Rahim Nayra Untuk Naura

Rahim Nayra Untuk Naura
Bab 93 - Membuka Lembaran Baru


__ADS_3

"Silakan masuk!" seru nya dan seketika suasana sedikit tegang saat Bu Irna mendorong kursi roda Naura masuk ke ruang rawat Nayra.


Nayra hanya bisa menahan napas melihat kakaknya kembali setelah beberapa bulan berpisah. Sementara Naura juga hanya bisa menelan ludah nya saat menatap Nayra. Adiknya itu tampak berubah, tentu saja badannya jauh lebih gemuk dan ini kali pertama Naura melihat Naura memiliki badan yang gemuk.


"Hai," sapa Naura pada sang adik sementara Nayra hanya bisa melempar senyum kaku.


Bu Mita melirik sang suami, memberinya isyarat agar mengikutinya keluar karena ia bepikir Nayra dan Naura butuh privasi.


"Kamu sehat?" tanya Naura dan Nayra hanya bisa mengangguk.


"Kamu ... nggak takut?" tanya Naura lagi yang membuat Nayra mengernyit.


"Takut apa?" ia balik bertanya.


"Mati, kamu nggak takut mati?"


Nayra melirik Raka dan Bu Irna bergantian, ia sungguh bingung kenapa pertanyaan itu yang muncul dari mulut Naura. Sementara Raka kini tampak cemas, ia teringat dengan apa yang dikatakan Naura dulu bahwa dia akan membunuh Nayra jika melihatnya lagi.


"Takut," jawab Nayra akhirnya.

__ADS_1


"Terus kenapa kamu mau mendonorkan darah buat aku sedangkan kamu baru melahirkan?" Suara Naura mulai bergetar, bahkan matanya mulai berkaca-kaca.


"Karena aku jauh lebih takut kehilangan kamu, Ra," lirih Nayra yang seketika membuat air mata Naura tumpah, bahkan Nayra pun tak bisa menahan air matanya.


"Jadi orang tuh jangan bodoh terus dong, Nay, kalau kamu mati nanti aku yang disalahin," pungkas Naura dengan suara yang tercekat, isak tangis Nayra pun tak bisa lagi di tahan apalagi ketika Naura memegang tangannya.


Setelah sekian lama berpisah dan memendam amarah serta kebencian yang sulit dijelaskan, akhirnya kini mereka bisa berbicara bahkan saling menyentuh.


"Aku cuma nggak mau kamu kenapa-napa," cicit Nayra sembari mengusap air matanya. "Aku takut kamu pergi, Ra."


"Aku nggak selemah itu," bantah Naura. "Aku nggak akan mati secepat itu," imbuhnya yang membuat Nayra terkekeh.


Nayra turun dari ranjangnya dan ia langsung memeluk Naura dengan hati-hati. Si kembar itu menangis sesegukan, bukan hanya melepas rindu yang selama ini coba mereka elak, tetapi juga melepas amarah yang selama ini mereka pelihara.


Sementara Raka, pria itu ikut terharu melihat mantan istri dan istrinya kini sudah berdamai. Dan itu adalah apa yang selalu ia minta dalam doanya selama ini.


"Maafin aku," lirih Nayra dengan suara yang tercekat. "Maafin aku, Ra, aku udah nyakitin kamu."


Bukannya mengelak, Naura justru mengangguk kemudian berkata, "Kamu memang sangat menyakiti aku, Nay, kamu menghancurkan hidupku."

__ADS_1


"Aku tahu," sahut Nayra spontan. "Karena itu aku minta maaf."


Naura kembali mengangguk dan kali ini ia tersenyum.


"Kita mulai semuanya dari awal lagi, Nay, kalau kamu mau."


"Mau," sahut Nayra dengan cepat.


Naura melerai pelukan mereka, ia menghapus air mata adiknya itu dengan lembut dan Nayra melakukan hal yang sama.


"Kamu gendut banget, Nay," ujar Naura kemudian yang membuat tangis Nayra justru kembali pecah dan ia kembali memeluk Naura. Bahkan, bahu Naura sampai basah karena air mata sang adik yang terus mengalir deras.


Naura membiarkannya, yang ia lakukan hanya mengusap punggung adiknya itu dengan lembut selama beberapa saat sampai Nayra kembali tenang.


Satu hal yang membuat Naura kini terlihat lebih dewasa, menunjukan dia adalah kakak yang mengerti adiknya.


Tak ada lagi Naura yang berbicara lantang dan berapi-api, tak ada lagi Naura yang mengucapkan kata-kata kebencian bahkan hinaan.


Sekarang Naura mengerti, sebenci apapun dia pada Nayra, ia tak bisa membohongi hatinya sebagai seorang kakak yang ingin menyayangi adiknya, adik kembarnya.

__ADS_1


__ADS_2