Puisi

Puisi
EPS 36 (No, 33,34,35)


__ADS_3

LANJUTAN EPS 32.


POV AUTHOR.


Semua anak buah Enwoo sudah berkumpul dimarkas mereka, beserta Seokjin yang juga ada disana.


Sudah hampir 30menit mereka sedang sibuk mengatur rencana, sampai saatnya tiba-tiba ponsel Seokjin pun berdering.


Seokjin segera mengangkat telfon dari nomor yang tidak diketahui itu.


Matanya seketika membulat, dan amarahnya kembali meluap saat melihat nomor yang barusan mengancamnya.


"Ya!!(Teriaknya) Dimana Y/n sekarang??" Tanya Seokjin dengan geram.


"Haha, tak perlu marah-marah seperti itu, istrimu sudah beristirahat dengan tenang." Jawab seseorang didalam telfon itu.


"Apa maksudmu?? Kau mau apa dariku?? Siapa kau sebenarnya?? Dan apa yang telah kau lakukan pada istriku??" Bentak Seokjin dengan penuh keamarahan.


Tiba-tiba telfon itu dimatikan dengan sepihak, membuat kedua mata Seokjin seketika terbuka lebar saat mengetahui telfonnya sudah terputus.


"Ya!! Kenapa dimatikan, sial." Gerutunya kesal.


Beberapa saat telfon itu dimatikan, satu pesan pun masuk keponselnya.


Maniknya langsung tertuju pada layar ponselnya, dengan cepat Seokjin langsung membuka pesan itu, dan sangat terkejutnya ia saat itu, saat ia melihat pesan foto Y/n tergelentang dilantai tak sadarkan diri, mata dan mulutnya seketika terbuka lebar, saat ia melihat wajah dan perut Y/n penuh dengan darah.


Tangannya pun langsung bergemetar, hingga ponsel yang sedang ia genggam seketika jatuh. Ia menggeram kesal, matanya mulai memerah menahan amarah. Dengan emosi yang sudah tak terbendung lagi Seokjin langsung menonjok dinding di hadapannya berulang-ulang kali, hingga jari-jarinya berdarah.


"Tidak, ini tidak mungkin. Y/n masih hidup, dia belum mati." Teriaknya sambil terus menonjoki tembok itu.


Semua mata terbelakak padanya, Enwoo yang baru pertama kali melihat kemarahan Seokjin langsung bergegas untuk menenangkannya.


Enwoo terus menahan tangan Seokjin agar berhenti menonjoki dinding itu, dan dibantu oleh salah satu anak buahnya untuk ikut menahan.


"Hyung, aku mohon berhentillah!! Kau akan melukai dirimu sendiri, aku mohon demi istrimu kau harus bisa menahan emosimu." Bujuk Enwoo sambil terus menahan Seokjin yang sudah seperti orang kerasukan.


"Tuan, kami sudah menemukan keberadaan mereka lewat ponsel istri Tuan Seokjin." Ujar salah satu anak buah Enwoo saat itu.


Semua manik tertuju pada orang itu, termasuk Seokjin.


Dengan cepat Seokjin langsung menghampirinya.


"Dimana dia sekarang??" Tanya Seokjin melihat kelayar komputer.


Orang itu pun langsung menjelaskan posisi mereka, dan tampa basa-basi Seokjin langsung pergi begitu saja dari tempat itu dengan tergesa-gesa.


Enwoo yang melihatnya langsung tertegun.


"Ya!! Hyung tunggu kami!! Kau tak bisa pergi sendirian." Teriak Enwoo.

__ADS_1


Enwoo pun melihat kearah anak buahnya.


"Ayo sebaiknya kita susul dia, siapkan perlengkapan kalian!!" Sambung Enwoo.


Mereka semua pun langsung bergegas untuk pergi menyusul Seokjin yang sudah lebih dulu pergi.


...


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Tampa rasa takut, Seokjin langsung berjalan cepat kearah sana, dengan wajah penuh keamarahan.


Beberapa saat Seokjin sudah berada didepan pintu gubuk itu, dan langsung saja membuka pintu itu dengan sekali tendangan.


Pintu itu pun terbuka, dan benar saja dua orang pria yang telah menculik Y/n sedang berada didalamnya.


Mereka semua terbelakak melihat kedatangan Seokjin yang tiba-tiba.


Tampa basa-basi Seokjin langsung menghampiri mereka.


Jekukkk..


Satu pukulan pun mendarat di rahang pria itu, sedangkan salah satu pria yang lainnya mencoba menyerang Seokjin dari belakang.


Namun pukulan pria itu tak berhasil mengenai Seokjin, karena dengan sigap Seokjin langsung membalikan badannya dan langsung menendang perut pria itu.


Tak ada dari mereka yang berhasil melukai Seokjin saat itu, perkelahian pun terjadi saat itu juga, mereka terus berusaha menyerang Seokjin.


Sampai saatnya mereka berdua dibuat tak berdaya oleh Seokjin, amarahnya yang sudah membabi buta membuat ia sangat susah untuk dikalahkan.


Mata Seokjin seketika menatap tajam kesalah satu pria yang sudah terbujur lemah saat itu, dengan cepat ia langsung menarik kerah baju pria itu dengan kasar.

__ADS_1


"Cepat katakan dimana Y/n sekarang??" Tanyanya dengan geram.


Pria itu meringik kesakitan dengan nafasnya yang sudah sangat sesak akibat cengkraman Seokjin yang sangat kuat.


Tiba-tiba saja Enwoo dan gerombolannya baru sampai ditempat kejadian, dan sudah melihat tempat itu hancur berantakan akibat perkelahian Seokjin.


Mata Enwoo seketika tertuju kearah Seokjin yang sedang mencengkram leher seseorang. Dengan cepat Enwoo langsung berlari kearahnya.


"Hyung, lepaskan!! Dia bisa mati olehmu." Tegur Enwoo sembari menghempaskan tangan Seokjin dari orang itu.


Orang itu pun terlepas dari cengkraman Seokjin, dan langsung terbaring lemah dengan nafas yang tersengal-sengal.


"Ya!! Kenapa kau menolongnya?? Dia pantas mati." Gerutu Seokjin dengan nafas yang sudah sesak karena amarah.


"Hyung, tenanglah!! Kita masih membutuhkannya, jika dia mati kita tidak akan tau siapa pelaku utamanya disini." Jelas Enwoo.


Seketika Seokjin terdiam, dengan kedua tangan menempel dipinggangnya.


"Baiklah, suruh anak buahmu untuk mengurus mereka!! Aku akan mencari Y/n." Ujar Seokjin berjalan pergi dari tempat itu.


Enwoo hanya mengangguk dan menoleh kearah anak buahnya.


"Kalian urus mereka!!" Suruh Enwoo dan langsung pergi mengikuti Seokjin.


Anak buahnya dengan sigap langsung bergegas membereskan kedua orang jahat itu, saat itu juga.


...


.


.


.


.


.


.


.


Di tempat lain, Seokjin dan Enwoo terus sibuk mencari keberadaan Y/n. Setiap pintu ruangan Seokjin buka, dan sampai akhirnya ia membuka pintu paling pojok.


Seketika ia terbelakak, ketika melihat Y/n Yang sedang terbaring lemah dilantai.


Dengan sigap Seokjin langsung berlari kearahnya.


"Y/n bangun, kau tidak papakan?? Y/n aku mohon jangan tinggalkan aku!!" Rintih Seokjin yang langsung memeluk tubuh istrinya itu.

__ADS_1


Enwoo hanya bisa terdiam disamping Seokjin sembari mengusap-ngusap pundaknya, ia merasa bersalah karena tidak bisa berbuat cepat untuk menolong sodaranya itu.


...


__ADS_2