Rahim Nayra Untuk Naura

Rahim Nayra Untuk Naura
Bab 38 - Sama-sama Berjuang


__ADS_3

"Satu porsi nasi goreng pete, yang di kasih sepuluh cabe, terus pakai udang, pakai ayam, pakai kecap yang banyak, terus pakai bawang goreng yang bayak juga. Minumnya tolong buatkan jus jeruk yang masih segar, yang baru di peras, dikasih gula sedikit sama es batu. Untuk makanan penutupnya, satu mangkuk es krim rasa cokelat vanilla."


Pelayan restaurant tercengang saat mendengar pesanan Raka yang cukup sangat detail dan sangat jarang ada orang yang memesan seperti itu.


Sementara Nayra saat ini hanya diam mematung dengan wajah dingin dan datar seperti es balok. "Ada lagi, Pak?" tanya pelayan setelah dia mencatat pesanan Raka.


"Tidak, itu saja," jawab Raka. "Sayang, kamu ingin yang lain?" tanyanya pada Nayra.


"Nggak," jawab Nayra dengan ketus.


"Beneran?" tanya Raka yang justru membuat Nayra tersenyum sinis.


"Nanti kalau aku bilang mau apa, dituduh mengada-ngada lagi," dengus Nayra yang membuat Raka meringis. "Kamu itu 'kan sudah pengalaman hampi jadi ayah, seharusnya kamu lebig faham keadaan orang hamil itu, Raka," seru Nayra kemudian.


"Iya, maaf, ya." Raka hanya bisa melemparkan senyum kakunya karena ia tak ingin sampai salah bicara lagi.


Nayra hanya menghela napas berat sambil geleng-geleng kepala sampai ia menyadari lagi-lagi sikapnya saat ini sangat berbeda dengan apa yang ia inginkan.


Nayra sangat ingin menjauhi Raka, menjaga jarak dengan pria itu. Namun, ia tak bisa mengendalikan diri ketika mengidam sesuatu.


"Raka, aku boleh minta sesuatu?" Raut wajah Nayra yang tadi terlihat masam kini tampak sendu.


"Apa, Sayang?" tanya Raka dengan serius.


"Aku rasa lebih baik kita pisah rumah," tukas Nayra yang membauat Raka melotot terkejut.

__ADS_1


"Nggak, aku nggak mau!" seru Raka penuh penekanan.


"Aku nggak meminta persetujuan kamu, aku cuma kasih tahu," ujar Nayra dengan tenangnya yang membuat Raka kesal. "Aku cari rumah sendiri nanti."


"Jangan gila, Nay, kamu itu lagi hamil. Aku harus menjaga kamu," geram Raka.


"Aku bisa menjaga diri," balas Nayra penuh keyakinan.


"Memangnya kenapa kamu mau pisah rumah? Apa karena kadang-kadang aku masih menyelinap ke kamar kamu? Okay, setelah ini aku nggak akan masuk ke kamar kamu tanpa izin, aku janji," tukas Raka panjang lebar, tatapan pria itu begitu sayu bahkan raut wajahnya tampak sangat berbeda dari sebelumnya.


Raka seolah sangat takut berpisah dari Nayra, dan itu dapat ia rasakan di hatinya. Bahkan, dada Nayra berdebar kencang saat tatapannya bertemu dengan Raka.


"Nayra!" Raka menarik tangan Nayra, menggengamnya dengan erat. "Aku mohon jangan pergi dari rumah, ya? Aku janji nggak akan ganggu kamu lagi, nggak akan masuk ke kamar kamu tanpa izin. Akan memberikan apapun yang kamu mau, please."


Hati Nayra terenyuh mendengarkan pengakuan Raka, ia sangat yakin pria di depannya ini tak pernah memohon seperti ini pada siapapun.


Raka takkan membiarkan wanita itu pergi dari hidupnya, dia masih ingin berjuang untuk mendapatkan Nayra seutuhnya apalagi sidang perceraiannya dengan Naura akan digelar besok pagi. Yeah, tentu saja Raka tak ingin Nayra tahu akan hal itu.


"Raka, aku—"


Ucapan Nayra terhenti saat seorang pelayan datang membawa seiring nasi goreng pesanan Nayra, aroma makanan yang masih berasap itu tampaknya cukup mengalihkan perhatian Nayra. "Aku makan dulu, ya. Aku lapar." Raka langsung terkekeh mendengar ucapan calon ibu dari anaknya itu.


Raka tidak terlalu mengenal pribadi Nayra, yang ia tahu wanita itu lembut dan anggun. Dan sekarang ia tahu wanita itu penuh keajaiban, mood-nya bisa berubah hanya dalam hitungan detik. Raka tak tahu apakah itu karena hormon hamilnya atau memang Nayra seperti itu aslinya. Namun, yang pasti Raka sangat senang menjadi tempat sandaran manja Nayra.


"Pedas?" tanya Raka sambi meringis.

__ADS_1


"Sedikit, pedas tapi enak," jawab Nayra sambil mengunyah nasinya. "Kamu mau?" tawar Nayra.


"Nggak, aku nggak bisa makan pete, bahu," ringis Raka yang membuat Nayra tertawa kecil.


"Dulu aku juga nggak suka, cium baunya aja udah mual. Tapi pas mama masak, aku coba nyicip, ternyata enak," tutur Nayra sambil tersenyum tipis, sorot matanya berubah saat ia mengingat sang ibu. "Aku kangen deh makan masakan mama, kira-kira hari ini dia masak apa, ya?" Kedua mata Nayra berkaca-kaca bahkan suaranya tercekat di tenggorokannya.


Sementara Raka yang melihat itu tak tahu harus mengatakan apa, ia hanya bisa membelai rambut Nayra dengan lembut kemudian bertanya "Aku boleh nyoba nasi gorengmu, Sayang?" Permintaan itu Raka lakukan hanya untuk mengalihkan perhatian Nayra yang saat ini pasti sedih.


"Beneran?" tanya Nayra dengan pupil mata yang melebar.


Raka hanya mengangguk sambil tersenyum.


"Okay, tapi jangan nangis, ya." Raka hanya tertawa mendengar hal itu, ia pun membuka mulut saat Nayra menyuapinya. Awalnya Raka hanya meringis karena rasa dan aroma pete yang menyengat. Namun, setelah beberapa saat kedua bola matanya melotot sempurna saat merasakan mulutnya terbakar.


"Pedas banget, astaga!" Raka langsung melepeh nasi dari dalam mulutnya, wajah dan mata pria itu langsung memerah karena Raka memang tak suka makanan pedas. Sementara Nayra justru cekikikan melihat Raka yang tampak tersiksa.


"Minum dulu ... Minum dulu...." Nayra membantu Raka minum jus jeruknya. Bahkan, pria itu hampir menghabsikan satu gelas jus jeruk Nayra. "Astaga, aku hampir nggak di sisain." Nayra menggerutu kesal, ia pun segera meminum sisa jus jeruknya.


Raka tersenyum melihat Nayra minum dari bekas bibirnya, meskipun mungkin wanita itu tak sengaja, tapi tetap saja itu membuat hati Raka berdebar.


...🦋...


Beda halnya dengan Raka dan Nayra yang tampak bersenang-senang, Naura justru begitu gelisah memikirkan sidang perceraiannya yang akan digelar besok pagi. Ia dan pengacaranya belum menyiapkan apapun karena memang tak ada yang bisa Naura siapkan.


Harapannya saat ini hanya Bian, pria itu adalah jalan terkahir untuk mengantar Naura kembali pulang ke rumah suaminya. Namun, sampai detik ini Naura tak melihat ada usaha Bian untuk meluluhkan Nayra kembali.

__ADS_1


"Apa aku paksa saja supaya Nayra pergi dari Raka?" gumam Naura yang mulai putus asa. "Sial!" Naura menarik rambutnya sendiri. "Kenapa semuanya jadi begini? Oh Tuhan!"


Naura menitikan air matanya, ia sungguh tak sanggup jika harus kehilangan Raka untuk Nayra. "Nggak, aku nggak mau kehilangan Raka. Aku sudah kehilangan calon anakku karena Nayra, apa dia sekarang mau merebut suamiku? Aku nggak akan membiarkan itu."


__ADS_2