
"Keadaan Pak Desta kritis, dia mengalami benturan yang sangat keras di kepalanya sehingga itu menyebabkan dia koma dan kemungkinan untuk selamat ... sangat kecil."
Dokter berkata lirih di akhir kalimat, meski berat dan mungkin membuat keluarga pasien down, tetapi sudah menjadi sebuah kewajiban untuk menyampaikan apa yang sebenarnya terjadi.
"Kita hanya bisa berdo'a, Bu, saya yakin keajaiban itu ada," kata Dokter untuk menyemangati Bu Irna.
"Aamiin," seru Bu Mita sambil merangkul besannya itu.
"Sekarang kita tinggal menunggu hasil operasi Naura," lirih Arsen yang tak bisa lagi menyembunyikan kecemasannya.
Ini sudah lebih dari lima jam tetapi operasi Naura belum juga usai. Ada rasa takut dalam hati Arsen, rasa takut yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.
Bahkan, Arsen merasa sesak dan sulit bernapas saat membayangkan keadaan Naura saat ini.
"Tuhan, tolong selamatkan dia."
"Ambil saja nyawaku asalkan Engkau selamatkan dia!"
...🦋...
"Kita bisa pulang sekarang juga."
Nayra langsung bernapas lega saat mendengar apa yang dikatakan oleh suaminya.
"Beneran? Pakai apa?" tanya Nayra.
__ADS_1
"Jet pribadi temanku, kebetulan dia memang mau ke Indonesia. Seharusnya dia berangkat besok, tapi setelah dia tahu apa yang kita alami, dia mau pergi malam ini juga."
"Oh, terima kasih, Tuhan." Nayra menggumam penuh rasa syukur.
"Sekarang kita bersiap, satu jam lagi dia akan menjemput kita," seru Raka.
Nayra mengangguk, ia langsung menyiapkan semua barang-barang yang mungkin diperlukan oleh putranya.
Sementara Raka hanya bisa memandangi putranya yang kini tertidur dengan lelap. Padahal ia sangat mengkhawatirkan keadaan Baby Al jika harus melakukan penerbangan Sementara usianya bahkan belum genap satu bulan.
"Nanti Papa belikan kamu jet pribadi ya, Sayang, biar kamu aman kalau mau kemana-mana," bisik Raka.
"Sayang, kamu nggak bersiap?" tanya Nayra yang kini memasukan barang-barang Baby Al ke dalam tas.
Nayra hanya mengangguk mengerti.
Saat ia hendak mengambil selimut Baby Al di lemari, tanpa sengaja Nayra justru menjatuhkan beberapa barang yang sudah ia susun.
Raka yang melihat hal itu cukup terkejut, apalagi ia melihat tangan istrinya itu gemetar saat memungut barang-barangnya.
"Sayang ...." Raka menghampiri Nayra, memegang tangan istri dan menggenggamnya dengan erat. "Hey, lihat mataku!" seru Raka.
Nayra mencoba menghindari tatapan mata Raka karena saat ini ia sedang berusaha menyembunyikan air matanya. Namun, sang suami memaksa. "Jangan begini!" tegur Raka sambil mencengkram pipi Nayra dengan lembut.
"Kita akan pulang, kita akan ketemu Papa dan Naura. Semuanya pasti baik-baik saja, kamu paham?"
__ADS_1
Nayra hanya mengangguk sembari mengucek matanya yang sudah berembun. "Bagus," ujar Raka. Ia memeluk sang istri sejenak, untuk menenangkannya. "Kita berdoa saja, semuanya pasti akan baik-baik saja."
...🦋...
"Dokter, bagaimana keadaan Naura?" tanya Arsen saat Dokter keluar dari ruang operasi Naura.
Raut wajah Dokter tersebut sudah memperlihatkan kelelahan yang ia rasakan karena berada di dalam ruang operasi selama beberapa jam.
"Dok, putriku tidak apa-apa, kan?" tanya Bu Irna sembari mengelap sisa air mata di sudut matanya.
"Pasien membutuhkan donor darah secepatnya," ujar Dokter tersebut yang membuat Bu Irna tampak terkejut.
"Kami membutuhkan golongan darah AB–, dan itu cukup langka. Persediaan di rumah sakit tinggal satu kantong dan itu tidak cukup. Jadi, jika ada kerabat atau teman yang memiliki golongan darah yang sama, harap di kabari. Atau bisa juga orang tuanya, karena salah satu dari mereka pasti memiliki golongan darah yang sama."
"Tolong usahakan secepatnya karena pasien sangat membutuhkannya."
Seketika Bu Irna merasa lemas bagai tak bertulang saat mendengar kabar itu.
"Tante, mungkin golongan darah Tante ___"
Bu Irna menggeleng bahkan sebelum Arsen menyelesaikan kata-katanya. "Golongan darahnya sama dengan papanya," lirih Bu Irna,
"Lalu bagaimana dengan saudara? Ada Kemungkinan besar golongan darah saudara juga sama."
"Ada, saudara kembarnya tapi dia ... dia di Australia."
__ADS_1