
Hari-hari yang Nayra lewati bersama kedua orang tua nya tentu sangat berarti, ia mendapatkan perhatian penuh dari mereka berdua dan sekarang sang Ibu pun tak lagi membahas masalah masa lalu.
Saat ini, Nayra membawa kedua orang tua nya berbelanja karena besok pagi mereka akan kembali ke Indonesia. Rasa nya berat melepas mereka pergi apalagi sang Ibu tak bisa tinggal lebih lama seperti yang di katakan oleh ayah nya. Namun, Nayra mencoba tak mempermasalahkan hal itu.
"Mama suka yang ini nggak?" Nayra menunjukan sebuah flat shoes yang cukup cantik untuk sang ibu.
"Suka sih, Nay, tapi model dan warna nya lebih cocok untuk anak muda," kekeh Bu Irna. "Itu terlalu cantik untuk Mama yang sudah tua ini?
"Memang nya kamu sudah tua, Sayang? Di mata ku kamu masih terlihat sangat muda lho," goda Pak Desta yang membuat istri nya itu merona.
"Ah, Papa, apaan sih." Bu Irna mencubit pinggang suami nya itu sambil berusaha menahan senyum nya.
"Ciyeee ..." goda Nayra sambil tertawa kecil.
Nayra meletakkan kembali flat shoes itu ke tempat nya setelah itu ia berkeliling mencari sesuatu, sementara kedua orang tua nya sibuk dengan aksi mereka sendiri.
Nayra tersenyum saat melihat sepatu hak tinggi yang sangat bagus, hal pertama yang pikirkan saat melihat sepatu itu adalah Naura.
Nayra mengecek harga sepatu tersebut dan ia meringis karena harga nya yang cukup mahal. Namun, dia sungguh ingin membelikan sepatu itu untuk sang kaka. Anggap lah sebagai ucapan terima kasih untuk gaun nya.
Lagi pula, uang segitu tidak ada apa-apa nya untuk seorang Raka Aditya, pikir Nayra, ia tertawa dengan pemikiran konyol nya itu.
Nayra yang tidak bekerja memang tidak memiliki penghasilan apapun, semua kebutuhan nya di penuhi oleh Raka.
"Nayra, kamu mau beli sepatu itu?" tanya Bu Irna yang menghampiri Nayra.
"Iya, Ma, bagus nggak?" tanya Nayra dengan mata yang berbinar. Jika mama nya mengatakan sepatu itu bagus, maka Nayra akan langsung membeli nya untuk Naura.
"Lumayan," jawab sang ibu sambil mencebikkan bibir nya yang membuat binar di mata Nayra langsung hilang.
__ADS_1
"Kok lumayan sih, Ma? Ini bagus kok, lihat saja harga nya cukup mahal."
"Tapi warna nya model nya nggak cocok buat kamu, Nay," sahut sang ibu sambil geleng-geleng kepala. "Ini cocok nya untuk Naura, kamu tahu 'kan kalau tampilan kakak mu itu selalu heboh. Kalau kamu cocok nya yang sedikit lebih kalem gitu.
Nayra langsung tersenyum saat mendengar kata-kata sang ibu. "Ini memang buat Naura kok, Ma," kata Nayra akhir nya yang membuat Bu Irna sedikit terkejut.
"Serius, Nay? Harga nya mahal lho, emang kamu punya uang?"
Senyum Nayra kembali musnah saat mendengar ocehan sang ibu, bahkan wanita itu langsung cemberut dan tampak kesal hingga terdengar suara tawa sang Ayah.
"Kok Mama bilang gitu sih sama Nayra? Tega sekali," ucap Pak Desta sambil mengeluarkan sebuah kartu berwarna emas kemudian memberikan nya pada Nayra "Ini, Sayang, belanja apapun yang kamu mau."
"Nggak usah, Pa, aku juga punya kartu kaya gitu," ujar Nayra. Ia menunjukan Black Card yang di berikan oleh Raka untuk nya.
"Oh, Mama lupa kalau suami mu konglomerat," kekeh Bu Irna yang hanya di tanggapi senyum tipis oleh Nayra. "Tapi jangan bilang ke Naura kalau ini dari aku ya, Ma, Pa!" Nayra menatap kedua orang tua nya itu dengan penuh harap.
""Siap, Sayang!"
Naura kembali pada aktivitas nya seperti biasa, bekerja, pulang, tidur dan bekerja lagi.
Seperti saat ini, ia sedang sibuk memeriksa barang-barang di butik nya padahal semua itu bisa di lakukan oleh karyawan Naura.
"Halo, Ra!"
Naura sedikit tersentak saat mendengar suara itu, suara pria yang tak asing di telinga nya.
"Kamu?" desis Naura saat melihat siapa yang menyapa nya, Arsen alias Arsenio, siapa lagi?
"Iya, ini aku. Masih ingat, kan?" Arsen melempar senyum terbaik nya, seperti biasa.
__ADS_1
Naura hanya menghela napas berat kemudian bertanya, "Mau apa?"
"Mau nonton, ada film bagus lho," jawab Arsen yang yang membuat Naura sedikit melongo, berfikir ada apa dengan pria asing di depan nya ini?
"Kamu datang ke butik akum untuk apa?" tanya Naura ketus. "Di sini aku nggak menjual barang-barang laki-laki," imbuh nya.
"Aku tahu," jawab Arsen sambil menatap ke sekeliling nya. "Aku ke sini mau mencari kamu."
"Ada perlu apa?" Nada bicara Naura masih sangat ketus, bahkan ia memperlihatkan ketidak sukaan nya pada Arsen.
"Mau ajak kamu jalan, makan, nonton, atau apapun lah," jawab Arsen dengan percaya diri yang membuat Naura tersenyum miring.
"Aku nggak mau," jawab Naura dengan tegas.
"Kenapa? Apa kamu jadi benci laki-laki setelah bercerai?" tanya Arsen yang membuat raut wajah Naura semakin dingin, ia tampak tersinggung dengan pertanyaan Arsen.
"Itu bukan urusan kamu," desis Naura dengan tajam. "Sebaiknya sekarang keluar dari sini atau aku akan menyuruh satpam menyeret kamu keluar!"
Bukan nya takut atau merasa bersalah, Arsen justru tersenyum lebar. Membuat Naura semakin kesal bahkan merasa ingin merobek wajah tampan pria itu.
"Kata Ian, kamu itu tipe wanita yang perfeksionis, anggun dan berkelas. Apa begini cara mu menghadapi seorang pria, hem?" kekeh Arsen. "Kamu seperti wanita lemah yang di campakkan oleh kekasih nya kemudian kamu trauma dengan laki-laki," cibir Arsen yang membuat Naura kembali melongo.
"Berani sekali kamu ngomong begitu," geram Naura.
Arsen hanya mengedikkan bahu, bahkan ia kembali mengedipkan sebelah mata nya pada Naura.
Dada Naura sudah bergemuruh, di satu sisi ia tak terima dengan apa yang di katakan oleh Arsen. Namun, di sisi lain ia merasa sangat enggan menanggapi pria itu.
"Baiklah, aku tunggu kamu di sini!" Arsen duduk di sebuah kursi yang tak jauh dari tempat Naura berdiri. "Kita pergi makan siang nanti, okay? Tenang aja, aku nggak akan mengajak kamu pacaran kok, apalagi sampai ngajak nikah. Aku cuma mau berteman."
__ADS_1
"Dasar gila!" seru Naura yang benar-benar tak habis pikir dengan pria asing di depan nya.
"Nggak kok, aku masih waras. Maka nya aku ngajak kamu makan," kekeh Arsen. "Bukan ngajak kamu bunuh diri seperti romeo dan Juliet."