
"Syukurlah kalau Mama dan Papa sampai dengan selamat," ucap Nayra yang kini bisa bernapas lega karena kedua orang tua nya sudah sampai di rumah dengan selamat.
"Iya, Nay, sampaikan juga salam sama mertua kamu, ya," pinta sang Ibu dari seberang telfon.
"Iya, Ma, ini aku speaker kok. Mama, Papa, dan Raka udah dengar." Nayra tersenyum sambil menatap ketiga orang di depan nya itu bergantian.
"Oh ya, Naura suka dengan sepatu nya, Ma?" tanya Nayra lagi dengan semangat. Namun, Mama nya itu tak langsung menjawab, menjawab senyum Nayra langsung musnah.
"Ma__"
"Naura suka banget, Nay," ucap Bu Irna kemudian. "Maaf, tadi Mama masih susun baju ke lemari," imbuh nya yang membuat Nayra kembali tersenyum.
"Syukurlah kalau Naura suka," gumam Nayra.
"Ya sudah, Mama mau mandi dulu. Kamu jaga diri baik-baik, ya. Apalagi kehamilan mu sudah besar, kamu harus banyak istirahat tapi kamu juga harus olah raga."
"Iya, Ma, Raka sudah mendaftarkan aku ke kelas Yoga ibu hamil."
"Bagus lah. Nanti Mama telfon lagi, okay?"
"Okay, Mama."
"Kira-kira Naura tahu nggak itu dari kamu, Nay?" tanya Bu Mita setelah Nayra memutuskan sambungan telpon nya dengan sang ibu.
"Nggak tahu juga, Ma," jawab Nayra sembari meletakkan ponsel nya ke meja. "Tapi Mama Irna udah janji kok nggak akan kasih tahu Naura kalau itu dari aku."
"Tidak perlu memikirkan itu, Ma," sambung Raka. "Ayo kita ke kamar, Sayang," ajak Raka karena hari memang sudah malam.
Nayra mengangguk, ia pun berdiri dari tempat duduk nya tetapi tiba-tiba ia meringis saat merasakan bayi dalam perut nya menendang.
"Kenapa, Sayang?" tanya Raka yang langsung merangkul Nayra.
"Nggak apa-apa, cuma nendang tiba-tiba," jawab Nayra yang masih meringis.
"Itu sudah biasa, Nay," seru Bu Mita sambil terkekeh. "Dulu Mama juga merasakan itu saat mengandung Raka, bahkan Mama sering bangun tengah malam gara-gara Raka nendang."
"Aku merepotkan juga ya, Ma," kekeh Raka.
"Banget," seru Pak Aditya yang juga ikutan terkekeh. "kamu itu merepotkan kami berdua sejak dalam kandungan."
"Apa seperti aku repot mengurus Nayra sekarang?"
"Kurang lebih begitu."
Nayra tertawa mendengar obrolan suami dan mertua nya itu, sebenarnya Nayra masih ingin mengobrol dengan mereka. Namun, saat ini ia merasa mengantuk dan ingin istirahat. "Aku mau ke kamar, Raka," rengek Nayra dengan manja.
__ADS_1
"Iya, Sayang, ayo!"
*******
Naura menginap di rumah orang tua nya selama beberapa hari, ia masih merindukan mereka setelah satu minggu mereka berada di luar negeri.
Ayah dan Ibu si kembar itu berusaha tak membahas tentang Nayra dan Raka lagi, sebab mereka bisa melihat Naura masih tak bisa berdamai dengan keadaan. Mereka tak mau membuat suasana semakin keruh.
Mungkin Raka benar, si kembar masih butuh waktu dan ruang. Dan Raka juga benar, hubungan mereka ini tergantung dengan Naura. Jika Naura sudah berdamai dengan keadaan, maka semua nya pasti akan membaik.
Sepatu yang di belikan oleh Nayra masih berada di atas meja yang ada di ruang tengah.
Setiap hari Naura selalu melirik sepatu itu, ingin sekali ia mencoba nya sekali saja tetapi rasa gengsi masih ada di dalam hati nya.
Setelah beberapa hari tinggal bersama orang tua nya, Naura memutuskan untuk kembali ke apartemen nya sendiri.
"Ma!" teriak Naura yang kini sudah rapi. "Aku mau pulang ke apartemen," seru Naura.
"Iya, Ra, Mama lagi dandan." Bu Irna balik berteriak yang membuat Naura tertawa.
Saat melewati ruang tengah, Naura kembali melirik kotak sepatu yang seolah masih tak ada yang menyentuh nya.
"Biarin lah," gumam Naura.
******
Naura pergi ke butik saat hari sudah siang, ternyata di sana sudah ada Arsen yang menuggu nya untuk menagih janji pada Naura.
"Ingat janji mu, Bu?" kekeh Arsen. "Kopi sebagai ucapan terima kasih," imbuh nya.
"Bisa tunggu sebentar?" tanya Naura yang tampak nya tak lagi merasa keberatan lagi.
"Okay," jawab Arsen.
Naura masuk ke butik dan ia tampak berbicara sangat serius dengan Mia, tak berselang lama ia pun keluar menemui Arsen.
"Pakai mobil sendiri?" tanya Arsen yang melihat Naura memegang kunci mobil nya.
"Iya lah," ketus Naura.
"Pakai mobil ku aja, biar enak." Arsen langsung menarik Naura masuk ke dalam mobil nya, wanita itu pun tak lagi menolak.
Mereka pun kembali pergi ke cafe tempat di mana dulu mereka minum kopi bersama.
Jika dulu Arsen memaksa dan Naura selalu memasang raut wajah kesal nya, beda hal nya dengan kali ini. Naura pergi dengan suka rela, bahkan raut wajah wanita itu sudah sedikit tenang.
__ADS_1
"Mau kopi apa, Ra?" tanya Arsen.
"Latte deh," jawab Naura dengan nada yang juga tak lagi ketus.
"Kalau liat kamu yang lebih manusiawi begini rasa nya menyenangkan lho, Ra."
"Lebih apa? Manusiawi?" pekik Naura heran. "Memang nya aku seperti monster sebelum nya?"
"Bukan sih, cuma biasa nya wajah kamu tuh dingin banget. Kaya orang punya hutan," kekeh Arsen. "Kalau bicara juga judes banget, udah kaya orang lagi datang bulan."
Nuara meringis mendengar apa yang di katakan oleh Arsen, tak menyangka kata-kata seperti itu bisa keluar dari mulut Arsen.
"Apa kamu selalu seperti ini sama teman wanita mu?" tanya Naura kemudian.
"Maksud nya?" tanya Arsen.
"Kamu selalu sok dekat begini kalau ketemu cewek? Kenapa? Kamu playboy, ya?"
Arsen langsung tertawa mendengar apa yang di katakan oleh Naura, baru sekarang ada yang menuduh nya sebagai playboy.
"Aku bukan playboy, aku cuma sedang mencoba menikmati hidup," ujar Arsen.
"Begini cara mu menikmati hidup? Mendekati wanita, memaksa minum kopi, sok dekat lah."
"Sebenarnya baru ke kamu sih aku gencar begini, karena kamu itu orang nya judes banget."
"Aku juga judes cuma sama kamu,"
"Kenapa?"
"Entahlah, aku merasa kesal aja sama kamu yang sok dekat."
Hening, Arsen tak lagi membalas ucapan Naura dan Naura pun hanya terdiam.
"Mau datang ke rumah ku malam ini?" tanya Arsen tiba-tiba.
"Nggak mau," jawab Naura tanpa berpikir panjang.
"Ayolah, Ra, ini akan menyenangkan," bujuk Arsen.
"Aku bukan wanita seperti itu, Arsen," tegas Naura dengan kesal.
"Kamu nggak suka anak-anak? Rumah ku itu di panti, nanti malam salah satu anak asuh ku ulang tahun," ujar Arsen yang membuat Naura langsung melongo,
"Hah?"
__ADS_1