
Raka terkejut saat ia sampai di rumah karena ada dua mobil yang terparkir di depan rumahnya, begitu juga dengan Nayra yang sangat mengenali itu adalah mobil ayahnya.
"Apa papa mencariku ke sini?" Nayra tampak cemas memikirkan sang ayah yang datang ke rumah Raka, entah kenapa ia merasa takut bagaimana jika ayahnya itu kembali membawanya pergi.
Raka menoleh pada Nayra dan wajah wanita itu tampak gusar, bahkan Nayra meremas jari jemarinya dan tatapannya tidak fokus. "Nayra?" Raka menarik tangan Nayra yang membuat wanita itu sedikit tersentak keget.
"Ya?"
Raka terkekeh melihat raut wajah Nayra yang terkejut. "Kenapa, Sayang? Kamu takut ketemu mama ku dan papa kamu?" tanya Raka seolah mengerti apa yang ada dalam pikiran Nayra.
"Entahlah, perasaan ku nggak enak," jawab Nayra yang kini mulai belajar jujur pada Raka tentang perasaan nya sendiri. "Aku takut nanti papa maksa aku pergi lagi." Nada bicaranya turun di akhir kalimat, seolah ia benar-benar takut akan hal itu.
"Sekarang ada aku, Nayra." Raka mengusap kepala Nayra sambil tersenyum. "Aku nggak akan biarin siapapun bawa kamu pergi dari ku, jadi kamu jangan takut."
"Bisa kita menghindari mereka untuk saat ini?" tanya Nayra, ia melempar tatapan memelas nya pada Raka. "Kali ini aja, aku nggak siap bertemu dengan siapapun." Lanjutnya.
Raka berfikir sejenak, ia sendiri tidak ingin menghindari siapapun atau apapun. Namun, ia tidak tega jika harus memaksa Nayra.
"Baiklah, kita pergi." Raka memutar kembali mobilnya sebelum ada yang menyadari kedatangan mereka.
Sementara di dalam rumah, Naura meletakkan semua perhiasan yang di berikan oleh ibu mertuanya ke ranjang. "Aku cuma mau mengambil beberapa barangku, Ma, bukan mengambil harta Raka," ujar Naura sembari menyeka air matanya.
"Bukan bermaksud mencari Raka dan merayu nya, kan?" Pertanyaan itu terdengar seperti tudingan yang sangat menyayat hati Naura.
"Memang salah kalau aku merayu suamiku sendiri?" desis Naura yang sudah sangat kesal.
"Ya nggak salah sih, Ra, cuma masalahnya Raka sudah mau menceraikan kamu. Dia mencintai Nayra dan Nayra butuh sosok ayah untuk anaknya, Mama harap kamu bisa berkorban sekali saja untuk mereka." Bu Mita mendaratkan bokongnya di tepi ranjang Raka.
"Sudah terlalu banyak yang kamu hancurkan, terlalu banyak hati yang kamu buat kecewa," ujarnya lagi dengan lesu. "Mama itu sayang sama kamu, Ra," lirih wanita paruh baya itu kemudian dengan mata yang berkaca-kaca.
"Maaf kalau selama ini Mama desak kamu supaya hamil karena cuma kamu harapan Mama untuk memiliki cucu, tapi bukan berarti Mama mewajibkan kamu hamil, Naura. Kalau saja kamu jujur pada kami sejak awal, kita bisa mencari solusi yang lain. Kita bisa mencari ibu pengganti dan melakukan proses bayi tabung secara medis, tapi otak kamu terlalu dangkal untuk berfikir ke sana."
__ADS_1
Naura terhenyak mendengar apa yang dikatakan oleh ibu mertuanya itu, padahal alasan terbesarnya melakukan aksi tukar peran ini karena ia takut keluarga suaminya tak bisa menerima kekurangannya.
"Aku kasihan sama Nayra, Ra, dia sudah kehilangan banyak karena ulah kamu. Saat ini yang dia punya cuma bayi dan ayah dari bayinya, tolong kamu jangan ganggu dia lagi," ujar Bu Mita lagi setelah itu ia beranjak pergi dari kamar Raka.
Seketika air mata Naura langsung tumpah dan ia terduduk lemas di tepi ranjang, selama ini ia telah salah paham dengan mertuanya hanya karena terus ditanya kapan hamil. Atau hanya karena terus disuruh pergi periksa ke Dokter, Naura fikir dia harus hamil seperti yang mereka mau.
"Ya Tuhan!" Naura menarik rambutnya dengan frutasi.
Tidak ada yang memintanya menjadi istri atau menantu yang sempurna, tetapi ia sendiri yang terlalu perfeksionis dan ingin semuanya sempurna sejak dulu, sejak ia masih kecil.
Dan sekarang satu karakternya itu telah menghancurkan hidupnya sampai seperti debu, takkan bisa lagi diperbaiki.
Sementara di bawah, Bi Mita menghampiri Bi Jum yang saat ini sedang menata makanan yang dibawa Bu Mita tadi. "Apa Raka tidak ada telfon, Bi?" tanya Bi Mita.
"Belum, Nyonya, saya juga tidak berani telfon," jawab Bi Jum.
"Dia nggak ngomong apa-apa sebelum pergi? Atau berpesan sesuatu gitu?"
Bu Mita menghela napas berat, entah di mana Raka sekarang apalagi telfon anaknya itu tidak aktif. "Ya sudah, Bi, aku mau pergi ke kantor Raka. Siapa tahu dia ada di sana," kata Bu Mita. "Oh ya, kalau sampai nanti malam Raka nggak pulang, makanan ini nggak usah di kasih, ya. Masak yang baru saja."
"Baik, Nyonya," jawab Bi Jum patuh.
...🦋...
"Aku merasa kita seperti pasangan yang sedang berselingkuh," ringis Nayra sambil memijit kepalanya yang terasa sakit dan pusing.
Saat ini mereka sedang berada di hotel dekat rumah Raka, mereka terpaksa mampir ke hotel karena Nayra mengeluh pusing, sakit kepala dan lemas. Dia bilang ingin istirahat. Raka sempat mengajaknya pulang tetapi Nayra justru ingin kembali ke rumah sakit dan tidur di sana.
Nayra bilang dia seperti mabuk perjalanan, hal yang membuat Raka hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Memang begitu kenyataannya," kekeh Raka yang membuat Nayra berdecak.
__ADS_1
"Aku cuma butuh satu jam kok," ujar Nayra yang membuat resepsionis itu langsung meliriknya.
"Memangnya cukup cuma satu jam?" tanya Raka sembari menerima kunci dari resepsionis.
"Cukup banget lah, pasti puas aku," jawab Nayra sambil meringis. Dia merasa satu jam sudah sangat cukup untuk tidur dan mengembalikan tenaganya.
"Kamu mau vitamin, Sayang? Biar lebih kuat," kata Raka dan sekarang resepsionis itu meringis. Sungguh ia tak menyangka mereka bisa membicarakan itu di depan orang lain.
"Nggak usah," sahut Nayra, "Untung aja ada di hotel, aku nggak kuat kalau harus tetap di mobil," tambahnya dan sekarang resepsionis itu menganga lebar.
"Telalu sempit, hm? Jadi nggak nyaman," sahut Raka sembari merangkul pundak Nayra.
"He'em," jawab Nayra.
"Astaga!" seru si resepsionis sambil geleng-geleng kepala.
Sesampainya di kamar, Nayra langsung naik ke atas ranjang. "Aku pusing banget, Raka, kayaknya aku masih sakit." Nayra menarik selimut dan menutupi tubuhnya dengan selimut itu.
"Aku panggil Dokter ke sini, ya. Biar kamu di periksa," kata Raka. Nayra hanya mengangguk lemas. Ia sendiri tidak tahu kenapa tiba-tiba merasa tidak enak badan padahal baru saja dia keluar rumah sakit.
Setelah memanggil Dokter, Raka duduk di samping Nayra, ia memijit kepala wanita itu dengan lembut hingga perlahan Nayra memejamkan matanya.
Raka tersenyum melihat raut wajah tenang Nayra, wanita itu terlihat semakin kurus dari sebelumnya. Jauh lebih kurus. "Aku akan merawatmu dengan baik, Nay," bisik Nayra.
...🦋...
__ADS_1