
POV AUTHOR.
"Y/n bangun, kau tidak papakan?? Y/n aku mohon jangan tinggalkan aku!!" Rintih Seokjin yang langsung memeluk tubuh istrinya itu.
Seokjin terus memeluk tubuh istrinya dengan tangisan yang sudah tak bisa terbendung lagi.
Enwoo yang sedari tadi disampingnya, seketika mata dan mulutnya terbuka lebar.
"Hyung, lihatlah!!" Ujar Enwoo sembari menepuk-nepuk pundak Seokjin.
Seokjin menoleh kearah Enwoo dengan kesal.
"Ya!! Apa kau tak bisa mengerti keadaanku sekarang??" Bentak Seokjin.
Enwoo tersontak, dan langsung menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Ah, bukan itu maksudku. Tapi cobalah lihat istrimu!!" Ucap Enwoo menunjuk kearah Y/n.
Seokjin tertegun dan langsung menoleh kearah Y/n yang masih sedang ia pangku.
Matanya terbuka lebar, saat melihat Y/n membukakan matanya.
"Ah, aku ada dimana??" Ujar Y/n memegang kepalanya.
"Y/n kau masih hidup??" Tanya Seokjin menatap antusias.
Seketika Y/n langsung berusaha mengangkat tubuhnya untuk duduk, namun Seokjin langsung menahan tubuhnya untuk tidak bergerak.
"Y/n kau jangan bergerak dulu, luka diperutmu bisa berbahaya." Ujar Seokjin.
Y/n yang baru tersadar, tiba-tiba tercengang saat melihat Seokjin yang sedang memangku dirinya.
"Seokjin, kenapa kau bisa ada disini?? Dan kenapa aku ada dipangkuanmu." Tanya Y/n kebingungan.
"Ya, Kenapa kau bisa menanyakan hal seperti itu?? Sedangkan kondisimu sekarang sangat parah." Tegur Seokjin.
Y/n tertegun melihat kearah perutnya yang berlumuran cairan merah.
"Ke--kenapa bajuku penuh dengan cairan merah??" Tanyanya kebingungan sembari memegang pakaiannya itu.
"Bukankah itu darahmu??" Tanya Seokjin bingung.
Y/n mencium bau pakaiannya seketika.
"Iya ini memang darah, tapi aku tidak terluka sama sekali." Jelas Y/n.
"Benarkah?? Apa kau merasakan sakit dibagian perutmu??" Tanyanya lagi sekedar memastikan.
Y/n hanya menggelengkan kepalanya. Dengan sigap Seokjin langsung melihat sendiri kearah perut Y/n saat itu.
Setelah tak menemukan luka sedikit pun pada Y/n, Seokjin hanya tersenyum bahagia kearahnya dan langsung memeluk erat istrinya itu.
"Aku senang kau baik-baik saja." Ujar Seokjin.
Y/n hanya terdiam kaku, dan tak mengerti dengan semua ini, seketika pandangannya beralih kearah pria yang tak ia kenal.
Enwoo hanya tersenyum simpul.
"Akan kujelaskan semuanya nanti, setelah suamimu itu berhenti menangis." Jelas Enwoo.
__ADS_1
Y/n hanya menganggukan kepalanya tampa berkata.
...
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
1jam kemudian Seokjin dan Y/n sudah berada dirumah mereka beserta Enwoo saat itu. Terlihat mereka sedang duduk diruang tamu, dengan obrolan yang sudah cukup lama mereka ceritakan mengenai kejadian tadi.
"Benarkah?? Seokjin kau menangis untukku??" Tanya Y/n memandang kearah Seokjin.
Seokjin hanya menyeringai malu dengan pertanyaan istrinya itu.
"Aigoo,, kenapa wajahmu memerah seperti itu?? Kau seperti bayi yang sedang mendapatkan pujian, bukankah sebelumnya kau itu seperti monster yang siap menerkam siapapun yang berada dihadapanmu??" Goda Enwoo sembari menyenderkan tubuhnya kesofa.
Seokjin hanya menggaruk-garuk kepalanya, walau pun kepalanya sedang tidak gatal saat itu.
"Ya, aku juga tidak mengerti kenapa aku bisa berbuat seperti itu." Jawabnya.
Y/n hanya tersenyum kagum kearah Seokjin.
"Kau tau Nuna, saat Hyung mendapat kabar kau mati, dia seketika berubah menjadi monster yang menakutkan. Aku pun sebagai keponakannya baru pertama kali melihatnya semarah itu. Kau sangat beruntung mendapatkan Hyung, dia benar-benar menyayangimu, bahkan dia tak peduli dengan nyawanya sendiri demi menyelamatkanmu." Cerocos Enwoo saat itu.
Y/n hanya tersenyum simpul kearah Enwoo.
"Terimakasih Enwoo, karena sudah menolongku." Ujar Y/n.
"Ah, itu sudah tugasku sebagai Detektif kepolisian, tapi disini Hyunglah yang banyak mengambil peran, dia sangat keren." Jawabnya tersenyum lebar.
Dan seketika ia menegakan tubuhnya kembali.
"Baiklah kurasa aku harus pergi sekarang juga, karena aku dan anak buahku harus segera menyelidiki kasus ini." Sambungnya yang langsung berdiri dari duduknya.
Manik Seokjin dan Y/n seketika melihat kearah Enwoo, dan mereka berdua saat itu juga langsung bangkit dari duduk mereka.
"Kenapa terburu-buru?? Setidaknya makan dulu bersama kami!!" Ajak Y/n.
"Tidak usah repot-repot. Lain kali aku akan berkunjung kembali kesini." Jawab Enwoo tersenyum lebar.
"Enwoo, beri aku kabar secepat mungkin, mengenai siapa orang dibalik semuanya!!" Ujar Seokjin menepuk bahu keponakannya itu.
__ADS_1
Enwoo membuang nafas singkat dan tersenyum.
"Tentu, aku akan segera mengabarimu, dan jagalah istrimu sebaik mungkin!!" Jawab Enwoo kembali menepuk punggung Seokjin.
Seokjin hanya tersenyum simpul.
"Baiklah aku pergi dulu, jaga diri kalian baik-baik." Sambung Enwoo yang langsung pergi saat itu juga.
Taklama setelah punggung Enwoo sudah tak terlihat, Seokjin dan Y/n kembali duduk di sofa mereka.
Mereka hanya saling terdiam selama beberapa detik. Sampai akhirnya Y/n baru menyadari jari-jari Seokjin yang penuh dengan luka, dan juga darah yang sudah mengering.
"Ya!! Jari-jarimu kenapa??" Tanya Y/n sembari memegang kedua tangan Seokjin dengan lembut.
Seokjin menelan singkat ludahnya.
"Ah, ini bukan apa-apa." Ucap Seokjin mengelak.
"Apa, kau bilang?? Bukan apa-apa, jelas-jelas kau itu terluka, katakan padaku kenapa tanganmu bisa seperti ini!!" Gerutu Y/n menatap cemas kearah Seokjin.
"Hem, Seperti yang Enwoo katakan, aku kehilangan kendali saat mendengar kabar kau sudah mati, tampa sadar aku terus menonjoki tembok dihadapanku." Jelas Seokjin tersenyum simpul.
Y/n membuang nafas kasar, sembari berdesis.
"Ya!!" Bentaknya sembari mencubit perut Seokjin.
Dan Seokjin pun terbelakak. Y/n lalu menepuk keningnya sendiri.
"Kau itu bodoh atau apa hah?? Kenapa kau bisa-bisanya melukai dirimu sendiri??" Sambungnya.
Seokjin hanya membuang nafas singkat, sembari tersenyum kearah Y/n.
"Aku juga tidak tau, karena dipikiranku saat itu hanya ada dirimu. Saat itu aku sangat ketakutan akan kehilanganmu, dan aku tidak mau itu terjadi." Jelas Seokjin.
Degggg,,,
Seketika Jantung Y/n berdeguk kencang, mendengar perkataan Seokjin.
Pandangannya seketika buyar.
"Y/n, aku akui perlakuanku saat pertama bertemu denganmu itu kurang baik, tapi sekarang aku benar-benar menyayangimu sepenuh hati." Sambung Seokjin.
Y/n membuang nafas panjang, sembari mengelus-ngelus jemari Seokjin.
"Aku tau kau sangat mencintaiku, dan aku dapat merasakan semua kasih sayangmu padaku. Kau tak perlu takut, aku tidak akan meninggalkanmu. Sudah sebaiknya kita pergi untuk mandi!! Badanku rasanya sangat lengket." Ujar Y/n.
Kedua alis Seokjin terangkat.
"Kita mandi?? Maksudmu kita mandi bersama??" Goda Seokjin.
Y/n menatap sinis kearah Seokjin.
"Aiss, yang benar saja?? Cepatlah kau mandi dikamar mandimu sendiri!! Setelah kau mandi, aku akan mengobati luka ditanganmu." Jelas
Y/n yang langsung bangkit dari duduknya, pergi meninggalkan Seokjin.
Seokjin hanya tersenyum lebar, dan juga ikut bangkit dari duduknya, lalu pergi saat itu juga.
...
__ADS_1