Puisi

Puisi
puisi sedih


__ADS_3

Oleh Nanda A


Melapuk.. Dinding berduri


Menggelepak sejuta rintih


Riuh dipandang


Keras mengerang


Tiada teluk terhening


##


Dirampas simpul di bibirnya


Digetar raga sukmanya


Tanpa wacana, meredam


##


Ia merenung di sudut


Meratap hidupnya, hai penuh jelaga


Ditinggal sanak saudara


Si pemimpi semalaman terjaga


##


Gulita, dijera asa


Tiada lagi selain kelam


Hitam, tanpa batas pandang


Menjelang… Pun kesunyian


##


Di ujung cakrawala, semburat


Menampik hai perasa


Terdiam.. Mereka diam


***


Puisi Sedih – Belati Kata-Kata


kata sedih


Oleh Paulus Padamaley


Tiada lagi yang kita bicara


Yang ada menambah wacana


Dan tak mungkin dapat terbaca


Cukup sekian dan terima kasih


##


Sampai disini sudah perjalan kita


Semua hanya kepura-puraan semata


Enggan terpungkiri lagi tuk melepas


Antara kita dan cerita bersenda gurau


##


Aku kan pergi bersama luka


Walaupun perih tersayat belati


Sebab tiada lagi kata-kata yang tersisa


Pun tertata rapih dengan seadanya


***


Puisi Sedih – Setitik Cahaya



Oleh Muhammad Fathur Rozi


Kekasih pertamaku, kau setinggi awan hingga tanganku tak sampai tuk mendekapmu dalam bait rindu


Mungkin bunga itu akan dipetik sesuai dengan tinta klabu lauhul mahfud


##


Sebuah cerita dalam dongeng? Iya! Tapi seperti nyata


Hebusanmu menyapa segelintir dedaunan yang sudah tak elok karena bunganya tersembunyi di balik mata


##


Berlabuh pada pelipis mata yang tak bergeming


Keakuanku bak sutra kusut yang tak disapa biasan air hujan dalam lumut


  Puisi Pahlawan


##


Suaranya menyelinap di sela-sela langit dadaku nan tak mungkin kembali seperti jarum jam dinding


Beruntunglah aku, dalam gelap malam ada sepercik cahaya yang terang merayuku dalam diam.


##


Zaman berputar. Pun begitu harus ada perubahan. Karena, kupu-kupu pun tak akan dipuji oleh jutaan insan jika tetap menjadi secuil ulat.

__ADS_1


***


Puisi Sedih – Jangan Pernah Ada


puisi patah hati


Oleh Arisman Ramli


Menjadi biasa, melewati pinggiran desa kita yang rimbun


Lekuk jalanan penghujung aspal kelabu


Ini sama dengan yang ada di ingatanmu


##


Dengan apa yang telah kita semai dibalik tatapan2 itu


Berkeluh pada rindu yang tiba-tiba


Menanyakan arti kata temu denganmu


##


Kau tetap biasa sebagai semula


Sebagai yang kurindu


Sebagai yang pernah kutatap


##


Hujan tak pernah tiba pada waktunya


Dan berhenti pada masa yang tak didamba


Menyirami semak2 yang rimbun itu


##


Berakhir pada kilauan malam


Sungguh ini bukan cinta


Bukan rasa yang dapat tersatukan


##


Karna kita menjadi biasa


Biasa untuk tidak saling bertanya


Menanyakan tentang asa yang mesti hilang


***


Puisi Sedih – Gelisah



Oleh Aisyah Rianda Gewa


Kenapa cahaya itu kau gadaikan


Apa yang membuatmu lalai


Tak malu kah kau dengan Nabimu?


##


Bagaimana impianmu


Jika untukNya kau kurangkan waktu


Gelisah hatimu bukan?


Karena engkau sekarang bersama tipu daya


##


Dimana prinsipmu?


Bahagiamu masih panjang kau perjuangkan


Tapi seteguh air engkau acuhkan


Tak bahagia hatimu bukan?


##


Jangan masuki lorong hitam


Disana gelap gulita


Jangan kotori kain suteramu


Karena tak kan ada air bersih di sepanjang jalan.


##


Sudahi ini!


Cukupkanlah..


Wahai diri.


***


Puisi Sedih – Sebait Luka



Oleh Sri Wahyuni


Ketika Sang Pemberi Cahaya telah lelah tuk menyinari


Menghadirkan gelap, sunyi, sepi


##

__ADS_1


Bergerak pun takut..


Hanya peraba dan insting yang bekerja


Kau tahu,


##


Cahaya kegelapan telah sirna


Redup tak berarti


Menghadirkan sedalam luka


##


Dan, kau tahu..


Bahkan satu katapun


Itu sangat sulit untuk menggambarkan suatu rasa


Yang sulit untuk dicerna oleh akal dan pikiran


  Puisi Ibu


##


Biarlah..


Setiap kata yang saling tak sepihak


Hadir menyempurakan luka


Yang mengering oleh air mata penyesalan


##


Salahku..


Yang menghadirkannya..


Sebait luka yang tak dapat ku mengerti…


***


Puisi Sedih – Sendu Keheningan


puisi kesedihan hati


Oleh Dia Astrida


Rumput bergoyang di hadapanku


Seakan mengajakku menari bersamanya


##


Tiada alunan musik yang mengiringi tarian kami


Dunia jadi saksi buta tentang itu


##


Banyak angin tak terlihat menghipnotisku


Menembus setiap tetesan yang mengalir di tubuhku


##


Penatku hilang di hembus angin sepoi-sepoi


Risauku pupus bersama butiran keringat


##


Perlahan aku mulai tenggelam


Menjauh dari sendu keheningan.


***


Puisi Sedih – Hujan Di Musim Kemarau



Oleh Nimas Parista P.


Bunga Liar menengok Bulan


Perlahan layu dalam hening


Dalam renungan terbangkit lagi


Tatapan sendu mengingat bekas luka


##


Hujan turun di musim kemarau


Mahkota indah di tanah kering


Bangunkan hari tanpa fajar


Menangis biru lembayun sunyi


##


Hapuskan pelangi di langit cerah


Teriak senja iringi hampa


Pohon kecil tertinggal sendiri


##


Awan semakin tebal


Menutup harapan

__ADS_1


Menatap matahari


***


__ADS_2