
**PENGUMUMAN:
MAAF NI GAES, AKU SEDIKIT KASIH PENGUMUMAN DI CERITA AKU. DI BAB INI AKU BAKAL SEDIKIT UBAH CARA DIALOG TOKOHNYA, SOALNYA ADA YANG BILANG CERITA AKU UDAH KAYA NASKAH DRAMAππ.MAKLUM AKU BARU DALAM PENULISAN, DAN MASIH BANYAK SALAHNYA, TAPI DISINI AKU SAMBIL BELAJAR KO. YAUDAH, JADI SEKARANG AKU UBAH CARA DIALOGNYA GAK PAKE NAMA TOKOHNYA. MAKASIH BANGET YA UDAH MAU TERUS BACA CERITA AKU.ππ**.
POV Y/N.
Setelah pertengkaranku tadi dengan Seokjin, Aku kembali ke tempat kerjaku. Aku hanya duduk murung di dapur lestoran.
"Y/n. Kau kenapa??" Tanya Hoseok yang tiba-tiba datang menghampiriku.
Aku tak merespon pertanyaan Hoseok, dan hanya memilih diam.
"Y/n-ah. Kau ini selalu membuatku hawatir, (Menatap mataku) Ya!! lalu itu matamu kenapa sembab, Apa kau habis menangis?" Tanyanya kembali.
Aku pun tertergun ketika Hoseok menyadari keadaanku saat itu, Lalu. Aku pun bangkit dari dudukku dan langsung memalingkan wajahku darinya.
"Ah Tidak. Aku tidak menangis. Barusan Aku terlalu terburu-buru mengendarai motor, dan mataku terkena debu cukup banyak. Alhasil air mataku terus bercucuran karena terasa perih." Jelasku mengelak pada Hoseok.
Tatapan Hoseok seperti percaya tak percaya akan jawabanku. Ia menatap curiga ke arahku. Mataku pun melirik kekanan dan kekiri karena merasa gugup dengan tatapannya.
"Ya!! (Teriakku) Kenapa kau menatapku seperti itu??"
Hoseok hanya memiringkan kepalanya dengan satu tangan menempel didagunya.
"Kau sedang membuat cerita?? Ah, sudahlah. Sebaiknya kau segera menghilangkan bengkak dimatamu!! Sebelum Taehyung melihatnya." Ucapnya lalu pergi meninggalkanku.
Saat itu Aku merasakan bahwa Hoseok tak percaya dengan ucapanku dan tak mau memperdebatkannya denganku. Entahlah, tapi itulah yang kurasakan.
...
.
.
.
.
.
.
.
Jam 16:00 Aku sudah selesai dari pekerjaanku, Saat itu aku sudah menunggu Taehyung di depan lestoran tempatku bekerja. Aku berdiri sambil memeluk tas punyaku. beberapa detikpun Hoseok datang menghampiriku dengan mengendarai motonya.
"Y/n. Apa Taehyung akan menjemputmu??" Tanyanya berhenti di depanku.
"Ya, Dia bilang sebentar lagi dia akan sampai." Jawabku tersenyum.
"Baiklah, Jika memang begitu. Aku pergi duluan." Ucapnya kembali menyalakan mesin motornya.
Aku hanya menganggukan kepalaku. Dan tak lama Hoseok pun pergi meninggalkanku.
__ADS_1
Aku menunggu hampir 15menit lamanya. Dan Taehyung baru sampai menjemputku. Seketika Aku langsung mengangkat mataku ke arahnya.
"Maaf, kau pasti menunggu sangat lama. Barusan dijalan sangat macet." Ucapnya dengan wajah bersalah.
"Tidak papa. Kau tak perlu meminta maaf." Balasku tersenyum.
Taehyung membuang nafas lega. Lalu tersenyum kotak kearahku.
"Kau sudah makan?? Mau makan dulu bersamaku??" Ajaknya.
"Belum." Jawabku menggelengkan kepala.
"Ya sudah Kita makan dulu. Mau makan dimana??"
"Terserah kau saja." Mengangkat kedua pundakku.
"Baiklah, kalau begitu naiklah sekarang!!" Suruhnya saat itu, dengan senyuman yang masih sama.
Akupun naik ke atas motornya, dan langsung pergi saat itu juga.
...
.
.
.
.
.
.
Terlihat seorang wanita parubaya datang menghampiri kami.
"Mau pesan berapa porsi Nak??" Tanyanya yang ternyata pemilik warung Kimchi disana.
Aku dan Taehyung melirik ke arahnya dengan senyuman bibir kami.
"Eoh, Y/n. Kau mau berapa porsi??" Tanya Taehyung padaku.
"Aku porsi kecil saja. Sekarang ini Aku belum begitu lapar." Jawabku.
"Ya!! Bilang saja kau takut gendut.(Menatap sinis ke arahku, lalu menoleh kembali ke arah wanita itu) 1 porsi ukuran besar 1, dan 1 porsi ukuran kecil 1." Sambungnya pada wanita itu.
"Baiklah, Tunggulah sebentar. Kami akan membuatkannya dulu." Jelas Wanita itu pergi meninggalkan kami.
Aku menatap ke arah Taehyung.
"Dasar rakus. Dari dulu kau tak pernah berubah. Nafsu makanmu itu sangat tinggi, tapi anehnya badanmu masih saja tetap kurus Taehyung." Ucapku meledeknya.
Taehyung mendengus kesal, lalu menatap kearahku dengan kedua telapak tangan menempel dikedua pipinya.
__ADS_1
"Ya!! Nanti juga setelah Aku menikah denganmu tubuhku ini akan berisi dengan sendirinya. Karena setelah menikah nanti bukan hanya perutku yang akan terisi tapi juga batinku." Jelasnya dengan santai.
Aku mengkerutkan keningku.
"Batin?? Maksudmu Apa Taehyung Aku tak mengerti??" Tanyaku kebingungan.
"Sudahlah, Nanti setelah menikah kau akan mengetahuinya sendiri." Jawabnya terkekeh.
"Ya!! Jangan membuatku semakin penasaran Taehyung. Cepat jelaskan Apa artinya??" Bujukku memaksa.
"Y/n-ah. Kau ini benar-benar tidak tau, atau pura-pura tidak tau. Preman sepertimu ini ternyata masih polos." Ledeknya sembari tertawa.
"Ya!!" (teriakku)
Seketika Taehyung menghentikan tawaannya. Lalu mendekatkan bibirnya ke arah telingaku , dan berbisik.
"Ciuman."
Mataku seketika terbuka lebar, dengan spontan Aku langsung mendorong pundak Taehyung untuk menjauh dariku.
"Dasar Pria mesum." Ujarku kesal, Tanpa sadar wajaku pun berubah memerah.
"Ya!! Kenapa kau marah?? Kau sendiri yang memaksaku untuk memberitahumu bukan??"
Aku menyipitkan mataku ke arahnya sembari menyedekapkan kedua tangan didadaku. Taehyung pun kembali berkata seakan tak peduli dengan tatapanku.
"Berhentilah menatapku seperti itu!! Apa kau tak menyadari, setiap kali kita berciuman. Pasti kau merasakan kenyamanan dan kenikmatan pada dirimu bukan. Itulah yang dinamakan kebutuhan batin, bahkan setelah menikah nanti, kita akan melakukannya lebih dari sekedar ciuman." Jelasnya dengan nada rendah.
Tanpa ia sadari ucapannya itu malah membuatku semakin malu. Wajahku pun semakin memerah seperti buah tomat.
Aku membuang nafas panjang dan mulai berkata padanya.
"Taehyung-ah. Berhentilah bicara!! Aku tidak mau mendengarnya lagi." Ujarku sembari menutup telingaku.
Taehyung hanya tersenyum jahil ke arahku.
"Tidak, Aku tidak mau berhenti bicara." Jawabnya dengan santai.
Aku pun mendengus kesal dan menatap tajam kearahnya.
"Oh. Kau mau bermain-main denganku Kim Taehyung. Baiklah, jika kau masih mau terus meneruskan perkataanmu itu, jangan pernah berharap Kau akan bisa menemuiku lagi." Ancamku saat itu.
"Ya!! Kau mengancamku. Aku tidak takut." Balasnya.
"Kau kira, Aku main-main dengan ucapanku." Akupun bangkit dari dudukku untuk membuktikan ancamanku padanya.
Seketika wajahnya pun berubah tegang saat melihat aku akan pergi meninggalkannya.
"Y/n-ah, kau sungguh-sungguh akan meninggalkanku." Tanyanya menarik lenganku.
Aku hanya menganggukan kepalaku tampa melihat kearahnya.
"Baik-baik, Aku minta maaf. Aku tidak akan meneruskan perkataanku. Kembalilah duduk." Bujuknya dengan wajah penyesalan.
__ADS_1
Aku hanya tersenyum jahil saat itu, karena saat itu aku hanya bercanda untuk meninggalkannya.