
"Dari siapa, Nay?"
Nayra tersentak saat tiba-tiba Raka sudah ada di belakangntya, secara spontan dia pun menyembunyikan note dari Bian. "Emm... Kamu beli bunga?" tanya Nayra berpura-pura tak tahu apapun.
"Nggak," jawab Raka singkat sembari mengambil buket bunga itu dari tangan Nayra. "Apa nama nama pengirimnya?" tanya Raka lagi yang membuat Nayra justru merasa gugup.
"Nggak ada," jawabnya singkat. "Makanya aku fikir kamu yang beli," tambahnya untuk meyakinkan Raka.
"Terus kurir nya tadi bilang apa?" tanya Raka yang tampak begitu penasaran.
"Nggak bilang apa-apa, ya aku juga nggak tanya karena aku fikir ini dari kamu," kilah Nayra yang masih berusaha meyakinkan Raka. "Mungkin dari penggemar rahasiamu," ejek Nayra kemudian ia bergegas ke dalam untuk menghindari Raka.
Sementara Raka hanya terdiam sambil memandangi bunga itu. "Apa ini dari Naura? Mungkin dia masih berusaha merayuku." Raka melempar bunga itu ke tong sampah dengan kesal.
Sementara itu, Nayra kini membaca kembali pesan dari Bian. Wajahnya kembali murung tetapi ia juga merasa tersentuh akan besarnya cinta Bian untuknya. "Seharusnya aku yang mengejar dan mengemis cinta sama kamu, Bi, bukan sebaliknya. Aku yang salah, aku yang udah nggak sempurna lagi buat kamu," gumam Nayra.
Nayra menyimpan pesan dari Bian itu di dalam lemari, entah kenapa ia tak ingin membuangnya. Di saat yang bersamaan, ponsel Nayra bergetar, ia segera mengambil ponsel itu dan membuka pesan yang masuk. Seketika senyum Nayra terbit saat membaca pesan yang juga dari Bian itu.
__ADS_1
^^^Albian Narendra^^^
^^^"Apa kamu sudah menerima bunganya, Nay? Itu sendiri yang menyusun bunga itu."^^^
Me
"Sudah, bunganya bagus. Terima kasih, Bian, tapi aku mohon jangan lakukan itu lagi, lupakan aku yang sudah tak lagi sempurna untukmu, aku mohon. Sudah cukup aku membuatmu sakit, aku nggak mau kamu lebih sakit dari ini."
Raut wajah Nayra tampak sendu saat mengetik pesan itu, ia sangat berharap Bian melupakannya. Dia tak mau Bian lebih sakit dari sekarang.
^^^Albian Narendra^^^
Kening Nayra berkerut dalam membaca pesan dari mantan tunangannya itu.
Mantan?
Nayra tersenyum kecut, karena dia membuat keputusan secara sepihak untuk memutuskan pertunangannya.
__ADS_1
Baru saja Nayra ingin membela diri, pesan Bian kembali masuk.
^^^Albian Narendra^^^
^^^"Aku rasa kamu masih tunanganku, Nay, aku belum menyetujui apakah akan melanjutkan atau memutuskan pertunangan kita. Kamu nggak bisa membuat keputusan sepihak seperti ini, dan jangan lupa status Raka masih suami Naura. Pria itu kakak ipar kamu sendiri, Nayra!"^^^
Nayra terhenyak saat membaca pesan Bian panjang lebar, ia seolah kembali diingatkan pada kenyataan bahwa posisinya saat ini sangat salah.
Me
"Aku tidak mencintai Raka, Bian, aku tetap pada keputusanku untuk melahirkan anaknya. Setelah itu aku juga akan pergi dari hidup dia. Dan aku mohon berhenti mengingatkan siapa Raka dan Naura, karena Naura sendiri yang memaksaku masuk ke rumah ini. Jangan khawatir, aku tidak akan mencintai kakak iparku sendiri. Di rumah ini aku tinggal di kamar tamu, aku selalu berusaha menjaga jarak dari Raka, aku bersumpah aku akan pergi setelah anak ini lahir.
Setelah menuliskan pesan panjang lebar itu, Nayra melempar ponselnya dengan kesal.
"Kenapa orang-orang selalu mencurigai dan memoojokanku? Semua menuduh aku mencintai Raka dan merebut Raka dari Naura," gerutu Nayra. "Bagaiamana kalau aku lakukan saja apa yang mereka tuduhkan? Biar tahu rasa!"
...🦋...
__ADS_1