
"Makan yang banyak, Nak, kamu benar-benar kurus," kata Pak Desta sembari menambahkan nasi dan daging kare ke piring Nayra.
"Aku sering mual dan selera makanku kadang hilang, Pa, tapi itu wajar saat hamil muda," sahut Nayra sambil tersenyum. Hari ini ia benar-benar merasa bahagia, meskipun tidak ada Naura dan ibunya, tapi setidaknya ada ayahnya, Raka bahkan Bu Mita yang selalu memberikan perhatian secara khusus.
"Kalau siang selera makannya hilang, tapi kalau tengah malam selera makan bakso pedas yang masih panas muncul," kekeh Raka.
"Masih mending Nayra ngidam bakso, dulu Mama tuh ngidam steak wagyu yang dari Jepang langsung," seru Bu Mita yang membuat Nayra menganga, sementara Raka yang pernah mendengar cerita itu hanya tertawa kecil.
"Memang anak Mami dari dalam perut rupanya," dengus Nayra.
Sementara Pak Desta tak bereaksi apapun, ia hanya terus menatap Nayra yang kini tampak bahagia. Keadaan yang berbalik dari apa yang ia takutkan.
"Pa?" panggil Nayra karena sang Ayah terlihat melamun. "Kenapa?" tanya Nayra.
"Nggak apa-apa, Sayang, Papa cuma ingat dulu saat mama kamu hamil, dia juga sangat merepotkan," kekeh Pak Desta.
"Sudah pasti itu," sambung Raka sambil tersenyum miring. "Apa lagi yang ada dalam kandungan Mama Irna adalah dua bayi kembar tapi dengan semua perbedaan yang sangat signifikan. Seperti hitam dan putih." Lanjutnya yang membuat hati Pak Desta terkesiap. Sementara Nayra yang mengerti ke mana arah pembicaraan Raka hanya bisa menatap pria itu dengan tajam.
__ADS_1
Suasana meja makan tiba-tiba terasa tegang, bahkan raut bahagia juga memudar dari wajah Nayra. Pak Desta yang menyadari hal itu segera bersuara. "Oh ya,Nay, saladnya sudah kamu makan? Papa nggak mau kalau nantii cucu Papa ileran."
Senyum di bibir Nayra kembali terbit kemudian dia menjawab, "Sudah, Pa, di kulkas juga masih banyak."
*********
Sementara di sisi lain, Bu Irna pergi mendatangi Naura ke butik dengan membawa menu makan siang. Tentu saja hal itu membuat Naura sangat bahagia. "Aku fikir Mama mau mengantarkan makan siang untuk papa," ucap Naura .
"Tadinya sih Mama mau ke kantor, tapi Papa bilang dia mau makan di luar sama rekan kerjanya." Bu Irna menyajikan makanan untuk Nuara juga untuk dirinya. "Oh ya, Ra, kamu sudah menemui pengacaramu?"
"Sudah," jawab Naura singkat.
"Dia akan membantu katanya," jawab Naura yang terpaksa berbohong.
"Syukurlah kalau begitu, Mama yakin rumah tangga kamu nggak akan berakhir begitu saja. Mama juga percaya Nayra akan mengembalikan Raka ke kamu, Ra. Kamu kan tahu sendiri sebenarnya adikmu itu orangnya nggak tegaan." Naura hanya tersenyum tipis mendengar apa yang dikatakan sang ibu sebab itu memang benar adanya. Oleh sebab itu Naura membujuk Bian agar mau memperjuangkan Naya kembali. Dia sangat yakin adiknya itu pasti akan tersentuh.
*******
__ADS_1
"Aku harap lain kali kamu menjaga ucapamu di depan Papa, Raka, bagaimana pun juga dia ayah kamu," tegur Nayra setelah makan siang usai dan kini di rumah tinggal mereka berdua saja.
"Memangnya aku salah bicara apa?" tanya Raka dengan santainya sembari menikmati sisa salad buah milik Nayra.
"Nggak usah bahas-bahas perbedaan aku dan Naura, sudah menjadi hal wajar kalau setiap pribadi itu berbeda," sungut Nayra yang justru membuat Raka terkekeh. "Kenapa ketawa? Aku serius, Raka," seru Nayra kesal.
"Iya, Sayang," sahut Raka santai.
Tiba-tiba terdengar suara bel pintu dari luar , Raka langsung berteriak menyuruh salah satu pelayannya membuka pintu. "Biar aku aja yang buka, Bibi pasti sibuk di belakang," ucap Nayra.
"Nggak usah, Sayang," cegah Raka tetapi Nayra tak memperdulikannya.
Nayra membuka pintu dan ia sedikit mengerutkan keningnya melihat ada kurir yang mengantarkan bunga. "Dengan Ibu Nayra?" tanya kurir itu.
"Iya, saya sendiri," sahut Nayra bahkan dia langsung menerima sebuket bunga itu yang ia yakini dari Raka.
"Mohon tandatangan di sini, Bu. " Nayra segera menandatangani tanda terima paket tersebut. Setelah itu ia mengambil note yang ada di buket bunga itu, seketika Nayra tercengang.
__ADS_1
"Untukmu yang masih aku cinta dan aku yakin masih juga mencintaiku.Dari Bian, kekasih yang akan selalu menunggumu pulang."