Rahim Nayra Untuk Naura

Rahim Nayra Untuk Naura
Bab 40 - Haruskah Pergi?


__ADS_3

"Aku mohon, Bi, jangan begini terus," pinta Nayra dengan memelas. "Aku benar-benar udah nggak pantas buat kamu, aku sedang hamil anak Raka, Bian, kenapa kamu masih mencariku?" desis Nayra antara frustasi.


Kehadiran Bian seolah semakin menyuburkan rasa bersalah dan penyesalan yang ia rasakan dalam hatinya, bagaimana tidak? Pria yang sudah menjadi mantan tunangannya itu kembali datang menemuinya, kembali mengungkapkan cinta yang sama seperti dulu.


"Bahkan jika kamu punya anak tiga dari Raka, aku akan tetap mencintai kamu, Nayra," tukas Bian penuh keyakinan.


"Bian ...." Nayra merengek pada pria itu. "Kamu kenapa sih? Kamu yakin masih mau menerima aku setelah melahirkan nanti?" Nayra menatap Bian dengan sendu dan pria itu mengangguk pasti.


"Selama kamu masih punya punya cinta buat aku, aku akan menerima kamu apa adanya, Nay, aku nggak perduli dengan apa yang sudah terjadi." Bian berkata penuh penekanan, seolah ia sangat ingin meyakinkan Nayra bahwa apa yang ia katakan begitu serius.


"Nayra ...." Kini pria itu menggenggam tangan Nayra dengan lembut. "Jika kamu meninggalkan aku karena mencintai Raka, maka aku akan ikhlas melepasmu selama kamu bahagia. Tapi jika kamu meninggalkanku hanya karena kamu berfikir bahwa kamu nggak pantas buat aku, maka kamu salah besar, Nayra. Aku mencintai kamu dengan tulus, apapun kekurangan kamu, aku akan tetap mencintai kamu. "


Nayra sungguh terenyuh mendengar ungkapan cinta Bian yang begitu tulus, bahkan hal itu membuat hatinya kembali bergetar dan kenangan indah bersama pria itu kembali terngiang dalam benaknya.


Bian menghela napas berat kemudian ia berkata, "Pikirkan baik-baik, Nay, tanya hati kamu sendiri. Apa kamu kamu masih mencintaiku atau justru sudah berpaling pada Raka, jika jawabannya adalah yang pertama, aku siap membawa kamu pergi dari sini dan kita akan kembali setelah kamu melahirkan, hanya untuk memberikan anak itu pada ayahnya."


Nayra tak bisa menanggapi ucapan Bian sedikitpun, bahkan pernyataan pria itu seolah menggoyahkan Nayra akan keputusannya.


"Hubungi aku jika kamu memang masih mencintaiku, Nay," lirih Bian sebelum ia meninggalkan halaman rumah Raka.


...🦋...


Naura hanya bisa menangis sesegukan di pelukan sang ibu, kali ini ia merasa hidupnya benar-benar hancur dan tak ada lagi yang tersisa. Kesempatan untuk menjadi ibu, kesempatan untuk bersama pria yang ia cintai. Semuanya telah hilang begitu saja.


"Sabar, Sayang." Hanya satu kata itu yang terus diucapkan oleh sang ibu sejak tadi sambil membelai rambutnya dengan lembut. Sementara sang ayah hanya bisa membisu seribu kata, ia melihat kedua putrinya seperti berada di medan perang saat ini. Jika Naura yang kalah, maka dia akan hancur menjadi abu. Dan jika Nayra yang kalah, maka dia akan menjadi arang.


Dia tidak bisa berpihak pada salah satunya.


"Pa?" lirih Bu Irna seolah ia meminta agar suaminya itu juga menghibur Naura.


"Kamu memang harus bercerai dari Raka, Naura!" seru Pak Desta yang membuat Bu Irna langsung melotot tajam.

__ADS_1


"Pa, kenapa Papa bilang begitu?" sentaknya.


"Terus apa, Ma? Naura nggak bisa memaksa Raka seperti dia memaksa Nayra mengikuti keinginannya," sindir Pak Desta sambil menatap Naura dengan tajam. "Lagi pula semua ini terjadi karena ulah dia sendiri, padahal ada begitu banyak cara untuk mendapatkan anak tapi dia lebih memilih mengorbankan adiknya sendiri untuk mendapatkan apa yang dia mau."


"Mau nggak mau, kamu harus tetap bercerai dari Raka dan jauhi pria itu!" seru Pak Desta setelah itu ia pergi meninggalkan istri dan putrinya itu.


Sementara di sisi lain, Bu Mita justru sangat mendukung keputusan Raka. Wanita paruh baya itu juga sangat berharap di sidang selanjutnya mereka sudah diresmikan bercerai.


"Setelah ini kamu harus menikahi Nayra, Raka, kasihan juga anak itu kalau hanya menjadi mesin pencetak anak buat kamu," kata Bu Mita.


"Aku juga maunya gitu, Ma, makanya aku langsung mengajukan gugatan cerai tanpa membuang waktu. Aku ingin hidup tenang dengan Nayra dan anak kami tanpa Bayang-bayang Naura," tukas Raka panjang lebar. Namun, pria itu lupa bahwa yang menjadi bayang-bayang dalam cintanya untuk Nayra bukan hanya istrinya, melainkan juga tunangan Nayra, Bian.


"Mama akan dukung kamu, Mama juga akan membantu menjaga Nayra supaya Naura nggak macem-macem."


Raka hanya tersenyum simpul sambil mengangguk.


Saat ini Raka sedang dalam perjalanan mengantar ibunya pulang, setelah itu ia harus kembali ke kantor karena ia punya banyak pekerjaan yang tertunda.


...🦋...


Bi Siti yang saat ini menemaninya membuat pisang keju hanya bisa melirik Nayra yang terus melamun hingga tiba-tiba wanita itu memekik.


"Auucch." Nayra memekik saat tanpa sengaja ia menyentuh wajan yang masih panas.


"Non Nayra nggak apa-apa?" tanya Bi Siti sambil menarik tangan Nayra. "Siram air dulu, Non, biar nggak melepuh."


"Aku bisa sendiri, Bi," jawab Nayra. "Bibi tolong lanjutkan saja ini, ya. Nanti kalau sudah selesai, tolong panggil aku."


"Baik, Non," jawab Bi Siti patuh.


Nayra kembali ke kembarnya setelah ia mencuci tangan, dan sat ia duduk di tepi ranjang, ponselnya berdering.

__ADS_1


"Papa?" gumam Nayra saat melihat nama Papa tertera di layar smartphonenya. "Halo, Pa?" sapa nya dengan suara yang ceria.


"Sayang, Papa di luar gerbang. Bisa keluar sebentar nggak?"


Kening Naura berkerut dalam saat mendengar suara sang ayah yang terdengar berbeda. "Iya, Pa. Tunggu sebentar," jawab Nayra tanpa bertanya apapun lagi.


Saat ia hendak keluar, Nayra di tanya oleh Bi Jum yang saat ini sedang membersihkan halaman. "Mau ke mana, Non?" tanyanya.


"Mau ketemu, Papa, Bi, katanya di luar," jawab Nayra sambil berjalan.


"Oh gitu," sahut Bi Jum setelah itu ia melanjutkan pekerjaannya.


Sementara di luar gerbang, Pak Desta menunggu Nayra dengan sangat tak sabar. Dan saat putrinya itu muncul, ia langsung tersenyum lega bahkan langsung memeluk Nayra dengan erat membuat Nayra semakin bingung.


"Papa baik-baik aja?" tanya Nayra cemas. Namun, Alih-alih menjawab pertanyaan Nayra, Pak Desta justru membuka pintu mobil dan ia setengah mendorong Nayra masuk.


"Masuk, Nak," pintanya. Tanpa curiga sedikitpun, Nayra pun masuk dan ayahnya segera menyusul.


"Kita mau ke mana, Pa?" tanya Nayra saat sang ayah melajukan mobilnya.


"Papa mau kamu pergi dari hidup Raka," jawab Pak Desta yang membuat Nayra terhenyak.


"Ma-maksud Papa?" tanya Nayra.


"Kalau kamu sayang sama Papa, Mama dan kamu menghormati kami, tolong pergi dari hidup Raka, Sayang."


...🦋



...

__ADS_1


__ADS_2