
Oleh Nanda A
Melapuk.. Dinding berduri
Menggelepak sejuta rintih
Riuh dipandang
Keras mengerang
Tiada teluk terhening
##
Dirampas simpul di bibirnya
Digetar raga sukmanya
Tanpa wacana, meredam
##
Ia merenung di sudut
Meratap hidupnya, hai penuh jelaga
Ditinggal sanak saudara
Si pemimpi semalaman terjaga
##
Gulita, dijera asa
Tiada lagi selain kelam
Hitam, tanpa batas pandang
Menjelang… Pun kesunyian
##
Di ujung cakrawala, semburat
Menampik hai perasa
Terdiam.. Mereka diam
***
Puisi Sedih – Belati Kata-Kata
kata sedih
Oleh Paulus Padamaley
Tiada lagi yang kita bicara
Yang ada menambah wacana
Dan tak mungkin dapat terbaca
Cukup sekian dan terima kasih
##
Sampai disini sudah perjalan kita
Semua hanya kepura-puraan semata
Enggan terpungkiri lagi tuk melepas
Antara kita dan cerita bersenda gurau
##
Aku kan pergi bersama luka
Walaupun perih tersayat belati
Sebab tiada lagi kata-kata yang tersisa
Pun tertata rapih dengan seadanya
***
Puisi Sedih – Setitik Cahaya

Oleh Muhammad Fathur Rozi
Kekasih pertamaku, kau setinggi awan hingga tanganku tak sampai tuk mendekapmu dalam bait rindu
Mungkin bunga itu akan dipetik sesuai dengan tinta klabu lauhul mahfud
##
Sebuah cerita dalam dongeng? Iya! Tapi seperti nyata
Hebusanmu menyapa segelintir dedaunan yang sudah tak elok karena bunganya tersembunyi di balik mata
##
Berlabuh pada pelipis mata yang tak bergeming
Keakuanku bak sutra kusut yang tak disapa biasan air hujan dalam lumut
Puisi Pahlawan
##
Suaranya menyelinap di sela-sela langit dadaku nan tak mungkin kembali seperti jarum jam dinding
Beruntunglah aku, dalam gelap malam ada sepercik cahaya yang terang merayuku dalam diam.
##
Zaman berputar. Pun begitu harus ada perubahan. Karena, kupu-kupu pun tak akan dipuji oleh jutaan insan jika tetap menjadi secuil ulat.
__ADS_1
***
Puisi Sedih – Jangan Pernah Ada
puisi patah hati
Oleh Arisman Ramli
Menjadi biasa, melewati pinggiran desa kita yang rimbun
Lekuk jalanan penghujung aspal kelabu
Ini sama dengan yang ada di ingatanmu
##
Dengan apa yang telah kita semai dibalik tatapan2 itu
Berkeluh pada rindu yang tiba-tiba
Menanyakan arti kata temu denganmu
##
Kau tetap biasa sebagai semula
Sebagai yang kurindu
Sebagai yang pernah kutatap
##
Hujan tak pernah tiba pada waktunya
Dan berhenti pada masa yang tak didamba
Menyirami semak2 yang rimbun itu
##
Berakhir pada kilauan malam
Sungguh ini bukan cinta
Bukan rasa yang dapat tersatukan
##
Karna kita menjadi biasa
Biasa untuk tidak saling bertanya
Menanyakan tentang asa yang mesti hilang
***
Puisi Sedih – Gelisah

Oleh Aisyah Rianda Gewa
Kenapa cahaya itu kau gadaikan
Apa yang membuatmu lalai
Tak malu kah kau dengan Nabimu?
##
Bagaimana impianmu
Jika untukNya kau kurangkan waktu
Gelisah hatimu bukan?
Karena engkau sekarang bersama tipu daya
##
Dimana prinsipmu?
Bahagiamu masih panjang kau perjuangkan
Tapi seteguh air engkau acuhkan
Tak bahagia hatimu bukan?
##
Jangan masuki lorong hitam
Disana gelap gulita
Jangan kotori kain suteramu
Karena tak kan ada air bersih di sepanjang jalan.
##
Sudahi ini!
Cukupkanlah..
Wahai diri.
***
Puisi Sedih – Sebait Luka

Oleh Sri Wahyuni
Ketika Sang Pemberi Cahaya telah lelah tuk menyinari
Menghadirkan gelap, sunyi, sepi
##
__ADS_1
Bergerak pun takut..
Hanya peraba dan insting yang bekerja
Kau tahu,
##
Cahaya kegelapan telah sirna
Redup tak berarti
Menghadirkan sedalam luka
##
Dan, kau tahu..
Bahkan satu katapun
Itu sangat sulit untuk menggambarkan suatu rasa
Yang sulit untuk dicerna oleh akal dan pikiran
Puisi Ibu
##
Biarlah..
Setiap kata yang saling tak sepihak
Hadir menyempurakan luka
Yang mengering oleh air mata penyesalan
##
Salahku..
Yang menghadirkannya..
Sebait luka yang tak dapat ku mengerti…
***
Puisi Sedih – Sendu Keheningan
puisi kesedihan hati
Oleh Dia Astrida
Rumput bergoyang di hadapanku
Seakan mengajakku menari bersamanya
##
Tiada alunan musik yang mengiringi tarian kami
Dunia jadi saksi buta tentang itu
##
Banyak angin tak terlihat menghipnotisku
Menembus setiap tetesan yang mengalir di tubuhku
##
Penatku hilang di hembus angin sepoi-sepoi
Risauku pupus bersama butiran keringat
##
Perlahan aku mulai tenggelam
Menjauh dari sendu keheningan.
***
Puisi Sedih – Hujan Di Musim Kemarau

Oleh Nimas Parista P.
Bunga Liar menengok Bulan
Perlahan layu dalam hening
Dalam renungan terbangkit lagi
Tatapan sendu mengingat bekas luka
##
Hujan turun di musim kemarau
Mahkota indah di tanah kering
Bangunkan hari tanpa fajar
Menangis biru lembayun sunyi
##
Hapuskan pelangi di langit cerah
Teriak senja iringi hampa
Pohon kecil tertinggal sendiri
##
Awan semakin tebal
Menutup harapan
__ADS_1
Menatap matahari
***