
POV AUTHOR.
Keesokan harinya
Tepat jam 07:00 pagi.
Y/n terbangun dari tidurnya. Sedikit demi sedikit ia mulai membukakan matanya,lalu menggeliatkan tubuhnya sebagaimana orang-orang bangun tidur pada umurnya. Ia lalu membuka selimutnya dan.
"KYAAAAAAAAAAAA."
Ia berteriak kaget saat melihat tubuhnya tak memakai apapun. Dengan cepat ia langsung menarik selimutnya kembali untuk menutupi tubuhnya yang tak memakai busana.
Ia masih tertegun kaget dengan ekspresi wajah yang masih syok. Ia mencoba menarik nafasnya dalam-dalam dan mencoba mengingat-ngingat kembali kejadian semalam.
Selang beberapa detik.
"Aigoo, aku lupa semalam aku sudah melakukannya bersama Seokjin. Haissss." Gumamnya sesaaat ia sudah mengingatnya.
Sebelumnya, saat Y/n dan Seokjin bercinta semalaman penuh. Membuat pasangan pasutri itu merasa kelelahan dan akhirnya mereka tertidur setelah selesai melakukannya.
Dan saat itu ia baru menyadari bahwa suaminya tidak ada bersamanya.
"Seokjin, kenapa dia tidak ada disini?? Apa dia sudah bangun duluan?? Ah, aku sangat malu jika nanti bertemu dengannya, apa yang harus kulakukan?? Kau itu bodoh sekali Y/n." Gerutunya sambil terus memukul-mukul kepalanya.
"Sudahlah, sebaiknya aku mandi dulu. Tubuhku rasanya sangat lengket." Sambungnya dan langsung beranjak dari kasur.
Saat ia akan melangkahkan kakinya, tiba-tiba ia merasakan bagian kewanitaannya sangat sakit.
Y/n meringis kesakitan dan kembali duduk ditepi kasurnya.
"Awww, kenapa sakit sekali dan perih??" Turtunya. Ia lalu tak sengaja melihat kearah sprei yang terdapat bercak darah yang masih baru.
"Ah, semalam dia benar-benar sudah mengambil masa depanku." Gumamnya dan langsung melepaskan sprei itu dari kasur, dan membawanya kekamar mandi untuk ia cuci.
ia berjalan perlahan menuju kamar mandi, agar rasa sakitnya tidak terasa kembali.
...
.
.
.
.
.
.
.
Di waktu yang sama Seokjin sudah bersama Enwoo diruang tamu.
Terlihat Seokjin yang sedang meneguk secangkir kopi panas, sedangkan Enwoo sibuk dengan laptopnya.
__ADS_1
Sampai saatnya.
"Bagaimana Enwoo-ah. Apa ada perkembangan tentang masalah ini??" Tanya Seokjin.
Enwoo membuang nafas berat dan langsung menutup laptopnya, melihat kearah Seokjin dengan wajah lesu.
"Kurasa kasus ini akan sedikit sulit Hyung." Jelasnya sembari mengepalkan kedua tangannya dengan siku yang menahan dilututnya.
"Wae??"
"Aku juga kurang tau. Tapi menurut kabar dari anak buahku. Mereka bilang kedua pria itu tetap tidak mau mengatakan siapa orang dibalik penculikan ini. Haisss, entah berapa jumlah yang mereka terima dari orang itu, sampai-sampai mereka rela mati dari pada harus membeberkan kebenarannya." Jelas Enwoo dengan kesal.
Seokjin lalu menaruh secangkir kopi itu di atas meja, dan mulai memikirkan sesuatu. Sampai beberapa saat.
"Sebenarnya aku mencurigai seseorang." Ucap Seokjin tiba-tiba.
"Siapa??"
"Solbin." Jawab Seokjin menoleh kearah Enwoo.
Enwoo seketika tertegun sambil mengkerutkan keningnya seakan ia tak percaya.
"Wae?? Kenapa harus Solbin?? Dia bukannya baru pulang dari amerika?? Kenapa dia yang mesti Hyung curigai??" Tanya Enwoo tampa jeda.
"Apa kau tidak tau?? Ah jelas kau tidak tau, karena saat itu kau ada di jerman. Bahkan kau juga tidak tau pernikahanku saat itu." Ujar Seokjin mengehelas nafas berat.
"Hemm, Hyung benar. Saat itu aku sedang dijerman untuk mengurus penyelidikanku. Tapi apa Hyung bisa jelaskan kenapa Hyung bisa menikah dan apa hubungannya dengan Solbin??"
"Masalah pernikahanku itu terjadi begitu saja, dan aku belum bisa menceritakannya padamu. Dan masalah Solbin kau tau sendiri dia sangat berambisi ingin mendapatkanku dari dulu. Dan aku sangat yakin dia pasti tidak akan tinggal diam saja melihatku bahagia bersama Y/n. Dia pasti sudah merencanakan sesuatu." Jelas Seokjin.
"Ah, kau benar!! Tapi kita tidak boleh asal menuduhnya Hyung, kita perlu bukti yang sangat kuat untuk membuktikan kalau Solbin adalah dalang masalah ini." Jelas Enwoo.
"Hemm, aku juga berpikiran seperti itu." Jawab Seokjin.
"Tapi Hyung, aku masih penasaran. Kenapa kau bisa berubah secepat ini?? Kenapa kau bisa menyukai Y/n Nuna?? Setauku yang membuatmu sangat sulit mempunyai kekasih itu karena kau selalu menunggu wanita itu pulangkan." Tanya Enwoo penasaran.
Seketika Seokjin tersontak mendengar pertanyaan itu, wajahnya pun terlihat berubah menjadi panik.
"Enwoo-ah. Apa kau bisa tidak membicarakannya!! Itu hanya sebuah kebodohan yang pernah kulakukan, dan aku minta jangan pernah membahasnya lagi." Tegur Seokjin menatap tajam kearah Enwoo.
"Ah, maafkan aku Hyung. Aku mengerti." Jawab Enwoo sedikit menyesali pertanyaannya.
Seokjin membuang nafas kasar sembari mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.
"Dan satu lagi. Aku mohon jangan sampai
Y/n tau masalah ini. Aku hanya tidak ingin ada kesalah pahaman diantara kami berdua. Itu hanya masalaluku, dan sekarang aku benar-benar ingin berubah bersama Y/n." Jelasnya kembali.
"Baik Hyung, kau tenang saja!! Aku tidak akan memberi tahukannya pada Y/n Nuna." Ujar Enwoo sambil menepuk-nepuk pundak Seokjin.
Seokjin hanya tersenyum paksa dan kembali meneguk kopinya yang mulai dingin.
...
.
__ADS_1
.
.
.
Beberapa menit kemudian Y/n baru selesai dari mandinya dan langsung keluar dari kamarnya untuk membuatkan sarapan.
Sesaat ia sampai dibawah ia melihat dua pria itu sedang duduk diruang tamu. Y/n pun tak berani menyapa Seokjin, karena jujur saja ia masih malu mengingat kejadian semalam. Ia mencoba menghindari suaminya itu dan langsung pergi kedapur.
Namun sayang kehadirannya berhasil diketahui Seokjin. Dan tentunya Seokjin langsung beranjak dari duduknya dan pergi mengahmpirinya.
Sesampainya didapur.
Seokjin melihat Y/n sedang menyiap-nyiapkan bahan pasakan untuk ia olah. Dengan cepat Seokjin langsung memeluk pinggang Y/n dari belakang.
Dan tentunya membuat gadis itu tersontak kaget bukan main.
"Kau mau masak apa Y/n??" Tanya Seokjin sambil menumpangkan dagunya dibahu Y/n.
"Seo--seokjin. Lepaskan!! Kau itu mengagetkanku saja." Cetus Y/n sedikit canggung.
"Aku tidak mau!!"
Seokjin lalu melihat wajah istrinya itu. Terlihat wajah Y/n kembali memerah. Seokjin lalu melepaskan pelukannya dan langsung memutarkan tubuh istrinya itu menghadap kearahnya.
"Wae?? wajahmu kembali memerah?? Kau kenapa sayang??" Tanya Seokjin.
Y/n hanya menghelas nafas lelah, lalu menatap tajam kearah Seokjin.
"Apa yang sudah kau lakukan padaku semalam?? Kau ini, masih bisa-bisannya kau bersikap seperti tidak terjadi apa-apa setelah kejadian semalam." Gerutu Y/n kesal.
Seokjin pun mengangkat salah satu alisnya. Tangannya mulai mengelus kepala Y/n dan menyelipkan rambut itu ketelingannya.
"Eoh, apa kau malu padaku karena semalam kita sudah melakukannya??"
Y/n memutarkan bola matanya sambil mendengus kesal.
"Haisssss, sudahlah aku tidak mau membahasnya lagi. Sekarang kau tinggalkan aku saja!! Aku akan membuatkan sarapan untukmu dan Enwoo." Jelas Y/n.
Seketika Seokjin tertegun.
"Wae?? Kenapa kau menyiapkannya juga untuk Enwoo." Teriak Seokjin dengan nada manja.
Y/n pun terkejut sambil menatap aneh suaminya itu.
"Memangnya kenapa jika aku menyiapkan sarapan untuknya?? Dia juga perlu makan. Kau itu bagaimana??" Cetusnya sembari pergi meninggalkan Seokjin untuk mencuci sayuran.
Sedangkan Seokjin ia masih cemberut seperti anak kecil. Ia lalau berjalan mengikuti arah Y/n pergi dan kembali berdiri disamping wanitanya itu.
"Aku hanya ingin kau memperhatikanku saja!! Aku tidak ingin perhatianmu terbagi, dan aku tidak suka." Jelas Seokjin yang masih mengkerucutkan bibirnya.
Dan ya, ekpresinya itu seketika berhasil membuat Y/n terkekeh gemas. Y/n menoleh kearah Seokjin dengan Kedua tangannya yang langsung menungkup pipi pria tampan dihadapannya.
"Ya Kim Seokjin. Berhentilah bertingkah seperti anak kecil!! Aku hanya menyiapkan sarapan untuknya karena dia juga perlu makan."
__ADS_1
Bersambung.