
Sebelum baca jangan lupa dukungannya buat novel pertamku ya, jangan luoa like komen, vote dan hadiahnya.
terima kasih.
Yuna melihat kedua anaknya yang sudah tertidur pulas di temani oleh kakak sepupunya Arsyla anaknya ka Sandi.
Sedangkan Arsad anak keduanya tidur bersama ibunya yakni ka Jeni di kamar karena masih Asi eksklusif.
Ka Jeni memang memiliki prinsif yang sama sepertiku ingin memberikan asi eksklusif kepada anak - anak dengan maksimal agar mereka mendapat hak dan tumbuh kembang yang maximal pula.
Sebenarnya aku sejak tadi pagi sudah merasakan kontraksi namun aku diam saja tak bilang kepada siapa pun aku tak mau merusak suasana liburan.
Namun saat ini jam sudah menunjukan pukul 23.00 aku merasakan kembali kontraksi aku lebih memilih berjalan - jalan di ruang tengah dengan meminum air teh manis agar aku memiliki tenaga saat melahirkan.
Saat aku gelisah dengan kontraksi perutku mamah keluar dari kamarnya, melihatku yang tengah gelisah menahan sakit.
" Yuna kenapa kamu pucet? trus mondar - mandir begini. apa kamu sudah kontraksi? " tanya bu Rosa.
" Iya mah." sahutku lirih
" Ya sudah kita ke bidan atau ke rumah sakit saja '' ajak mamah seraya ke kamar membangunkan pak hartawan.
Mendengar Yuna akan melahirkan pak hartawan bergegas mencari sopir, sedang mamah Rosa menyiapkan barang bawaan untuk ke rumah sakit seperti perlengkapan bayi dan baju buat Yuna.
Mendengar keributan di luar pak Karim, keluar dari kamarnya melihat keributan.
Melihat anaknya yang sudah pucat pak karim menghampiri, " apa kamu akan melahirkan nak ? " tanyanya
'' Se- sepertinya iya pak ''
Saat semua ribut akan berangkat ke rumah sakit tiba - tiba masuk mobil ke halaman rumah pak karim.
'' Ini ada apa ? mau pergi kemana mah? " tanya Panji.
" Loh ko kamu ada di sini? Yuna mau melahirkan ayo kita ke rumah sakit '' ajak bu Rosa.
Bergegas Panji naik ke mobil yang sudah Yuna tumpangi.
Panji menghampiri yuna yang tengah menahan kontraksi.
" Mas, sakit banget '' lirihnya
'' yang sabar ya sayang kita ke Rumah sakit. ''
Tak lama Yuna dan Panji sudah sampai di rumah sakit, Panji bergegas memanggil petugas untuk bisa segera di tangani yuna sudah meraung - raung karena kontraksinya sudah sangat sering.
__ADS_1
Panji mengikuti hingga ke dalam ruang persalinan, karena yuna tak mau di tinggal sedikit pun olehnya hingga dokter memperbolehkan yuna di temani sang suami.
Setengah jam berlalu namun pembukaan masih belum lengkap baru di pembukaan 7 tapi kontraksi sudah semakin sering.
Hingga yuna semakin merintih kesakitan bahkan hingga menangis membuat Panji tak tega melihatnya.
" Sabar ya sayang '' ucapnya sambil mengelus ngelus punggung yuna sekedar mengurangi beban.
" Gimana mau aku ambilkan minum ? '' tanyaku.
Yuna mengangguk, aku pun segera melangkah mengambil air mineral yang sudah tersedia di atas nakas.
" Mas, '' panggilnya lirih sambil menahan kontraksinya.
" Aku ingin teh manis hangat '' pintanya
'' Aku panggil perawat dulu ya minta teh hangat "
bergegas panji keluar dari ruang persalinan, nampak bu Rosa, pak Hartawan dan pak karim sedang duduk di ruang tunggu, melihatku keluar bergegas mereka semua menghampiriku.
" Gimana Yuna ? " tanya pak Karim yang tampak raut wajah khawatir.
" Belum yuna masih pembukaan 7 namun kontraksinya sudah semakin sering, sekarang aku mencari perawat ingin minta teh manis hangat buat yuna '' ucap panji.
" Biar papah aja yang minta, '' ucap pak Hartawan seraya melangkahkan kakinya menuju ruang perawat.
" Masuk saja mah, bapak juga kalau mau jenguk Yuna silahkan. '' ucap Panji
Pak Karim dan mamah segera masuk sekedar melihat dan memberinya semangat, terlihat Yuna sedang meringus menahan kontraksinya.
" Yuna sayang yang semangat ya kamu banyakin berdoa kepada Allah biar di berikan kelancaran. '' Ucap pak Karim seraya membelai surainya yang panjang.
" Makasih pak, doakan aku dan anakku selamat ya pak maafin aku jika banyak salah sama bapak '' ujar Yuna
'' Sama- sama sayang bapak selalu mendoakan yang terbaik buat kamu dan cucu bapak.''
" Mamah juga sebagai orang tua selalu mendoakan yang terbaik untuk kamu dan cucu mamah, semoga Allah melindungi dan memberikan kelancaran ''
" Amin makasih mah ''
" Baca doa Nurbuat ya sayang '' ucap bu Rosa.
'' Iya mah, makasih "
ceklek Panji membuka pintu tampak membawa segelas air teh manis di gelas yang ukurannya cukup besar.
__ADS_1
" Ini teh nya sudah datang ayo di minum dulu "
Yuna bangun dengan susah payah, ia meraih gelasnya dari tangan suaminya lalu menengguk tehnya perlahan karena masih sedikit panas.
Setelah menghabiskan setengah gelas ia kembali mencoba berdiri dan sedikit berjalan, agar mempercepat proses pembukaan yuna menarik napas dan membuangnya melalui mulut untuk sekedar mengurangi rasa sakit akibat kontraksi.
Panji selalu setia mengikuti Yuna yang berjalan mondar mandir, byur tiba - tiba cairan putih keluar dari jalan lahir.
Panji berteriak memanggil perawat serta dokter karena seperti Yuna istrinya sudah pecah ketuban, Panji sudah mengerti karena sudah berpengalaman karena sudah pengalaman saat kelahiran si kembar Nala dan Nathan.
Perawat segera membawa Yuna ke ruang tindakan Panji suaminya tak pernah sedikit pun meninggalkan Yuna memang cintanya untuk Yuna sudah tak perlu di pertanyakan lagi.
Setengah Jam kemudian lahirlah putraku yang ketiga, tangisnya memekan telinga membuatku terharu melihatnya.
Pak hartawan, bu Rosa beserta pak Karim mengucap syukur ketika mendengar tangis bayi Yuna.
" Alhamdulillah " ucapnya bersamaan.
Selesai di bersihkan aku mengadzani anakku sebelum anak dan ibunya di pindahkan ke ruang rawat.
Sampai di ruang rawat,semua keluarga sudah berkumpul termasuk si kembar sudah ada di sana.
" Papah " teriak si kembar Nala dan Nathan berlari menghampiriku karena sudah dua hari ini kami tak bertemu karena ikut dengan Yuna lebih dulu ke rumah kakeknya.
" Papah, apa adik sudah lahir? " tanya Nala anakku
" Sudah sayang adik sedang tidur di ruang khusus bayi " sahutku
" aku ingin melihat adik pah " pinta Nathan.
" Sabar sayang besok juga adik sudah boleh pulang sama mamah. " bujukku
" Asik besok aku bobonya sama adik ya mah " pinta Nala.
" Iya sayang tapi hati - hati ya adiknya masih terlalu kecil bahaya jika kakak bergerak terlalu kencang.
" Siap papah " Ucap Nala dan Nathan bersamaan membuat semua orang yang menyaksikan perbincangan mereka terbahak di buatnya.
" Anak pintar adiknya di jaga ya "
" Gimana kalau kalian membuat syukuran aqikah cucu bapak yang kali ini di sini saja "
pinta pak Karim.
" Ide bagus tuh, papah setuju kalau kita buat syukuran bayimu di sini saja " ucap Pak Hartawan.
__ADS_1
Bersambung
Terima kasih buat reader tercinta yang sudah berkenan mendukung novel aku yang pertama. jangan lupa like komen dan hadiahnya buat novel aku