Puisi

Puisi
EPS 60


__ADS_3

POV AUTHOR.


"Sohye!!" Panggil ketiga pria itu tercengang secara bersamaan.


"Heumm,, iya ini aku!! Kalian kenapa, eoh??" Tanya wanita itu dengan santainya.


Tapi tidak dengan ketiga pria dihadapannya itu, mereka seakan masih percaya tak percaya dengan sosok dihadapan mereka.


Namun berbeda dengan Seokjin, ia dengan cepat mengubah ekpresinya kembali menjadi normal. Ia lalu bangkit dari duduknya dengan kedua tangan yang merogoh kedalam saku celananya.


"Kau sudah kembali??" Tanya Seokjin dengan intens.


Ya Pria itu mencoba bersikap santai, walaupun sebenarnya ia kini masih sangat syok dengan kedatangan Sohye yang secara tiba-tiba.



"Tentu, aku kembali sesuai janjiku padamu." Jawab wanita itu sembari tersenyum senang.


Mendengar kata itu, Seokjin lalu tersenyum miring. Berkali-kali ia memijat keningnya, mencoba mencari jawaban yang pas untuk wanita dihadapannya itu.


"Lupakan janji itu Sohye!! Karena semuanya sudah berubah." Tegas Seokjin tiba-tiba.


Seketika manik wanita bernama Sohye itu pun tersontak sekaligus bingung.


"Wae?? Maksudmu apa memintaku untuk melupakannya??." Tanyanya kebingungan.


Sesaat Seokjin hanya bisa terdiam, dengan rahangnya yang kini sudah mengeras. Ia seakan tak mampu menjawab pertanyaan yang dilontarkan wanita tersebut padanya.


Seperdetik kemudian, tubuh pria itu mulai goyah. Dan tak lama ia pun terjatuh duduk dikursinya kembali. Berkali-kali ia meremas rambutnya frustasi.


Sedangkan diarah yang lain. Jungkook dan Jimin mulai merasakan suasana saat itu terasa menegangkan. Mereka lalu hanya saling menyiku tangan satu sama lainnya.


"Jimin sepertinya kita harus pergi. Biarkan mereka menyelesaikan masalahnya berdua." Bisik Jungkook tiba-tiba.


"Kau benar!!" Balik Jimin berbisik.


Seketika manik kedua pria itu menoleh bersamaan kearah Seokjin.


"Emm, Hyung sepertinya kami harus pulang sekarang. Tapi jika Hyung masih ingin disini, mungkin Hyung bisa meminta Sohye untuk menemani Hyung." Ujar Jungkook dengan wajahnya yang sedikit gugup.


Manik Seokjin pun langsung menoleh kearah dua sahabatnya itu yang kini sudah berdiri dihadapannya.


"Tidak!! A-aku akan ikut kalian, ayo!!" Jawab Seokjin dengan cepat bangkit dari duduknya.


Namun sesaat Seokjin akan melangkahkan kakinya, tiba-tiba Sohye langsung menarik tangannya, dan seketika itu juga membuat semua manik tertegun kearah wanita itu.


"Lepaskan tanganku Sohye!!" Cetus Seokjin dengan dingin.


"Tidak!! Aku tidak akan melepaskan tanganmu, sebelum kau jelaskan apa maksud ucapanmu tadi!!" Tegas wanita itu dengan berani.


Seokjin hanya membuang nafas berat. Dan seketika, sorot matanya tertuju kearah dua sahabatnya itu.


"Kalian pulang saja duluan!! Aku masih ada urusan dengannya." Pinta Seokjin yang kembali dari duduknya.


"Baiklah Hyung, aku dan Jimin pergi dulu."


Sesaat Jungkook akan berbalik arah, saat itu Jimin masih terdiam ditempatnya. Ia terlihat menatap tajam Hyungnya itu.


"Aku harap kau tidak akan goyah Hyung!! Dan kau juga harus ingat!! Disana ada wanita yang sedang menunggu kepulanganmu." Tegas Jimin.


Seokjin lalu balik menatap tajam kearah Jimin. Namun seperdetik kemudian tatapan itu buyar, ketika Jimin dan Jungkook langsung pergi meninggalkannya bersama Sohye saat itu juga.


Dan saat kedua pria itu sudah tak nampak lagi. Sohye lalu duduk disamping Seokjin.


"Apa yang dimaksud Jimin?? Dari dulu dia selalu cetus ke padaku" Gumam wanita itu dengan kesal.


Ia lalu kembali menatap pria yang kini ada disampingnya itu.


"Cepat jelaskan padaku!! Apa maksud perkataanmu tadi??" Tanya Sohye penuh penekanan.


Seokjin lalu menghelas nafas kasar, dengan sorot matanya yang tajam, menatap sosok wanita yang pernah singgah dihatinya itu.


"Apa tujuanmu kembali kesini??" Tanyanya begitu dingin.


"Wae?? Tentu aku kembali karenamu." Jelas Wanita itu sembari memegang tangan Seokjin.


Namun dengan cepat, Seokjin langsung menepis tangan wanita tersebut. Dan tentunya itu membuat Sohye tersontak bingung dengan sikapnya.


"Kau kenapa Seokjin?? Kenapa kau begitu dingin padaku?? Apa kau marah padaku, eoh??"


Sohye seketika terdiam sejenak, memikirkan apa penyebab Seokjin bersikap dingin padanya. Namun beberapa saat kemudian ia mulai berbicara kembali.


"Baik, aku akui kesalahanku karena selama 5tahun ini aku tidak pernah mengabarimu. Tapi aku juga punya alasan tersendiri Seokjin." Sambungnya kembali.


Seokjin lalu tertawa paksa, ia seperti muak mendengar penjelasan wanita disampingnya itu.


"Wae?? Lalu apa alasanmu tidak pernah menghubungiku, eoh?? Jelaskan padaku Sohye!!" Tekan Seokjin dengan kesal.


"Apa kau tak pernah memikirkan penderitaanku selama menunggumu bertahun-tahun lamanya disini, hemm?? Rasa rindu, marah, kecewa, cinta. Semuanya bergelut dalam benakku. Apa ini pantas untuk disebut janji??" Sambungnya yang kini benar-benar sudah tidak bisa menahan lagi perasaan kecewanya.


"Seokjin kau tidak mengerti. Kau tau sendiri ayahku sangat menentang hubungan kita. Bahkan selama aku belajar diluar negeri sana, aku tidak diperbolehkan untuk mengabarimu. Semua yang berhubungan denganmu sudah ditutup rapat-rapat oleh ayahku. Dan apa kau juga tidak bisa memikirkan perasaanku selama disana, eoh?? Aku juga tersiksa Seokjin. Aku menderita." Jawab wanita itu penuh emosi. Dan seketika sorot mata wanita itu kini berhasil berubah memerah.


Disisi lain, Seokjin hanya tersenyum miring, dengan garis rahangnya yang semakin mengeras, menahan amarah pada benaknya.


"Apa itu pantas untuk dijadikan alasan?? Benar-benar tidak masuk akal. Bagaimana manusia bisa hidup tanpa alat komunikasi, kau ingin membodohiku, eoh??" Ketus Seokjin menatap geram wanita dihadapannya itu.


Sohye saat itu benar-benar tak habis fikir dengan jawaban pria dihadapannya itu. Perlahan air matanya pun mulai berjatuhan dipipi miliknya.


"Apa kau lupa?? Apa yang membuatku harus pergi dari negaraku sendiri eoh?? Apa kau benar-benar sudah melupakannya Seokjin?? Jika saja saat itu kita tidak pernah melakukannya, mungkin ayahku tidak akan menghukumku seberat ini." Jelas wanita itu penuh penekanan.


Kedua mata Seokjin seketika tercengang hebat. Bagaimana bisa ia melupakan kejadian 5tahun yang lalu itu. Sedangkan hal itulah yang selalu membuatnya dihantui rasa bersalah bertahun-tahun lamanya.


"Itu hanya kesalahan, dan kita juga tidak sengaja melakukannya. Karena kita sedang dibawah pengaruh minuman alkohol saat itu." Jawab Seokjin dengan datar.


Wanita itu lantas tertawa geram, dengan air matanya yang terus mengalir.


"Hahh,, Kau bilang itu hanya kesalahan?? Setelah kau mengambil masa depanku, bisa-bisanya kau mengatakan hal itu dengan mudah. Apa kini kau berniat untuk meninggalkanku, eoh??" Tekan Sohye dengan sorot matanya yang benar-benar memerah.


Seokjin lalu membuang nafas panjang, dan kembali menatap Sohye.

__ADS_1


"Kau benar!! Semuanya sudah berakhir. Aku sudah tidak bisa bersamamu lagi."


"Tapi kenapa?? Kenapa kau ingin mengakhiri semuanya??" Lirih wanita itu dengan parau.


"Sebelumnya, aku minta maaf karena saat itu aku tidak bisa menghalangimu pergi keluar Negeri. Tapi aku juga sudah berusaha untuk bertanggung jawab atas tindakan cerobohku. Tapi tetap saja, aku tidak bisa melawan kehendak ayahmu." Jelas pria itu sembari menurunkan wajahnya sendu.


"T-tapi, waktu itu kita sudah berjanji Seokjin. Kau akan tetap menungguku sampai aku kembali dan berhasil membujuk ayahku. Tapi kenapa?? Kenapa, disaat aku sudah berhasil membujuk ayahku untuk merestui hubungan kita, kau malah berniat meninggalkanku. Apa salahku Seokjin??" Tutur wanita itu yang kini benar-benar menangis dihadapan pria tercintanya.


Manik pria itu lantas kembali menatap wanita disampingnya itu.


"Maafkan aku Sohye!! Aku tidak bisa menepati janjiku. Karena semuanya benar-benar sudah berubah" Ungkapnya sambil menepuk-nepuk bahu wanita itu.


Seketika Sohye pun terhenti dari tangisnya, dan menonggakkan wajahnya kearah Seokjin.


"Maksudmu apa Seokjin??"


Seokjin lalu menarik nafas singkat terlebih dahulu, Sebelum ia kembali menjawab pertanyaannya.


"Aku sudah menikah."


"APA MENIKAH??" Teriak wanita itu yang kini benar-benar tercengang hebat.


"Hem, aku sudah menikah 1tahun yang lalu. Dan kuharap kau bisa menerima kenyataan ini. Aku benar-benar minta maaf padamu Sohye." Tutur Seokjin yang kini menundukan kepalanya kembali.


"Ini sangat menyakitkan untukku Seokjin." Ucap wanita itu yang kini dadanya terasa sangat sesak.


Wanita itu benar-benar hancur. Hatinya bagaikan ditusuk ribuan pisau tajam saat itu juga. Hancur?? Jelas hatinya kini terasa sangat hancur. Ia kini hanya bisa menangis tersedu-sedu, seakan tak mampu untuk berkata apa-apa lagi.


Sedangkan Seokjin yang saat itu tak tega melihat Sohye menangis, perlahan ia mulai mendekatkan dirinya. Dan seketika itu juga ia pun langsung memeluk tubuh wanita itu tanpa ragu.


Tangisan wanita itu lantas semakin pecah. Ia hanya bisa terus menangis sembari menenggelamkan wajahnya kedalam pelukan pria tercintanya itu. Seokjin berkali-kali mengucap kata maaf, dengan salah satu tangannya yang menepuk-nepuk punggung wanita itu.


Terlihat ada rasa bersalah dan juga sedih, di wajah pria tampan itu. Tapi entah apa yang sebenarnya sedang dirasakan olehnya. Mungkinkah Seokjin masih menyimpan rasa pada Sohye?? Entahlah, tidak ada yang tau. Hanya dirinya sendirilah yang bisa menjawab semuanya.


...


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Waktu terus berlalu. Kini jam pun sudah menunjukan pukul 12malam.


Saat itu Y/n masih terduduk disofa ruang tamu, menunggu kepulangan suaminya dengan rasa gelisah.


Wajahnya terlihat sangat panik. Rasa hawatir menguasai dirinya saat itu juga. Bagaimana ia tidak hawatir?? Sudah puluhan kali ia terus menghubungi Seokjin sedari tadi, namun Seokjin masih saja tidak mengangkat telfonya. Bahkan Y/n sudah berkali-kali menelfon teman-teman suaminya. Namun jawaban mereka tetap sama, mereka tidak mengetahui keberadaan Seokjin. Termasuk Jungkook dan Jimin, mereka benar-benar menutupinya dari Y/n.


Sesaat pintu rumahnya pun terbuka.


Manik wanita itu lantas langsung menoleh kearah pintu tersebut.


"Seokjin!!" Ucap wanita itu yang langsung berlari kearah Seokjin yang kini sedang berdiri diambang pintu.


Dengan cepat Y/n langsung memeluk tubuh kekar suaminya itu.


"Kenapa kau pulang selarut ini?? Apa kau sedang lembur?? Dan kenapa kau tak menguhungi---."


"Aku lelah Y/n, aku mau istirahat sekarang." Potong Seokjin begitu dingin. Bahkan pelukan wanita itu, langsung dilepaskannya mentah-mentah.


Y/n sempat tertegun dengan sikap suaminya itu.


"Kau mau kemana??" Tanya Y/n kebingungan.


Namun tak ada jawaban dari Seokjin, ia malah langsung pergi kedalam kamarnya begitu saja, tanpa menghiraukan pertanyaan istrinya itu.


Disisi lain, Y/n hanya bisa terdiam sendu sesaat mendapatkan perlakuan dingin dari suaminya.


"Kau kenapa Seokjin??" Gumam wanita itu dengan raut wajahnya yang sedih.


...


.


.


.


.


.


Sepermenit kemudian, kini Seokjin hanya duduk ditepi dikasur sembari memainkan ponselnya.


Dan tak lama kemudian, Y/n pun datang membukakan pintu kamarnya. Ia lalu berjalan menghampiri Seokjin.


Dan sesampainya ia dihadapan Seokjin.


"Sayang, apa kau lapar?? Aku sudah menyiapkan makan malam dibawah. Ayo cepatlah makan dulu!! Nanti setelah makan kau bisa beristirahat kembali." Bujuk Y/n dengan sangat lembut.


"Aku tidak lapar." Jawab Seokjin dengan dingin.


"Ada apa denganmu?? Apa ada masalah ditempat kerjamu, hemm??" Tanya Y/n masih sama lembutnya.


"APA KAU TIDAK DENGAR?? AKU TIDAK MAU!! KENAPA KAU MASIH BERTANYA??" Bentak Seokjin dengan tiba-tiba.


Y/n pun seketika tersontak hebat, dengan bentakan suaminya itu. Dengan cepat ia langsung melangkah mundur, dengan raut wajahnya yang terlihat ketakutan.

__ADS_1


"Seokjin?? Kenapa kau membentakku?? A-aku hanya bertanya, apa kau mau makan." Lirih wanita itu, dengan bola matanya yang mulai berkaca-kaca.


Seokjin yang menyadari perbuatannya itu, dengan cepat langsung mendekat kearah istrinya yang kini benar-benar ketakutan.


"Y/n aku minta maaf!! Aku tidak sengaja membentakmu, tolong maafkan aku!!" Bujuk pria tersebut sembari mencoba memeluk istrinya itu.


Namun dengan cepat Y/n langsung mendorong bidang dada pria tersebut menjauh darinya.


"Jangan mendekat!! Aku tidak mau bicara denganmu!! A-aku akan tidur duluar saja." Tolak wanita itu yang langsung pergi dari dalam kamarnya.


Bantingan pintu pun terdengar jelas ditelinga Seokjin. Ia hanya bisa menghelas nafas jengah, dengan kedua tanganya yang mengusap kasar wajahnya. Pria itu kini benar-benar menyesali perbuatannya pada istrinya. Berkali-kali ia terus meremas rambutnya frustasi, dengan nafas yang sesak menahan emosi pada dirinya sendiri.


"Kenapa kau harus kembali Sohye??" Gumam pria itu dengan kesal.


...


.


.


.


.


.


.


.


Ditempat yang berbeda, kini Y/n hanya terdiam di sofa ruang tamu. Tatapannya kosong, seperti sedang memikirkan banyak hal dalam otaknya.


Perlahan air matanya mulai mengalir dipipi miliknya. Rasa sakit hati, terasa sangat dalam benaknya. Bagaimana ia tidak sedih?? Karena itu pertama kalinya Seokjin membentaknya. Selama 1tahun pernikahannya, semarah apapun Seokjin, ia tidak pernah sedikit pun membentak Y/n.


POV Y/N


Sebenarnya kau kenapa Seokjin?? Kenapa sikapmu mendadak berubah?? Kenapa kini kau berani membentakku??


Dan tadi, apa aku tidak salah lihat?? Aku melihat bekas lipstik merah dikemejanya.


Apa jangan-jangan kau berselingkuh dariku?? Eoh, tidak!! Aku tidak boleh berfikiran yang bukan-bukan. Mungkin saja itu hanya bekas noda makanan.


Tapi kenapa perasaanku menjadi tak karuan seperti ini?? Ada apa denganku??


...


POV AUTHOR.


Bermenit-menit Y/n hanya berbicara pada dirinya sendiri. Dan kini ia mulai merasa lelah dengan pertanyaan-pertanyaannya itu. Perlahan mata wanita itu mulai terpejam, dan pada akhirnya ia pun terlelap tidur malam itu tanpa sadar.


...


.


.


.


.


.


.


.


.


Malam sudah berganti siang.


Hari itu, jam 07:00 pagi. Y/n perlahan mulai membukakan matanya, karena sorot matahari yang menyoroti wajah indahnya. Seketika ia tersontak sesaat menyadari dirinya kini sudah berada di atas kasur kamarnya.


Dengan cepat, ia pun langsung bangkit dari tidurnya.


"Wae?? Bukankah semalam aku tidur disofa ruang tamu?? Kenapa aku bisa ada disini??" Gumamnya kebingungan.


Tiba-tiba ponselnya pun bergetar, dan dengan cepat ia langsung mencari dimana ponselnya berada. Tak butuh waktu lama, ia akhirnya menemukan ponselnya yang ternyata berada di atas nakas.


Dengan cepat ia pun langsung mengambil ponsel tersebut, dan langsung membaca isi pesannya.


Seokjin:


"Kau sudah bangun?? Maaf semalam aku memindahkanmu kekamar!! Aku mohon maafkan aku sayang!! Semalam aku sudah membentakmu tanpa alasan. Sebagai gantinya, nanti malam kita akan pergi berkencan. Kuharap itu bisa menebus semua kesalahanku. Aku menyangimu."


Setelah membaca pesan tersebut. Y/n lalu menarik nafas singkat.


"Kau fikir kita masih anak remaja, yang harus berkencan dimalam hari." Gumam wanita itu, yang langsung beranjak dari kasurnya.


Saat itu pun Y/n mengambil baju kotor milik Seokjin yang semalam ia kenakan. Dan seketika sorot matanya langsung tertuju pada noda merah dibaju tersebut.


Ia begitu mengamatinya dengan teliti, lalu mencoba mencium bau aroma noda tersebut.


Seketika wajahnya berubah datar.


"Ini memang noda lipstik. Tapi yang lebih mencurigakan disini, kenapa aku mencium bau aroma parfum wanita?? Dan kenapa aroma parfumnya sama persis seperti aroma parfumku?? Seingatku, kemarin aku tidak memakai parfum."


.


.


.


.


.


.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2