat beristirahat. Aku tinggal kau sekarang, jika kau butuh sesuatu panggil saja aku, kamarku bersebelahan dengan kamarmu." Tawarnya, dan pergi dari kamarku.

__ADS_1


Setelah Seokjin pergi, Aku hanya merebahkan badanku karena merasa lelah. Aku mengambil ponselku berharap Taehyung mengirimiku pesan, Tapi nyatanya 1 pesanpun tidak ada yang ia kirim.


Aku menatap langit-langit.


"Taehyung kau benar-benar sudah melupakanku. Disaat seperti ini kau tak mencoba membujuku, ataupun meminta maaf. Apa ini akhir kisahku bersama Taehyung." Gumamku dengan air mata mulai bercucuran.


Aku menaruh ponselku, dan memutuskan untuk tidur lebih awal.


...


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Pagi harinya aku sudah bangun dari tidurku, tepat jam 07:00 pagi Aku sudah berada di dapur untuk membuatkan sarapan. Ya, walaupun ini hanya pernikahan kontrak tapi rasanya aku tetap harus menjalankan kewajibanku sebagai seorang istri, terkecuali untuk melakukan hali itu, aku tidak akan melakukannya.


Seokjin berjalan menuruni anak tangga, datang menghampiriku dengan wajah bantalnya.


"Y/n, kau sedang apa??" Tanyanya sembari mengucek matanya.


"Membuatkan sarapan untuk kita." Jawabku santai sambil berjalan membawa makanan itu kemeja makan.


Seokjin berbalik badan mengikuti gerak-gerikku.


"Wah, ternyata kau perhatian juga ya, kukira wanita preman sepertimu tidak bisa perhatian seperti ini." Ucapnya terkekeh.


Aku berhenti menyipitkan mataku kearanya.


"Ya!! Dari pada kau berdiri disana, lebih baik kau pergi mandi saja sekarang!! Lalu kita sarapan bersama." Tegasku.


"Baiklah." Tersenyum lebar dan bergegas untuk mandi.

__ADS_1


...


__ADS_2