Puisi

Puisi
EPS 61


__ADS_3

AUTHOR POV


Waktu terus berputar, dan kini jarum jam pun sudah menunjukan pukul 15:00 sore. Saat itu Seokjin sedang berada di perusahaan KSJ yang kini sudah dipegang oleh kakak iparnya.


Ya, setelah Tuan Kim pergi ke Jepang, kini perusahaan itu dipercayakan pada Yoongi sepenuhnya.


Mereka kini terlihat sedang berkumpul diruang meeting. Merundingkan pergantian sekretaris baru untuk Yoongi. Dan sekretaris tersebut adalah Mina.


Siapa Mina?? Mina adalah sekretaris kepercayaan Seokjin. Dan saat ini dia akan dialihkan menjadi sekretarisnya Yoongi. Alasan kenapa Seokjin memilih Mina untuk menjadi Sekretaris Yoongi, karena Mina sudah lebih berpengalaman, dan tentunya sudah paham untuk mengatasi masalah perusahaan tersebut. Dan itu bisa sangat membantu untuk Yoongi kedepannya.


Bagaimana dengan posisi sekretaris untuk Seokjin?? Tentu saja ia sudah mendapatkan gantinya. Sebelum jauh tenpo hari. Ia sudah meminta orang kepercayaannya, yaitu Pak Tewon untuk mencarikan sekretaris yang handal dalam bekerja untuknya. Dan saat itu pun, Seokjin, Yoongi, Mina dan juga Pak Tewon sedang menunggu kedatangan sektretaris baru tersebut.


Tak lama kemudian, orang yang ditunggu-tunggu pun sudah datang. Semua manik pun tertuju kearah sosok wanita tersebut.


"Maaf apa saya datang terlambat??" Kata sosok tersebut yang langsung saja duduk dihadapan mereka.


Semua orang tersenyum kearahnya, terkecuali Seokjin. Ia hanya memasang wajah terkejut sesaat melihat sosok dihapadannya itu.


"Emm, jadi apa tugas saya selama bekerja disini??" Tanya wanita itu seketika.


Semua manik tertuju kearah Seokjin yang hanya terdiam seribu bahasa. Mereka semua seakan merasa kebingungan dengan sikap atasannya itu, yang dirasanya aneh.


Disisi lain, pak Tewon pun langsung berbisik ketelinga Seokjin.


"Maaf tuan. Nona itu sedang bertanya pada tuan."


Seketika Seokjin pun tersadar, dan langsung memalingkan wajahnya kearah sosok dihadapannya itu.


"Eoh, maaf sebelumnya aku tidak fokus, karena saat ini aku merasa sedang kurang enak badan. Jadi apa yang tadi mau kau tanyakan??" Ucap Seokjin mencoba bersikap profesional layaknya seorang atasan.


"Saya bertanya, apa tugas saya disini." Jelas sosok tersebut kembali.


"Emm, nanti kau akan menjadi sekretaris pribadiku. Tapi bukan di perusahaan ini!!"


Lalu seketika manik Seokjin tertuju pada ketiga orang yang duduk persampingan denganya.


"Mina tolong kau beritahu dia arahan-arahan kerja selama menjadi sekretarisku!! Dan Yoongi, lebih baik kau juga ikut mendengarkan arahan-arahan Mina selama ia menjelaskannya nanti!! Karena itu akan sangat bermanfaat untukmu. Emmm, dan kau pak Tewon!! Bisakah kau ikut sebentar bersamaku?? Ada hal penting yang ingin kubicarakan padamu." Ujar pria itu yang langsung pergi keluar dalam ruangan tersebut.


Pak Tewon pun, dengan cepat langsung menyusul atasannya itu pergi keluar. Sedangkan Mina, ia mulai menjelaskan arahannya pada Yoongi dan juga sektretaris baru itu.


...


Disisi lain, kini Seokjin sudah berdiri bersama pak Tewon diluar ruangan tersebut.


Ia terlihat menyedekapkan kedua tangan didadanya. Dengan sorot matanya yang menatap tajam kearah pria parubaya itu.


"Apa kau benar-benar yakin memilihnya untuk menjadi sektretarisku??" Tanya Seokjin saat itu.


"Iya tuan, saya sangat yakin." Jawab Pak Tewon sembari menundukan wajahnya.


"Kapan pak Tewon menginterview nya??"


"Kemarin tuan."


"Wae?? Kemarin." Tanya Seokjin tertegun.


Pak Tewon pun menganggukan kepalanya dengan cepat.


"Kemarin sore, ah bukan!! Tepatnya lagi jam 6sore dia datang memohon pada saya untuk ikut interview. Dan saat itu kebetulan waktunya sangat pas, saya langsung saja membawanya keruang interview. Saya memberikan berbagai pertanyaan padanya, sesuai dengan permintaan tuan. Dan semuanya dijawab benar olehnya. Bahkan ternyata, ia juga lulusan sarjana di luar negeri. Maka dari itu tanpa fikir panjang saya langsung menerimanya."


Seokjin lalu menarik nafas singkat, seraya menggelengkan kepalanya.


"Bukan!! Bukan itu yang kutanyakan!! Maksudku. Apa setelah interview itu selesai, dia menayakan keberadaanku??"


Pak Tewon sempat terdiam mengingat kembali kejadian kemarin.


"Eoh, ia tuan. Dia bilang ingin bertemu langsung dengan tuan, dan saya hanya memberitahunya kalau tuan sedang pergi bersama teman-teman tuan kecafe tempat tuan selalu kesana."


Seokjin lantas berdecak kesal, dengan salah satu tangan yang mengusap rambutnya kebelakang.


"Pantas saja semalam dia menghampiriku." Gumam pria itu.


Tak lama kemudian, Mina dan yang lainnya keluar dari ruangan tersebut.


"Pak Seokjin, saya sudah selesai memberi arahannya. Apa sekarang saya sudah bisa pergi bersama pak Yoongi untuk memulai pekerjaan saya??" Ucap Mina dengan sopan.


Manik Seokjin pun menoleh kearah mereka.


"Eoh, tentu Mina. Dan terimakasih juga karena selama ini kau sudah bekerja dengan sangat baik untukku." Jawab Seokjin. Dan seketika ia pun langsung menoleh kearah Yoongi.


"Yoongi, semoga kau bisa bekerja sama dengan baik bersama Mina." Sambungnya sambil menepuk bahu kakak iparnya itu.


"Baiklah, Seokjin. Kalau begitu aku dan Mina akan pergi sekarang untuk kembali bekerja." Jawab Yoongi tersenyum.


Yoongi dan Mina pun pergi saat itu juga.


Sedangkan Seokjin, ia langsung menoleh kearah sosok wanita yang hanya terdiam sedari tadi.


"Kau Sohye, ayo ikut aku!!" Ajaknya yang langsung berjalan pergi ke area parkir.


Wanita itu hanya menganggukan kepalanya, dan langsung berjalan mengekori Seokjin dari belakang.


...


.


.


.


.


.


.


.


Hari sudah berganti malam. Tepat pada pukul 19:00 malam. Dirumahnya Seokjin.


Terlihat Y/n sudah mulai berdandan cantik dikamarnya. Berkali-kali ia memilih gaun yang berjejer rapih dilemari bajunya. Mencari gaun yang pas untuk ia kenakan nanti.


Seketika sorot matanya langsung tertuju pada gaun berwarna merah. Dan dengan cepat, ia pun langsung mengambil gaun tersebut.


"Apa aku tak berlebihan, kalau memakai gaun ini sekarang?? Ini kan hari spesial?? Toh juga ini semua untuk suamiku sendiri." Gumam wanita itu yang kini langsung saja memakai gaun yang sudah ia pilih.


...


.


.

__ADS_1


.


.


.


Sedangkan ditempat yang berbeda.


Seokjin saat itu sudah bersiap-siap untuk pulang dikantornya. Karena setengah jam lagi ia sudah ada janji untuk pergi makan malam bersama istrinya.


Sesaat kemudian, Seokjin kini sudah berada diparkiran mobilnya. Namun seketika, seseorang memanggil namanya dari arah belakang.


"Seokjin-si!!"


Manik pria itu pun langsung menoleh kearah suara tersebut.


"Eoh, kau Sohye. Ada apa??" Tanyanya seketika.


"Seokjin, apa--Aghhht."


Tiba-tiba saja wanita itu langsung meringis kesakitan. Ia pun langsung tersimpuh duduk dengan kedua tangannya yang menahan sakit pada bagian perutnya.


"Sohye kau kenapa??" Tanya Seokjin seketika tersontak kaget. Dan dengan cepat ia langsung mendekat kearah wanita itu.


"Seokjin, perutku sangat sakit. Aghhht." Ringis Sohye semakin kesakitan.


Seokjin saat itu merasa sangat panik. Ia merasa kebingungan harus berbuat apa pada sosok wanita dihadapannya itu.


"Seokjin tolong aku!! Aku benar-benar sudah tidak kuat. Aghhhht." Jerit wanita itu sembari meremas perutnya yang benar-benar terasa sakit.


"Iya Sohye, a-aku akan membawamu kerumah sakit. Bertahanlah!!" Ucap Seokjin yang tanpa fikir panjang langsung memangku tubuh wanita itu, masuk kedalam mobilnya.


Beberapa saat ia sudah berada didalam mobilnya. Dan menempatkan wanita itu duduk disebelahnya.


"Sohye, apa kau masih bisa menahannya??" Tanya Seokjin hawatir.


Sohye hanya menganggukan kepalanya lemah, tak sanggup untuk menjawab pertanyaan pria disampingnya itu.


Tanpa basa-basi lagi, Seokjin pun langsung melajukan mobilnya saat itu juga.


...


.


.


.


.


Beberapa menit kemudian, kini Seokjin sudah berada disebuah rumah sakit terdekat. Dan Sohye pun sudah ditangani oleh beberapa ahli medis.


Kini Seokjin hanya terduduk dikursi tunggu dengan wajahnya yang begitu cemas. Namun seketika ponselnya berbunyi, dan dengan cepat ia pun langsung mengangkat telfon tersebut.


"Hallo."


"Hallo, Seokjin. Kau masih dimana?? Aku sudah menunggumu sedari tadi. Bukankah kita akan pergi sekarang??"


"Eoh, maaf Y/n!! Kurasa makan malamnya tidak jadi."


"Wae?? Kenapa??"


"Barusan temanku mendadak harus dibawa kerumah sakit, dan aku terpaksa harus menolongnya. Aku minta maaf ya sayang!! Tapi aku janji, aku akan mengajakmu dilain waktu, dan kau----."


Manik pria itu pun langsung menoleh kearah dokter tersebut, ketika namanya serasa dipanggil.


"Iya dok saya!!"


Seketika itu juga, ia langsung saja mematikan telfonnya sepihak. Dan ia pun langsung pergi menuju dokter tersebut.


...


.


.


.


Disisi lain.


"Tapi Seok---."


"Wae?? Kenapa dia mematikan telfonya?? Aku kan belum selesai bicara??" Ucap Y/n kebingungan.


Wajah sedih pun begitu jelas terpancar diwajah wanita itu.


Rasa kecewa, sedih, marah, kini sedang berkumpul menjadi satu dalam benaknya.


Bagaimana bisa Seokjin mengingkari janjinya. Setelah wanita itu sangat merasa bahagia karena akan pergi bersama pria tercintanya.


Namun seketika, kebahagiaan itu harus sirnah seketika kekecewaan harus berpihak padanya.


Y/n kini hanya terduduk lesu ditepi kasurnya. Tak sanggup mengungkapkan kepedihan pada hatinya, matanya pun mulai berkaca-kaca menahan rasa kecewa pada dirinya.


Ia sedih bukan karena makan malam itu tidak jadi, melainkan ia sedih karena Seokjin menutup begitu saja telfon darinya. Bukankah itu sangat menyinggung perasaannya.


"Ada apa sebenarnya Seokjin?? Aku mohon jangan membuatku semakin curiga!! Jangan membuatku berpikir bahwa kau ada wanita lain diluaran sana. Aku tidak akan sanggup jika semua itu benar terjadi." Lirih wanita itu sembari terus menonggakan wajahnya agar air matanya tidak jatuh.


Perlahan wanita itu mulai bangkit dari duduknya, dan langsung berdiri lesu di depan cermin riasnya.


Ia menatap kosong kearah cermin tersebut. Dengan kedua tangannya yang mulai menghapus satu persatu riasan diwajahnya.


Gaun yang ia kenakan untuk pertama kalinya pun, kini harus terpaksa ia lepas kembali. Padahal gaun itu adalah gaun spesial yang Seokjin berikan diulang tahunnya waktu itu.


Ya, faktanya memang apapun yang Seokjin berikan padanya. Ia akan menganggap barang tersebut istimewa untuknya.


Beberapa saat kemudian, kini Y/n sudah berganti pakaian kembali. Dan ia pun kini sudah berbaring di kasurnya. Ia hanya terdiam sembari menatap langit-langit kamarnya.


Perlahan air matanya mulai mengalir disudut matanya.


Tak sanggup untuk bicara, wanita itu hanya bisa menangis secara diam-diam didalam kamarnya. Menahan berjuta kekecewaan pada sosok suaminya.


...


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


Kembali lagi ketempat Seokjin dan Sohye berada.


Saat itu Sohye sudah di ijinkan untuk pulang. Dan mereka pun kini sedang berjalan menuju area parkir.


"Kau benar-benar sudah baikan??" Tanya Seokjin sembari menopang kedua bahu Sohye karena kondisinya yang masih lemah.


"Aku tidak papa, maaf Seokjin aku malah merepotkanmu." Ucap wanita itu sendu.


"Tidak papa."


Sesaat Seokjin sedang berjalan dilorong rumah sakit, tiba-tiba.


Brugkkkk..


Tubuhnya bertabrakkan dengan seseorang.


"Haisss, ya!! Apa kau tidak punya mata, eoh? Tegur Seokjin menatap tajam kearah pria tersebut.


"M-maaf tuan, aku benar-benar tidak sengaja." Jawab pria itu sembari menundukan kepalanya.


Seokjin lalu mendengus kesal. Dan belum saja ia akan bicara lagi, tiba-tiba saja seorang pria lainnya  datang menghampiri mereka.


"Kau kenapa Hoseok??" Tanya pria itu yang langsung menepuk bahu pria bernama Hoseok itu.


"Eoh, barusan aku tak sengaja menabrak pria itu Taehyung. Saat aku akan menyusulmu keruang periksa" Jelas Hoseok.


Seketika manik pria itu langsung menoleh kearah Seokjin.


"Eoh, maafkan temanku tuan!! Dia benar-benar tidak sengaja." Jelas pria itu sembari membungkukkan punggungnya.


Seokjin lantas menghelas nafas jengah.


"Baiklah, lain kali perhatikan jalanmu. Kau bisa saja mencelakai orang lain." Jawab Seokjin dengan dingin.


Dan seketika sorot mata Taehyung langsung tertuju pada wanita yang sedang ditopang oleh pria dihadapannya itu.


"Eoh, apa Nona istrinya?? Kalau begitu aku juga minta maaf padamu atas kecerobohan temanku barusan."


Mata Sohye seketika tertegun.


"A-aku---."


"Sudahlah!! Lebih baik kita pulang sekarang!! Hari sudah sangat malam, kau juga harus beristirahat bukan??" Ajak Seokjin yang tiba-tiba langsung menarik tangan wanita itu pergi begitu saja.


Sohye pun hanya bisa pasrah, dan saat itu juga langsung pergi bersama Seokjin.


Setelah punggung kedua orang itu sudah tak terlihat. Hoseok lantas langsung mendengus kesal.


"Dasar, orang kaya sekarang memang suka sekali bersikap seenaknya. Padahal aku kan sudah meminta maaf padanya." Gerutunya kesal.


"Memangnya kau tau darimana?? Dia itu orang kaya." Tanya Taehyung sembari memiringkan kepalanya.


"Dari penampilannya saja, aku sudah tau kalau dia itu memang dari kalangan orang kaya."


"Buktinya??"


"Haiss, apa kau tak melihat?? Pria dan wanita itu memakai kartu nama perusahaan HC dikemeja mereka."


"Eoh, maksudmu?? Perusahaan ternama itu??"


"Iya benar!! Dan kurasa pria itu adalah cucu pemilik perusahaan itu."


"Hemm, yasudahlah, lupakan saja!! Sebaiknya kita pulang sekarang." Ajak Taehyung.


"Eoh, baiklah. Tapi apa hasil pemeriksaanmu tadi?? Apa sekarang sudah ada perkembangan??"


"Dokter bilang, saraf-saraf di otakku mulai pulih kembali. Aku hanya perlu meminum resep obatku secara rutin. Sama seperti biasanya." Jelas Taehyung sembari tersenyum simpul.


Hoseok lantas langsung menepuk bahu sahabatnya itu.


"Jika saja saat itu, kau tidak mengkomsumsi minuman keras secara berlebihan. Mungkin hidupmu saat ini tidak akan bergantung pada obat-obatan itu."


Seketika Taehyung hanya terkekeh mendengar ucapan sahabatnya itu.


"Sudahlah!! Lagi pula semuanya sudah terjadi. Kau juga selalu bilang padaku, jika aku harus menikmati hidupku dengan sangat baik."


"Iya itu memang benar!! Lagi pula sekarang kau sudah mendapatkan gantinya bukan??" Goda Hoseok tiba-tiba.


Taehyung hanya tersenyum sekilas.


"Hemm, yasudah ayo kita pergi!!"


"Lets Go!!!" Jawab Hoseok dengan senyuman yang berseri-seri.


...


.


.


.


.


.


.


.


Malam semakin larut, Dan kini Seokjin sudah kembali pulang kerumahnya, setelah dirinya sudah mengantarkan Sohye pulang kerumahnya.


Saat itu ia sudah masuk kedalam kamarnya, dan mendapatkan istrinya sudah tertidur pulas dikasurnya.


Tanpa basa-basi ia pun langsung mendekat kearah Y/n, dan duduk ditepi kasurnya.


Ia lalu menatap hangat wajah istrinya itu, dan perlahan jari-jari tangannya mulai membelai helaian rambut milik istrinya tersebut.


"Maafkan aku sayang!! Lagi-lagi aku mengecewakanmu. Aku sangat mencintamu." Kata Seokjin yang langsung mencium kening istrinya sekilas.


Dan saat itu juga, Seokjin langsung pergi kekamar mandi untuk segera membersihkan diri.


Setelah Seokjin pergi, tiba-tiba mata wanita itu perlahan terbuka. Nyatanya Y/n belum benar-benar tertidur saat itu. Dan ia pun juga mendengar semua perkataan suaminya barusan.


Perlahan air matanya mulai bercucuran kembali. Namun dengan cepat ia langsung menghapusnya, agar Seokjin tidak mengetahuinya.


...

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2