
"Tadi Non Nayra mau ketemu ayahnya, Ti, jadi aku nggak cegah," seru Bi Jum panik pada Siti yang juga sangat panik.
Bagaiamana tak panik? Kedua pelayan Raka itu baru menyadari Nayra tak ada di rumah sedangkan sekarang hari sudah sore, sebentar lagi Raka pasti pulang.
"Terus kalau tuan Raka tanya kita harus jawab apa, Bi Jum? Nanti dia marah lho," gumam Bi Siti cemas.
Saat ini kedua wanita paruh baya itu berdiri di gerbang sambil celingukan mencari sosok Nayra. "Ya kita bilang saja Non Nayra ketemu ayahnya, masa tuan Raka mau marah?"
"Iya sih, mungkin juga tuan Desta cuma bawa Non Nayra jalan-jalan. iya, kan?"
Bi Jum hanya mengangguk meskipun sebenarnya hatinya mengatakan hal yang lain, ia memiliki firasat yang tak baik dengan Kepergian Nayra apalagi dia tidak melihat langsung Nayra benar-benar menemui Pak Desta.
Tak berselang lama mobil Raka muncul, kedua pelayan paruh baya itu semakin cemas apalagi saat Raka menekan klakson mobilnya. Bi Jum segera membuka pintu gerbang. "Kenapa kalian di sini?" tanya Raka bingung.
"Emm itu, Tuan..." Bi Siti tak berani menjawab pertanyaan Raka, alhasil ia hanya menatap bi Jum.
"Kenapa?" tanya Raka sekali lagi.
"Kami menunggu Non Nayra pulang, Tuan Raka," jawab Bi Jum.
Seketika kening Raka berkerut dalam, alisnya bertaut.
"Menunggu Nayra pulang? Memangnya dia pergi ke mana? Bukannya aku sudah bilang sama kalian kalau Nayra itu harus selalu ditemani mau pergi ke mana pun." Raka terlihat terkejut sekaligus cemas mendengar berita yang disampaikan oleh Bi Jum.
"Dia pergi sama ayahnya, Tuan," cicit Bi Jum.
"Pergi sama papa Desta?" pekik Raka, kini raut wajah pria itu tampak cemas. Apalagi setelah apa yang terjadi hari ini.
Tanpa berbicara apapun, Raka memundurkan mobilnya. "Mau ke mana, Tuan Raka?" tanya Bi Jum, tetapi pria itu enggan menjawab.
Hati Raka terasa sesak, ia bisa merasakan firasat yang tak baik akan terjadi. Bagaimana jika ayah mertuanya itu membawa Nayra pergi darinya? Memikirkan kemungkinan itu membuat dada Raka semakin terasa sesak, bahkan tangan pria itu sampai gemetar.
Selama hidup, ada beberapa wanita yang hinggap di hati Raka menjadi kekasihnya. Namun, tak pernah sekalipun dia takut kehilangan mereka seperti Raka takut kehilangan Nayra.
"Papa, kamu mau apa?" gumam Raka sambil memukul setir.
__ADS_1
Dia melajukan mobilnya dengan cepat menuju rumah mertuanya, meskipun Raka tidak yakin Pak Desta membawa Nayra ke sana karena itu sama saja membuat si kembar berperang, tetapi Raka berfikir mungkin ibu mertuanya tahu ke mana suami nya pergi.
Raka memacu mobilnya dengan kecepatan penuh, ia tak perduli apapun saat ini karena yang ada dalam fikirannya hanya menemukan Nayra dan membawanya kembali pulang.
Sesampainya di rumah Pak Desta, Raka langsung masuk ke dalam rumah sambil berteriak memanggil ayah mertuanya.
"Papa?"
"Papa?"
Naura yang saat ini ada di kamarnya mengernyit bingung mendengar suara Raka, begitu juga dengan Bu Irna.
"PAPA?"
Teriakan Raka semakin kencang yang membuat kedua wanita di rumah itu langsung keluar dari kamarnya secara bersamaan. "Ada apa, Raka?" tanya Bu Irna.
"Papa Desta di mana?" tanya Raka tanpa basa-basi.
"Dia masih di kantor," jawab Bu Irnna dengan kening yang menekuk.
"Jangan bohong, dia membawa Nayra pergi," seru Raka.
Raka menoleh pada wanita itu, hati Raka terkesiap melihat wajah Nayra yang sembab dan matanya yang bengkak karena menangis. "Nggak usah pura-pura nggak tahu kamu," desis Raka. "Jangan-jangan kamu yang memaksa Papa bawa Nayra pergi dari rumah," tuduhnya yang membuat Naura kesal.
"Kenapa kamu malah nuduh aku, huh? Jangan asal bicara!" seru Naura.
"Kami nggak tahu Papa ada di mana, Raka," sambung Bu Irna.
Raka menatap kedua wanita itu dengan jengkel sebelum akhirnya dia pergi begitu saja. Namun, Naura segera berlari mengejar Raka. "Tunggu, Raka!" teriak Naura sambil berusaha mencapai tangan pria itu.
"Apa lagi?" desis Raka menghempaskan tangan Naura, sorot mata pria itu tampak begitu tajam membuat nyali Naura menciut seketika.
"Raka, mu-mungkin Nayra pergi atas kemauannya sendiri," cicit Naura.
"Atau mungkin atas paksaan kamu," sahut Raka dengan ketus.
__ADS_1
"Aku bersumpah aku nggak memaksa Nayra pergi dari hidup kamu, Raka," balas Naura tak terima karena kali ini tuduhan Raka memang hanya tuduhan.
"Oh ya?" Raka mendekatkan wajahnya ke wajah Naura, membuat wanita itu secara spontan harus menarik diri, menjauh dari Raka yang tampak dikuasai amarah.
"Jika sampai terbukti kamu ikut campur atas Kepergian Nayra, siap-siap terima pembalasan dariku, Naura." Air mata Naura seketika mengalir bebas di pipinya mendengar ancaman Raka.
Suami yang dulu mencintainya, selalu berbicara dengan lembut padanya kini justru menggertaknya dengan begitu sadis demi Nayra, wanita yang merupakan adik Naura sendiri.
Raka berlalu dari hadapan istrinya itu dengan membawa amarah dan kecemasan yang bercampur menjadi satu. Sementara Naura hanya bisa menatap suaminya pergi untuk mencari wanita lain, rasanya sangat menyesakan. Naura berfikir mungkin rasanya takkan sesakit ini jika wanita yang dicari Raka adalah wanita lain yang mungkin tak ia kenal. Namun, yang suaminya cari adalah Nayra, adik kembarnya.
Tak sanggup menahan segala sesak di dadanya, tiba-tiba tubuh Naura jatuh dan ia pun kehilangan kesadarannya. Bersamaan dengan itu sang ibu datang berlari menghampiri Naura yang kini sudah pucat dan lemas.
"Bi, Naura pingsan!" teriak Bu Irna.
...🦋...
"Hiksss...." isak tangis tetap lolos dari bibir Nayra meskipun wanita itu sudah berusaha menahannya. Bahkan, aia mata yang sejak tadi ia seka terus saja mengalir dengan bebas di pipinya.
"Papa cuma minta ini saja sama kamu, Sayang," pinta pak Desta sambil mengusap kepala putrinya itu. "Tinggalkan Raka, Papa juga akan memaksa Naura untuk pergi dari hidup Raka."
"Papa tahu, kamu nggak bermaksud merebut Raka, kamu tinggal bersamanya juga karena kamu mengandung anaknya, kan? Kamu tenang aja, papa kamu akan menjaga dan merawat kamu sampai kamu melahirkan. Dan setelah anak itu lahir, Papa akan bawa dia ke ayahnya."
Nayra tak bisa mengucapkan satu patah kata pun sejak ayahnya bercerita tentang hubungan Naura dan Raka. Tentang bagaimana hancurnya hati Naura setelah digugat cerai Raka.
"Ini demi kita semua, Sayang," bujuk Pak Desta. "Papa melakukan ini untuk menjaga hidup kamu juga Naura."
Tangis Nayra semakin pecah, ia hanya bisa menunduk dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Entah kenapa rasanya sakit sekali saat ayahnya memaksa ia pergi dari hidup Raka. Kenapa? Bukankah ia sendiri sudah memutuskan akan pergi dari hidup pria itu setelah melahirkan nanti?
Memang apa salahnya jika pergi lebih cepat?
Kenapa rasanya sangat menyakitkan?
...🦋...
Hai semuanya....
__ADS_1
Yuk, ikutan GA SkySal di GD