
"KAMU YANG MENGIRIM NAYRA PADAKU UNTUK MENGANDUNG ANAKKU KARENA KAMU SENDIRI NGGAK BISA HAMIL, IYA KAN!"
"Jangan lupa siapa yang melemparkan aku pada suami kamu, Ra! Itu kamu sendiri, kenapa kamu harus marah? Bukannya kamu mau menjadi istri dan menantu yang sempurna? Ini yang harus kamu bayar untuk kesempurnaan yang kamu mau!"
"Kamu bisa jadi Tante yang baik untuk anak kami, kan?"
Kata-kata tajam dari Raka dan Nayra terngiang kembali dalam benak Naura yang saat ini berusaha sadar dari pingsannya, wanita itu tampak begitu pucat bahkan badannya tiba-tiba panas.
Meski matanya masih terpejam rapat, tetapi air mata tak lagi terbendung dari pelupuk mata wanita itu saat memori pahit itu kembali berputar dalam ingatannya. Demi mendapatkan kesempurnaan yang selalu ia impikan, Naura bahkan rela berbagi suami dengan Nayra. Namun, sekarang yang ia dapatkan justru sebuah kehancuran yang begitu nyata.
Sementara itu, Bu Irna sibuk menghubungi suaminya sejak tadi. Namun, ponsel suaminya itu tidak juga aktif. "Dia bawa Nayra ke mana sih?" wanita itu menggerutu kesal. Tatapannya pun kini tertuju pada Naura yang perlahan membuka matanya.
"Ma ...." Bu Irna langsung duduk di samping Naura.
"Iya, Sayang, Mama di sini," kata Bu Irna dengan lembut.
"Hiks ...." isak tangis Naura kembali meluncur dari bibirnya. "Ini salahku, Ma, salahku."
__ADS_1
Bu Irna memeluk Naura sembari mengusap kepala putri sulungnya itu dengan lembut. "Ini bukan salah kamu, Sayang," ucapnya demi menghibur sang putri.
"Ini memang salahku, Ma, semua salahku," lirih Naura. "Aku memang berniat menipu Raka dan keluarganya, aku memang memaksa Nayra. Aku memang mengorbankan dia untuk kepentingan pribadiku."
...🦋...
"Sialan!" Raka memukul setir berkali-kali sampai dia sendiri merasa lelah sendiri.
Hari sudah malam, ia sudah keliling ke sana ke mari demi mencari ayah mertuanya tetapi Raka tak menemukan jejaknya. Apalagi Bi Jum memberi kabar bahwa Nayra memang belum pulang.
"Ya Tuhan, aku harus mencari Nayra di mana? Papa membawa dia ke mana?" Raka tak bisa lagi menahan kesedihan dan ketakutannya akan ditinggal pergi oleh Nayra, hal yang selalu ia takutkan sejak dulu.
Tanpa berfikir panjang Raka segera turun dari mobil, ia mengambil anak kucing itu kemudian membawanya kembali ke mobil. Raja tersenyum melihat kucing tersebut karena itu mengingatkannya pada Nayra. "Andai ada Nayra, kamu pasti sudah ditolong sejak tadi," ujar Raka. Ia mendudukan anak kucing itu di kursi belakang setelah itu ia kembali melajukan mobilnya.
Kali ini Raka akan pulang, sebab tak mungkin juga ia mencari Nayra di jalanan karena wanita itu tak hilang. Melainkan dia dibawa pergi oleh orang yang sebenarnya sangat punya hak atas dirinya.
Sementara di sisi lain, Nayra hanya bisa menatap langit-langit kamar hotel yang ia tempati dengan tatapan kosong.
__ADS_1
Yeah, saat ini dirinya memang berada di hotel bersama sang Ayah, dan besok pagi ayahnya itu akan mengirim Nayra ke luar kota. Pergi ke kerabat jauh mereka untuk bersembunyi.
Nayra memegang perutnya dan seketika ia tersenyum saat mengingat bagaimana ia mengidam dan selalu merepotkan Raka.
Raka?
Senyum Nayra langsung musnah saat ia memikirkan pria itu, bagaimana keadaannya sekarang? Apakah dia mencari dirinya?
Nayra teringat dengan cerita Bi Jum dan Bi Siti, kedua pelayannya itu mengatakan Raka menunggu Nayra di depan rumah saat Nayra pergi hari itu. Bahkan, pria itu tak perduli dengan hujan dan petir, dia hanya menunggu dirinya pulang.
Tanpa terasa Nayra menitikan air matanya, kenapa sekarang kenangan bersama Raka terasa indah?
"Oh Tuhan, apakah ini takdir yang Kau tulis untukku?" gumam Nayra. "Kejam sekali."
Nayra tak bisa menahan isak tangisnya, ia pun berbalik dan menutupi wajahnya dengan bantal untuk meredam suara tangisannya itu.
Punggung Nayra bergetar, saat ini dadanya terasa begitu sesak dan perih. Lebih sesak dari saat ia harus melayani Raka untuk pertama kalinya.
__ADS_1
Apakah itu karena dia telah jatuh cinta padanya? Apakah tuduhan Bian benar adanya?
...🦋...