
Setelah menempuh perjalanan selama lebih dari enam jam, akhirnya Nayra dan Raka kini sampai di Jakarta.
Mereka langsung di jemput oleh sopir keluarga Raka dan membawa mereka ke rumah sakit saat itu juga.
Kedatangan Nayra membuat Arsen bisa bernapas lega karena hanya Nayra yang bisa membantu Naura saat ini. Namun, Bu Irna tak ingin membahayakan nyawa Nayra karena putrinya itu baru saja melahirkan dan juga kehilangan banyak darah.
Oleh sebab itu, Bu Irna masih berusaha mencari darah dari beberapa rumah sakit lain juga dari bank darah. Namun, sampai saat ini ia belum mendapatkannya.
"Aku yakin Nayra pasti baik-baik aja, Tante," ucap Arsen meyakinkan. "Aku mohon bicaralah sama dia."
"Belum satu bulan dia melahirkan, Arsen. Bahkan dia juga masih menyusui sekarang, aku akut ini bisa membahayakan nyawanya," seru Bu Irna penuh penekanan. "Jadi Tante mohon, jangan bicara apapun pada Nayra saat dia tiba nanti."
Arsen tampak serba salah, di satu sisi ia ingin membantu Naura tapi di sisi lain apa yang dikatakan Ibu si kembar benar adanya.
"Lalu kita harus bagaimana, Tante? Ini sudah hampir 10 jam dan Naura belum mendapatkan donor darah, dia bisa mati!" desis Arsen.
Bu Irna langsung menatap mata pria itu, terlihat jelas ketakutan dan kecemasan di mata Arsen. "Kamu menyukai putriku?" tanya Bu Irna tiba-tiba yang membuat Arsen langsung pucat dan tampak salah tingkah.
"Aku tahu kamu temannya tapi respon kamu lebih dari teman," ujar Bu Irna lagi.
"Aku hanya ...." Arsen membuang pandangannya ke arah lain, menghindari bertatapan langsung dengan Bu Irna. Hal itu justru membuat Bu Irna semakin yakin dengan dugaannya.
"Kamu tahu Naura nggak bisa punya anak? Dia juga keras kepala, kenapa kamu bisa memiliki perasaan lebih sama dia?" desak Bu Irna.
__ADS_1
"Bukan begitu, Tante."
"Jadi kamu nggak mungkin mencintai wanita yang penuh kekurangan Seperti putri Tante, kan?"
"Bukan begitu juga."
"Bukan begitu dan bukan begitu juga, jadi bagaimana?"
Arsen meringis, ini kali pertama ia tak bisa menjawab pertanyaan seseorang bahkan terjebak dengan pertanyaan nya sendiri.
"Aku__"
"Mama!""
Entah karena haru melihat putri dan cucunya, atau karena akhirnya ada harapan untuk menyelamatkan Naura.
"Pelan-pelan, Sayang." Raka langsung merangkul Nayra saat langkah istrinya itu sudah setengah berlari sedangkan ia menggendong Baby Al.
"Nayra!" lirih Bu Irna saat sudah berhadapan dengan Nayra.
"Ma, bagaimana keadaan Papa dan Naura? Mereka sudah sadar? Apa kata Dokter?" tanya Nayra yang terlihat sangat cemas.
"Papa belum sadar, Dokter bilang kemungkinan besar papa akan koma, Sayang."
__ADS_1
"Ya Tuhan," gumam Nayra sambil menyeka air matanya. "Lalu Naura?"
"Naura ... dia ...."
Bu Irna menoleh, menatap Arsen yang hanya berdiam diri. "Ma, Naura di mana? Dia nggak apa-apa, kan? Dia ... dia selamat, kan?"
"Dia butuh donor darah," sambung Arsen akhirnya yang membuat Bu Irna langsung menatapnya dengan tajam.
Sementara Naura langsung menyerahkan putranya pada Raka, tanpa pikir panjang dia berkata, "Tolong jaga Baby Al, aku mau mendonorkan darahku untuk Naura."
"Nggak," bantah Raka dengan cepat. "Kamu baru melahirkan, Sayang, bagaimana kalau itu nggak aman?" Mata Raka langsung memerah, terlihat cemas dengan keputusan Naura.
"Mama juga nggak setuju, Nay," tegas Bu Irna. "Kita bisa mencari solusi lain, Sayang."
"Kita sudah menghubungi beberapa rumah sakit bahkan bank darah, stok darah AB- sedang kosong," celetuk Arsen.
"Diam, Arsen!" bentak Bu Irna.
"Naura hanya butuh darahku, Ma, bukan nyawaku," tegas Nayra. "Bahkan, jika dia butuh nyawaku__"
"Nayra!" geram Raka. "Please, aku nggak izinin!"
"Bagaimana kalau dia saudaramu?"
__ADS_1