Rahim Nayra Untuk Naura

Rahim Nayra Untuk Naura
Bab 55 - Nayra & Naura Lagi


__ADS_3

"Kenapa? Kamu nggak senang dengan keputusan Raka?"


Nayra yang mendapatkan pertanyaan seperti itu langsung menoleh pada Bu Mita, ia tersenyum tipis sambil menggelengkan kepala.


Senang?


Nayra tidak tahu haruskah dia senang atau tidak dengan keputusan Raka untuk membawa nya pindah ke Australia. Namun, menurut Raka itu adalah keputusan yang sangat tepat, apalagi dia memiliki bisnis yang harus ia kembangkan di sana. Walaupun begitu, Nayra merasa keputusan ini sedikit kurang tepat.


Dia seperti penjahat yang sedang bersembunyi setelah melakukan tindakan kriminal.


"Terus kenapa sejak tadi kamu melamun, Nay?" tanya Bu Mita.


Sejak tadi ia memang sudah berada di rumah Raka untuk menemani Nayra selama Raka pergi ke pengadilan. Wanita paruh baya itu memang membantu Raka untuk merawat Nayra , dan dia melakukannya dengan sangat baik. Buktinya, sekarang berat badan Nayra sudah naikan setidaknya tiga kilo setelah setiap hari Bu Mita mengantar makanan atau memasaknya secara langsung di rumah Raka.


Ingin atau tidak ingin makan, Nayra selalu makan masakan calon ibu mertuanya itu karena ia tak enak hati jika menolaknya.


Alhasil, kini Nayra mulai terbiasa makan dengan teratur.


"Aku cuma kepikiran dengan orang tuaku aja, Tante," jawab Nayra akhir nya. "Aku nggak bisa bayangin bagaimana rasa nya jadi mereka setelah semua apa yang terjadi."


Bu Mita menghela napas panjang, ia mengerti kecemasan Nayra tetapi ia juga tak ingin Nayra terus melihat ke belakang.


"Aku yakin mereka pasti belajar menerima kenyataan ini, Nay," ucap Bu Mita menghibur. "Apalagi mereka sudah dewasa, sudah banyak melewati berbagai macam hal dalam hidup mereka, pahit manis nya sudah mereka cicipi semua nya."


Wanita paruh baya itu mengusap pundak Nayra dengan lembut, sentuhan kecil yang membuat hati Nayra menghangat.


Sudah berapa lama dia terpisah dan tidak merasakan kasih sayang ibunya?


"Sekarang kamu fokus sama hidup kamu dan Raka, apalagi sebentar lagi kalian juga akan jadi orang tua," tukas Bu Mita yang kini menatap perut Nayra yang mulai buncit.


"Apa yang terjadi sekarang jadikan pelajaran di masa depan, okay?"


Nayra mengangguk sambil tersenyum lebar, ia sangat bersyukur karena Bu Mita benar-benar berperan sebagai seorang ibu untuk nya. Tanpa dia, mungkin sampai sekarang Nayra masih tenggelam pada semua rasa penyesalan di masa lalu.


"Oh ya, di sana punya beberapa teman perempuan lho, teman kuliah dulu. Jadi kamu harus bisa jaga Raka," goda Bu Mita yang membuat Nayra langsung meringis.


Bersamaan dengan itu, yang dibicarakan langsung muncul dan langsung menyambung ucapan sang ibu. "Justru aku yang harus jaga Nayra, Ma, di sana banyak cowok bule yang ganteng. Bahaya banget."


Nayra tertawa kecil mendengar kata-kata Raka, apalagi raut wajah pria itu tampak sangat menggemaskan.

__ADS_1


"Bagaimana sidangnya?" tanya Bu Mita.


"Lancar." Raka menjawab dengan singkat.


"Apa mereka mengatakan sesuatu?" Kini Nayra yang bertanya, bahkan wanita itu menatap Raka penuh kecemasan.


"Ada, Papa menitip pesan," kata Raka. "Kata nya dia mau menitip kamu ke aku, dan aku harus menjaga nya dengan baik karena Papa akan selalu mengawasi kita," papar Raka panjang lebar yang membuat Nayra tersenyum tipis.


"Mama?" tanya nya kemudian. "Dia nggak ngomong apa-apa?"


Raka terdiam, ia tidak tahu harus menjawab apa karena Bu Irna tidak mengatakan apapun tentang Nayra atau menitip pesan untuknya.


Nayra yang melihat kediaman Raka langsung merasa sedih. "Dia nggak ngomong apa-apa, ya?" tanya Nayra sekali lagi dengan suara yang tercekat.


"Dia bilang semoga kita bahagia," jawab Raka terpaksa berbohong.


Nayra tersenyum, bukan karena senang dengan jawaban Raka melainkan karena ia tahu Raka berbohong.


"Kamu harus belajar berbohong dengan baik, Raka," ujar Nayra sembari mengucek mata nya yang mulai terasa panas.


Apakah sebenci itu sang ibu padanya? Sedangkan Nayra sangat merindukannya.


"Jangan nangis, Sayang." Raka mendekati Nayra, ia mengusap kepala wanita itu dengan lembut.


"Bagaimana kalau nanti malam kita makan malam bersama?" tanya Bu Mita kemudian untuk mengalihkan perhatian Nayra.


"Ide yang bagus, sudah lama kita nggak makan di luar," sahut Raka dengan semangat.


"Ya gimana kita mau makan di luar, setiap hari di rumah ada makanan enak," sambung Nayra.


"Masakan Mama enak ya, Sayang? Enak banget atau enak aja?" goda Raka yang langsung dihadiahi cubitan oleh Nayra.


"Pasti enak banget," seru Bu Mita sambil tertawa.


Tertawa di hari perceraian sang putra? Mungkin hanya Bu Mita yang melakukan itu. Namun, ia harus bagaimana? Bersedih? Sementara Raka hanya terlepas dari wanita yang penuh ambisi dan kini berjalan dengan wanita yang penuh kelembutan dan pengorbanan.


Putranya telah menemukan tempat pulang tang tepat.


...🦋...

__ADS_1


Untuk menghibur Naura, Bu Irna membawa putrinya itu makan di salah satu restoran yang cukup mewah, ia juga mengundang beberapa teman Naura agar dia bisa melupakan masalah nya sejenak.


Kini kabar perceraian Naura dan Raka juga sudah sampai di telinga teman-teman Naura, tetapi mereka tentu tak berani untuk membahas atau bertanya tentang masalah itu.


"Kepiting lada hitamnya di sini enak banget lho," ujar Nita dengan ceria.


"Benar, Nit, ini kepiting favorit papa, dia suka banget dan pasti pesan kepiting lada hitam kalau makan ke sini," sahut Bu Irna.


Sementara Naura hanya makan dalam diam, menu yang disuguhkan untuk mereka memang saat enak tetapi untuk saat ini semua makanan itu terasa hambar di lidah Naura.


"Ra, kamu mau pesan apa lagi?" tanya Bu Irna. "Mau sop nggak?" tawarnya.


Naura hanya menggeleng kemudian berkata, "Aku mau ke belakang dulu, Ma."


"Mau temenin, Ra?" tawar Nita.


"Nggak usah," jawab Naura.


Sementara itu, Raka dan kedua orang tua nya juga Nayra kini berada di restoran yang sama dengan Naura. Namun, mereka menempati ruang VIP agar lebih nyaman.


"Kamu pernah ke sini, Sayang?" tanya Raka.


"Pernah beberapa kali sama papa," jawab Nayra.


"Menu di sini enak, kan?" tanya Bu Mita dan Nayra hanya mengangguk pelan.


"Aku ke belakang dulu, ya," ucap Nayra kemudian.


"Aku antar, Sayang." Raka sudah berdiri tetapi Nayra menolaknya.


"Aku bisa sendiri, cuma sebentar," kata Nayra.


Dia pun segera ke toilet dan masuk ke salah satu bilik di sana, bersamaan dengan itu Naura dari bilik yang lainnya.


Naura mencuci tangan nya sembari menatap wajah nya sendiri. "Ayo, Ra, kamu pasti kuat," gumam Naura. Ia menarik napas panjang kemudian sambil tersenyum dia berkata, "Kamu wanita yang kuat, Naura, hidup masih panjang dan—"


Naura langsung terdiam saat tiba-tiba dari cermin dia melihat Nayra berdiri di belakangnya.


Nayra pun tampak terkejut bahkan ia hanya bisa mematung saat menyadari wanita yang berdiri di depannya adalah Naura.

__ADS_1


...🦋...



__ADS_2